Emak masih telihat sedih, Mba Saidah tanpa henti memberi pelukan dan semangat untuk ibunya, aku kembali merasa terharu karena teringat almarhumah ibuku. "Mak.. " Tiba tiba Mas Ahmad mengeluarkan kata. "Iya, kenapa Ahmad? " "Kalau Ahmad boleh usul, kita menandatangi surat perjanjian yang telah ahmat buat" "Surat perjanjian apa Ahmad? " bang Samsul penasaran. "Aku buat selembar surat perjanjian Bang, didalam surat itu aku menulis bahwa Rumah peninggalan almarhum bapak akan dijual berdasarkan kesepakatan bersama, kemudian aku juga menulis bahwa hasil penjualan rumah akan dibagi sama rata kecuali Mba Jannah, dan yang terakhir Emak akan mendapatkan 1/5 dari hasil penjualan rumah, dan itu terserah emak mau di pakai untuk apa kita sebagai anak tidak boleh meminta hak emak dan tidak mengganggu gugat hak emak, karena kita juga mendapatkan hak masing masing. Juga kita harus menandatangani di atas materai, untuk apa Ahmad buat surat ini? Untuk mengantisipasi kecurangan Mba Jannah. Ahmad tau Mba Jannah pasti gak Terima dengan keputusan ini, dia pasti akan menolak mentah mentah. " "Pinter juga kamu Ahmad, kami bahkan belum berpikir sejauh itu" "Aku sudah pernah kerumah emak tempo hari bang, aku mengambil surat tanah emak, dan apa kalian tahu, Mba Jannah bersikeras tak merasa bersalah dan tak mengakui bahwa ia telah mengusir emak. Dia bahkan terang terangan mengaku bahwa itu adalah rumah dia, bukan rumah emak" "Wah, parah sekali sudah si Jannah itu, benar benar gak tahu diri" Bang Umar semakin emosi. "Makanya Bang, aku buat surat ini supaya jadi bukti hitam diatas putih agar dia gak bisa gugat kita di pengadilan, aku cuma gak mau hanya gara gara rumah itu dia laporin kita ke pengadilan seperti berita di TV itu, kalian ada lihat berita di TV kan? Ada wanita PNS yang gugat ibu kandungnya karena gak dapat warisan rumah? " "Oh iya, ada aku lihat wah itu sih anak durhaka" Sahut Mba Saidah bersemangat. "Itulah makanya Mba, Ahmad gak mau hal itu terjadi sama keluarga kita, bukan tidak mungkin Mba Jannah akan menggugat kita nanti, karena kita tidak memberi dia jatah dari rumah itu" "Tapi Mad, apa sebaiknya kamu kasih saja sedikit jatah buat si Jannah? " Bang Samsul tiba tiba berpikiran untuk memberikan Jannah hak atas rumah itu. "Tapi bang, Mba Jannah kan sudah dikasih tanah sama Almarhum bapak" Mas Ahmad kembali membuka sejarah. "Iya betul, kita semua juga sudah dikasih sepetak tanah sama bapak kan? Tapi ini kan rumah peninggalan almarhum bapak, Kalau seandainya Jannah gak terima lalu menggugat kita bagaimana? " "Wah keterlaluan kalau sampai dia berani si Jannah" Jawab mba Saidah seolah tak percaya jika suwaktu waktu Jannah menggugat. "Kalau si Jannah menggugat kita, ya kita gugat balik? Masak kalian takut sama dia? Dia aja yang udah usir emak gak takut dosa" Bang Umar tampak paling tegas diantara semua anak emak. "Bagaimana menurut emak? " Tanya Mas Ahmad ingin mendengar jawaban dari emak. "Emak serahkan pada kalian saja, bagi emak Jannah sudah tak ada lagi. Sebelum dia meminta maaf sama emak, Mak tak mengijinkan dia dapat jatah dari rumah itu. Kalau kalain mau kasih dia jatah ya mak gak karang, hanya saja mak gak Ridho" "Baiklah jika keputusannya begitu, sekarang semua sudah jelas dan silakan abang dan kakak tanda tangan diatas materai ini" Bang Umar sebagai anak sulung menandatangani surat perjanjian itu, dilanjutkan oleh bang Samsul, lalu Mba Saidah, Mas Ahmad dan yang terkahir adalah emak. Emak sebenarnya masih membuka pintu maaf untuk Jannah dan Ramli, emak hanya ingin Jannah menyadari kesalahannya dan Berjanji tidak akan mengulangi kesalahan itu. Namun, bukan minta maaf, jannah justru menyalahkan emak yang suka meminta ininitu padanya, terlebih lagi Ramli, dia bahkan berani mengungkit beras yang emak makan hasil dia beli. Sungguh hati emak seluas langit, meski lukanya masih menganga ia masih berharap anaknya sadar. "Baiklah Abang dan kakak, malam ini kita sudah sepakat untuk menjual rumah peninggalan almarhum Bapak, yang ingin Ahmad tanyakan, berapa harga rumah itu yang pantas untuk kita jual? " Semua nampak bingung, karena rumah peninggalan bapak sudah tua dan tidak terawat. Jika dilihat dari luar rumah itu seperti rumah jaman Belanda. "Ukuran tanahnya 400meter persegi, Rumah permanen dengan tiga kamar, jika dilihat dari ukuran rumah dan luas tanah, sepertinya rumah itu kita hargakan 500juta saja" Usul Bang Samsul yang bekerja dibagian Bangunan. Dia sedikit banyak mengerti masalah harga rumah. "Apa tidak kemahalan itu Bang? " Tanya Saidah yang seorang ibu rumah tangga. Baginya harga setenga milyar itu sangat lah banyak tidak pantas untuk rumah itu. Aku juga berpikiran seperi seperti itu, jika dilihat dari luar rumah itu sudah sangat tua dan catnya sudah lapuk. Apa ada yang mau jika harganya segitu? Mungkin Bang Samsul ia tahu harga tanah dan material yang dibutuhkan untuk membangun sebuah rumah seukuran rumah emak. "Tapi sekarang harga tanah sudah mahal Dah, ditambah harga material juga sudah mahal, kalau kita bangun rumah baru dengan seukuran rumah emak, gak cukup segitu uangnya Dah, bisa mendekati 700juta bahkan" Apa yang dikatakan oleh Bang Samsul ada benatnya juga, sekarang harga tanah mahal ditambah harga material bangunan yang melambung tinggi, jika kita membangun rumah dari nol plus beli tanah seukuran 400meter persegi rasanya tak cukup uang 500juta. Aku rasa ada benarnya juga ucapan Bang Samsul. "Abang setuju dengan kata kamu Sul, abang juga kemarin rehab kamar si Veri saja habis uang 50juta, itu cuma renovasi kamar ukuran 3x4 loh, belum lagi buat rumah? " Bang Umar Ekonominya sedang bagus, usaha tengkulak sayur mayurnya sedang laris manis saat ini. "Aku juga setuju dengan usul Bang Samsul, dengan harga 500juta, kita bisa membagi lima bagian sama rata" Suamiku juga setuju dengan usulan Bang Samsul. Jika rumah itu terjual dengan harga 500juta, maka masing masing mereka akan dapat 100juta, wah kasian juga Mba Jannah tak dapat jatah jika rumah itu terjual. Lumayan banyak itu mereka dapat bagian. Aku yakin, Mba Jannah pasti akan mencak mencak jika tahu dia tak dapat warisan dari rumah itu.
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 22 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (276)
bengkulueva
sedih
19/04
0
Nur Nnisa
mantap bisa jadi contoh buat yang belum tau buatnya
08/03
0
Sri Sunarti
bagus banget....buat pelajaran buat kita agar lebih mencintai orang tua kita
sedih
19/04
0mantap bisa jadi contoh buat yang belum tau buatnya
08/03
0bagus banget....buat pelajaran buat kita agar lebih mencintai orang tua kita
01/12
0View All