Emak memiliki banyak anak laki laki, tak mungkin mereka akan mengalah semua, pasti salah satu dari mereka akan meminta haknya dari rumah itu. "Mak, lebih baik rumah itu Mak jual saja, jangan Mak terlalu menengang nostalgia dirumah itu, apa emak udah lupa, bagaimana emak di usir oleh Mba Jannah? Setelah dia ngusir emak dari rumah mak sendiri, dia bisa bebas tinggal dan berkuasa dirumah itu? Tidak Mak, aku sebagai anak laki-laki tidak akan membiarkan itu" Mas Ahmad masih memendam kesal pada kakaknya, memang benar apa yang Mas Ahmad katakan, mba Jannah gak berhak atas rumah itu, apalagi dia sudah berani dan tega mengusir ibu kandungnya sendiri. "Mak, ingatlah satu hal, jika suatu hari nanti anak anak mak berkelahi karena memperebutkan rumah itu, apa mak akan senang? Apa mak akan bahagia nanti? " Mas Ahmad sudah kehabisan akal untuk membujuk ibunya. "Enggak Mad, emak gak mau itu terjadi" "Makanya mak, sebelum itu terjadi, maka jual saja rumah itu, jangan khawatir kan Jannah tinggalkan dimana, terserah dia mau tinggal dimana, mau dikolong jembatan kek aku sudah gak peduli, yang aku ingin sekarang mak jual rumah itu, biar nanti malam kita adakan rapat disini dengan Abang dan yang lain" "Ya sudah kalau begitu, Mak setuju. Jual saja rumah itu" "Tapi, kalian harus membaginya sama rata, dan adil. Mak pingin hasil penjualan rumah itu Mak ingin naik haji, jikapun mak tak sanggup berhaji mak ingin membadal haji( diganti haji oleh orang lain). " "Baiklah, Ahmad akan usulkan nanti saat rapat, Ahmad usahakan rumah itu bisa laku dengan harga yang sesuai" "Amin.. " Malam harinya, kediaman rumah kami sudah ramai oleh saudara Mas Ahmad. Semua sudah hadir kecuali Mba Jannah. Mas Umar, Mas Samsul, Mba Saidah sudah berkumpul di ruang tamu. Aku dan Mas Ahmad juga ikut bergabung, tak lupa juga hadir Emak diantara kami. "Bagaimana kabar emak, sehat? " Mas Umar sebagai anak tertua yang mulai bicara. "Ya beginilah Emak, kadang sehat kadang sakit. Malam ini emak harus sehat, ada yang perlu emak sampaikan pada kalian berempat" "Tunggu, tunggu, kok cuma kami berempat, maaf bukan kami tak menganggap Murni tak ada, tapi kemana Jannah? Kenapa dia tak hadir malam ini? " Mba Saidah akhirnya yang bertanya kemana Mba Jannah. "Biar emak yang jelaskan semuanya Mba" Sahut Mas Ahmad tak ingin bicara banyak, biarlah Emak yang mengatakan sendiri. "Bismillah, malam ini mak ingin menyampaikan sesuatu pada kalian, sebelumnya mak ingin bertanya, apakah kalian setuju jika Mak menjual rumah peninggalan bapak? " Emak langsung bicara pada inti masalah. "Tapi, mak kenapa mau dijual? Bukankah rumah itu ditinggali sama Jannah dan emak?" Mas Samsul ikut penasaran dengan apa yang terjadi. Sepertinya semua belum tahu kejadian yang terjadi pada Emak, tapi tak apa, baik aku ataupun Mas Ahmad tidak berhak bicara tentang Mba Jannah. Biarlah Mak yang menceritakan semuanya. "Mak sudah tidak tinggal lagi dirumah itu, mulai saat ini dan sampai Mak mati, mak akan tinggal dirumah Ahmad. Sebelum mak mati, mak ingin rumah peninggalan almarhum Bapak kalian jual, dan harus kalian bagi sama rata kecuali... " Emak menggantung kalimatnya seolah berat sekali ia bicara. "Kecuali apa mak? Jangan bikin kami penasaran? " Mba Saidah yang paling penasaran. "Kecuali Jannah, emak tak ridho dia mendapat bagian dari rumah itu" "Loh, kenapa bisa begitu mak? " Semua yang hadir dirumah tamu bertanya tanya. "Emak sudah diusir dari rumah itu" Kata kata Mak singkat tapi penuh penakan. Emak tak sanggup lagi memendam luka itu terlalu lama, semakin ia pendam semakin hancur hati nya. "Apa? Di usir? Siapa yang berani usir emak? " Samsul tampak berang, ia tak percaya ibunya di usir dari rumahnya sendiri. "Jannah dan Suaminya" Balas Mak Syam sambil terisak. Air matanya lolos begitu saja, mengucap nama Jannah seperti membuka kembali luka yang belum kering. Sakit dan perih namun tak berdaran, lebih sakit dari pada disayat pedang. "Apa? Jannah dan Ramli yang usir Emak? Kurang ajar mereka" "Aku tak menyangka Jannah setega itu sama Emak? " Saidah menggeleng-geleng kepala tak percaya pada sikap adik perempuan nya. "Kok bisa Mak, apa yang terjadi? Ceritakan pada kami, biar kami beri pelajaran anak durhaka itu" "Mak hanya minta dimasakin sayur singkong sama Jannah, Mak pingin sekali, tapi jannah enggak mau katanya sedang sibuk jagain cucunya, Mak minta jagain cucunya biar dia gak sibuk, tapi Jannah malah marah marah, tiba tiba datang Ramli ikut marah marahin emak, sampe dia ungkit beras yang udah Mak Makan itu hasil kerja keras dia, emak sakit hati, emak gak nyangka mereka berdua sejahat itu sama emak... Huhuhu" Tangisan emak pecah mengisi ruang tamu rumah kami. Aku dan mas Ahmad tak kuasa menahan sesak didada, tak terasa tetesan bening itupun lolos begitu saja. "Ya Allah Mak... Kenapa gak bilang sama saidah Mak? Kenapa gak minta saidah saja yang masakin sayur singkong untuk emak? Saidah siap masak buat emak kapan saja, bahkan setiap haripun Saidah mau Mak, kenapa Mak harus minta sama si jannah itu Mak? " Mba Saidah pun ikut terharu dan memeluk erat emak Syam. Kedua abang iparku terlihat geram, raut wajahnya terlihat menahan amarah. "Kurang ajar si Jannah, berani beraninya dia ngusir ibu kandungnya sendiri, si Ramli itu juga harus ku beri pelajaran" Umpat umar kesal. Umar bangkit dari duduknya dengan raut emosi, ia hendak keluar rumah saat itu juga. "Kamu mau kemana Umar? " Emak berfirasat tak enak. "Aku mau beri pelajaran buat mereka berdua, biar mereka tahu diri. Mereka itu cuma numpang di rumah emak tapi udah kayak penguasa" "Jangan Umar, jangan kamu mencari keributan, malu dilihat tetangga, apalagi ini malam malam nak" "Tapi Mak, perbuatan mereka sudah kelewatan tak bisa dibiarkan begitu saja" "Itulah sebabnya Mak minta kalian berkumpul disini, Mak berencana menjual rumah itu" "Aku setuju, seribu kali setuju" Sahut Saidah yang pertama kali. "Aku juga setuju Mak, jual saja biar mereka hidup dikolong jembatan" Jawab Umar kesal. "Bagaimana Ahmad sama Samsul? " "Kami juga setuju bang, jual saja rumah itu, lebih cepat lebih baik, dan jangan beri Jannah bagian dari rumah itu" Usul Samsul masih tak Terima perbuatan Jannah. "Kalau kalian sudah setuju baiklah, Mak ingin kalian membuat spanduk dan tempelkan didepan pintu rumah itu, jual saja dengan harga yang wajar, Mak hanya minta bagian untuk naik haji, itu saja selebihnya kalian bagi sama rata" Emak sejak dulu ingin naik haji, namun karena tak ada biaya emak hanya bisa mengurungkan niatnya dalam hati. "Baiklah Mak, jika itu keputusan Mak dan semuanya, biar Ahmad yang akan cetak spanduk nya," "Dan Biar Abang yang pasang itu spanduk didepan pintu rumah emak" "Emak tenang saja, secepatnya rumah itu akan segera laku. " Bang samsul nampak yakin rumah itu akan segera terjual. Emak masih telihat sedih, Mba Saidah tanpa henti memberi pelukan dan semangat untuk ibunya, aku kembali merasa terharu karena teringat almarhumah ibuku.
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 25 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (276)
bengkulueva
sedih
19/04
0
Nur Nnisa
mantap bisa jadi contoh buat yang belum tau buatnya
08/03
0
Sri Sunarti
bagus banget....buat pelajaran buat kita agar lebih mencintai orang tua kita
sedih
19/04
0mantap bisa jadi contoh buat yang belum tau buatnya
08/03
0bagus banget....buat pelajaran buat kita agar lebih mencintai orang tua kita
01/12
0View All