logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 5 Surat perjanjian

Bagaimana mad, sudah kamu hubungi kakak dan abang mu? "
"Sudah mak, bahkan mbak jannah juga"
"Apa? Jannah juga datang? " Tanya emak penasaran.
"Mbak jannah gak mau datang mak, dia takut mungkin aku buka kartunya di depan abang dan kakak nanti"
"Yasudah, kalau dia tak mau datang, buatlah musyawarah dengan kakak dan abangmu saja"
"Emak juga harus ikut, emak adalah pemilik rumah itu. Kalau tak ada emak mak tak ada musyawarah"
"Iya.. Iya.. Mak akan ikut juga nanti, semoga saja badan mak sehat"
"Amin. Mak sudah makan? "
"Belum mad"
"Yasudah kita makan sama sama yok"
Ahmad, murni, dan emak Syam makan bersama, hal yang tak pernah mak Syam lakukan ketika bersama jannah.
Alih alih makan bersama, untuk mengambil nasi saja, mak Syam harus susah payah mengambil meski badannya sedang sakit. Tak pernah jannah menyiapkan makanan untuk emaknya.
Berbeda dengan dirumah ahmad, murni selalu menyiapkan emak mertuanya makan sehari tugas kali. Bahkan mak sy tak harus kedapur untuk mengambil nasi, setiap kali mak Syam mau makan, maka murni selalu menyajikan nasi dan lauk di hadapan mak Syam
Menantunya itu menyayanginya seperti orang tuanya sendiri. Tak pernah sekalipun murni membantah apalagi bicara kasar. Sungguh beruntung ahmad menikahinya.
--------
"Mak, sedang apa? Kok melamun? "
"Enggak Murni, Emak cuma teringat Bapak"
"Bapak sudah tenang di alam sana Mak"
" Andai saja Bapak masih hidup,... " Kata-kata Mak terputus lalu sedetik kemudian ia berlinang air mata.
"Bapak pasti kecewa sekali melihat anak kesayangannya seperti ini, huhu... "
Emak menghapus tetesan bening dari sudut matanya.
"Mak, jangan bilang begitu, kita doakan saja semoga Mba jannga diberi Hidayah oleh Allah, dan menyadari kesalahannya"
"Mak rasanya udah enggak tahan lagi Murni, mak pingin di jemput Bapak... "
"Istighfar Mak, jangan bilang begitu, hanya Allah yang tahu kapan kita akan tiada, Mak gak boleh bilang seperti itu. Disini masih ada kami bersama emak, emak gak sendiri"
Begitu dalam luka di hatinya, aku hanya bisa mengelus bahunya yang renta. Hatiku teriris melihat Mak mertua menangis.
Aku teringat pada Almarhum ibuku, betapa susahnya beliau membesarkan kami tanpa Bapak.
Aku tak bisa berbuat banyak hal, ini masalah ibu dan anak. Aku tak boleh terlalu menyudutkan pihak Mba Jannah, walau bagaimanapun mereka ibu dan anak, walau apapun yang terjadi, mereka tak akan pernah bisa terpisahkan.
"Mak, yang tabah ya, Murni yakin, Mak pasti kuat." Ucapku sambil memeluk wanita yang telah mengorbankan hidupnya untuk melahirkan suamiku.
"Makasih Murni, emak senang Ahmad dapat istri seperti kamu, mak minta sama Murni, murni jangan Tinggalkan Ahmad walau apapun yang terjadi, Dan Murni jangan pernah berubah, tetaplah seperti Murni yang mak kenal"
"InsyaAllah Mak, Murni akan selalu setia dampingi Mas Ahmad, dalam suka maupun duka. Karna Murni yakin Mas Ahmad adalah jodoh yang dikirim Allah untuk Murni sampai tua"
Tampakn emak Mulai tersenyum, entah senyum apa itu, ditengah ia menangis ia masih bisa tersenyum. Sungguh luas hatimu Mak.
"Oiya Mak, Murni mau siap siap dulu ya, nanti malam abang dan yang lain akan datang kesini, kita harus nyiapin makanan Mak"
"Oh iya Mak juga lupa, yasudah ayo kita siapkan makanannya"
Aku mengajak emak ke dapur, bukan untuk menyuruh emak memasak, aku hanya ingin Emak jangan sering sendiri, jika Emak sendiri maka semakin sering ku lihat Emak menangis, aku tak mau gak itu terjadi lagi.
"Mak, disini Rupanya, Ahmad cari cari tadi rupanya disini"
Tiba tiba Mas Ahmad datang dengan Membawa sebuah surat.
"Apa itu Mad? " Tanya emak penasaran.
"Ini surat perjanjian mak. "
"Surat perjanjian? Perjanjian apa? " Emak semakin Penasaran.
"Surat perjanjian bagi hasil warisan mak", tapi belum mak tanda tangani. Sebelum mak tanda tangani mak Harus tahu dulu isinya"
"Bacakan saja Mad, mak sudah tak nampak lagi "
"Baiklah, dalam surat ini Tertulis yang pertama, bahwa hasil penjualan Rumah akan dibagi menjadi lima bagian, dan itu tanpa adanya Mba Jannah didalamnya. "
"Loh, kenapa Mba Jannah gak termasuk Mas? " Aku akhirnya bersuara, meski sudah dari tadi ingin kutanyakan, tapi kuurungkan karena ini menyangkut masalah hak warisan keluarga suamiku.
"Mas rasa kau sudah tau jawabannya Murni, sekarang hanya butuh obat
Persetujuan dari emak, jika emak menyetujui maka mak harus tanda tangan"
Mak mertua terlihat bingung, aku yakin ia pasti sedang berpikir keras. Ia memang sakit hati pada anak perempuan Bungsunya itu, tapi apakah ia sanggup jika harus menghilangkan nama Mba Jannah sebagai bagian dari ahli waris?
"Mad, bolehkan mak pikir pikir dulu? "
"Apa yang mak pikirkan? Bilang saja sama Ahmad biar Ahmad cari solusi bersama"
"Mak rasanya berat jual rumah itu Mad?.. "
"Loh, kenapa mak? Bukannya mak pingin rumah itu dijual sebelum emak meninggal agar kami tidak berebut nantinya? "
"Satu sisi iya nak, tapi satu sisi mak Sayang jika harus menjualnya, banyak perjuangan dan pergorbanan emak dirumah itu nak"
Aku dan Mas Ahmad hanya bisa diam mendengar apa yang Mak katakan. Memang benar, rumah itu hasil kerja keras emak dan almarhum bapak mertua, namun jika rumah itu tidak dijual saat ini, maka akan terjadi keributan nanti jikaak sudah tiada.
Mak memiliki banyak anak laki laki, tak mungkin mereka akan mengalah semua, pasti salah satu dari mereka akan meminta haknya dari rumah itu.

Book Comment (276)

  • avatar
    bengkulueva

    sedih

    19/04

      0
  • avatar
    Nur Nnisa

    mantap bisa jadi contoh buat yang belum tau buatnya

    08/03

      0
  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus banget....buat pelajaran buat kita agar lebih mencintai orang tua kita

    01/12

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters