Pukul empat sore, Mas Ahmad, suamiku pulang kerja. Sehari hari ia bekerja sebagai kuli bangunan, pekerjaan yang berat dan melelahkan. Tapi suamiku tak pernah mengeluh, asalkan itu halal untuk keluarganya. Tok..tok..tok... Suara pintu diketuk, aku langsung membukanya. "Assalamualaikum Mah.." ucap suamiku yang berdiri di ambang pintu. "Waalaikum salam Pah.." jawabku sambil mencium tangan suamiku. Mas Ahmad langsung masuk dan mengganti pakaiannya. Kusiapkan air hangat untuk ia mandi. "Pah.. Air nya sudah Mamah siapkan.." "Iya Mah... makasih ya" Setelah selesai mandi, Mas Ahmad selalu minta dibuatkan kopi. Aku tak pernah lupa akan kebiasaannya itu. Pukul 17.00 saat hari sudah senja, Mas Ahmad duduk di teras rumah sambil menyeruput kopi buatanku. "Pah..." Panggilku pelan. "Iya mah..ada apa?" "Emak ada dikamar Putri.." aku ingin bercerita yang sebenarnya, tapi aku takut Mas Ahmad akan marah. "Loh.. kapan Emak datang? Kok aku gak tau?" Tanya suamiku kaget. "Tadi siang..Mak akan tinggal sama kita mas" "Iya gak apa apa mah.. mungkin emak lagi kangen sama cucu cucunya." Pikirnya emak hanya kangen sama cucunya. Aku ingin sekali cerita apa yang sudah terjadi pada emak mertuaku. Tapi, aku tak ingin mas Ahmad menganggap aku menjelekkan kakak kandungnya. Tiba tiba emak mertua datang menghampiri kami. "Kamu sudah pulang nak??" Tanya emak mertua. "Ehh..emak..sini Mak duduk , Mak mau kopi??" "Enggak usah nak" ucap emak sambil duduk disamping mas Ahmad. "Mak.. kok gak bilang bilang mau kesini, kan bisa Ahmad jemput." Ucap suamiku tak tahu kalau emaknya di usir. "Ahmad.. emak akan tinggal selamanya disini boleh gak?" Tiba tiba emak bertanya sambil berurai air mata. "Loh..emak kok ngomong begitu? Kapan aja Mak mau tinggal Ahmad gak akan larang kok, rumah Ahmad kan rumah emak juga. Biar murni ada kawannya juga disini ya kan mah?" Tanya suamiku padaku, aku hanya tersenyum simpul "Mad,, emak boleh minta tolong??" "Boleh...minta tolong apa Mak?" "Tolong ambil baju baju emak dirumah janah, dan juga surat surat penting emak di dalam lemari." "Kenapa Mak, apa Mak mau jual tanah??" Tanya mas Ahmad penasaran. "Mad...hiikksss..." Tiba tiba benteng pertahanan emak rapuh, emak tak kuasa menahan tangis. "Loh .mak kenapa nangis?" Tanya suamiku heran. "Mad... Emak di usir sama Jannah.." akhirnya emak mengatakan yang sebenarnya. "Apa Mak???" Tanya suamiku dengan wajah kagetnya "Iya mad, emak di usir dari rumah emak sendiri, Mak hanya minta hulu singkong smma kakakmu, tapi dia marah marah sama emak. Suaminya pun ikut maarahin emak, mereka bilang emak hanya bisa minta ini itu tanpa bekerja...hikkkssss...." Tutur emak sambil berurai air mata. "Keterlaluan sekali mereka , gak sadar apa mereka numpang dirumah emak?" Amarah mas Ahmad mulai keluar. Aku hanya diam mematung, tak ingin ikut campur masalah ibu dan anak. "Biar Ahmad kesana, mau kasih pelajaran buat mereka.." "Jangan mad, jangan, jangan buat emak jadi makin sedih..." Emak melarang mas Ahmad yang hendak memarahi kakak dan Abang iparnya itu. "Tapi Mak, mereka sudah keterlaluan sekali.." "Mungkin janah sedang khilaf mad, jangan bertengkar gara gara emak.." "Ahmad gak terima Mak kalau emak di usir dari rumah sendiri. Dimana hati nurani mereka?" "Mak hanya minta surat surat emak yang ada dilemari mad, emak gak mau mereka mengambilnya.." "Yasudah... Aku akan kerumah itu, akan ku ambil surat surat emak, emak tak usah khawatir" . Mas Ahmad terlihat sangat emosi, tanpa menunggu lama, di raihnya kunci motor langsung tancap gas kerumah mbak janah. "Mbak...mbak...keluar.." teriak mas Ahmad tanpa basa basi ketika tiba didepan rumah mbak janah yang tak lain adalah rumah emak mertua. " Ada apa sih mad, datang kerumah orang teriak teriak gak jelas." Sahut mbak janah tanpa rasa bersalah. "Kenapa mbak ngusir emak dari rumah?" Tanya mas Ahmad tanpa basa basi. " Kenapa? Emak ngadu sama kamu?" ucap Mba Jannah tanpa rasa bersalah sedikitpun. " Mbak udah kelewatan, mbak sadar gak udah berbuat durhaka pada emak?" Mas Ahmad tidak menyangka kakaknya bukan menyesal malah menyalahkan emak. " Eh... Ahmad, kamu gak tau apa apa gak usah nyalahin mbak ya." " Cuma gara gara sayur singkong, mbak tega ngusir emak, hah..?" Bentak Mas Ahmad emosi. "Siapa yang bilang, pasti emak ngadu yang bukan bukan sama kamu, ya kan?" " Kenapa embak tega usir emak, apa mbak enggak sadar ini rumah emak bukan rumah embak.." "Siapa bilang ini bukan rumah embak? Sekarang ini sudah sah jadi rumah embak.." "Benar benar keterlaluan kamu mbak.." mas Ahmad langsung masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan ocehan kakak nya. Ia teringat pesan emak nya supaya mengambil surat rumah yang disimpan emak didalam lemari. Sedangkan si janah mengikuti Ahmad dari belakang. "Mau kemana kamu?" Tanya mbak janah sambil mengikuti langkah adiknya. Ahmad tak menjawab, langsung dibuka kamar emak dan membuka lemari pakaian. Tak susah mencari surat itu, emak meletakkan nya di laci tengah lemari baju nya. Ketika membuka laci lemari, Ahmad langsung mengambil surat tanah dan beberapa surat penting lainnya yang sudah di masukkan dalam map merah. "Pa yang kamu ambil mad, sini berikan sama mbak." Si janah benar benar tak tahu malu, sudah berani mengusir ibu kandungny sendiri, dan sekarang malah ingin merampas surat tanah yang sudah dipegang Ahmad. "Awas.. aku gak punya waktu berdebat dengan orang sepertimu." Bentak Ahmad pada kakaknya. "Sini..berikan surat itu pada ku mad." " Asal mbak tahu, rumah ini atas nama emak. Dan dengan berani beraninya embak mengusir emak dari rumahnya sendiri, apa mbak gak punya malu ..hahhh??" Janah terdiam. Ia tak berpikir tentang ini sebelumnya. Ia pikir rumah ini masih atas nama almarhum bapak. Ternyata ia salah besar. "Mad.. kamu gak bisa lakukan ini." Teriak mbak janah. "Kenapa enggak??" Tanya Ahmad penasaran. "Rumah ini warisan bapak, setelah bapak meninggal bapak menyerahkan rumah ini pada mbak." Kilah janah mencari alasan. "Oh ya ??? Apa mbak punya bukti hitam di atas putih ?" Tanya Ahmad tak kalah pintar. "Kalau cuma ngomong siapa saja bisa mbak, anak kemarin sore juga bisa. Jaman sekarang perlu bukti hitam di atas putih, bahkan warisan orang tua kepada anaknya sekalipun." Jannah terbengong mendengar ucapan sinis adik laki lakinya itu. "Mad... Kamu gak bisa begitu, bapak sudah janji kasih rumah ini buat mbak. Kamu kan sudah dikasih tanah sama bapak, semua anak anak yang lain juga sudah dikasih warisan yang sama rata mad." Ucap janah kembali mencari alasan. "Dan mbak juga sudah dikasih warisan kan sama bapak, tanah di kampung sebelah yang sudah mbak gadai waktu acara pesta nikah si Tini?" "I...iya sih mad, tapi..." "Tapi apa??" "Tapi gak punya uang buat Nebus nya ya??" Pertanyaan Ahmad benar benar membuat janah mati kutu. "Mau ada atau enggak ada uang buat Nebus itu urusan mbak, karena itu mbak sendiri yang menggadai tanpa paksaan orang lain. Dan sekarang rumah ini masih milik emak. Jangan coba coba embak berbuat hal bodoh lagi atau mbak akan berurusan dengan pengadilan, mbak ngerti?" Janah hanya terdiam tanpa perlawanan. Ia tak menyangka perbuatan bodohnya itu akan berakibat begini. Sekarang, ia merasa menyesal telah mengusir ibunya dari rumah. Hanya karena masalah sepele ia sampai hati menyakiti orang tua satu satunya yang masih ia miliki. Tanpa menunggu lama, setelah mendapatkan apa yang dipesan ibunya. ahmad segera keluar dari rumah dan memacu motornya. Janah terduduk lemas di lantai, seperti orang kebingungan. Kini, hanya penyesalan yang ada. Ia masih teringat dengan kata kata Ahmad. Jika ia masih saja nekad menggugat rumah ini, maka ia akan berurusan dengan pengadilan, otomatis janah akan kalah karena surat tanah rumah itu atas nama emak. Bersambung...
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 26 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (276)
bengkulueva
sedih
19/04
0
Nur Nnisa
mantap bisa jadi contoh buat yang belum tau buatnya
08/03
0
Sri Sunarti
bagus banget....buat pelajaran buat kita agar lebih mencintai orang tua kita
sedih
19/04
0mantap bisa jadi contoh buat yang belum tau buatnya
08/03
0bagus banget....buat pelajaran buat kita agar lebih mencintai orang tua kita
01/12
0View All