logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 7 My Zero Level And My Comfort Zone

Beberapa hari kemudian, tiba-tiba Pak Gunawan memanggilku. Pagi-pagi sebelum aku keliling kota. Dan sepertinya kedatanganku sudah ditunggu. Tidak biasanya seperti ini dan perasaan tidak enak sontak merayapi.
“Silakan duduk!” Pak Gunawan menyuruhku segera duduk di depan mejanya. Senyuman simpul terlepas dari bibirnya yang bersemu kehitaman.
“Ada apa, Pak?” tanyaku berusaha sopan, setelah duduk dengan nyaman.
“Maaf sebelumnya,” ucap Pak Gunawan makin membuatku penasaran. Namun, aku harus sabar menunggu kata-kata lanjutannya. “Saya terpaksa melakukan rolling kecil untuk sales buku SD dengan sales buku TK, Paud.” Ada jeda yang membuatku bertanya.
“Kenapa?” Saat mengatakan itu, aku seperti baru saja terkena hantaman palu. Aku langsung bisa menduga kalau antara aku dan Willy akan bertukar posisi.
“Begini, saya melihat ini karena Gevani seorang perempuan.” Pria bersetelan kemeja dan celana berwarna senada itu, bersikap seolah peduli denganku. Tatapan matanya terlihat meyakinkan.
“Terus?” Aku memburunya. Itu terjadi karena cara bicaranya seolah selalu memberi jeda. Dan aku merasa tidak sabar menunggu jawaban terkait alasan yang sebenarnya. Sangat berbeda dari saat dia menyatakan ingin melakukan rolling yang tanpa aba-aba dan tanpa basa-basi menanyakan adakah kendala bagiku dalam bekerja.
“Ruang penjualan untuk SD di wilayah Purwokerto dan sekitarnya bukankah terlalu luas, ya, buat Gevani?” Pak Gunawan kini mengulas senyum seperti berharap aku akan menyetujui pernyataannya itu.
“Tidak juga, saya sudah terbiasa,” sanggahku langsung. Matanya tertangkap mencekung.
“Karena itu,” Pak Gunawan segera menimpali. “saya, bahasa gampangnya. Saya ingin membuat mudah pekerjaan Gevani. Saya akan mengubah area penjualan Gevani di kawasan dalam kota saja. Makanya, saya pikir, kalau Gevani menjual buku TK dan PAUD, bukankah akan sedikit mengurangi beban kerja? Maksud saya, kamu jadi tidak capek banyak keliling dari SD ke SD,” ucapnya berputar-putar penuh simpati.
Namun, bagiku terasa dipaksakan. “Saya tidak pernah mengeluh capek, lho,” sanggahku lagi. Selama ini aku memang tidak pernah merasa berat harus berkeliling dari SD ke SD yang letaknya tersebar di berbagai kecamatan. Aku malah sangat menikmati.
“Tapi temanmu bilang, kamu selalu mengeluh capek tiap hari keliling banyak SD.” Pak Gunawan secara tidak terduga mengatakan satu hal yang bersifat fitnah.
Darahku mendidih seketika. “Siapa yang bilang, Pak?” Kata-kataku terdengar mencolot seolah ingin menyiram air panas ke mulutnya.
“Itu... ada, lah.” Pak Gunawan tidak berani melakukan kontak mata denganku. Dia memperhatikan jemari tangannya yang saling menjalin di atas meja.
Pasti Willy! Tanpa Pak Gunawan bilang pun sebenarnya aku sudah tahu kalau ini ulah Willy.
“Jadi, saya harus tukar posisi dengan Willy?” terjangku tanpa basa-basi lagi.
“Kamu bersedia?” Pak Gunawan balik bertanya. Dia pun terdengar ingin segera mendengar jawaban yang sesuai harapan dari mulutku.
Suaranya terdengar memaksa. Sementara itu pikiran burukku sudah berujar, dikasih apa Pak Gunawan ini sampai mau menurut ucapan Willy. Culas sekali orang itu.
Aku diam sejenak. Menimbang untung ruginya. Namun, kemudian terbesit, ini seperti sebuah tantangan. Meski caranya sangat tidak aku suka. Kenapa tidak menunggu hingga akhir tahun sekalian. Melakukan pembagian tugas ulang dengan cara yang adil, semua bagian di-rolling.
“Baik!” balasku sambil memajukan tubuh dan meletakkan tangan di atas meja dengan menautkan jari satu sama lain. “Tapi beri saya waktu mengurus administrasi dan segala macam urusan dengan pelanggan yang masih belum selesai.”
Pak Gunawan mengangguk sambil memundurkan posisi duduknya. Dia tampak lega dan puas. Tercermin dari senyumnya.
“Saya keluar dulu,” pamitku dengan hati dongkol dan ingin menghajar seseorang.
“Ee, tunggu!” Pak Gunawan menghentikan langkahku. “Sudah berapa kali saya bilang bekerja jangan pakai celana jeans!”
Aku melihat celana yang kupakai. Mendesah dan menyahut malas, “Iya, Pak nanti saya ganti.”
Setelah keluar dari ruangan Pak Gunawan, wajahku seperti terbakar. Bagi yang melihat pasti telah tergambar merah padam. Marah, jelas! Namun, aku tidak berani ngomel-ngomel di depan Pak Gunawan. Pengecut banget! Biar. Daripada dipecat terus menganggur? Susah mencari pekerjaan lagi.
Fadi menatapku tanpa senyum. Kebalikan dari Willy yang tengah senyum-senyum kecil tanpa melihat ke arahku sama sekali. Aku bergegas ke meja. Mengambil tas selempang kecil dan tas yang berisi buku-buku terus melangkah keluar.
Aku ingin segera meredam amarah. Let’s race! Itu akan sangat membantu memulihkan suasana hati. Tujuanku Gunung Tugel!
“Gev!” Fadi menyusul ke tempat parkir.
Aku memandangnya dengan senyum tipis. Melihat wajahnya yang terlihat panik dan bingung, sepertinya dia sudah tahu kalau ada isu pertukaran posisi area penjualan. 
“Kamu tidak apa-apa?”
“Memang terlihat baik-baik saja?” sahutku sambil mengenakan helm.
“Mm… tidak juga.” Fadi meringis. “Kalau mau marah, marah saja. Jangan dipendam.”
“Justru itu, aku ingin segera melampiaskan,” kataku yang sudah menyalakan motor. Aku mengepal handle dan kendaraan itu berteriak berisik. Aku melaju keluar area kantor, tidak memedulikan seruan Fadi di belakang.
Selanjutnya motorku meraung dengan keras memelesat di antara lalu lalang kendaraan lain. Aku mengendarai motor seperti orang kesetanan. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin menikmati sensasi getar adrenalin yang memuncak. Membakar kemarahan yang bersemayam. Merasakan kepuasan bisa melampaui banyak kendaraan lain. 
Meski sudah sejauh ini berkendara. Aku masih belum mendapat tantangan lebih. Sebelum melewati pintu gerbang Gunung Tugel, aku berubah pikiran berbelok memacu motor menuju Kedungrandu. Menjalankan motor bebek CT125-ku mengarah ke Bukit Metal yang mempunyai jalur ekstrem. Jalan tanah kering, tidak rata, terdapat tanjakan dengan kelokan tajam, sangat mirip dengan lintasan motocross. Setahuku, sudah banyak komunitas sepeda yang menuju Bukit Metal itu. Aku pernah sekali ke sana.
Bukit yang dulunya kuterka asri, telah berubah gersang akibat penambangan tanah. Satu spot yang banyak tersebar di media sosial mengandung kemirisan juga keindahan. Sebuah gundukan tanah sisa bukit yang lebih tinggi terlihat menjulang merana.
Tiba di titik tertinggi Bukit Metal, mataku segera menyerap hamparan hijau persawahan yang menyerupai karpet. Pada sisi berlawanan, aku bisa melihat lintasan menuju bukit ini yang tanahnya membentuk gradasi empat warna—abu-abu, krem, merah, dan segaris perak, mirip lukisan abstrak yang estetis. Suasana siang menjelang sore ini cukup sepi, karena memang bukan hari libur. Dan yang menemaniku hanya seonggok ekskavator yang tengah istirahat bekerja.
Dadaku yang semula sesak perlahan menjadi lapang. Apalagi setelah menuruni bukit yang lebih memacu adrenalin. Bisa terbayang andaikan rodaku selip, sudah pasti ia akan mengantarkan laju motor ke tepian bukit yang hilang.
Merayapi tepian antara hidup dan mati segera mengubah layar pekat di pikiranku menjadi lebih cerah. Aku bisa berpikir positif kembali. Bukankah, masih mending aku bertukar dengan Willy daripada dipindah menjadi admin? Bisa mati kutu aku nanti, bila tiap hari harus berkubang dalam ruangan mengerjakan administrasi kantor.
Baiklah,

Book Comment (69)

  • avatar
    Andi

    hem

    12/03/2025

      0
  • avatar
    GudanhTrakor

    semnagat trus

    01/11/2024

      0
  • avatar
    Adisadisya eka putri

    bagus

    10/07/2024

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters