logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 5 My Daily Activity And My Past Activity

Siklus hidupku setiap hari sama. Bangun tidur jam lima, sarapan, terus jam tujuh melaju ke kantor. Menyiapkan segala keperluan mobile, pukul delapan atau setengah sembilan sudah mulai jalan bertamasya mencari pembeli buku. Yah, begini nih, nasib seorang sales buku. Berlomba dengan kendaraan lain dan berlomba dengan penjual buku lain untuk mengejar satu kata target! Belum lagi teguran dari atasan yang menginginkan pencapaian penjualan di atas rata-rata. 
Saat jalan-jalan begini, sih, enak. Banyak pemandangan yang bisa terlihat. Meski cuma pemandangan rumah-rumah dan padatnya lalu lintas, lumayan berhasil menghilangkan tekanan yang terasa berat. Biasanya aku akan ngebut dengan perasaan bangga. Fiuuh, lepas semua beban di pundak. Semacam obsesi menjadi pembalap yang pernah terhempas. Tinggal berdoa saja tidak ada polisi yang iseng menangkapku.
Hari ini aku balik lagi ke SD 2 Karang Wangkal. Aku sesuaikan kedatanganku pada saat jam istirahat pertama. Wow, keriuhan pasar pelajar. Tentu, setiap jam istirahat suasana sekolah jadi sangat ramai. Kadang, pasar saja sampai kalah.
Aku bergegas menuju ruang guru. Kulihat bapak-ibu guru sudah duduk di bangkunya masing-masing. Setidaknya ada empat guru perempuan dan tiga guru laki-laki. Guru olahraga dengan senyum yang mencemaskanku, segera mempersilakan aku duduk di ruang tamu. Ibu Tiwi selaku bendahara BOS, segera menghampiri.
“Makasih, ya, Bu, akhirnya pesan buku dari kami,” kataku seraya menyalaminya.
“Tapi kami pesan LKS-nya dulu, ya, Mba.”
“Tidak apa-apa, Bu. Tahun depan saya harap tidak hanya mengambil LKS.”
“Datangnya telat sih,” timpal seorang Ibu yang duduk paling dekat dengan kursi meja tamu.
“Siap!” Aku melempar tawa kecil menanggapi komentarnya. Sementara itu Bu Tiwi beranjak mengambil sesuatu di meja kerjanya yang terletak pada sayap kanan dari meja-kursi tamu.
“Sambil koreksi ya, Bapak-Ibu. Saya akan bacakan pesanan dari masing-masing kelas!” seru Bu Tiwi pada rekan kerjanya.
“Ya, Bu!” sambut seorang guru muda wanita, yang mirip sahutan murid-muridnya.
Bu Tiwi segera membacakan daftar pesanan mulai dari tingkat terendah. “Kelas satu, dua puluh. Kelas tiga, tiga puluh buah....” Bu Tiwi terus membacakan dan aku langsung mencatat dengan riang.
“Berarti tiap hari keliling ke sekolah-sekolah?” tanya guru olahraga, membuatku terkesiap.
Sampai hari ini, aku belum tahu namanya. Tampaknya dari semua guru hanya dia yang tidak memakai name tag pegawai. Sama seperti seragam olahraga yang selalu dia kenakan.
“Ya, Pak. Ini sumber penghasilan saya. Pekerjaan saya memang jualan buku ke sekolah-sekolah,” sahutku mantap.
“Apa tidak capek tiap hari keliling?” timpal yang lain.
“Kalau dipikir capeknya, sih, kapan bisa nembus target,” ujarku tertawa kecil. “Pulang ke kantor tidak diomeli atasan saja sudah untung.”
“Hebat, ya? Jarang banget, kan, marketing buku yang cewek.” Seorang ibu dengan jilbab berwarna kuning menyala berpadu dengan seragam khaki, turut ambil suara.
“Daripada nganggur, Bu,” sahutku seraya menyodorkan bukti pemesanan pada Bu Tiwi.
“Sudah berapa tahun?” selidik yang lain.
“Satu setengah tahun.”
“Betah juga.” Seorang bapak yang berpeci menanggapi.
Bel lalu menjerit lantang. Semua segera beranjak dari kursi menuju ruang kelas masing-masing. Tinggal aku dengan Bu Tiwi sang bendahara BOS yang masih bertransaksi denganku.
Aku menghela napas senang saat keluar dari area sekolah. Tidak setiap hari aku berhasil membuat transaksi penjualan macam ini. Ternyata masih kurang gesit dari sales penerbit lain. Semester berikutnya tampaknya harus mencuri start, nih.
Setelah berhasil mendapat transaksi, perasaanku menjadi lebih senang. Aku rasa, aku berhak mendapat waktu bersenang-senang meski sebentar. Motor telah aku pacu kencang. Tujuanku Andang Pangrenan. Tak masalah membayar bea masuk dua ribu lima ratus rupiah. Yang penting bisa selancar sampai puas. 
Menurutku, penerapan bea masuk bagi warga biasa yang ingin menikmati taman, kurang adil. Mungkin maksud penarikan bea masuk untuk biaya perawatan. Apalagi dengan fasilitas wi-fi, bagi kami golongan menengah ke atas tentu tidak masalah. Hanya, kasihan saja pada rakyat jelata yang ingin masuk tapi terbentur biaya. Nilai dua ribu lima ratus rupiah kalau dikalikan empat orang dalam satu keluarga berarti harus keluar kocek sepuluh ribu rupiah. Itu kalau anaknya dua, yang anaknya lebih dari dua pasti berpikir ulang.
Seperti diketahui, tingkat kesejahteraan masyarakat Banyumas termasuk rendah. Menurut rekapitulasi Bagian Kesra Provinsi Jawa Tengah, di Banyumas terdapat tujuh puluh desa merah, yang berarti desa tersebut kurang sejahtera. Mirisnya, Banyumas menduduki peringkat tiga setelah Klaten dan Kebumen, dalam kategori masyarakat kurang sejahtera tersebut.
Aku mengecek Whatsapp, ada tidak pesan yang mampir. Aku mengulir layar, mencoba mencari tahu kabar teman-teman dari status mereka. Tak lupa pasang status keberhasilan transaksi hari ini. 
Ah ya, aku kirim E-mail ke Titan juga.
Halo, Titan.
Gimana kabar? Sudah menjelajah ke mana lagi?
Kok tidak kirim cerita liputanmu lagi?
Kerja jadi wartawan enak, ya. Bisa cari berita sambil piknik.
Meski pekerjaanku juga ada jalan-jalannya, tapi kalau sudah ketemu target rasanya ingin langsung lari.
Apalagi bulan kemarin agak seret. Untunglah hari ini aku dapat orderan banyak.
Tapi tetap harus semangat, kan?
Kamu juga dong, tetap semangat memburu berita.
Hidup Semangat! Meski kadang, itu hanya slogan.
Semoga esok akan baik-baik saja.
Oh ya, akhir-akhir ini ada sesuatu yang tidak beres dengan jantungku. Apa aku perlu periksa ke dokter?
Anehnya, jantungku itu berdetak tidak normal saat melihat senyum seseorang. Jadi berasa seram.
Moga kamu tidak bosan membaca curcolku ini.
Ok, see U next time yeee!
***
Malam ini aku janji bertemu sama teman-teman lama di angkringan depan Pusat Administrasi UNSOED. Menurut grup Whatsapp Go Motor, akan ada lomba motocross di Wonosobo. Anak-anak ini mengajakku untuk ikut. Paling nanti aku cuma ikut menonton.
“Ayolah, Mba. Kita reuni balapan lagi.”
“Waduh, tulangku sudah tua Wan. Sekali ada yang patah bisa susah nyambungnya.” tawaku membahana antara menertawakan diri sendiri juga nasib diri.
“Alasan saja, jangan-jangan tidak boleh sama yayang,” komentar Geri.
“Yayang mana?” ujarku tergelak.
“Yayang peyang, mbok!” tanggap Iwan sambil mengambil bakwan dari piring. 
Tahu saja, nih anak, kalau aku belum punya pacar. “Tidak ada,” kataku cepat. “Jadi klub kita mau menurunkan berapa anak?” tanyaku mengalihkan topik.
“Tiga,” sahut Kang Maman. “Kamu belum pesan minum, Gev?”
“Biar aku pesan sendiri,” kataku sambil beranjak. 
Ini jadi kebiasaan baru kami kumpul-kumpul lesehan tepat di depan patung Pak Dirman. Tadinya kami sering kongko di angkringan pertigaan kampus. 
Aku menghampiri gerobak angkringan yang letaknya ada di seberang jalan. Tepatnya pada sebuah pelataran parkir yang luas, depan deretan ruko, yang salah satunya minimarket besar. Tidak berdiri di atas trotoar seperti angkringan lain, yang sudah pasti mengganggu lalu lintas pejalan kaki.
Beberapa orang tampak mengerumuni gerobak yang menyajikan aneka gorengan dan nasi bungkus kecil sega kucing atau nasi kucing. Tiap tempat di Jawa Tengah selalu memiliki angkringan sega kucing. Kalau di Wilayah Banyumas, biasanya lauk nasi kucing hanya setengah jari kelingking ikan asin, oseng tempe, dan sambal. Menurutku kurang bervarisai jika dibandingkan angkringan nasi kucing di Semarang. Di sana isi sego kucing bermacam-macam. Ada gudeg, nasi goreng, nasi ayam, nasi telur dan nasi orisinal—nasi kucing yang sebenarnya, pakai ikan asin dan sambal saja.
“Mas, jaesu ya. Sama pisang owel satu.”
“Pisang owel itu apa, Mba?” Mas Penjual menatapku sedikit bingung.
“Masa tidak tahu?”
“Iya, baru dengar malah,” sahut Mas Penjual. “Sini spesialis mendoan. Sementara belum membuat makanan yang aneh-aneh.”
Aku nyengir sambil memandang ke gerobaknya. Tidak seperti gerobak angkringan lain yang gorengannya telah siap lahap. Gerobak angkring ini mendoannya digoreng langsung, fresh from the fry pan, lah. Jadi kalau mau makan harus menunggu.
Okelah, ternyata angkringan ini tidak mengenal jenis makanan yang kusebutkan. Memang aku biasa makan pisang owel di angkringan pertigaan Jalan Kampus. 
“Pisang goreng dibakar, dipotong-potong terus diberi topping susu,” jelasku. “Bisa?”
“Bisa, Do?” tanyanya pada si partner. Dia sendiri sibuk mengadon tepung untuk mendoan.
“Bisa,” sahutnya. “Bisa jadi menu baru, kan, Mas Ren.”
 Aku mengacungkan ibu jari. Sebelum berbalik ke teman-teman aku teringat sesuatu. Iseng aku memelototi si Mas Penjual yang dipanggil Mas Ren.
“Ada apa Mba?” si Mas Penjual tampak risi saat aku pandang tanpa berkedip.
“Sepertinya kita pernah ketemu, ya?” Aku menelengkan kepala.
“Masa, sih? Wajah saya pasaran kalau gitu.” sahutnya dengan muka kaku.
“Tidak.” Aku masih mencoba mengingat-ingat. “Ah, Mas ini yang di SD Karangwangkal, kan? Pak Guru Olahraga?” tembakku langsung saat ingatanku berhasil menangkap sosoknya. Anehnya jantungku baik-baik saja.
“Mba salah lihat kali,” elaknya sambil mengangkat mendoan yang telah matang. “Mungkin kami mirip.”
“Tapi, tahi lalat di hidung jarang yang punya, lho?” desisku. “Coba senyum dikit?” Aku menyuruhnya dengan semena-mena. Maksudnya biar tahu, ada lesung pipit di kedua pipinya tidak.
Mas penjual mendoan malah memelototiku. Salah tingkah aku memandang ke arah partner-nya yang menatapku dengan satu pernyataan tersirat, “Situ waras?”
“Ah, bisa jadi kalian hanya mirip,” ucapku sebelum aku ditimpuki pakai mendoan panas sama mereka. 
Ya, sudahlah. Lagi pula, kondisi jantungku aman! Mungkin keduanya memang hanya mirip. 
“Ehem....” Suara dehamnya menggema.
“Baiklah, Pak Guru, saya tunggu pesanannya. Di sana, ya!” sebutku seenaknya sambil menunjuk pada gerombolan yang tengah asyik kasak-kusuk.
Aku berlari kecil menghampiri teman-teman yang masih setia menunggu. Sepertinya mereka sedang berdiskusi mengenai strategi agar bisa memenangkan perlombaan kali ini.
“Lama banget,” lontar Fendi.
“Penjualnya mirip sama orang yang kukenal. Jadi penasaran,” sahutku sembari memikirkan penjual mendoan tadi.
“Oh,” tanggapnya tak acuh lalu menyesap kopi.
Kami berbincang hingga pukul delapan. Setidaknya itu jam-ku untuk pulang. Kalau mereka, sih, tidak tahu sampai jam berapa. Yang penting pisang owel pesananku sudah habis meski rasanya tidak senikmat di angkringan pertigaan Jalan Kampus.

Book Comment (69)

  • avatar
    Andi

    hem

    12/03/2025

      0
  • avatar
    GudanhTrakor

    semnagat trus

    01/11/2024

      0
  • avatar
    Adisadisya eka putri

    bagus

    10/07/2024

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters