logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 4 My Partner And My Customer

Aku membuka buku agenda harian. Jadwal hari ini giliran ke SD Karang Wangkal, letaknya di Jalan Jaelani. Oke, siap beraksi. 
       “Sudah mau berangkat sekarang?” sapa salah seorang teman kerja. Dia Willy.
       “Iya, mumpung masih segar.” jawabku sambil bersiap-siap.
       “Gev, kamu jadi mengisi pameran buku Kibar Benderaku?” tanya Pak Opi ketika aku sedang bersiap-siap untuk pergi.
       “Iya, Pak. Nanti bareng sama Reihan.” jawabku. “Iya, kan, Rei?”
       “Iya, Pak!” sahut Reihan.
       “Kapan pelaksanaannya?”
       “Tanggal dua puluh, dua minggu lagi.”
       “Segera bereskan segala keperluannya. Cepat pesan tempat, cari yang strategis!”
       “Beres, Pak!” kataku mantap.
       “Kalau ada event macam ini memang harus ikut. Lumayan menambah pemasukan.”
       Supervisorku ini, Pak Opi, memang gila target. Segala cara dilakukan agar target terlampaui. Memang, sih, tanggung jawabnya besar, menyangkut target kelompok yang harus tercapai. Kalau tidak dia bakal kena semprot atasan. Bahkan kalau sampai lima kali berturut-turut tidak mencapai target. Siap-siap saja dipecat dari jabatan supervisor, turun derajat jadi bagian marketing lagi.
       “Saya beredar dulu, Pak!” pamitku. Sebuah tas besar berisi buku-buku aku tenteng dengan tangan kanan, tangan kiri mengapit tas selempang kecil yang isinya kalkulator, ponsel dan buku agenda. 
       “Oh, ya,” katanya manggut-manggut.
       “Pada nunggu apaan? Ayo, berangkat!” seruku pada rekan kerja yang lain.
       Mereka masih sibuk di meja masing-masing. Ada yang memelototi komputer, membolak-balik katalog buku baru, bahkan ada yang mengulir ponsel naik-turun. Tidak heran kadang-kadang Pak Opi meledak. Beberapa karyawan terlihat kurang termotivasi mencari pelanggan di luar. Berbeda denganku yang berapi-api seperti sekarang.
       “Segera menyusul, Gev!” sahut Fadi.
       “Ayo, ah!” Willy segera menyusulku. 
       Keluar dari pintu kami berjalan beriringan menuju tempat parkir yang berada di samping gedung. 
       “Kamu enak, Gev. Kebagian menjual buku-buku SD. Aku buku TK, susah laku,” keluh Willy yang dapat jatah menjual buku-buku TK dan playgroup.
       “Justru persaingan buku-buku SD lebih banyak. Harus pintar-pintar nyerocos, sampai berbusa,” kataku agar dia tidak terlalu mengeluh tentang bagiannya. 
       “Tetap aja, tak sebanyak peluang berjualan di SD.” Willy masih mengemukakan ketidakpuasan bagian penjualannya. “Kamu mau tukeran sama aku?” tawarnya tiba-tiba.
       Aku memaling selepas mengenakan helm. “Itu tergantung Bos. Bilang aja langsung ke dia. Aku, sih, oke aja di mana pun berada.”
       “Begitu,” balas Willy terpaku menatapku. Mungkin tidak yakin dengan ucapanku. Mungkin juga sedang berpikir bagaimana cara merayu si bos agar mau me-rolling pembagian tugas penjualan. 
       Pikir amat! Aku segera menyalakan motor. 
       “Yuk, duluan!” pamitku segera melarikan diri ke jalan raya. Malas berurusan sama rekan kerja yang suka mengeluh dan merengek tak ada habisnya.
       Setengah jam kemudian aku sudah memasuki area SD 2 Karang Wangkal. Baru kali ini aku akan masuk ke SD Karang Wangkal. Ibarat pepatah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, maksud hati mencari SD 1 Karang Wangkal, tetapi malah menemukan SD 2 Karang Wangkal yang letaknya nyempil di ujung lapangan. Sempat bingung juga mau lewat mana. Terobos lapangan atau melalui gang sempit yang nyaris tidak kelihatan. Akhirnya demi teringat fungsi dari lapangan, aku melewati jalan yang benar. Masuk gang sempit yang langsung masuk pintu gerbang SD. 
       Sebelum memburu SD Karang Wangkal, aku mampir ke sekolah lain dulu untuk konfirmasi pesanan SD 3 Grendeng. Katanya, sih, mau ditaruh perpustakaan untuk bahan pinjaman. 
       Aku melewati anak-anak yang berlarian selepas berolahraga. Melihat mereka selalu mengingatkan pada masa SD dulu. Ceria, bebas tanpa memikirkan apa pun hanya bermain dan sekolah. Minta uang, tinggal menengadahkan tangan pada ibu. 
       Aku celingukan mencari ruangan guru. Mana, ya? Aneh, biasanya kalau masuk area sekolah ruangan kantor tampak menonjol. Di sini semua ruang tampak sama.
       “Maaf, Pak. Ruang guru ada di sebelah mana, ya?” tanyaku sopan. Ketika melihat seorang guru pria berdiri tak jauh dari salah satu ruangan. Lelaki itu mengenakan pakaian olahraga, jadi, aku berasumsi dia adalah guru mata pelajaran olahraga.
       “Oh itu, di sebelah pojok sana!” tunjuknya. “Ada keperluan apa?”
       “Saya dari Penerbit Gala mau menawarkan buku-buku terbitan dari kami,” kataku langsung memperkenalkan diri. 
       Dia tersenyum. Dan senyumnya membuatku tak berkedip untuk sekian detik. Apa aku sedang terhipnotis?
       “Buku pelajaran olahraga SD ada?” tanyanya menyadarkan aksi terpanaku.
       “Ada, dong!” jawabku antusias. “LKS juga tersedia.”
       “Mari!” ajaknya kepadaku memasuki koridor yang terdapat beberapa anak yang sedang bermain. 
       Tiba pada pintu bercat hijau, dia mempersilakanku masuk dan duduk di kursi tamu yang berada di depan deretan meja kursi para guru.
       Ruangan guru tampak sepi. Hanya satu orang yang terlihat tengah sibuk memeriksa buku tugas siswa. Aku mengedar pandangan dan melihat meja-meja dengan tumpukan buku, dokumen, dan alat tulis di atasnya. Kipas angin menyala di tembok. Ada gelas kopi yang isinya masih setengah penuh di salah satu meja. Foto besar yang menampilkan wajah presiden dan wakil presiden tengah tersenyum penuh wibawa, terpajang rapi dalam pigura.
       “Jam istirahat kurang sepuluh menit lagi,” ucapnya sebelum bicara pada seorang ibu yang tadi sempat menganggukkan kepala padaku, sebelum tenggelam lagi dalam tumpukan buku siswanya. 
       Pak Guru itu memperkenalkanku sebagai penjual buku SD. Ibu bertubuh gemuk mengangguk lalu tersenyum dan beranjak menghampiriku. Sementara guru olahraga yang tadi menyambutku menuju mejanya, meneguk air dari gelas yang tersedia.
       “Lihat-lihat dulu boleh, ya, Mba?” ucap si ibu guru gemuk setelah menyalamiku. “Sesuai dengan kisi-kisi tidak?”
       “Ini sudah pasti sesuai dengan kisi-kisi, Bu. Yang mengarang guru SD juga,” kataku sambil mengeluarkan sample semua buku. “Ibu mengajar kelas berapa?” tanyaku. “Maaf, dengan Ibu siapa?”
       “Kelas lima,” sahutnya. “Saya Bu Tiwi,”
       “Silakan, Bu, ini semua buku kelas lima. Lengkap dari tema satu sampai lima.” Aku menyodorkan setumpuk buku pada Bu Tiwi. “Biasanya Ibu pakai buku apa?”
       “Kalau di sini biasanya pakai buku terbitan Senja,” kata Bu Tiwi sambil membuka-buka buku itu. Matanya menelusuri halaman per halaman dengan tekun, seolah sedang membandingkan.
       Selagi Bu Tiwi sibuk dengan buku kelas lima, aku berdiri mengangkut enam tumpukan buku Penjasorkes yang tadi guru olahraga tanyakan padaku. Berjalan menuju mejanya lalu mengulurkan. “Silakan buku Penjasorkes-nya, Pak.”
       “Ini berapa, Mba?” tanyanya kemudian.
       “Kisaran empat puluh lima ribu sampai lima puluh ribu rupiah,” sahutku. 
       Pak guru itu mengangguk. Selanjutnya dia sudah membuka salah satu buku yang berada di tumpukan paling atas. Aku masih berdiri di tempat. Sejenak terpana.
       “Lengkap juga, penjelasannnya mudah dipahami. Tapi anak-anak sudah telanjur pakai buku Senja.” Suara Bu Tiwi membuatku tersadar lalu kembali ke tempat dudukku.
       “Kan, bisa buat tambahan referensi, Bu,” kataku.
       “Ini ada diskonnya, dong?” tembak si guru olahraga tiba-tiba dengan menguntai senyum.
       Secara ajaib senyumnya itu menganggu ritme detak jantungku. Jangan-jangan aku menderita aritmia. Itu, tuh, penyakit jantung yang penyebabnya ada konsleting pada bagian kelistrikan di jantung.
       “Diskonnya berapa persen, ya?” timpal Bu Tiwi, seperti bantuan oksigen bagi penderita sesak napas saat aku berpaling padanya.
       “Dua puluh lima persen sampai tiga puluh persen,” sahutku, mengembus napas tertahan.
       Beberapa saat kemudian dari ruangan sebelah yang di pintunya terdapat plang tulisan R. Kepsek, muncul seorang ibu dengan kacamata baca yang masih menggantung di hidung.
       “Buku dari Gala, Bu,” ucap Bu Tiwi memperkenalkan aku pada ibu itu. Kuduga dia ini kepala sekolahnya. Terlihat dari cara Bu Tiwi bicara padanya, dan juga dari mana dia keluar.
       “Gimana bukunya?” tanya Bu Kepsek pada Bu Tiwi. Beliau langsung duduk tepat di depanku. Dari name tag yang tersemat manis di jilbabnya, menyaingi bros di sisi kanannya. Aku bisa dengan jelas membaca nama yang tercantum di sana, Suyanti.
       “Menurut saya bagus, tapi agak mahal,” sahut Bu Tiwi sembari menyodorkan satu buku untuk dilihat oleh kepala sekolahnya.”
       “Yang penting kualitas mengikuti, Bu,” sambarku, mengunggulkan buku jualanku.
       “Kalau LKS?” tanya Bu Suyanti.
       “Ada, Bu. Harga dua belas ribu, diskon dua puluh persen,” terangku langsung.
       “Oh gitu,” tanggapnya manggut-manggut. “Mungkin kita bisa ambil LKS-nya, ya, Bu?” Bu Suyanti minta pertimbangan Bu Tiwi. “Uangnya masih ada untuk penyediaan buku, kan?” lanjutnya.
       Mendengar Bu Suyanti bertanya mengenai keuangan pada Bu Tiwi, aku langsung bisa menebak kalau Bu Tiwi ini pasti bendahara BOS-nya.
       “Aman, Bu,” sahutnya.
       “Tapi, apa tidak sebaiknya kalau kita diskusikan dulu dengan rekan guru yang lain, Bu?” saran guru olahraga, masih takzim membuka-buka buku Penjasorkes dari kelas satu sampai kelas enam yang aku sajikan secara spesial tadi.
“Ya, tentu saja. Nanti kita diskusikan kalau bapak-ibu guru yang lain sudah kemari,” kata Bu Suyanti tidak terlalu lama menimbang saran dari anak buahnya.
       Aku sedikit patah hati mendengar usul pak guru olahraga itu. Padahal Bu Suyanti, kan, sudah bilang mau mengambil buku LKS untuk anak-anak tanpa kompromi. Gara-gara guru ini, beliau jadi berubah pikiran. Duh, hampir saja aku tepuk jidat betulan.
       “Bukunya tidak sekalian didiskusikan, Bu?” tawarku demi mengalahkan setitik pesismis tadi. Siapa tahu setelah berdiskusi mereka tertarik menggunakan buku dari Gala.
       “Kalau buku, sepertinya belum. Tahun depan coba, ya,” ucap Bu Suyanti langsung memupuskan asaku yang sedang akan berkembang.
       Ya, sudahlah. Semoga tahun depan, mereka nanti beneran mengambil buku pelajaran dariku.
       Aku melihat jam tangan saat bel berbunyi. Waktu istirahat tiba. Satu per satu guru-guru lain berdatangan. Mereka mencecap air dari gelas masing-masing, selanjutnya satu dua orang turut mengerumuniku. Ibu Suyanti segera memberi penjelasan tentang buku yang aku bawa. Sesekali aku menimpali atau menjawab aneka pertanyaan dari bapak-ibu guru itu. Mereka tampak berdiskusi seru membandingkan bukuku dengan buku terbitan Senja. Akhirnya satu keputusan membuatku hanya bisa berharap kembali.
       “Mba, untuk sekarang kami belum bisa memutuskan. Bisa minta nomor WA-nya?” tanya Bu Suyanti.
       “Ada, Bu.” Aku segera membacakan nomor kontakku. “Saya tunggu kabar baik dari Ibu,” ucapku tersenyum renyah.
       Ini salah satu trik marketing. Keramahan menjadi kunci penting pelanggan merasa nyaman dan ingin kembali datang. Untuk kasus kali ini keramahan menjadi gerbang bagiku kembali kemari dengan membawa buku-buku yang terjual.
        Ah, aku terantuk lagi pada senyum berlesung pipit itu. Masih single, tidak ya?

Book Comment (69)

  • avatar
    Andi

    hem

    12/03/2025

      0
  • avatar
    GudanhTrakor

    semnagat trus

    01/11/2024

      0
  • avatar
    Adisadisya eka putri

    bagus

    10/07/2024

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters