Jam istirahat masih sepuluh menit lagi. Aku datang terlalu cepat rupanya. Perkiraanku memeleset, kupikir sekolah ini jauh, ternyata dekat meski agak menyelip tempatnya. Pasti kalian penasaran, kenapa aku nongkrong di SD dan menunggu waktu istirahat? Kalian tebak aku guru? No! Dari dulu aku sama sekali tidak berminat jadi guru. Alasan pertama, aku merasa tidak berbakat menjadi seorang pengajar apalagi pendidik. Alasan kedua, dari segi penampilan jelas aku tampak seperti preman daripada sosok seorang ibu guru yang budiman. Alasan ketiga, rasanya sangat membosankan jika aku juga menjadi guru mengingat ayah-ibu dan seluruh keluarga berprofesi sebagai guru. Tidak mencerminkan Bhineka Tunggal Ika sekali, bukan? Satu trah masa guru semua? Atau kalian mengira aku sedang ngecengin guru muda. No way! Sejauh pengamatan sangat jarang guru pria yang statusnya masih single. Rata-rata sudah menikah. Dan kalau pun ada yang single, mereka sama sekali tidak menarik hatiku. Ups! Sori, maksudnya mereka yang tidak tertarik sama aku. Hmm, berjualan sesuatu? Yap, benar. Aku ini seorang sales. Tepatnya sales buku pelajaran. Sasaranku jelas para bapak dan ibu guru SD. Promosi gitu, biar mereka tertarik memakai buku bahan ajar atau LKS dari penerbit tempatku bekerja. Sudah satu setengah tahun lebih aku bergelut dalam dunia marketing buku. Setiap hari aku harus mobile mencari TO alias target operasi sekolah-sekolah, khususnya SD, untuk aku jejali dengan buku-buku pelajaran keluaran Penerbit Gala. Setiap hari aku harus berjuang keras agar hasil penjualanku memenuhi target, syukur-syukur melebihi batas minimum order. Oh ya, aku satu-satunya cewek di bagian marketing. Bagiku tidak masalah. Kalau ternyata bisa kenapa tidak? Meski di awal memang sangat berat, karena mendapat banyak tekanan. Seperti dipandang sebelah mata, karena aku perempuan, meski casing-ku lebih nge-boy. Belum lagi tuntutan target penjualan yang dulu kusangka hanya seberat menjinjing tas koper. Kenyataannya, ada target sebesar gunung yang harus kupanggul. Seiring waktu, syukurlah semua telah berjalan lancar. Mereka—rekan kerja cowok—tidak lagi meremehkanku. Aku jadi teringat saat pertama kali wawancara dulu. Pak Gunawan sempat sangsi dengan kemampuanku. Dia bilang, semua cewek yang pernah mendaftar sebagai sales marketing rata-rata cuma bertahan dua minggu, malah ada yang langsung menyatakan mengundurkan diri pada saat wawancara. “Yakin, Anda bisa menjadi bagian dari staf penjualan kami?” “Yakin, Pak!” “Walau tiap hari harus berkeliaran tidak tentu? Kehujanan, kepanasan?” Pak Gunawan tersenyum tipis. Mungkin dia kira aku akan mundur. Aku menjawab, “Saya siap, Pak. Panas, hujan bukan apa-apa bagi saya. Saya sudah terbiasa hidup di jalanan.” Pak Gunawan mengernyitkan kening. “Maksud saya, saya suka sekali kalau bisa bekerja dengan motor. Apalagi kalau harus berkeliaran di jalan.” “Biasanya cewek-cewek paling takut yang namanya panas dan hujan. Panas katanya takut hitam. Terus hujan, katanya takut sakit, kamu... kok aneh, ya?” Wawancara terus berlangsung dan salah satunya menanyakan kesanggupanku untuk bekerja di bawah tekanan. Dengan angkuh aku menjawab, itu bukan masalah. “Bahkan saya sudah sering tertekan di bawah bayang kematian,” sahutku saat itu. Kalimat terakhir memang terkesan mendramatisasi, tetapi, itu asli lho. Dulu aku pernah berlaga di arena motocross. Dulu sekali. Sebelum satu kejadian menghapus mimpiku waktu itu. Mau bagaimana lagi? Sekarang yang bisa kulakukan hanya menonton MXGP. Mupeng dengan gadis remaja bernama Sheva Ardiansyah─atlet crosser yang bisa terbang ke kancah internasional. Itu, kan, seharusnya aku! Kenapa dia? Menangis darah. Yang paling mengenaskan adalah ketika berpura-pura ikut terjun berlaga demi mendapatkan epinefrin−obat pemicu kerja jantung, tetapi kenyataannya aku cuma melihat di pinggir lintasan motocross. Untuk ini aku jelas tidak menonton sendiri. Aku mengekor Kang Maman yang menjadi official anak didiknya yang ikut berlomba. Atau menyaksikan kejuaraan dunia MotoGP di televisi sebagai hiburan. Aku menarik napas panjang, ketika teringat buncahan adrenalin mengalir deras dalam darahku kala itu. Rupanya karena jawaban tersebut, Pak Gunawan jadi tertarik menerimaku sebagai bawahannya. Mungkin juga karena ingin membuktikan kebenaran kata-kataku. Kita lihat, seberapa tangguh, sih, kamu! Itu kalimat yang rasanya terdengar di telinga saat Pak Gunawan akhirnya mengiakan penerimaanku sebagai sales marketing. Akhirnya aku memberi tanda tangan untuk kontrak kerja selama satu tahun. Pada tahun kedua, masa kontrak kuperpanjang. Lamunan itu buyar ketika ada seseorang yang menyapaku. “Menunggu siapa, Mba[1]?” “Oh, ini Pak, saya dari Penerbit Gala. Mau ketemu Pak Umar, menawari buku pelajaran kelas lima.” “Sudah buat janji?” “Sudah, kemarin katanya pas jam istirahat,” jawabku. “Sepertinya Pak Umar sedang mengajar,” terang guru ini. “Boleh lihat buku pelajaran kelas enam?” Aku langsung mencari buku untuk kelas enam versi Penerbit Gala, “Buku-buku kami sudah mengikuti kurikulum tiga belas. Lebih banyak mengajak siswa untuk berpikir dan berdiskusi,” ocehku sambil menyodorkan buku kelas enam. “Silakan, dipelajari!” Pak Guru itu langsung membuka-buka halaman buku. “Berapa harganya?” tanyanya. “Itu lima puluh tujuh ribu, kami diskon tiga puluh persen.” “Mahal amat.” “Lihat kualitasnya, Pak. Kertasnya juga halus, cetakan jelas sehingga tidak cepat merusak mata.” Bapak itu membenarkan posisi kacamata sambil melirikku. Ups! Apa kata-kataku ada yang aneh, salah? “Penjelasan ada banyak contoh-contoh soal.” Aku masih saja berpromosi. Sebuah raungan keras kemudian menggema dan tak lama suara riuh rendah terdengar seiring derap-derap kaki di lorong sekolah. “Istirahat, ya, Pak?” “Iya, sebentar lagi teman-teman saya keluar kelas. Siapa tahu mereka ada yang berminat. Itu Pak Umar!” tunjuk si guru pada seorang yang baru datang dari ruang kelas. Aku mengangguk dengan senyum lebar. Ada banyak harapan, nih. Semoga, Pak Umar mau pakai buku dari penerbit tempatku bekerja dan teman guru yang lain ikut tertarik beli bukuku sebagai acuan bahan ajar. Kan, asyik. Otomatis para siswa ikutan beli buku seperti yang gurunya pakai. *** Halo, Gev! Ke mana saja nih? Sampai lupa sama teman. Aku kemarin habis melakukan liputan ke Nusa Tenggara, melihat kondisi kawasan yang longsor. Kehidupan mereka sangat mengenaskan, Gev. Kawasan pinggiran memang selalu terlupakan. Untung warga begitu sabar. Kalau nggak mereka pasti sudah berontak lagi minta merdeka. Seperti biasa kusertakan foto-foto indah kawasan Nusa Tenggara. Siapa tahu kamu jadi terinspirasi ingin touring kemari. Oke deh, kayaknya sekian dulu kabar-kabari dariku. Aku tunggu balasannya! Aku segera membalas E-mail dari Titan, teman hasil chatting dulu. Kami pernah bertemu satu kali, dan tanpa kata kami sepakat menjadi teman saja. Titan seorang wartawan, makanya suka kelayapan ke mana-mana buat cari berita. Tempat tinggal dan kantor redaksinya di Surabaya. Dan seperti biasa dia selalu melampirkan banyak foto keren pemandangan tempat tujuan liputannya. Foto yang tidak dia pajang di akun media sosialnya. Halo juga, Titan! Sori, maklumlah, wanita karier. Sibuk sama pekerjaan. Kemarin berarti naik pesawat, dong? Hati-hati lho, ntar pesawatnya tenggelam, eh, kena badai, mendarat darurat lalu terbakar. Ups! Bukan bermaksud mendoakan yang buruk-buruk. Cuma mengingatkan agar banyak berdoa. Mau numpang curhat. Sudah tiga bulan ini aku berhubungan sama seseorang (jangan patah hati lho!). Dia tinggal dan bekerja di Jakarta. Kayak kita dulu, lah. Bedanya, dia mengajak aku nikah. Tapi kamu mengajak berteman. Oh ya, namanya Zakaria, asli Solo. Dan orangnya biasa sih, tidak ganteng, sama kamu masih gantengan kamu (padahal kamu jelek ya?) Sebenarnya bukan itu poin ceritaku. Yang pasti kami sudah tidak berhubungan lagi. Dan, entah kenapa rasanya kok lega, ya. Mungkin karena aku tidak jadi sama orang yang suka menilai sesuatu dari cover-nya. Padahal seringkali cover itu untuk menutupi bagian yang buruk. Herannya banyak orang suka menutupi kekurangan diri dengan make-up tebal. Atau memakai kamera sim salabim menjadikan segala sesuatu menjadi sempurna dalam sekejap. Memang jamannya sekarang sudah serba canggih, cepat dan instan. Tapi tidak semua yang cepat dan instan itu baik, kan. Ups, aku jadi melantur ke mana-mana. Segitu dulu, ya, Tan, kabar-kabari dariku. See U! Gevani [1] Di Banyumas, orang sering memanggil Mbak dengan akhiran huruf “K” yang menghilang. Beda dengan orang Jawa Tengah bagian timur yang huruf “K”-nya jelas meski ringan.
hem
12/03/2025
0semnagat trus
01/11/2024
0bagus
10/07/2024
0View All