Selepas alarm istirahat berbunyi, Risa segera meninggalkan kelas bersama Raksa yang berjalan di belakangnya. Tidak tahu apa yang akan mereka bicarakan. Jika dilihat bagaimana ekspresi wajah Risa tadi, Alin yakin, kalau pembahasan mereka berdua, tidak akan jauh dari masalah yang melibatkan perkelahian Raksa dengan seseorang yang Alin tidak kenali. Entahlah, itu hanya kemungkinan. Sebab, jika Alin ingin mengetahui lebih jauh lagi, yang ada hanya akan timbul perasaan iri dan tidak suka saja. "Lin, ke kantin yuk. Entar gue deh yang beliin. Ayo ...." Lima kali sudah, Vina membujuk Alin agar mau pergi ke kantin bersamanya. "Males gue, lu pergi sendiri sana." "Jahat." "Dari dulu." Vina mencebikkan bibir, "Ya sudah, gue ke kantin dulu, bye!" kemudian bergegas pergi dan meninggalkan Alin sendirian di dalam kelas. Alin menghela nafas, dia berpikir kenapa setiap hari dunia terasa sangat membosankan. Merasa percuma membuang waktu untuk melamun, akan lebih baik jika Alin menggunakannya untuk tidur. Ini bahkan baru hitungan detik dia meletakkan kepalanya di atas meja, serta hendak mengendarai kapal menuju dunia mimpi yang lebih indah dari semesta tempat ia tinggal. Tiba-tiba suara benda yang terjatuh,memaksa Alin untuk mendongak dan melihat apa yang terjadi, sampai menimbulkan suara cukup keras seperti itu. Ketika dia membuka mata, Alin langsung terlonjak saat melihat ada orang asing yang berada di dalam kelasnya. "Loh?! Siapa?" Tepat di bangku tempat Raksa duduk, orang itu dibuat gelagapan, karena menjatuhkan buku-buku, ketika dia sedang memasukkan beberapa butir telur dan dua batu yang berukuran cukup besar ke dalam tas Raksa. Melihat Alin tengah memergoki aksi yang ia lakukan, orang tidak dikenal itu, lantas segera berlari meninggalkan kelas. "Tunggu!" karena terlalu terburu-buru untuk berdiri, Alin sampai lupa kalau ada dinding di sebelahnya, hingga dia harus merelakan kepala dan kakinya menjadi korban atas kekokohan dinding di sana. "Sakit," Rrintih Alin dalam diam. "Heh! Lo ngapain gelesotan di situ!" Jaya yang baru masuk ke dalam kelas langsung berteriak, karena terkejut melihat Alin tengah duduk di atas lantai sambil memegangi kepala dan kakinya. "Sudah ya. Enggak ada yang nyuruh lo buat jadi pembantu di sini. Bangun yuk, bangun. Entar dikira gue yang nyuruh lo jadi babu. Heh! Bangun." Alin masih diam tidak bergeming, dia tetap fokus memegangi kepala dan kakinya yang masih terasa sangat sakit. "YA TUHAN. JAEDI! ANAK ORANG LO APAIN?!" Sontak, Jaya langsung membungkam mulut Kido yang tiba-tiba masuk ke dalam kelas sambil berteriak kencang. "Enggak usah teriak-teriak! Orang gue datang, tiba-tiba dia sudah gelesotan kayak gini." "Lin, lo dijadiin babu ya, sama Jaedi?" "Mulus banget mulut lo kayak baru diamplas! Pengen gue kena hukum sama Pak Trisno?!" Alin masih tetap memilih untuk diam. Jujur, lutut dan kepalanya terasa lebih sakit daripada tadi. "Bangun woi. Bentar lagi anak-anak bakalan masuk. Entar kalau mereka lihat lo gelesotan sambil nunduk kayak gitu, dikira kita bully lo lagi." "Kalian berisik banget sih, coba lihat bangkunya Raksa!" Alin ingin sekali berkata demikian. "Bangun heh! Buset macan betina ... lu ngapain semedi kayak gitu sih!" ucap Jaya yang merasa kesal karena Alin tidak segera berdiri. Bukan karena apa. Masalahnya, jika ada orang lain yang melihat Alin seperti ini, bisa-bisa, dikira dia dan Kido lah yang membuat Alin bersimpuh di lantai, sehingga terlihat seperti tengah dirundung oleh mereka berdua. "Sudah, heh bangun." sama seperti Jaya, Kido juga dibuat ketar-ketir sendiri. Telinga Alin terasa sangat pengang mendengar suara Jaya dan Kido yang jauh dari kata santai. Meski kepala dan kakinya masih terasa sakit, dengan perlahan tapi pasti, Alin berusaha untuk berdiri. "Nah, gitu kan ba--" "Eh! Astaga! Itu kepala lo kenapa?!" "Itu kepala lo berdarah!!" Alin hanya memandang tidak mengerti saat melihat Jaya dan Kido bersikap histeris semacam orang tengah kerasukan setan. Memang kenapa dengan kepalanya? "Darah!" Apa? Alin masih belum mengerti apa yang Kido katakan. "Kenapa?" "Itu, dahi lo!" Alin mengikuti arahan Jaya untuk menyentuh dahi dan mendapati ada bercak darah yang menempel di tangannya. "Tidak masalah, hanya luka kecil." Jaya dan Kido terperangah mendengar apa yang Alin katakan. Luka cukup parah seperti itu, hanya disebut sebagai luka kecil. Berarti memang benar kata Vina, kalau Alin bukanlah seorang manusia, dia adalah salah satu Alien yang menyamar sebagai salah satu makhluk hidup di muka bumi ini. ° ° ° ° "Ingin membicarakan hal apa, sampai ke sini?" Setelah tiba di tempat yang dituju, kini langkah kaki Raksa ikut terhenti, saat Risa berhenti di depan bangunan kosong yang berada di belakang sekolah. "Sa, apa alasan kamu berkelahi dengan Galuh? Terus, kemarin malam bukankah waktunya kamu buat menjenguk Dipa? Lalu kenapa kamu enggak datang ke rumah? Tadi malam memangnya kamu ke mana saja, sampai tidak memberi kabar? Ibu dan bapak sampai khawatir." Raksa hanya diam, dia tidak tahu harus berkata seperti apa. Karena jika menjelaskan semuanya kepada Risa, pasti suasana akan memburuk dan tentu saja dia tidak ingin hal itu terjadi. "Kenapa enggak dijawab? Kamu ke mana saja tadi malam?" Untuk sesaat Raksa tetap terdiam, hingga satu detik kemudian, dia memeluk Risa dengan hangat. "Enggak kok. Enggak ke mana-mana, tadi malam aku ngerjain tugas sama Batdhik, dan karena sudah larut malam, jadi sekalian saja tidur di kosannya. Sekali-kali, biar Batdhik enggak tidur sendirian." Jika Raksa boleh jujur. Sungguh, dia sudah merasa lelah dengan sikap penuh kepura-puraan ini. Setiap hari, batinnya juga bergejolak kesal, karena tidak ingin lagi mengarang cerita. Sumpah, Raksa sudah muak dan lelah dengan segala kebohongan yang ia jalani setiap hari. "Kamu enggak bohong, kan?" Risa berucap sambil berusaha agar tidak menangis. "Enggak," Raksa menunjukkan senyuman yang hangat, lalu mengusap pelan kepala gadis itu. "Lalu apa alasan kamu berkelahi dengan Galuh, sampai babak belur?" Raksa menggeleng. Dia sama sekali tidak berniat menjawab jujur pertanyaan yang diajukan Risa. "Bukan apa-apa, hanya masalah sepele. Jangan terlalu dipikirkan, seperti tidak mengenal gejolak darah remaja saja." "Meski begitu, kamu jangan lagi berkelahi sampai babak belur kayak gini, dan jangan juga pergi dari rumah tanpa ada kabar. Kasihan ibu sama bapak, terutama Dipa. Dia sampai berkali-kali nanyain kamu. Katanya, Mas Raksa ke mana, kok tidak datang." "Iya sudah, maaf. Kalau gitu sebagai gantinya, aku bakalan datang buat jenguk Dipa, beberapa hari lagi." Raksa berucap seraya menepuk-nepuk telapak tangan Risa. "Jangan bohong, kamu harus menepati ucapan kamu." Raksa mengangguk. "Kalau gitu, sini. Biar aku lihat luka kamu." Enggan melakukan hal demikian, Raksa malah menunjukkan ekspresi tidak mengerti. "Kenapa?" "Ya supaya tahu, sudah kamu obati dengan baik apa belum." Lalu secepat mungkin, dia menghentikan tangan Risa yang berusaha menyentuh wajahnya. "Tidak perlu. Ini hanya luka ringan." "Luka ringan dari mana? Itu wajah kamu lebam-lebam." "Luka kecil seperti ini enggak akan ngebunuh aku." Tidak ada cara lain bagi Risa selain mengalah dengan sifat keras kepala Raksa. "Cuma itu yang ingin kamu katakan?Kalau sudah, lebih baik kita kembali ke kelas sekarang. Ayo." Ada yang aneh atau mungkin hanya perasaan Risa saja? Rasa takut itu muncul kembali. Seakan seperti mengulang kejadian di masa lalu, bayangan seorang pria yang terbaring penuh luka kembali terputar dalam memori ingatannya. Sekarang, batin dan pikiran Risa sedang mengalami pertentangan hebat. Dia yakin kalau pria itu bukan Raksa, tapi di sisi lain, dia juga menyadari bahwa sesosok orang yang bersimbah darah di jalan raya pada hari itu sangat mirip dengan Raksa. Risa menggeleng tidak ingin memikirkan hal itu lebih jauh lagi. "Kenapa diam? Ayo," ucap Raksa, saat menyadari kalau Risa masih tetap diam di tempatnya berdiri. Risa hanya tersenyum, kemudian berjalan mendekat pada Raksa. "Sa, kamu ...." "Kenapa?" Gelengan ringan diberikan Risa untuk menjawab pertanyaan Raksa. "Enggak jadi, ayo." Risa segera berjalan mendahului Raksa dan membuat Raksa yang berada di belakangnya tersenyum samar. "Hati-hati kalau jalan, jangan kebanyakan gaya, kalau nanti jatuh bisa gawat." Bukannya menuruti perkataan Raksa, seakan disuruh, Risa justru berjalan seperti anak kecil yang kegirangan karena baru mendapatkan permen. Melihat Risa yang tertawa bahagia seperti itu, Raksa tidak tahu apakah dia harus merasa senang atau sedih. Raksa ikut merasa senang saat Risa terlihat begitu bahagia, tapi dia juga merasa sedih karena kehidupan ini bukan yang dia inginkan. "Cepat sembuh Ris, enggak capek apa kayak gini?" batin Raksa. Bersambung...
cerita nya bagus banget
17d
0di cerita ini sangat bagus untuk membaca
10/05
0eh ini sape bab berapa woy
28/03
0View All