logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 2 If We Are Together

Setelah hampir lima belas menit mereka berdua berlari menerobos hujan yang turun cukup deras, hingga berjibaku melewati jalanan yang mungkin saja bisa membuat mereka terpeleset, kini Vina dan Alin sudah sampai di sekolah.
Tentang bagaimana kondisi mereka berdua, tolong jangan ditanya. Baik Alin ataupun Vina, keduanya sama-sama basah, walau tidak sampai basah kuyup, tapi jika dibiarkan dengan kondisi seperti itu, tetap akan pilek juga.
"Lo enggak mau ke kamar mandi dulu, Lin?"
Alin menggeleng, lalu mengeluarkan buku miliknya dan milik Vina yang berada di dalam kantong plastik kresek tadi. "Gue mau langsung ke kelas."
"Bisa pilek lo nanti."
"Engak bakal. Gue kebal sama air hujan," ucap Alin penuh kepastian.
"Dih mulutnya, kalau ngomong tuh dijaga.. Ya sudah, kalau gitu gue ke kamar mandi dulu."
Alin hanya mengacungkan jempol menanggapi perkataan Vina, kemudian bergegas untuk masuk ke dalam kelas.
Seperti biasa, setelah berada di dalam kelas, Alin akan langsung duduk di kursinya, lalu memilih untuk memandang keluar jendela dan tidak peduli dengan kebisingan seluruh murid yang ada di sana.
Bisa dikatakan, sebab itulah Alin tidak memiliki teman kecuali Vina, itupun juga karena mereka berdua masih ada hubungan keluarga. Jika tidak, mungkin Alin benar-benar tidak akan memiliki seorang teman.
"Kemarin, gue lihat Raksa lagi berantem sama Galuh, anak SMA sebelah. Di lapangan sekolah yang enggak terpakai, di gang sebelah sana."
Mendengar ada yang menyebut nama Raksa. Lantas, dengan hati-hati Alin mendengarkan apa yang dibicarakan Jaya dan Kido, teman satu kelasnya.
"Jangan sebar cerita palsu lag, lo."
"Seriusan Do. Sumpah. Gue enggak bohong. Gue lihat sendiri, Raksa sama Galuh saling adu jotos. Kalau enggak percaya, nanti pas Raksa datang, lihat saja wajahnya, pasti penuh sama luka bonyok."
Tidak ingin berpikir lebih jauh, Alin hanya mengulas senyum hambar.
Sangat disayangkan, seseorang seperti Raksa bisa mudah sekali beradu kekuatan dengan orang lain, sehingga kesan sok berani muncul begitu saja dalam pikiran Alin.
"Kira-kira ada masalah apa ya, sampai Raksa adu jotos gitu sama Galuh? Bukannya dulu, dia juga pernah adu jotos sama anak sekolah lain, selain Galuh?"
Jaya mengedikkan bahu. "Enggak tahu, denger-denger sih gitu, tapi kagak tahu juga sih. Yang jelas, gue lihat Raksa sama Galuh berakhir imbang, mereka berdua sama-sama babak belur pokoknya."
"Hayo loh! Pada gibahin Raksa, kan!"
"Anj ...!"
Jika tidak dihentikan oleh Kido, pasti Jaya sudah mengumpat, sebab terkejut dengan Dewi yang tiba-tiba saja masuk kelas seraya menggebrak meja.
"Apaan lu, dateng-dateng bikin orang jantungan," ucap Jaya sambil menatap kesal pada Dewi yang seakan tidak merasa bersalah, dan langsung duduk di kursi sebelah Jaya.
"Cukup gosipin Raksa ... tuh lihat, ceweknya datang nah."
Mengikuti ke mana arah tunjukan Dewi, Jaya dan Kido terperanjat saat melihat Risa sudah berdiri di ambang pintu dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Halah, bilang saja, lo itu enggak ikhlas, kalau Raksa kita gosipin."
Dewi terkekeh, lalu memukul kepala Kido dengan buku. "Tentu! Gue enggak ikhlas kalian ngegosip orang kayak Raksa. Selain ganteng, dia juga bisa menghormati wanita. Nah kalian, bisanya ngomongin orang di belakang dan suka mainin perasaan wanita. Padahal enggak ada ganteng-gantengnya."
"Kurang parah Wi omongan lo. Yang lebih parah lagi.kalau bisa."
Tidak mau ambil pusing dengan perkataan Jaya, Dewi lebih memilih untuk membaca buku pelajarannya, sedangkan Kido dan Jaya hanya saling bertukar pandang, sambil sesekali melirik Risa yang masih berdiri di ambang pintu.
"Permisi, Ris. Gue mau masuk ke dalam."
Risa sedikit terlonjak saat menyadari Vina berdiri di belakangnya, "Oh iya, maaf," setelah iitu, Risa segera berjalan ke kursi tempat ia duduk.
Vina menggeleng pelan, saat melihat Alin tengah melamun seraya memandang keluar jendela. "Lo beneran enggak mau ke kamar mandi dulu buat keringin rambut? Entar kalau pilek, kapok lo."
Alin tertawa, kemudian meletakkan semua buku dan barang-barang milik Vina yang sejak tadi ia pegang di atas meja. "Syukurnya gue enggak gampang mudah pilek. Nih, semua barang milik lo berat juga, sampai pegel tangan gue meganginnya."
"Siapa yang nyuruh lo buat pegangin? Kan, bisa ditaruh di atas meja."
Benar juga. Sekarang Alin merasa bodoh. Hanya karena memikirkan Raksa sejenak saja, bisa membuat dia melupakan dunia untuk sesaat. "Lupa kalau di depan gue ada meja."
Vina hanya memutar bola matanya malas, setelah itu melempar kertas kepada Risa. "Makasih ya udah pinjemin seragam kamu."
Risa mengangguk sambil tersenyum manis. "Iya."
Lihat. Bahkan Alin yang seorang wanita mengakui, kalau Risa itu cantik dan mempesona, sedangkan dirinya? Cukup. Jangan dibahas. Karena nanti hanya akan menimbulkan rasa kurang percaya diri dan iri dengki, dalam kurun waktu yang cukup lama.
"Lo pinjam seragam punya Risa?"
Vina menggaruk tengkuknya, sambil menahan perasaan malu. "Tadi gue ketemu Risa di kamar mandi, dan dia pinjamij seragamnya yang ada di loker."
"Oh ...."
Sudah cantik, baik pula. Alin semakin sadar, antara dia dan Risa itu sangat jauh berbeda. Jika dia diibaratkan seperti bebek compang-camping yang sering berjalan-jalan di pinggiran sawah, maka Risa bisa disebut sebagai angsa yang sangat putih mempesona dan cantik.
"Stop, membandingkan diri kamu Lin. Semua orang dilahirkan dengan kesempurnaan dan kekurangan mereka masing-masing!" sedikit hiburan, untuk dirinya yang sedang merasa kurang percaya diri.
Kemudian, pandangan Alin yang sejak tadi tertuju pada Risa, sekarang harus ia alihkan untuk memandang keluar jendela, kala proporsi tubuh yang familiar berjalan masuk ke dalam kelas dan tertangkrap netranya.
"Astaga, kenapa suka sama orang bisa seribet gini?" lirih Alin.
Mencoba bersikap seperti biasa dan berpura-pura tidak menyadari ada Raksa di depan matanya. Alin tetap berusaha membuang muka, tapi sayang, setiap kali mendengar suara Raksa, pasti pandangan Alin akan selalu tertuju pada pria itu dan tertahan untuk waktu yang cukup lama.
"Sa, nanti waktu jam istirahat, apa kita bisa berbicara?"
Mendengar Risa memanggil Raksa, lantas Alin segera menggelengkan kepala.
"Apaan sih Lin, jangan berlebihan!" lagi, Alin hanya bisa bermonolog di dalam hati.
"Kenapa harus nanti? Bicara di sini bisa, kan?"
Apakah hal ini benar atau tidak. Tidak seperti biasanya, hari ini suara Raksa terdengar sedikit bergetar saat berbicara.
"Ada sesuatu hal yang cukup penting untuk dibicarakan. Bisa, kan?"
"Kalau begitu, bisa saja."
Sebisa mungkin, Alin berusaha agar tidak mengalihkan pandangan untuk melihat Raksa. Dia hanya tidak ingin kalau sampai semakin jatuh hati kepada Raksa. Tidak!Tentu saja itu tidak boleh terjadi.
"Kalau gitu, nanti saat jam istirahat pas, langsung ikut aku ya."
"Iya."
Cukup! Alin sudah tidak bisa menahan rasa penasaran lagi. Ingatan ketika Jaya dan Kido bercerita mengenai Raksa yang berkelahi dengan seseorang, kembali menginterupsi pikiran Alin.
Dengan hati-hati, Alin melirik Raksa yang memang duduk di kursi bagian tengah.
Luka memar di tangan Raksa membuktikan, kalau pria itu memang benar-benar habis berkelahi dengan seseorang dan saat pandangan Alin tertuju pada luka lebam-lebam di wajah Raksa.
Tepat ketika diamengamati luka di bagian sudut bibir Raksa, saat itu juga, Alin dibuat membeku kala pandangannya dan Raksa tidak sengaja bertemu. Tidak ingin merasa malu, secepat kilat, baik Alin ataupun Raksa, keduanya langsung membuang muka satu sama lain.
"Bodoh," kata Alin, seraya meremas kuat pensil dalam genggamannya.
Dapat dipastikan, saat jam istirahat nanti, Alin akan langsung berlari keluar kelas dan bersembunyi untuk meluapkan perasaan malu yang meledak tidak karuan dari dalam hatinya.
Bersambung...

Book Comment (377)

  • avatar
    RandiiRandi

    cerita nya bagus banget

    18d

      0
  • avatar
    Aswar

    di cerita ini sangat bagus untuk membaca

    10/05

      0
  • avatar
    Arie Fandy

    eh ini sape bab berapa woy

    28/03

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters