Tampan, penuh pesona dengan karisma yang menawan. Memang itulah yang dipikirkan banyak orang tentang Raksa, terlebih lagi bagi para anak gadis perawan. Bertubuh tinggi dengan senyuman hangat dan rupawan, memang siapa yang tidak akan jatuh cinta kepada Raksa? Tak terkecuali Alin, jujur dia akui kalau Raksa memang sedemikian istimewa, dengan segala kelebihan yang diberikan Tuhan kepadanya. Namun, jika disadari lagi, di setiap kelebihan pasti ada kekurangan. Benar, bukan? Karena itu Alin yakin, pasti Raksa juga memiliki kekurangan yang dia sembunyikan, di balik tampilan luar biasa penuh pesonanya, yang bisa dibilang mendekati sempurna. Alin percaya, kalau kekurangan Raksa hanya belum terlihat saja dan lambat laun pasti akan terbongkar juga. Berbicara mengenai pesona mematikan seorang Dwiaska Abrialraksa, tentu tidak dia dapatkan begitu saja. Ada sebab kenapa Raksa bisa dikenal dan menjadi dambaan banyak kaum hawa. Mulai dari caranya berbicara, hingga cara dia memperlakukan seorang wanita. Sungguh, siapapun gadis yang mengenal Raksa, pasti tidak bisa untuk tidak jatuh cinta. Mengingat fakta itu hanya membuat Alin menggelengkan kepala. Bagaimana tidak, Alin masih ingat saat pertama kali di tanggal 21 bulan Juli, tepat pada hari Rabu malam Kamis, dia melihat pria yang berhasil membuatnya jatuh hati, tertunduk pasrah sebab dikenalkan sebagai kekasih, oleh Risa. Iya, sahabat Raksa. Bak dihujam dengan ribuan batu, seketika Alin membeku, sesaat setelah mendengar pernyataan Risa. Lagi, entah kenapa setiap dia mulai menyukai seseorang, pasti ada saja sebuah alasan yang berhasil menampar kenyataan hidupnya supaya terbangun dari dunia khayalan yang penuh kebahagiaan, agar bersahabat dengan semesta yang sangat pahit bagi pujangga cinta semacam dia. Iya sudah. Harus bagaimana lagi? Mungkin itulah takdir yang telah digariskan oleh Tuhan untuknya, dan selepas kejadian hari itu, Alin benar-benar menjalani kehidupan dengan menganut sekte, kalau memang sudah berjodoh tidak akan ke mana. Nah. Hampir saja Alin lupa tentang seseorang yang menyebut dirinya sebagai kekasih Raksa. Gadis dengan rambut hitam panjang dan berparas ayu serta memiliki senyuman yang menawan, Darisa Isyana Sekar Putri, atau biasa dipanggil Risa. Karena Alin terlalu malas untuk bercerita lebih jauh lagi akan sosok Risa, jadi kita lewati dan bahas hal yang lainnya. Bukan. Bukan karena Alin tidak suka atau merasa iri, dia hanya malas bila membahas lebih jauh tentang Risa. Daripada kondisi perasaannya menjadi buruk hanya karena Risa, alangkah lebih baik jika Alin langsung membahas tentang kehidupannya, begitu juga mengenai Raksa. Kita mulai dari Raksa dulu. Seperti yang Alin katakan, kalau pria yang selalu dipandang sempurna itu, belum tentu seperti apa yang terlihat. Di balik paras tampan dan senyuman hangat milik Raksa, dia adalah seseorang dengan kepribadian tertutup. Memang tidak banyak yang tahu seperti apa sifat asli Raksa. Bahkan Alin yang menjadi salah satu korban dari pesona Raksa pun, tidak terlalu mengetahuinya. Tidak ada hal lain lagi yang ia ketahui, selain Raksa adalah seseorang yang pendiam. Selain hal itu, Alin tidak mengetahui hal apa pun lagi. Membahas tentang Raksa, memang tidak akan ada habisnya, sehingga Alin bisa mengibaratkan bahwa Raksa dan magnet itu memiliki kesamaan. Kalau magnet memiliki daya tarik kuat terhadap benda-benda magnetik seperti baja, besi dan nikel. Maka Raksa memiliki daya tarik kuat terhadap benda non magnetik. Seperti, hati Alin misalnya. Setiap saat dan setiap waktu, hanya melihat Raksa dari kejauhan, sudah membuat hatinya seakan digerayangi kupu-kupu beterbangan. Hentikan! Jangan terlalu dipikirkan. Karena Alin sudah tidak sanggup, jika dibuat semakin jatuh hati kepada Raksa. Sekarang, ayo kita bahas tentang diri seorang Alin Oktaviani. Bagaimana ya? Alin tidak tahu harus menceritakan dirinya seperti apa, yang jelas dia bukan seorang gadis berparas rupawan dengan kecantikan sempurna bak Tuan Putri incaran para Pangeran tampan. Gila memang. Namun, Alin akui, dia hanyalah gadis biasa dengan wajah yang sedang-sedang saja, tapi berharap menjadi Permaisuri seorang Raja. Bukan pula anak pintar dengan nilai sempurna dambaan setiap orangtua, pun dia bukan seseorang dengan mental baja yang tidak mudah tumbang bila ada seseorang datang menghina. Alin hanyalah salah satu makhluk yang diberi kehidupan oleh Tuhan dan dia sedang berusaha untuk bersyukur atas segala hal yang sudah diberikan Sang Pencipta untuk dirinya. Tamat. Hanya itu biografi singkat tentang Alin. Jadi, tolong jangan berharap lebih ya, Kawan! "Lin, lo enggak lagi mikirin hal yang aneh-aneh, kan?" Pagi hari ini, entah kenapa langit terlihat sangat muram, sehingga menangis dalam waktu yang cukup lama, "Langit kelihatan kayak mau runtuh, Vin" ucap Alin seraya menengadahkan tangannya supaya terkena tetesan air hujan. "Gue kira lo lagi mikirin hal aneh. Kan maklum, karena sekarang lagi hujan." Alin menggeleng. Kemudian duduk di sebelah Vina. "Gue mikir, kalau kita enggak berangkat ke sekolah sekarang, pasti kita akan dapat hukuman." "Kalau dihukum ... ya? Ya harus mau. Memang mau gimana lagi? Orang hujan juga belum berhenti." Alin menghela nafas. Mentari di pagi hari yang biasanya bersinar terang menyinari bumi, harus tertutup sebentar dengan awan kelabu yang muram, dan seharusnya dia sudah sampai di sekolah sejak tadi, harus rela menunggu hujan agar sedikit reda, di dalam sebuah bekas bangunan yang sudah tidak terpakai lagi. "Terobos, mau enggak?" Mendengar pertanyaan Alin, Vina langsung mencebikkan bibir. "Terus buku pelajaran kita?" "Dibungkus pakai plastik kresek," jawab Alin dengan entengnya dan dibalas Vina penuh rotasi penuh kemalasan. "Lo punya mantel tas enggak?" Alin mengangguk singkat. "Ada, tapi gue tinggal di kamar." Kedua kalinya, helaan nafas Vina terdengar. "Capek gue ngomong sama lo, Lin. Kalau gitu, kenapa lo bisa punya ide pakai plastik kres--" Sebelum melanjutkan perkataannya Vina terkekeh dan menatap tidak percaya, ketika Alin mengeluarkan kantong kresek berukuran lumayan besar dari dalam tasnya. "Pabrik sudah ngasih mantel tas secara gratis. Karena jika hujan tiba-tiba turun, bisa langsung kita pakai. Nah ini ... kenapa malah kantong kresek yang lo bawa? Dapat darimana?" "Punya ibu, tadi habis belanja sayur, terus kreseknya ditinggal di atas meja gitu saja. Jadi, ya mending gue bawa," jawab Alin dengan santainya. "Terus? Mau lo gunain buat bungkus tas gitu? Parah ...." Alin berdecak sebal. "Ya enggak lah. Kan bisa dipakai buat bungkus buku-buku doang biar enggak basah." Memang benar jika ada yang mengatakan, kalau Alin adalah salah satu makhluk paling ribet di dunia. Sudah diberi mantel tas oleh pabrik secara gratis, tapi malah ribet dengan menggunakan kantong kresek untuk melindungi bukunya agar tidak basah disebabkan air hujan. "Tapi kan ada mantel tas yang disediain pabrik. Kenapa repot-repot gunain plastik kresek sih?" ucap Vina dengan rasa kesal. "Enggak mau? Sini ... balikin!" ucap Alin, seraya hendak merebut plastik kresek yang dipegang Vina. "Eh, jangan gitu juga! Kalau buku gue basah gimana?" Alin berdecih. "Makanya, jangan banyak ngeluh." "Wajar kalau gue ngeluh. Pakai kresek kayak gini, tetap basah juga nanti." Seolah tuli, Alin bersikap tidak peduli. Kemudian memasukkan semua buku miliknya ke dalam kantong kresek yang ia bawa tadi. "Mana punya lo." "Bentar," Vina memberikan semua barang yang ada di dalam tasnya kepada Alin dan dibalas tatapan malas oleh sahabatnya itu. "Sudah? ayok." "Eh ... tunggu sebentar. Entar dulu." Alin yang sudah siap berlari harus terhenti, saat tangganya ditahan oleh Vina. "Kenapa? Telat banget ini." Vina menyipitkan mata dan mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat mereka berada saat ini. "Lo lihat, ada orang selain kita berdua enggak di sini?' Merasa bingung, Alin langsung memandang ke arah yang sama dengan Vina. "Siapa? Enggak ada orang lain di sini, cuma kita berdua." "Sumpah, Lin! Sekelebat tadi gue lihat ada orang lain kok." Vina berucap sambil memandangi setiap sudut toko bunga. "Efek kebanyakan halu. Tck! Mending, ayo berangkat." "Tapi ...." Kalian tahu bagaimana perasaan Alin saat mendengar Vina berkata hal demikian? Ingin sekali dia segera berlari dan pergi meninggalkan tempat ini, "Sudah tahu orang di depannya ini penakut, tetap saja ditakut-takuti," ucapnya dalam hati. "Sekarang hujan masih turun, enggak usah bahas yang aneh-aneh. Berangkat sekarang, atau gue tinggal," timpal Alin dengan nada yang ketus. Melihat Vina masih celingak-celinguk memandangi setiap sudut bekas toko tempat mereka berteduh. Tanpa pikir panjang, Alin langsung menarik tangan Vina untuk berlari bersama, "Mentang-mentang Bapak lo Dukun, mendadak lo juga pengen jadi seorang Dukun. Nuruti intuisi perdukunan lo, yang ada kita nanti beneran dihukum." "Astaga ... jangan ditarik juga tangan gue, sakit!" Menunjukkan sikap acuh, Alin tetap menarik paksa tangan Vina. Karena jika tidak melakukan hal tersebut, pasti setelah tiba di sekolah nanti, mereka pasti akan langsung dihukum. Pagi hari itu, selama menuju perjalanan sekolah, selain harus melindungi tasnya agar tidak basah, Alin juga harus menerima rentetan omelan Vina yang tidak ada habisnya. Sungguh, hujan di pagi hari memang cukup menyulitkan. Jadi Tuhan, tolong kalau ingin menurunkan hujan, bisa tidak lebih siangan, agar kejadian terkurung hujan di bekas bangunan yang menyeramkan seperti itu, tidak akan terulang kembali. Bersambung...
cerita nya bagus banget
18d
0di cerita ini sangat bagus untuk membaca
10/05
0eh ini sape bab berapa woy
28/03
0View All