Matahari kian tinggi. Di kejauhan sayup-sayup terdengar kumandang azan. Syuhada mempercepat langkah, tak sabar ingin menunjukkan benda yang ada di tangannya. “Kamu bikin aku malu di depan Fatima,” ujarnya seraya mengelus dan memasang jam itu di tangan kirinya. Wajahnya terlihat bersemangat. Langkahnya kian melesat. Tak sengaja, ia menabrak laki-laki tua yang berjalan dari arah sebaliknya. “Ups, maaf, Kek. Saya tidak memperhatikan jalan.” Syuhada berhenti dan menatap lelaki tua itu sekilas. “Tidak apa-apa. Saya sedang menuju masjid, apa masih jauh dari sini?” Laki-laki tua itu balas menatap Syuhada dengan pandangan teduh. “Oh, kebetulan. Saya juga mau ke masjid untuk salat Jumat.” Syuhada berusaha bersikap ramah. “Kalau begitu saya ikut kamu, ya?” pinta laki-laki itu dengan mata berbinar. “Boleh.” Syuhada tersenyum. Sepasang lesung pipi tercetak sempurna di wajahnya. “Nama saya Hasral.” Lelaki itu mengulurkan tangan sambil memperkenalkan diri. “Senang bertemu pemuda ramah seperti kamu.” “Saya Syuhada.” Ia membalas uluran tangan si kakek dan menjabatnya dengan takjim. Mendadak, seberkas cahaya putih menyilaukan berpendar di antara mereka. Sebuah hentakan keras membuat keduanya limbung. Syuhada merasakan tubuhnya terhisap ke dalam pusaran angin yang berputar kencang. Seketika di sekitarnya terasa gelap. Ia menutup mata dan mencari pegangan. Namun sekelilingnya berpendar, berputar, dan membuat pusing. Syuhada terhuyung dan berusaha menjaga keseimbangan. “Astaga …. Apa yang terjadi?” gumamnya heran. Sesaat kemudian, keadaan kembali normal. Syuhada membuka mata, menghela nafas panjang, dan mencari Kakek Hasral. Namun laki-laki yang mengajaknya berbincang sudah tak ada. Mata Syuhada menyapu sekitar, mencari sosok tua itu. Tapi, yang ia temui justru kejutan yang membuatnya tercengang. Mulutnya ternganga. Pupilnya melebar. "Aku pasti berhalusinasi!" desisnya terperangah. Dengan panik ia mengucek mata, berharap yang di hadapannya hanya fatamorgana. Namun setelah berkali-kali mengerjap, tak ada yang berubah. Di hadapannya menjulang gedung-gedung canggih kota megapolitan, dan ia tengah berdiri di antara hiruk pikuk manusia di sebuah pedestrian yang tak pernah ia kenal. “Lho, aku ada di mana?” bisik Syuhada heran. Jalanan dipenuhi lalu lalang manusia beraneka rupa. Wajah-wajah pribumi berbaur dengan wajah oriental berkulit kuning langsat. Tampak pula ras kaukasia berkulit putih pucat dan orang-orang berkulit hitam legam. Semua tampak tergesa-gesa dengan raut muka tegas dan pandangan lurus ke depan. Mereka berjalan bagai robot tanpa ekspresi, seperti tengah berbicara pada diri sendiri. Tak ada yang memegang ponsel atau gadget, namun mulut mereka komat-kamit sembari terus melangkah. Tak ada tegur sapa, tak ada senyum ramah, dan tak ada yang peduli pada ia yang berdiri kebingungan di pinggir jalan. “Gila. Ini apa-apaan?!” serunya panik. Syuhada tertegun menatap sekitar. Untuk sesaat, benaknya hampa. Ia melempar pandangan ke berbagai arah dan kian tercengang. Gedung-gedung menjulang tinggi bagai membelah angkasa. Saling menyilang dan melingkar dengan desain spektakuler seperti melayang di udara. Bagunan-bangunan canggih itu begitu megah, berdiri tegak dengan congkak seakan tengah menantang semesta. Salah satu sudut, tampak gedung pencakar langit saling bertumpuk dan bisa berputar. Di sisi lain, bangunan super tinggi muncul layaknya perkebunan di atas awan. Gedung itu menghijau ditumbuhi aneka tanaman. Sangat kontras di tengah lautan konstruksi kaca dan hutan beton yang mengepung kota. Syuhada menatap dengan mata nanar. “Ini tidak masuk akal!” teriaknya dengan suara tertahan. Ia menutup mata, coba menenangkan pikiran. Namun saat membuka mata, ia kian terhenyak. Tatapannya tertumbuk pada rel-rel penghubung antar gedung yang dilalui kendaraan kecil berbentuk kapsul. Dengan membawa satu dua penumpang, wahana itu melaju kencang. Hilir mudik di setiap lantai dengan suara nyaris tak terdengar. “Astaga! Aku belum pernah lihat yang begini. Aku pasti berhalusinasi.” Syuhada mendesis tak percaya. Nalarnya kian tumpul kala menengadah ke langit. Dengan mulut terbuka dan wajah tegang, matanya terpaku menatap pemandangan yang sangat fantastis. Langit kota dihiasi mobil terbang dan drone-drone berpenumpang. Sebagian tampak diam, melayang tanpa suara. Namun, tak sedikit yang tengah melaju hilir mudik dengan kecepatan beragam. “Ini tak nyata. Ini delusi.” Ia mencubit lengan dan pipi, berharap terjaga dari mimpi. “Bangun, Syuhada. Bangun!” bisiknya lirih. Namun tak ada yang berubah. Seketika ia merasa seperti terjebak di dalam film futuristik. Cakrawala dipenuhi benda-benda angkasa. Aneka mobil terbang dan drone melayang dengan desain aneka rupa. Hamparan langit luas mendadak kehilangan makna. Puncak gedung dan aneka kendaraan udara seakan menguasai semesta. Mendadak dadanya sesak. Semua serba tak masuk akal. Semua serba berlebihan. Syuhada tertegun. Rahangnya mengeras. Kecemasan melanda. “Keajaiban teknologi atau aku yang sedang mimpi!” Syuhada menjerit dalam hati. Dengan nanar ia kembali menatap ke atas. “Ya, Tuhan. Aku ada di mana?” Syuhada mengamati plat nomor kendaraan yang lewat, berusaha mengenali tempatnya berada. Namun tak satu pun yang ia kenal. “Aneh. Kenapa hanya ada barkot dan kode-kode tak jelas?” Menyadari terdampar di tempat asing, sontak paras Syuhada memucat. Butiran keringat mengucur deras dari pori-porinya. Beberapa kali ia mencubit pipi untuk memastikan sedang tidak bermimpi. Namun pemandangan di hadapannya tak juga pergi. Kemajuan teknologi dan desain kota masa depan yang biasa ia lihat di internet, terpampang nyata di depan mata. Ia menengadah sekali lagi, lalu bergidik ngeri. Sesaat ingatannya kembali ke momen saat hendak salat Jumat. Tiba-tiba tubuhnya kaku. Ia terhuyung. Dengan limbung, Syuhada melangkah menyisir sekitar untuk mencari masjid. Namun tak ada tanda-tanda keberadaan rumah ibadah. Kota itu terlalu maju. Tak tersisa sedikit pun keberadaan Jakarta tempat ia hidup hingga tadi pagi. Dengan panik, Syuhada mencoba hentikan orang-orang yang lewat untuk bertanya. Namun tak ada yang menanggapi. Mereka tampak acuh, menatap sekilas, dan terus melangkah. Sorot mata mereka bahkan tampak aneh dan asing. Tak ada yang peduli dan menunjukkan empati melihat ia berdiri kebingungan seorang diri. Bahkan tak sedikit yang seperti tak menyadari keberadaannya di tempat itu. “Ini pasti mimpi,” keluh Syuhada lirih. Ia semakin gundah. Akan tetapi semesta tak hirau dengan kegelisahannya. Awan tetap berarak tak ingin terlibat dengan urusan manusia. Mentari bahkan bersinar kian garang, seakan mengejek mereka yang tengah bertempur dengan kehidupan. Syuhada terus coba menghentikan siapa saja. Penat tubuh sudah tak terasa. Akhirnya seorang laki-laki paruh baya menunda langkah dan mengamati Syuhada penuh selidik. Syuhada bertanya dengan suara tercekat. “Mohon maaf, Pak. Saat ini kita sedang berada di mana ya?” Laki-laki itu mengernyitkan dahi, menatap Syuhada sekali lagi dan bergegas pergi. Syuhada tersentak menerima respon yang tak biasa itu. “Masak iya gak ada yang peduli dengan orang lain?” katanya sedih. Dengan gontai, ia kembali melangkah, berharap bisa menghentikan seseorang. Namun tak mudah menemukan seseorang yang bersedia meluangkan waktu untuknya. ***
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 23 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (188)
DuabelasFazqia
cerita menari
30/06/2025
0
SetyawanAgus
lanjut min..mantap..cerita yang nampak realistis..smga hidayahnya selalu menyertai kita smua..aamiin
cerita menari
30/06/2025
0lanjut min..mantap..cerita yang nampak realistis..smga hidayahnya selalu menyertai kita smua..aamiin
02/05/2025
0cerita nya bgus sekali
03/12/2024
0View All