Benhil, 15 Mei 2020 Jumat siang, sang baskara bersinar dengan sangat garang. Namun sesosok pemuda tampak berjalan dengan wajah gembira. Dengan langkah bergegas ia menuju ke suatu tempat. “Sekali-kali ikut salat Jumat ah, biar tidak dicap murtad!” Pemuda itu bergumam sambil melangkah cepat. Sebuah seringai berkelabat di wajah tampannya. Pemuda itu sedang menuju masjid. Tapi bukan dengan niat untuk ibadah. Baginya, itu hanya nilai tambah. Ia hendak bertemu seseorang. Sosok yang kerap meragukan setiap perkataannya. Farhan, rekan kerja dan sahabatnya sejak SMA, membuatnya tak sabar ingin segera menunjukkan benda yang ada di dalam genggamannya. Ia tidak terima diremehkan di depan Fatima, gadis cantik yang sejak dua tahun lalu diam-diam membuatnya jatuh cinta. “Si Farhan menyebalkan pasti terkaget-kaget,” ujarnya dengan raut wajah penuh kemenangan. Ingatan Syuhada sejenak tertuju pada momen sebelum ia berangkat. Saat itu mereka tengah serius menyiapkan podcast mingguan bertajuk 'Manusia dan Teknologi' yang akan tayang sore nanti. Bersama Farhan, dibantu Herlan dan Fatima, dua orang stafnya, Syuhada bekerja tanpa suara. Namun tiba-tiba saja ia teringat pada jam tangan yang ditemukannya semalam di gudang. Ia ingin menunjukkan pada Farhan. “Han, gue nemu jam tangan kakek di gudang dan anehnya masih berfungsi. Padahal beliau meninggal tahun 1958.” Ia memecah keheningan, membuat ketiga rekannya memandang dengan wajah heran. “Jam tangan apaan?” sahut Farhan cuek. “Lagian, mana ada jam tangan setua itu masih berfungsi. Baterainya aja udah lama mati, kali. Ada-ada aja.” Farhan meliriknya sekilas dengan wajah datar, lalu melanjutkan pekerjaannya. Jawaban dan cara Farhan bereaksi membuat harga dirinya terusik. “Elu gak percaya sama gue?” ujarnya meradang. Farhan mengangkat bahu tanpa menoleh. Lelaki itu, Syuhada, menatap Farhan dengan wajah jengkel. Tapi ia tetap ingin membuktikan bahwa jam itu benar-benar berfungsi. Ia kenal Farhan. Sahabatnya itu memang sering membuatnya kesal. Tapi dia juga satu-satunya teman setia yang mendampinginya selama ini, dan Syuhada tidak pernah bisa benar-benar marah padanya. “Sebenarnya gue juga bingung. Kok masih bisa jalan ya?” Syuhada berkata sembari membuka laci meja kerjanya. “Nih, gue kasih liat kalo lu gak percaya.” Ia mencari sesuatu di laci itu. Namun hingga beberapa saat, benda itu tak juga ia temukan. “Aneh. Tadi pagi gue simpan di sini, kok gak ada ya? Padahal mau gue jadiin salah satu bahasan saat rekaman nanti.” Syuhada bergumam dengan raut wajah bingung. “Tapi kan gak relevan, Mas,” celetuk Herlan yang sejak tadi memperhatikan Syuhada. “Justru relevan banget, Lan. Teknologi kuno jauh dari masa lalu masih berfungsi hingga hari ini apa gak pantas kita bahas?” “Hmm, iya juga sih. Tapi apa benar itu jam kuno dan masih berfungsi, Mas?” tanya Herlan melihat Syuhada yang belum juga menemukan barang yang dicarinya. “Ya iyalah. Di belakangnya ada inisial nama kakek kok.” Syuhada menjawab sambil membongkar isi laci. “Aku jadi penasaran,” kata Herlan sembari tersenyum ke arah Syuhada. “Tapi nanti kalau jamnya ketemu dan dijadiin pembahasan, jangan berantem, ya.” Herlan berkata sambil memandang Farhan dan Syuhada bergantian. Syuhada mendongak. “Berantem apaan, Lan?” “Nanti saat siaran, jangan berantem membahas mesin waktu dan jam tangan kuno.” Herlan meringis. "Oh." Syuhada melirik Herlan sekilas. “Itu mah gak berantem. Adu argumen doang.” “Gak berantem, tapi bikin kami deg-degan,” Fatima ikut bersuara dengan ekspresi datar. “Harus begitu, Fat. Biar yang sekuler dan liberal tercerahkan,” sindir Farhan. Syuhada menyeringai mendapat tamparan pedas Farhan. “Santai, Bro. Saat live ya harus panas dong. Kalo datar-datar aja, orang pasti bosan.” Syuhada nyeletuk sambil terus mencari jam yang ia bicarakan. “Iya, tapi tidak berarti elu boleh ngomong sembarangan. Apa yang elu ucapkan itu bisa bikin fans ikut menyimpang. Jangan bikin anak muda di luar sana jadi sekuler dan liberal kayak elu,” tandas Farhan tanpa tedeng aling-aling. “Halah. Lebai lu Bro! Pemikiran itu harus maju. Liberal dan sekuler tergantung sudut pandang.” Syuhada menjawab ketus. Ia kesal mendengar ucapan Farhan dan juga karena jam yang dicarinya belum juga ditemukan. Sambil bersungut-sungut, Syuhada melanjutkan. "Melihat agama harus dengan pikiran terbuka. Jangan terlalu fanatik hingga membuat buta.” Ia melanjutkan dengan nada cukup keras. Farhan tampak tak peduli dan kembali memelototi laptopnya. Keduanya memang bagai langit dan bumi. Farhan sangat taat beribadah, sementara Syuhada tak pernah pusing dengan segala ritual agama. Fatima menyimak diskusi kedua orang yang sangat ia hormati sambil terus bekerja. Sesekali matanya melirik Syuhada. Sebenarnya ia tak setuju dengan Syuhada yang suka berbuat suka-suka. Pemilik acara Manusia dan Teknologi itu sering keluar dari script yang ia siapkan, apalagi jika menyangkut agama. “Menurut kamu gimana Fat? Tiba-tiba Farhan mengagetkan Fatima yang tengah hanyut terbawa pikiran. Fat mengangkat bahu dan menoleh ke arah Syuhada. Laki-laki itu pun ternyata sedang menatap gadis cantik berjilbab yang diam-diam ia sukai. “Aku gak sreg dengan pemikiran Mas Syu,” jawab Fatima dengan suara tenang. “Bagiku agama itu sangat penting sebagai jalan hidup. Petunjuk hidup. Jika agama dianggap remeh, sama saja menganggap remeh keberadaan Tuhan. Jika Tuhan saja dianggap remeh, apalagi manusia.” Ia menatap berani ke arah Syuhada. “Eits… ntar dulu Fat. Aku gak pernah menganggap remeh Tuhan, lho. Jangan begitu ah,” Syuhada kian meradang. Gadis yang ia sukai ternyata tega menyerangnya secara terang-terangan. “Tapi memang begitu kesan yang Mas Syu sampaikan,” balas Fatima tak mau kalah. “Masak begitu?” kata Syuhada dengan pupil melebar. “Memang begitu,” sahut Fatima kalem. "Nah, dengar sendiri kan?" kata Farhan merasa menang. Pembicaraan mereka diputus Herlan yang mengingatkan waktu salat Jumat telah tiba. Farhan dan Herlan bersiap berangkat ke mesjid, sementara Syuhada masih sibuk memeriksa laci dan meja kerjanya. “Jamnya belum ketemu juga, Mas?” tanya Herlan sebelum meninggalkan ruangan. “Mana ada jam kuno yang masih berfungsi, Lan,” celetuk Farhan sembari melirik ke arah Syuhada. Syuhada kian panas. Ia mengeluarkan laci dan menumpahkan isinya di atas meja. Namun, sekonyong-konyong matanya tertumbuk pada benda yang sejak tadi ia cari. Jam itu ada di atas notes di atas meja kerjanya. Syuhada terpana heran. “Aneh, tadi jelas-jelas gak ada. Kok ujug-ujug ada di sana?” Ia mengambil dan mematut-matutnya. Meskipun diselimuti rasa heran, sebuah senyum tersungging di sudut bibirnya. Bergegas, ia menyusul Farhan ke masjid. Tak sabar ingin membuktikan bahwa jam itu masih berfungsi. “Sekalian ikutan salat Jumat,” ujarnya dengan seringai lebar. ***
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 23 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (188)
DuabelasFazqia
cerita menari
30/06/2025
0
SetyawanAgus
lanjut min..mantap..cerita yang nampak realistis..smga hidayahnya selalu menyertai kita smua..aamiin
cerita menari
30/06/2025
0lanjut min..mantap..cerita yang nampak realistis..smga hidayahnya selalu menyertai kita smua..aamiin
02/05/2025
0cerita nya bgus sekali
03/12/2024
0View All