logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 2 Kakek Misterius

Angin sore berhembus lirih. Suasana di sekitar gubuk itu terasa begitu senyap. Sean yang telah melepaskan haus dahaga kini menatap laki-laki tua yang duduk malas-malasan di sebelahnya. Matanya mengamati si kakek dengan alis bertaut.
“Hutan hantu? Memangnya hantu ada? Aku gak percaya yang begituan.” Sean memandang pria tua itu dengan sebuah seringai.
“Oya. Kakek tinggal sendiri di sini?” Ia berusaha bersikap ramah, namun yang ditanya tak merasakan keramahan di setiap kata dan nada suaranya.
“Saya tidak punya keluarga. Di sini sendiri,” jawab laki-laki itu tanpa ekspresi.
“Oya, aku belum tau nama Kakek. Aku Sean. Kakek siapa?” ulangnya memperkenalkan diri. Meskipun berusaha ramah, tapi tak membuat laki-laki usia enam puluhan itu tampak senang.
“Saya Sastra,” sahut lelaki itu singkat. “Kamu tersesat di hutan, tapi tidak tampak gentar sama sekali. Memangnya kamu orang kota mengerti cara bertahan hidup di tengah hutan?”
“Aku tidak pernah takut pada apa pun,” jawab Sean percaya diri.
Mendadak ia kembali pada sifat aslinya. “Manusia makhluk paling berkuasa di semesta raya. Tak ada yang perlu ditakutkan.” Ia melanjutkan dengan nada yang membuat Sastra melempar pandangan jauh sambil menarik nafas panjang.
Sean mengamati sekitar. “Kota jauh dari sini?”
Tak ada tanggapan. Pemuda itu memutar kepala menoleh ke arah Sastra yang duduk diam di sampingnya.
“Bagaimana caraku keluar dari sini?”
“Jalan kaki.”
“Ke arah mana?”
“Bagaimana kamu menemukan gubuk saya?” Sastra mulai terdengar kesal.
“Aku mengikuti cahaya matahari yang menembus di antara pepohonan. Ikut tajuk pohon yang makin jarang.” Pemuda itu menjawab sambil menyeka keringat yang mengucur di keningnya.
“Oh. Lalu bagaimana cara kamu mengatasi masalah ini? Saat mobil terbangmu tak bisa diandalkan?” Ia bertanya, penasaran dengan jalan keluar yang akan diambil pemuda super percaya diri di hadapannya.
“Aku hanya perlu pulang ke kota dan kembali ke workshop untuk mengaktifkan chip di jemariku yang tersambung pada mobil itu. Sekali jentikan, ia akan kembali padaku. Aku tak perlu repot mencari lagi di tengah hutan.” Sean menjelaskan, meskipun tak yakin apa lelaki tua itu mengerti yang ia katakan.
“Lalu, bagaimana cara kamu keluar dari hutan ini?”
“Jalan kaki, mengikuti arah matahari.”
“Baik. Kamu sudah minum. Silahkan pergi melanjutkan perjalanan. Saat malam, hutan ini sangat gelap, kamu bisa tersesat.” Sastra memberi nasehat.
Sejenak Sean tercenung. “Hutan ini luas?”
“Tiga juta hektar.”
“Hah? Seluas itu? Apa ada perumahan di dalamnya?”
“Ini bukan kawasan real estate.”
Sean menyeringai. “Kakek keren juga, tau real estate.”
Sastra menatap kosong jauh ke puncak-puncak pohon yang bergoyang gemulai. “Pedoman kamu cuma cahaya matahari. Jika mentari tenggelam, kamu tak akan bisa lagi melangkah dengan bebas.” Ia kembali mengingatkan Sean yang tampak sangat yakin dengan kemampuannya.
“Baiklah. Aku pamit.” Sean beranjak meninggalkan lelaki tua yang tengah menatapnya dengan pandangan iba.
“Kamu tidak tahu sedang berada di mana,” batin Sastra sembari menghembuskan nafas panjang.
Sean bangkit dan berjalan dengan langkah cepat. “Manusia berkuasa atas alam. Tak ada yang perlu ditakutkan.” Ia menyemangati diri sambil sesekali menyingkirkan dahan-dahan yang menghalangi.
Ia terus berjalan, berpedoman pada sinar yang menembus ke dalam hutan. Sesekali Sean kehilangan arah kala cahaya mentari tak mampu menembus lebatnya pepohonan. Ia berhenti, lalu mencari lumut yang tumbuh di batang pohon.
“Jika lumut tumbuh subur pada satu sisi batang pohon, maka itu mengarah ke Barat, ke arah matahari terbenam. Sedangkan yang tumbuh sedikit, mengarah ke Timur, arah matahari terbit,” bisiknya teringat sebuah bacaan.
Lolongan binatang dan rintihan pepohonan tak menyurutkan niatnya untuk terus berupaya menemukan jalan keluar. Namun hingga hutan tak lagi terjamah cahaya, tak juga ia temukan titik terang. Hutan kian gelap. Suara-suara makin beragam. Sean mulai dihinggapi rasa panik.
“Aku tak boleh takut dan menyerah!” desahnya sembari menatap ke langit yang tak lagi kelihatan.
Waktu tak pernah menunggu. Bahkan di dalam hutan gelap begini, jarum jam terasa berputar lebih cepat. Sean kembali menengadahkan kepala ke atas. Langit hitam pekat. Tak tersisa setitik pun cahaya. Ia mulai meragukan diri.
“Sudah berjam-jam berjalan, kok belum terlihat ujung hutan,” batinnya.
Sean mempercepat langkah dan mulai gemetar. Sesaat kemudian ia terduduk lunglai. Tubuhnya menggigil. Ia kelelahan. Rasa panik kian menyerang.
“Aku tak pernah takut seperti ini. Tapi kegelapan dan suara-suara aneh itu membuat bulu kudukku meremang."
Belum lama duduk istirahat, sekonyong-konyong terdengar suara berdebam sangat keras di belakangnya. Sean terperanjat. Otot rahangnya menegang. Darahnya terpompa kencang. Mulutnya mengatup kuat.
"Itu suara apa?"
Tubuh Sean kian gemetar. Kegelapan dan suara-suara aneh di sekitar seketika menguras rasa percaya dirinya. Ia meringkuk sambil memeluk lutut, berusaha membuat tubuhnya tak terlihat. Namun suara saling bersahutan di belantara sunyi itu tak mampu membuat ia merasa aman.
Tanpa terasa, sebutir air bening menyeruak begitu saja di balik bulu matanya yang panjang.
“Ternyata manusia tak berkuasa atas alam,” rintihnya sedih. “Aku bahkan tak tahu bagaimana cara keluar dari hutan mengerikan ini.”
Sean merapatkan tubuh ke akar pohon, mencari tempat aman untuk menyembunyikan diri. Namun, ketakutan tak jua bisa ia hilangkan. Jantungnya berdegup kencang. Keringat membasahi telapak tangan dan jemarinya gemetaran.
"Terjadilah apa yang harus terjadi," ujarnya putus asa.
Tiba-tiba tubuh Sean menegang saat sebuah tangan
mencengkeram kedua bahunya dengan keras. Sontak ia menjerit kencang.
“Ampun. Jangan bunuh saya.” Ia memohon dengan suara memelas.
Tangan itu mengguncang tubuhnya makin keras.
“Kamu kenapa masih di sini?” Sebuah suara bertanya pelan, namun serasa menggema ke seluruh hutan. Sean mengenalinya. Suara laki-laki tua yang ia temui tadi siang.
“Kakek…. Kakek.. Sastra…?” tanyanya gemetar sembari membalikkan badan untuk melihat sosok itu lebih jelas.
Sebentuk cahaya berpendar lemah dari benda yang ada di tangan Sastra.
“Kamu sudah pergi sejak siang, mengapa masih di sini?” ulangnya mengabaikan pertanyaan Sean.
Ditimpa cahaya temaram alat penerang milik Sastra, wajah Sean tampak merona senang. “Terima kasih, Kek. Terima kasih sudah datang.” Ia tersenyum dengan air mata berkilau yang menyembul di antara cahaya temaram. “Aku tersesat,” lanjutnya pelan. Sikap angkuh tak tersisa di parasnya yang tampan.
Terdengar dengusan kasar. “Ikut saya! Malam ini kamu boleh menginap di gubukku. Besok kamu harus mencari jalan, keluar dari hutan ini!”
Sean tersenyum senang. “Terima kasih, Kek. Aku pasti tidak lupa kebaikan kakek.”
Sastra melangkah cepat. Sean mengikuti. Berkali-kali ia terantuk pada akar dan dahan-dahan yang tak terlihat di dalam gelapnya hutan.
“Istirahat di dalam!” perintah Sastra sesampai di gubuknya. “Besok kamu harus bangun pagi. Saya tidak mau kamu tinggal berlama-lama di sini. Hutan ini tidak untuk pemuda seperti kamu.”
Sean mengernyit tak paham. Namun ia patuh, tak berani bertanya lagi. Ia tak punya pilihan. Lagipula tubuhnya terasa remuk sejak siang berjalan berjam-jam.
Dengan lunglai, ia masuk ke gubuk tua itu. Pandangannya menyapu seluruh ruangan sederhana milik Kakek Sastra. Matanya terpaku pada benda-benda yang ada di dalam ruangan.
“Ini semua benda apa?” gumamnya heran.
Aneka bebatuan berwarna hitam berbentuk aneh berpendar menyerupai cahaya kunang-kunang di kegelapan kamar yang terisolir, jauh di dalam hutan yang sangat gelap.
“Ini kan batu yang tadi siang di meja kakek Sastra," gumam Sean heran. “Aku belum pernah melihat batu seperti itu.” Ia coba menerka batu apa yang ada di hadapannya.
Namun tak lama kemudian, Sean terlelap dengan dengkur yang membuat Sastra termenung di luar gubuknya.
“Anak muda jaman sekarang,” lirihnya pelan. “Bertindak tanpa berpikir panjang.”
***
Keesokannya, Sean terbangun di pagi hari nan dingin. Sastra terlihat menjerang di tungku api di dekat bangku. Laki-laki itu melirik Sean sekilas.
“Saya cuma ada ubi bakar. Silahkan dimakan jika mau.” Ia menunjuk ubi di meja kecil di samping bangku panjang satu-satunya.
“Aku belum pernah makan yang begini,” kata Sean sembari mengamati ubi itu. Dengan ragu ia mengamati, mengupas dan mencobanya.
“Enak!” serunya senang. Kemudian dengan lahap menghabiskan dua buah ubi bakar yang disediakan Sastra. “Sejak kemarin aku belum makan,” gumamnya pelan.
Sastra melirik pemuda kota berpenampilan parlente itu. “Jika sudah selesai, silahkan cari jalan keluar hutan,” ucapnya datar.
“Apa kakek tidak bisa bantu? Aku takut tersesat lagi.” Suara Sean memelas.
“Kata kamu manusia berkuasa atas alam! Tak ada yang perlu ditakutkan.” Sastra melirik Sean yang tiba-tiba terdiam.
“Sepertinya aku salah,” gumamnya pelan.
“Banyak yang belum kamu ketahui tentang alam semesta ini, anak muda.” Sastra mendekat ke arah Sean. “Manusia hanyalah bagian teramat sangat kecil dari semesta raya. Kamu akan belajar banyak,” tandasnya.
Sean meliriknya sekilas, lalu matanya kembali tertumbuk pada batu hitam di atas meja. “Itu batu apa? Aku tidak pernah melihat batu seperti itu. Nama kakek juga unik. Sastra. Apa kakek seorang pujangga?”
“Nama saya Hasral Sastrawijaya.” Lelaki tua itu menjawab dengan suara pelan. Pandangannya menerawang jauh menembus dahan-dahan yang pagi itu tampak kedinginan.
Tiba-tiba ia berteriak kencang. “Hei! Jangan sentuh batu itu!” Sastra berusaha menangkap tangan Sean. Namun terlambat. Benda itu sudah berada dalam genggaman pemuda lancang itu. Tangan Sastra pun tengah mencengkeram erat tangan anak muda yang memegang batu spesialnya.
Mendadak seberkas sinar sangat terang berpendar di antara mereka. Sebuah goncangan membuat keduanya terhuyung. Lalu terdengar suara dentuman yang teramat sangat keras, memecah kesunyian hutan belantara di pagi hari nan seharusnya tenang.
***

Book Comment (188)

  • avatar
    DuabelasFazqia

    cerita menari

    30/06/2025

      0
  • avatar
    SetyawanAgus

    lanjut min..mantap..cerita yang nampak realistis..smga hidayahnya selalu menyertai kita smua..aamiin

    02/05/2025

      0
  • avatar
    CirebonSamroh

    cerita nya bgus sekali

    03/12/2024

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters