logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

SANG PENGEMBARA WAKTU

SANG PENGEMBARA WAKTU

Randu


Chapter 1 Hutan Hantu

Tahun 2110
Di atas hutan di Pulau Sumatera, sebuah mobil terbang turun melayang tanpa suara. Warna peraknya berkilau ditimpa sinar mentari yang menerobos di antara pepohonan besar yang tumbuh rindang. Ranting-ranting merintih lirih kala kendaraan itu menerjang dan membuyarkan tarian mereka di tengah belaian angin sore yang bertiup gemulai.
Sesosok pemuda berparas rupawan duduk terdiam di depan kemudi dengan muka tegang. Rona kecewa menyeruak di wajahnya kala tunggangan mewah itu mogok dan mendarat di antara pokok pohon di tanah yang lembab. Layar mini di dashboard tiba-tiba hitam pekat. Tak terlihat setitik cahaya di perangkat canggihnya. Chip dan peralatan elektronik mati begitu saja. Ia menghela nafas dengan gelisah.
“Tak bisa komunikasi sama sekali,” keluhnya gusar.
Lelaki usia tiga puluh tahun itu keluar dari mobil. Penampilannya bak model, dengan tubuh tinggi tegap dan kulit putih bersih berbalut setelan mahal. Sepasang lesung pipi menghiasi wajahnya yang tampan.
Dengan lincah ia membuka kap dan memeriksa mesin beserta semua perangkat. Keningnya berkerut dengan raut keheranan. “Aneh! tak ada masalah,” desisnya penasaran. Pemuda itu terus mencari apa yang salah dengan mobil canggihnya, tapi tak juga menemukan penyebabnya.
Wajahnya yang semula tenang kini mulai gelisah.
“Cilaka jika mobil ini tak juga nyala,” lirihnya gundah. Ia harus segera tiba di sebuah kota di ujung pulau Sumatera secepatnya. Malam itu ada pertemuan penting yang harus ia hadiri bersama asosiasi industri teknologi dari seluruh dunia.
Keheranannya kian menjadi karena tak sedikitpun tanda-tanda mobil itu bisa berfungsi kembali. Berbagai pertanyaan hinggap di benaknya. Mobil terbang canggih itu adalah produksi perusahaan tempatnya bekerja. Ia sangat mengerti seluk beluk mesin dan cara kerjanya, karena ia sendiri ikut andil dalam merancang dan menciptakannya. Namun kini, mobil itu mogok begitu saja dan ia tak menemukan satu pun penyebab yang masuk akal.
“Ayolah, jangan begini,” desisnya berbisik frustasi. Lalu kembali mengutak-atik mesin dan perangkat elektrik.
Tak ada tanda-tanda mobil itu bisa menyala kembali. Tertegun, ia menatap mobil terbangnya sembari memikirkan langkah yang harus dilakukan. Tak mungkin ia tinggal diam di hutan lebat ini sendirian, tanpa melakukan apa-apa.
Ia tatap tunggangan kebanggaannya itu dengan kecewa.
“Ada apa dengan kamu?” ucapnya sembari menggigit bibirnya yang kini mendadak terasa kering. “Please, jangan berulah dalam kondisi genting begini. Aku memerlukan kerjasamamu.” Namun yang diajak bicara tetap tak bereaksi.
Dengan gelisah matanya berkeliling menyapu sekitar. Raut khawatir hinggap di wajahnya yang selama ini tak mengenal kata gentar.
“Ini tidak mungkin benar,” gerutunya seakan belum percaya.
Kembali diperiksanya setiap kemungkinan yang menjadi penyebab mobilnya mogok begitu saja. Tetap tak ada perubahan.
Waktu terus bergulir. Cahaya mentari kian menipis. Suasana hutan terasa kian mistis.
Laki-laki itu mendongak menatap ke langit yang mulai berubah kelabu. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.
“Now what!” keluhnya kian gusar.
Lelah mengutak-atik mesin dan semua perangkat yang ada, akhirnya ia putuskan mencari bantuan. “Aku tidak mau tidur di hutan ini sendirian,” desisnya bimbang.
Lalu ia jentikkan jari telunjuk dan jempolnya untuk mengunci mobil terbang keluaran terbaru itu. Dengan langkah panjang, ia mulai menyusuri hutan diikuti desau angin yang gemerisik.
“Aku harus cari bantuan!” Ia berbisik pelan.
Hutan itu begitu lebat dan sunyi. Sesaat ia merasakan bulu kuduknya meremang, tapi ia bukan orang yang mudah takut tanpa alasan. Ia berusaha tetap tenang dan melangkah dengan keyakinan bahwa semua masalah pasti ada jalan keluarnya.
Akan tetapi kesunyian hutan itu terasa kian mencekam. Suasana muram hutan yang minim sinar itu seolah turut merasakan kegundahan yang kini menjalari perasaannya.
Sesaat ia berhenti untuk menentukan arah. Kepalanya mendongak mencari celah cahaya di antara pucuk dedaunan. Lalu, memutuskan berjalan ke arah Barat, mengikuti tajuk pohon yang tumbuh kian jarang.
“Tak perlu takut dengan hutan. Manusia berkuasa atas teknologi dan alam.” Ia bergumam sembari mengingat slogan yang dicetuskannya beberapa tahun silam. Sebuah slogan yang langsung viral di tengah kemajuan teknologi dengan masyarakat yang memuja kebebasan.
“Ketakutan mengungkung manusia dalam ketidakberdayaan,” gumamnya menambahkan kata-kata yang pernah ia cetuskan dan mampu menyihir orang banyak.
“Tapi kini aku sedikit takut,” tambahnya dengan suara pelan. “Hutan ini seperti tak berujung dan teknologiku sama sekali tak berguna.” Ia berjalan sembari celingukan kiri kanan, mengikuti cahaya yang masih terlihat di antara pepohonan.
Suasana begitu tenang, hingga kemudian, sebuah pekikan membuat jantungnya serasa akan melompat. Suara siamang dan orang utan terdengar saling bersahutan membuat pemuda itu gemetar ketakutan.
Ia terus melangkah, meskipun kakinya terasa mulai berat. Berjalan sendirian di tengah hutan tanpa bekal dan petunjuk arah, benar-benar membuat ia berpikir ulang tentang makna melawan alam. Bahkan mendengar desau angin di tengah kesunyian hutan itu saja membuat bulu kuduknya meremang.
Kelelahan mulai merenggut rasa percaya dirinya. Langkahnya yang semula tegap, perlahan tertatih-tatih. Kakinya terasa kaku. Keringat membasahi seluruh tubuh. Ia mulai kehilangan tenaga dan berjalan menelusuri hutan itu dengan langkah semakin melambat.
“Kenapa hutan ini gak habis-habis?” desisnya kesal.
Matahari mulai turun ke Barat. Lelaki itu kini dihinggapi perasaan cemas. Berada di hutan rimba yang seakan tak bertepi menimbulkan ilusi tersendiri bagi ia yang biasa hidup di kota dengan berbagai fasilitas canggih.
Di tengah rasa letih yang menggigit, tiba-tiba matanya melebar saat menatap sebuah gubuk sederhana dengan asap mengepul tipis.
“Rumah warga!” serunya mempercepat langkah.
Ia mendekat. Seseorang tengah menjerang kuali tanah liat di tungku batu di depan gubuk. Sesosok laki-laki tertidur di bangku panjang dari bambu, sembari menutup wajahnya dengan topi tua yang sudah kumal.
“Permisi.” Boleh aku minta segelas air?” ujarnya pada sosok yang tengah berbaring itu.
Tak ada tanggapan.
“Permisi! Boleh minta segelas air?” Ia mengulangi dengan suara lebih keras.
Sosok itu, yang ternyata seorang lelaki tua, terbangun dan menyipitkan mata ke arah tamu tak diundang itu.
“Kamu siapa?”
“Aku Sean. Mobilku mogok dan tak bisa nyala. Aku ke sini jalan kaki. Mobilku jauh di dalam hutan. Boleh minta segelas air?” Ia mengulang permintaan dengan nada datar.
“Hmm, anak muda. Kamu dari mana?”
“Aku dari Sky Technology. Aku sedang ada tugas ke Sumatera. Tiba-tiba mobil terbangku mogok di atas hutan ini. Boleh minta segelas air minum?”
“Silakan ambil sendiri. Di tempayan itu ada air segar.” Laki-laki itu menunjuk ke sudut gubuk. Tampak sebuah tempayan kuno berukuran besar dengan gayung batok kelapa di atasnya.
“Ini bisa langsung diminum?” tanya Sean setelah mendekat dan mengintip ke dalam tempayan.
“Kalau tidak mau ya sudah. Saya cuma punya itu.” Pemilik gubuk menjawab datar.
Sean yang kehausan mengabaikan jawabannya dan meneguk air dengan tergesa. “Segar!” ucapnya lega.
“Ini hutan apa?” Ia bertanya setelah ikut duduk di sebelah laki-laki berwajah dingin itu. “Kok masih ada yang hidup cara kuno begini di masa modern?”
Pertanyaan yang membuat bola mata pria di sebelahnya melotot lebar.
“Hutan Hantu,” jawab laki-laki itu singkat.
***

Book Comment (188)

  • avatar
    DuabelasFazqia

    cerita menari

    30/06/2025

      0
  • avatar
    SetyawanAgus

    lanjut min..mantap..cerita yang nampak realistis..smga hidayahnya selalu menyertai kita smua..aamiin

    02/05/2025

      0
  • avatar
    CirebonSamroh

    cerita nya bgus sekali

    03/12/2024

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters