logo
logo-text

Download this book within the app

7. Terbongkar

Terbongkar
Dion terpana melihat betapa miripnya gadis di hadapannya ini dengan perempuan yang ada di foto itu, bahkan gadis yang belum ia ketahui namanya itu jauh lebih cantik dan anggun dengan hijab yang ia kenakan tanpa polesan make up sedikit pun.
“Dion Winata,” ujar Dion memperkenalkan dirinya sambil mengedipkan mata, hal itupun mengundang godaan dari mahasiswa lain.
“Keyla Friansyah,” balas Keyla tanpa menyambut uluran tangan pria itu.
Setelah itu seorang pria yang menggunakan pakaian serba hitam datang membawakan kotak persegi panjang yang tidak terlalu besar berlapis kain dan meletakkan kotak itu kemeja dihadapan Keyla.
Perlahan Keyla mendekati kotak tersesebut dan mulai ingin mencoba membukanya dengan hati-hati tanpa peralatan apapun. Tanpa di duga kotak itupun terbuka, semua orang yang menyaksikan itu kaget. Kotak yang katanya tidak dapat dibuka dengan alat apapun mengapa begitu mudah dibuka oleh Keyla? Yang kemudian menampilkan selembar kertas tua di dalamnya.
Berbagai pertanyaan dan asumsipun menghampiri pikiran semuanya. Lapangan itu seketika menjadi ricuh.
Orang yang sedari tadi melihat semuanya dari jauh seolah bersembunyi, kini berjalan cepat ingin menghampiri gadis yang menjadi objek pengamatannya, sudah ia duga wanita itu berhungan dengan semua ini serta mimpinya. Namun belum sempat ia menghampiri, gadis itu tampak melarikan diri dengan wajah takut dan khawatir.
“Hey, tunggu ... berhenti!” lagi-lagi Keyla tidak menghiraukan siapapun yang memanggilnya. Akhirnya orang tersebut menyerah saat melihat bayangan Keyla mulai hilang dan menjauh menggunakan sepeda yang disambar gadis itu dengan cepat.
“Huh, gimana bos? ke mana dia?” tanya Dion kepada Ardan sambil mengatur nafas setelah berlari mengejar gadis itu.
“Dia udah pergi,” jawab Ardan datar. Ya, dialah peria yang juga turut mengejar Keyla, namun Keyla terus berlari saat ia menyuruh gadis itu berhenti.
Dion yang mendegar itupun menatap malas sang bos, “Bisa-bisanya dia tidak mengejar Keyla dengan kecapatan penuh, di perjuangin kek, naik motorkan bisa?” Pikir Dion lelah.
“Barang kali dia calon masa depan lo bos, padahal cantik bos, sayang banget gak lo perjuangin!” ujar Dion dramatis.
Mendegar itu, Ardan pergi meninggalkan Dion sendiri. Ia tahu selanjutnya sang sekretaris itu akan terus menasehatinya dengan kata-kata yang tidak masuk akal.
***
“Kamu kenapa Nak, kok kaya habis lari-larian gitu?” tanya Fara khawatir saat melihat Keyla yang terengah-engah.
“I ... iii ... tu bun, a ... a ... ada hantu,” jawabnya asal.
Fara yang mendengar anaknya pun terkekeh geli. “Ada-ada aja kamu nih, mana ada hantu di sore hari seperti ini, dari pada kamu menghayal lebih baik kita masuk dulu, yukk!” Ajak Fara seraya menarik anaknya masuk ke dalam rumah yang tampak lusuh itu. Namun, bagi mereka ini adalah salah satu tempat ternyaman untuk berlindung.
“Hehehe iya Bun, eh Bunda gak kerja?” tanya Keyla saat mereka sudah duduk dan berkumpul bersama di ruang tamu yang merangkap sebagai ruang makan.
“Bunda kerja setengah hari, karena tadi buk Desi mau pergi.”
Mendengar itu Keyla hanya ber oh ria, dan lanjut menatap sang ayah.
“Ayah?” tanyanya polos.
“Ayah baru pulang dan alhamdulillah ikannya langsung diborong,”
Keyla perlahan memperhatikan kedua orang tuanya yang tampak mulai mengobrol. Cukup bahagia baginya dapat terlahir dari keluarga ini, walaupun ia hidup pas-pasan tapi ia bersyukur dapat merasakan kasih sayang seorang ayah dan bunda, karena masih banyak orang yang belum bisa merasakan hal itu. Tiba-tiba Keyla teringat akan hal mengusik pikirannya akhri-akhir ini dan mungkin ini waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu.
“Bun –Yah, Keyla mau nanyak deh?” ucap Keyla yang membuat kedua orang tuanya menatap seolah bertanya “Apa?” kepada dirinya. “Emm, akhir-akhir ini, Key kaya merasa ada yang ngikutin Key, tadi makanya Key pulang kerja kaya di kejar hantu,” ujarnya serius.
Mendengar perkataan sang anak, kedua orang tuanya saling pandang dan mengisyaratkan sebuah keterkejutan seolah ada yang mereka sembunyikan. “Ekhemm, kayanya itu perasaan kamu aja, Nak,”
“Tapi gak hanya itu, Yah, akhir-akhir ini Key ngerasa ada yang aneh ...!” balasnya terputus. “Ayah tahu gak, kabar tentang penemuan yang ada di depi pantai waktu itu? Isi kotaknya adalah foto raja dan ratu, dan wajah Keyla mirip banget sama ratu itu. Semenjak itu Key merasa gak tenang, Yah, semua yang Key alami akhir-akhir ini tuh gak wajar!”
Mendengar keluh-kesah anaknya, lagi-lagi mereka hanya saling pandang dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Mungkin ini saatnya Keyla tau, Mas!” ujar Fara sambil menatap sang suami. Namun Rian suaminya hanya diam seolah memikirkan sesuatu.
Bahkan Keyla yang mendengar hal itu mengeryit bingung, apa yang dimaksud dengan bundanya ini? “Maksud bunda?” Tanyanya bingung.
“Emmm, Nak ... mungkin ini saatnya kamu tahu, ayah sama sekali tidak tahu apa yang kamu alami akhir-akhir ini, tapi seseorang mungkin dapat menjawab kegelisahan mu, Nak.” Tutur Rian menatap sendu wajah sang anak.
“Apa maksud Ayah? Apa yang harus Key ketahui?”
Mendengar itu lagi-lagi Rian mengebuskan nafasnya pelan, demi dapat mengungkap kebenaran yang ia sendiri tidak ingin mendengarnya.
“Key, kamu bukanlah anak kandung ayah dan bunda,”
Keyla yang mendengar itu semakin bingung dengan ucapan ayahnya, “Apakah saat ini aku tengah bermimpi?” batinnya.
“Ayah bohong kan?” tanyanya dengan nada memelas meminta jawaban.
“Bun, ayah bohongkan, Bun?” tanya Keyla meninggi seraya berdiri saat melihat sang ayah hanya diam.
“Key dengarin ayah mu dulu, Nak, semua ini ada alasannya,” nasehat Fara lembut.
Mendengar itu Keyla pun luluh dan duduk kembali dengan kesabaran yang mungkin sudah nihil. Kenapa orang tuanya sanggup menyembunyikan ini semua?
“Sebenarnya kamu anak kandung teman ayah dan bunda, mereka menitipkan mu di sini dengan segala rasa saying, Nak, hanya merekalah yang dapat menjawab ke gelisahanmu!” jelas Rian tertahan. “Kamu juga tak boleh marah kepada mereka, asal kamu tahu ..., ayah dapat melihat luka yang mereka pendam, namun mereka terpaksa melakukan semua ini untuk melindungi mu dari marabahaya, jangan pikir mereka tak menyangimu, mereka selalu mengirim uang yang tak ternilai jumlahnya dari gaji ayah serta mereka selalu kemari setiap bulan purnama di saat kamu sudah tertidur, tapi mereka tidak ingin kamu tahu dan mereka ingin mendidikmu karena kamu membutuhkannya.”
“Key semakin tidak paham dengan yang Ayah ucapkan!” balas Keyla memalingkan wajahnya.

Namun lagi-lagi Fara mencoba untuk menenangkan emosi anaknya. Ia paham gadis yang ia besarkan sedari kecil itu pasti sangat terpukul dengan fakta semua ini.
“Pergilah ke alamat ini, kamu akan menemui jawaban segala pertanyaan mu di sana, ayah dan bunda sangat menyayangi mu!” pinta sang ayah sambil menyodorkan selembar kertas yang ia ambil dari dalam lemari yang berada tak jauh dari mereka. Mendengar kalimat terakhir ayahnya, Keyla tidak sanggup dan langsung memeluk orang tua yang sudah membesarkannya itu dengan erat.

Book Comment (70)

  • avatar
    zaraa zaufiaa

    bagusssss

    19/03/2025

      0
  • avatar
    AdeliaMelia

    sangat bagus

    02/12/2024

      0
  • avatar
    Putrabungsu

    wow kren

    23/09/2024

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters