logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 6 Sesuatu di Balik Tirai

Setelah menyelesaikan semua administrasi di kampus, Azzam langsung mengajak Baim untuk mencari tempat kos untuk Baim di daerah jalan Kaliurang.
Dia mendapat info dari salah satu teman sekelasnya kalau ada kamar kos yang belum ditempati, tapi tempatnya memang agak sedikit jauh dari kampus.
Baim pun menyetujuinya. Tak apa sedikit jauh, yang terpenting dia punya tempat tinggal selama tinggal di Jogja.
Kali ini, mereka memilih untuk menaiki kendaraan umum. Karena motor tua milik Azzam sedang diservice di bengkel.
"Biasa, motor tua memang banyak jajannya," jawab Azzam saat ditanya soal motor tuanya ada di mana.
"Ganti aja yang baru, Zam. Kamu kan duitnya banyak," sahut Baim dengan entengnya.
"Duit sih ada, Im. Tapi kenangannya nggak bisa dibeli. Banyak banget kenangannya sama motor itu. Terlalu sayang untuk menggantinya dengan yang baru," ujarnya sambil menatap lurus ke depan.
Baim hanya menganggukkan kepalanya. Paham apa yang dimaksud temannya itu.
Mereka pun berhenti pada salah satu halte bus yang ada di jalan Kaliurang, tepatnya pada Km.5. Berjalan melewati sebuah gang kecil yang hanya bisa dilewati dua orang. Namun siapa sangka jika di dalam gang itu terdapat sebuah rumah besar berlantai dua.
"Assalamu'alaikum," sapa Azzam sambil mengetuk pintu rumah tersebut. Sampai tiga kali salam, baru terdengar jawaban salam dari seorang wanita di dalam rumah besar itu.
"Wa'alaikumsalam." Seorang wanita menyembul dari balik pintu.
"Mbak Surti, ya?" tanya Azzam memastikan. Wanita itu pun mengangguk mantap. Lalu membuka pintunya lebih luas lagi.
"Saya Azzam, dan ini teman saya Baim." Azzam memperkenalkan diri pada wanita yang bernama Surti itu.
"Iya. Ada yang bisa dibantu?" balas Surti dengan ramah.
"Begini, Mbak ... kemarin saya dapat kabar dari teman yang kos di sini juga, katanya masih ada kamar yang kosong. Benarkah?"
"Mas ini mau kos?" Baim pun mengangguk mantap. "Kemarin memang masih ada yang kosong. Tapi semalam itu ada yang isi, Mas. Jadi sekarang sudah penuh kamarnya," imbuh Surti menjelaskan.
"Jadi sudah penuh, ya Mbak? Nggak ada lagi satu kamar yang nyempil gitu?" Baim buka suara.
"Nggak ada, Mas. Maaf, ya," jawab Surti. Azzam  dan Baim pun saling melempar pandang.
"Ya sudah, Mbak. Terima kasih, ya. Kalau begitu kita pamit dulu!" ucap Baim.
"Iya, sama-sama."
Mereka pun pamit dari rumah itu. Kembali mengayunkan langkah dibawah teriknya matahari yang terasa bagai di atas kepala. Membuat kerongkongan Baim semakin terasa kering.
Dia pun hanya bisa menelan salivanya agar kerongkongannya tak terlalu kering, lantaran dia sedang menjalankan puasa sunnah senin kamis.
"Kita mau di mana lagi, Zam?" Baim menoleh ke arah sahabatnya.
Azzam hanya mengendikkan bahunya. Dia pun tak tahu di mana lagi harus mencari tempat kos untuk Baim.
Pasalnya, dia memang tak terlalu paham daerah sekitar jl.Kaliurang. Jadi dia tak tahu pasti seluk-beluknya.
Azzam sendiri memilih tempat kos yang dekat dengan UIN Sunan Kalijaga agar lebih memudahkan dia saat pulanh pergi ke kampus.
Kenapa Baim tak memilih yang dekat dengan kampus juga?
Jawabannya, karena saat itu tempat kos yang dekat dengan kampus rata-rata sudah full.
Baim mengembuskan napas panjang.
"It's oke. Nggak papa, Im. Aku akan bantu sampai kamu dapat tempat kos. Nggak usah khawatir," ucap Azzam meyakinkan sahabatnya.
"Terima kasih, ya, Zam. Kamu memang yang terbaik!" Baim menepuk-nepuk bahu Azzam pelan. Bibirnya tersenyum tipis.
Sedangkan Azzam membalasnya dengan tersenyum lebar.
Dia tak tahu lagi kalau di Jogja tidak ada teman sebaik Azzam. Susahnya mencari tempat kos yang sesuai di daerah ini.
Tahun ajaran baru seperti ini memang tempat kos kebanyakan penuh. Karena banyaknya mahasiswa baru yang juga mencari tempat kos.
"Eh, coba tanya sama ibu itu, Zam! Siapa tahu dia tahu tempat kos yang ada di sekitar sini," ujar Baim. Azzam pun menyetujuinya meski agak sedikit ragu. Pasalnya, wajah ibu itu kurang meyakinkan.
Tapi, apa salahnya dicoba?
"Permisi, Bu. Mau tanya, tempat kos yang dekat-dekat sini sebelah mana, ya?" tanya Azzam dengan sopan.
"Mas ini mau kos?" si Ibu bertanya balik.
"Buat teman saya, Bu." Azzam menoleh ke arah Baim. Ibu jarinya menunjuk ke arah sahabatnya itu.
"Kalau mau, kos di rumah saya juga bisa, Mas," ujar si Ibu menawarkan rumahnya untuk dijadikan kos untuk Baim.
"Bagaimana, Im?" Azzam meminta persetujuan sahabatnya yang masih terlihat menimbang-nimbang tawaran si Ibu.
"Kalau mau lihat-lihat dulu juga nggak papa kok," celetuk wanita itu. Seakan mengerti kebimbangan yang tengah dirasakan Baim.
"Mari!" ajaknya. Baim dan Azzam pun mengekor di belakang langkah si Ibu memasuki rumahnya.
Baim mengamati seisi ruangan yang ada di dalam rumah semi permanen dengan kondisi yang bisa dibilang kurang begitu baik.
Saka-saka penyangga yang terlihat rapuh dimakan waktu. Genting-genting yang terlihat banyak lubang. Kemungkinan rumah ini juga akan bocor jika hujan turun.
Perabot rumah yang hanya diisi oleh kursi yang terbuat dari kayu seadanya dan meja kayu tanpa motif.
Semua tak luput dari perhatian Baim. Jemarinya menyentuh beberapa perabotan berdebu yang ada di rumah itu.
"Ibu tinggal sama siapa di sini?" tanya Baim hati-hati.
"Hanya berdua dengan suami. Kedua anak saya bekerja di luar kota. Hanya pulang setahun sekali kalau lebaran," jelas si Ibu.
Perasaan iba menyelinap masuk ke dalam relung hatinya menyaksikan kondisi rumah si Ibu yang memprihatinkan.
Mungkin jika dia tinggal di sini bisa sedikit membantu keuangan mereka, pikir Baim.
"Bu, maaf. Boleh saya numpang toiletnya," sela Azzam dengan eskpresi yang sulit diartikan.
"Boleh. Mari saya antar!" si Ibu pun berjalan menuju toilet. Azzam mengekor di belakangnya.
"Di sini toiletnya, Mas. Maaf, ya. Toiletnya seadanya," ujar si Ibu.
"Nggak papa, Bu," sahut Azzam cepat.
Tanpa pikir panjang lagi, dia pun langsung membuka tirai bermotif batik warna cokelat yang digunakan untuk menutup pintu toilet.
Baru saja dia akan membuka resleting celananya, dia dikejutkan oleh sesuatu yang ada di depannya.
"Aaaa!!!" teriak Azzam sambil berlari keluar toilet. Wajahnya pucat pasi. Napasnya terengah-engah.
"Zam, ada apa sama kamu?" Baim memandang Azzam heran.
"Maaf, Bu. Kita nggak jadi kos di sini. Kita langsung mau pamit saja. Assalamualaikum," ucap Azzam tanpa peduli pada pertanyaan sahabatnya.
Dia pun menarik tangan Baim keluar dari rumah itu. Membawanya sedikit menjauh agar dia bisa menceritakan alasannya menolak Baim kos di rumah itu.
"Zam, kenapa sih sama kamu? Nggak enak lho sama Ibu tadi. Kita pergi gitu aja," desak Baim dengan menatap Azzam.
"Aduh, Baim. Lebih baik kamu itu jangan kos di tempat itu. Bahaya, Im. Bahaya," ucap Azzam.
Baim menaikkan sebelah alis tebalnya. "Bahaya kenapa sih?" Sungguh Baim tak mengerti dengan apa yang dimaksud sahabatnya itu.
"Jadi, sebenarnya tadi tuh-
Guk! Guk! Guk!
Ucapan Azzam terhenti saat dia mendengar suara anjing yang menggonggong di belakang mereka.
Saat mereka menengok ke arah belakang, tiba-tiba anjing itu mengejar mereka.
Baim dan Azzam pun lari tunggang-langgang.
Hingga mereka terjebak pada jalan buntu. "Im, gimana ini? Jalannya buntu," ucap Azzam yang sudah panik saat melihat anjing itu semakin mendekat.
Baim pun hanya terdiam sambil memikirkan cara agar bisa terbebas dari kejaran hewan itu.
Namun otaknya tak bisa bekerja optimal dalam keadaan mendesak begini.
"Harus gimana ini, Ya Allah," geramnya.

Book Comment (536)

  • avatar
    AnabelNasa

    baguss bgt😌

    6d

      0
  • avatar
    GantengDowi

    bagus

    26/01

      0
  • avatar
    Revaangginifebrianti

    good job

    25/01

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters