logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 4 Kepergian Baim

Dering ponsel membuat Baim yang sedang asik membaca buku islami sedikit terlonjak karena kaget.
"Astagfirullah," gumamnya sambil mengusap-usap dadanya.
Dia pun meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas.
AINUL CALLING....
Wajah cantik adik tirinya itu terpampang luas di layar ponselnya.
Tanpa menunggu lama, dia pun segera mengusap ke atas tombol hijau pada layar. Menempelkannya pada telinga kanannya.
"Assalamu-"
["Mas Baim, kenapa tiba-tiba mau kuliah di Jogja sih? Kan jauh banget."]
Laki-laki itu seketika menjauhkan ponsel dari telinganya saat suara cempereng Ainul menggema di speaker ponsel.
Memandangnya dengan tatapan heran sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian menempelkannya lagi di telinga.
"Assalamu’alaikum," ucap Baim saat adik tirinya itu sudah tidak terdengar lagi suaranya.
["Iya, Mas. Lupa. Maaf. Wa'alaikumsalam. Mas belum jawab pertanyaan aku!"] desak Ainul setelah membalas salam dari kakaknya.
"Itu sudah jadi keputusan Mas, Dik," jawab Baim pelan.
["Tapi kenapa tiba-tiba? Udah gitu, aku nggak dikasih tahu lagi."] cerocos Ainul.
Baim mengembuskan napas panjang sejenak sebelum menjawab pertanyaan Ainul. Memberi pengertian pada adik tirinya itu memang tak semudah membalikkan telapak tangan.
"Dik, nggak semua keputusan yang akan Mas ambil harus diceritakan padamu. Karena-"
["Tapi dulu Mas selalu kasih tahu ke aku perihal apa saja yang akan Mas lakukan. Kenapa sekarang nggak?"] Ainul dengan cepat memotong perkataan Baim.
"Ainul, kamu kan sekarang sudah punya suami. Mas nggak enak lah kalau semua keputusan yang akan Mas ambil harus cerita ke kamu," ujarnya pelan.
Terdengar suara helaan napas dari seberang sana. ["Jadi itu alasannya?"] suara Ainul terdengar melemah.
"Iya, Dik. Posisi kita sekarang kan sudah berbeda. Nggak seperti dulu lagi," jelas Baim.
Dia memang sengaja ingin mengubah sikapnya pada adik tirinya itu. Memberi pengertian sedikit demi sedikit tentang posisinya sekarang yang sudah menjadi suami orang.
Juga terus menjaga jarak untuk memupus perasaan yang pernah timbul di hati Baim.
Dia tak ingin berlama-lama memendam rasa kecewa juga sakit hati yang akan menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
Lebih baik terus memperbaiki diri dengan mendekatkan diri pada Allah dan mengejar mimpi.
Habis patah hati, terbitlah sukses dunia akhirat!
Begitulah slogan yang memotivasi Baim untuk terus optimis menatap ke arah masa depan.
Untung saja dia adalah tipe laki-laki yang tak pernah terlalu pusing menghadapi masalah yang sudah menimpanya hari kemarin.
Dia hanya fokus pada hari ini dan menyerahkan masa lalu juga masa depan hanya pada Allah, Dzat Yang Maha Kuasa.
Tugasnya hanya berdoa dan berikhtiar. Sisanya biar Allah yang putuskan.
["Oke, baiklah. Besok sebelum Mas Baim berangkat ke Jogja, aku mau ke rumah. Tunggu, ya! Jangan pergi dulu sebelum ketemu aku!"] ujarnya dengan sedikit tegas.
"Iya, Dik. InsyaAllah Mas akan tunggu kamu kok."
Baim bisa bernapas lega sekarang. Pasalanya, adik tirinya itu sudah memahami penjelasannya mengenai status mereka saat ini.
["Emang Mas Baim mau berangkat jam berapa?"]
"Kereta yang mau Mas naiki berangkat jam delapan malam, Dik. Tapi paling nggak, setengah jam sebelum keberangkatan Mas sudah harus ada di stasiun," jelasnya.
["Oke. Sorean mungkin aku ke rumah, Mas. Nunggu suami pulang kerja. Sekalian tengok Abi sama Ummi. Baru beberapa seminggu di sini udah berasa kangennya"] ujar Ainul disertai kekehan kecil di seberang telepon sana.
"Jelaslah. Kamu itu kan nggak pernah berpisah dari Abi dan Ummi barang sehari pun," balas Baim sambil terkikik geli.
["Iya makanya, Mas. Tapi alhamdulillah sih dapat suami dan keluarganya yang super baik. Jadi aku nggak terlalu merasa kehilangan Abi dan Ummi. Lagian kan masih sama-sama tinggal di Jombang. Jadi kalau kangen ya tinggal meluncur aja ke rumah."] ucap Ainul panjang lebar dengan cepat.
"Alhamdulillah. Mas senang dengarnya, Dik. Semoga kamu bahagia selalu, ya Dik. Ya sudah dulu, ya. Ada yang telepon Mas nih. Penting." Baim sedikit berbohong demi bisa memutus sambungan telepon dengan adik tirinya itu.
["Aamiin Ya Allah. Ya udah, Mas. Assalamualaikum."]
"Wa'alaikumsalam, Dik."
Sambungan telepon keduanya pun terputus.
Baim menempelkan punggungnya pada sandaran tempat tidur. Dia tersenyum tipis sambil mengusap janggutnya yang mulai tumbuh tipis-tipis.
'Mas akan ikut merasa bahagia jika kamu pun bahagia, Dik. Kamu memang nggak salah memilih pasangan', gumamnya dalam hati sambil bibirnya menyunggingkan senyum.
****
Baim sudah siap dengan barang bawaannya yang ada di dalam koper besar.
"Jangan lupa berkabar nanti kalau sudah sampai di Jogja, Nak." Laila mengusap bahu Baim lembut.
"Iya, Ummi. InsyaAllah Baim akan memberi kabar sama Ummi kalau sudah sampai di sana," balas Baim. Lalu dia memeluk Laila lama. Seakan menyalurkan semua rasa hormatnya pada wanita yang sudah berjuang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan dirinya.
Hatinya berdesir. Air matanya mulai mendesak ingin keluar. Baim pun menahannya dengan sekuat tenaga.
Sesedih apa pun dirinya, dia tak ingin menjatuhkan setetes pun air matanya di depan kedua orangtuanya. Bukan karena malu.
Baim hanya tidak ingin orang-orang yang dicintainya ikut merasakan kesedihan yang dia rasakan.
Begitu pun dengan Laila. Meski hatinya sedih bukan main saat melepas putra kesayangannya untuk yang kedua kalinya.
"Ummi baik-baik, ya di sini. Baim akan usahakan untuk selalu menelepon Ummi jika ada waktu senggang," ucap Baim menenangkan Laila.
"Kamu janji?" Laila menatap wajah Baim dalam-dalam.
"InsyaAllah, Mi. Baim nggak bisa janji, Mi. Tapi akan Baim usahakan."
Laila mengangguk paham. Dia pun melepas pelukannya. Lalu kedua telapak tangannya menangkup wajah putranya itu.
"Kamu juga baik-baik di sana, Nak. Selalu jaga kesehatan. Jaga imun dan iman," ujar Laila sambil menatap wajah Baim dalam-dalam. Wajah yang sebentar lagi akan dirindukannya siang dan malam.
Berpisah dengannya untuk yang kedua kali sungguh bukan hal yang mudah. Apalagi kali ini jaraknya lebih jauh. Lebih susah juga untuknya bisa bertemu dengan Baim.
Tapi tak apa. Dia memang harus rela jika anaknya itu pergi demi mencari ilmu agama. Itu lebih baik.
Insyaallah dia akan ridho. Agar apa yang diperoleh anaknya itu akan diberkahi oleh Allah.
Kini Baim beralih memeluk Joko. "Bi, Baim pamit, ya! Tolong jaga Ummi."
"Fokuslah untuk menuntut ilmu agama dengan baik. Nggak perlu risau dengan Ummi. Ada Abi di sini yang akan selalu menjaga Ummi dengan nyawa Abi." Balasan Joko membuag hati Baim semakin tenang untuk meninggalkan rumah ini berserta penghuninya.
Sungguh, dia merasa sangat beruntung karena mendapatkan ayah sambung yang teramat baik. Bahkan dia merasa Joko itu seperti ayah kandungnya sendiri.
"Syukron, Bi. Baim sayang sama Abi," ucapnya.
"Abi juga sayang sekali sama kamu, Nak. Baik-baik di sana, Nak. Kalau butuh apa-apa hubungi kita aja!" Laki-laki berusia setengah abad itu mengusap-usap punggung Baim. Seolah menyalurkan kekuatannya.
"Ayuk, Mas Baim! Nanti telat lho," celetuk Si cerewet Ainul yang baru saja keluar dari dalam rumah bersama suaminya.
"Ya sudah, Bi, Mi, Baim berangkat dulu, ya! Assalamualaikum," pamitnya sambil mengecup punggung telapak tangan kedua orangtuanya dengan takzim.
"Hati-hati, ya, Nak!" ucap Laila dan Joko hampir bersamaan.
Sebenarnya memang berat meninggalkan semua yang mulai terasa nyaman di tempat ini.
Namun demi hati dan sebuah  cita-cita di masa depan, dia merelakan semua kebahagiaan yang baru saja diraupnya bersama dengan kedua orangtuanya setelah hampir 10 tahun hidup di pondok dan jauh dari orangtua.

Book Comment (536)

  • avatar
    AnabelNasa

    baguss bgt😌

    19d

      0
  • avatar
    GantengDowi

    bagus

    26/01

      0
  • avatar
    Revaangginifebrianti

    good job

    25/01

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters