"Kau tenang saja, ini tidak sesulit yang kau bayangkan. Tugasnya cukup mudah jika kamu mau menuruti apa kataku. Dan ya, sebaiknya kalian pikirkan dulu. Itupun jika kau masih ingin merawat suamimu. Kalau tidak, maka aku akan membiarkannya mati dan kalian akan kembali kuusir ke desa. Kehidupan kalian juga akan lebih sulit dari yang selama ini kalian lewati. Dan ya, apa perlu aku membakar gubuk tua itu agar kau tidak memiliki tempat tinggal?!" ancamnya dengan wajah licik. “Tidak, Jangan lakukan itu! Aku akan menuruti semua permintaanmu, tapi aku mohon, biarkan Ibuku merawat ayah. Dan tolong pastikan kehidupannya baik-baik saja!” Via tidak mungkin memisahkan antara Ibu dan papanya yang baru bertemu. Apapun permintaan wanita itu dia harus melakukannya demi kebaikan semua orang. Chiara menyeringai tipis, meninggalkan keduanya dalam pikiran kalut. “Bagus.” Kini Via dan Julia saling menatap dalam kebingungan. "Apa ini semua hanya permainan baginya?" Julia berpikir, rasa cemas menyelubungi hatinya. Via juga merasa bingung, namun dia tahu satu hal. “Bu, tidak ada yang bisa kita lakukan selain mengikuti permintaan Chiara.” "Apa sebenarnya yang diinginkan gadis itu? Kenapa justru kamu yang harus melakukannya?!" “Kita ikuti saja permainannya.” Via mendesah dalam hati, namun dia tidak tahu jawaban pasti. *** Beberapa hari berlalu. Via sudah menginjakkan kakinya di negara terkaya di Timur Tengah. Pemandangan yang sangat berbeda dengan desa tempat ia dibesarkan. Via merasa bingung dengan kehidupan yang baru saja dimulai. Seorang agen yang bekerja untuk Chiara mengantarkannya ke sebuah apartemen mewah yang terletak di lantai tiga puluh gedung pencakar langit. Agen itu bicara sebentar dengan seorang lelaki bernama Bram, sebelum akhirnya pamit pergi. "Silakan masuk. Ini adalah tempatmu bekerja sekarang," kata Bram sambil membuka pintu apartemen mewah itu. Via mengiyakan lalu melangkah masuk dengan langkah ragu. "Sesuai kontrak yang tertera, kamu akan berada di sini selama dua tahun lamanya. Kuharap kamu bisa bersikap baik dan mengerjakan apapun sesuai tugasmu," lanjut Bram, memberikan penjelasan singkat. Via hanya mengangguk pelan, matanya memandang sekitar, masih belum sepenuhnya bisa menerima kenyataan ini. Dia bukan orang yang mudah beradaptasi dengan perubahan, dan berada di tempat asing seperti ini membuat hatinya semakin gelisah. Namun, dibalik ketidakpastian itu, ia tahu bahwa dia tidak memiliki pilihan lain kecuali mengikuti keinginan Chiara. Ini adalah jalan yang harus ditempuh, demi menjaga keluarganya, demi memenuhi janji yang sudah terucap. "Apa yang sebenarnya akan aku hadapi di sini?" pikirnya dalam hati, merasakan beban yang semakin berat seiring berjalannya waktu. Seumur hidup, baru kali ini Via menginjakkan kakinya di luar negeri dan langsung bekerja di tempat yang sangat mewah. Lagipula, jika bukan karena permintaan Chiara, dia tak mungkin berada di tempat sejauh itu. Bram memberitahu Via mengenai pekerjaan yang harus dilakukannya, serta memberi penjelasan tentang kebiasaan dan makanan yang biasa dikonsumsi oleh bos mereka, Christian. Setelah menerima penjelasan itu, Via mengangguk tanda mengerti. Bram berbahasa Inggris dengan fasih, dan untungnya Via mengerti karena ibunya mengajarkannya dengan baik. Sepertinya, pekerjaannya tidak terlalu berat. Apalagi, menurut Bram, bosnya hanya tinggal seorang diri dan sering bepergian ke luar negeri. Lelaki itu tak tinggal di sini. Begitulah penjelasan Bram, yang tak lain adalah asisten pribadi Christian Oliver. Via memasuki ruangan yang akan menjadi kamarnya selama kontrak kerja ini. Kamar itu sangat megah dan luas, meskipun tidak sebesar kamar utama milik majikannya. Namun jika dibandingkan dengan rumah kumuhnya di kampung, ruangan ini tampak jauh lebih mewah. Bahkan, tidak ada apa-apanya jika dilihat dari sudut pandangnya. Ruangan ini begitu nyaman dan elegan, jauh melampaui apa yang pernah ia bayangkan. "Bia, ayo kita sarapan dulu. Kau pasti lapar," ajak Bram, saat Via tengah menatap kagum pada ruangan yang disebut kamarnya. Via menoleh cepat dan mengangguk ramah. Bram berdiri di depan pintu kamarnya, sedikit terpukau kala bertatapan dengan manik mata coklat gelap milik Via yang memancarkan aura sederhana, namun mampu memikat siapa saja yang memandang. Namun, ada satu hal yang tak bisa ia mengerti, mengapa Via memakai cadar dan abaya hitam panjang, padahal ini bukan di negara Arab. "Baiklah, Tuan," kata Via dengan nada sopan. Bram terkekeh geli, merasa aneh dengan panggilan gadis itu. Dia menggeleng pelan. "Kenapa kau memanggilku Tuan? Padahal aku bukan majikanmu," tanya Bram, heran dengan panggilan Via yang terdengar sangat formal. Via belum menjawab, matanya menghargai pekerjaan Bram dan itu terlihat lucu di mata Bram. "Kalau begitu, aku harus memanggilmu apa?" tanya Via dengan nada yang lebih santai. "Panggil namaku saja. Bramantyo, kamu boleh memanggil aku Bram," jawabnya, senyum tipis muncul di wajahnya. "Baiklah, Bram," kata Via sambil terus menyembunyikan wajahnya di balik cadar yang menutupi sebagian wajahnya. Mereka pun melanjutkan makan sandwich bersama di dapur yang juga sangat besar, sambil berbincang ringan. "Oh, ya. Apa nama lengkapmu?" tanya Bram santai, ingin mengenal Via lebih jauh. Via hampir saja membuka mulut untuk menjawab saat pintu depan terbuka, diikuti dengan kedatangan Christian dan dua orang pengawalnya, memasuki ruangan. Kedua pengawal itu segera mengarahkan Christian ke sofa, lelaki tampan itu terlihat meracau tak jelas, seperti tengah mabuk. "Kalian berdua boleh pergi," interupsi Bram. Kedua pengawal itu segera mengangguk cepat sebelum meninggalkan ruangan. Via berdiri, hanya diam sambil memperhatikan lelaki asing yang kini terbaring di sofa. Bram mengerti keterkejutan yang terlihat di mata wanita itu. Dia tersenyum kecil kemudian membuka suara. "Via, jangan kaget begitu. Bukankah orang mabuk itu biasa? Tugasmu adalah mengurus Tuan Oliver sekarang. Ayo kerjakan, biar aku tahu seperti apa pekerjaanmu," kata Bram dengan nada yang lebih serius. Via mengangguk pelan, kemudian berjalan mendekati Christian yang tengah terbaring tak berdaya. Tugasnya baru dimulai, dan dia harus siap menjalankannya.
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 20 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (708)
Long Rifal
sangat suka
14/06
0
DanRama
keren banget saya sangat senang dengan aplikasi ini
mudah digunakan tanpa ribet
semoga kedepannya nambah lancar
sangat suka
14/06
0keren banget saya sangat senang dengan aplikasi ini mudah digunakan tanpa ribet semoga kedepannya nambah lancar
01/06
0baguss
05/04
0View All