logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Bab 3

Julia menatap Via dengan senyuman kecil. "Ya, ini nyata, Nak. Ayahmu akhirnya ingin bertemu denganmu."
Via masih bingung, tetapi ia memilih untuk menyimpan pertanyaannya. Dalam hati, ia merasa senang, tetapi juga gugup. Lelaki yang selama ini hanya menjadi bayangan dalam hidupnya, kini akhirnya akan ia temui.
Kendaraan mewah itu berhenti di halaman luas sebuah rumah megah milik keluarga Suryo Joyo. 
Julia turun perlahan dari mobil, tubuhnya mematung begitu menginjakkan kaki di tanah yang dulu pernah menjadi bagian dari hidupnya. 
Pandangannya terpaku pada bangunan megah itu, mengingat setiap sudutnya. Tempat ini adalah saksi bisu dari kehidupannya yang dulu nyaman, sebelum semuanya berubah menjadi neraka. 
Ingatan pahit membanjiri pikirannya, membuat nafasnya terasa berat.
"Ibu, ibu baik-baik saja?" tanya Via dengan khawatir. Dia meraih tangan ibunya, menggenggamnya erat untuk memberikan dukungan.
Julia menoleh pada putrinya dan mengangguk pelan, meski senyumnya tampak getir. "Iya, Nak. Ayo, kita masuk."
Mereka berjalan perlahan menuju pintu masuk yang besar dan berukir indah. Chiara sudah lebih dulu masuk tanpa menunggu mereka. Wanita itu berbalik sebentar, lalu mendesak. "Cepatlah, ayahku sudah menunggu kalian!" katanya dengan nada tak sabar.
Di dalam sebuah kamar besar yang penuh dengan peralatan medis, seorang pria paruh baya terbaring lemah di atas ranjang. Selang infus menempel di tangannya yang keriput, sementara tabung oksigen terhubung ke hidungnya, membantu pernapasannya yang tersengal. 
Dialah Suryo Joyo, lelaki yang pernah menjadi bagian penting dalam hidup Julia. Namun kini, sosoknya yang dulu gagah dan penuh wibawa tampak rapuh dan tak berdaya.
"Ju... Julia," suara seraknya terdengar lemah, hampir tak terdengar. Matanya yang mulai suram menatap penuh kerinduan ke arah wanita yang berdiri di depan pintu.
Julia menahan napas, air mata langsung mengalir tanpa bisa ditahan. Ia melangkah mendekat dengan tubuh gemetar. "Maafkan aku, Mas," ucapnya sambil tersedu.
Suryo tidak mampu membalas. Mulutnya terkunci, tubuhnya tak lagi bisa digerakkan akibat stroke yang telah bertahun-tahun ia derita. Hanya matanya yang mengerjap perlahan, penuh rasa sakit dan kerinduan.
Julia duduk di tepi ranjang, lalu meraih tangan suaminya yang dingin dan lemah. Tangannya menggenggam erat, seperti ingin menyampaikan penyesalan dan kehangatan yang tak pernah bisa ia ungkapkan selama bertahun-tahun. 
"Aku... aku benar-benar menyesal sudah pergi meninggalkanmu, Mas," bisiknya sambil terisak.
Suryo mengerjapkan mata lagi, mencoba memberi tanda, tetapi tubuhnya tetap tak mampu bergerak. Tatapannya beralih pada seorang gadis muda yang berdiri di belakang Julia, terlihat ragu dan bingung.
Julia yang menyadari hal itu menoleh ke arah Via. Dengan suara lirih, ia berkata, "Via, mendekatlah. Ayahmu ingin bertemu denganmu."
Via melangkah maju perlahan, hatinya penuh kecemasan. Sosok pria yang terbaring lemah di hadapannya adalah ayah yang selama ini hanya ia dengar dari cerita ibunya. "Ayah..." panggilnya pelan, suaranya bergetar.
Suryo menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Meski tak mampu berkata atau bergerak, sorot matanya jelas menunjukkan kebahagiaan dan kelegaan.
Julia menggenggam tangan Suryo lebih erat, sementara Via berdiri di sisi ranjang, menatap pria yang kini ia tahu adalah ayah kandungnya. "Ayah, aku di sini," katanya pelan, suaranya penuh haru.
Suryo mengedipkan matanya perlahan, air mata mengalir dari sudut matanya. Meski tak ada kata yang terucap, kehadiran Julia dan Via adalah sesuatu yang selama ini ia rindukan.
"Dia ayahmu, orang yang selama ini kamu rindukan, Nak," ujar Julia lirih, matanya tetap tertunduk penuh haru. 
Via mendekatkan kepalanya di dada ayahnya, merasakan kehangatan dari sosok yang selama ini hanya ada dalam angan-angannya. Air matanya mengalir, dan hatinya terasa penuh saat kerinduannya yang terpendam akhirnya terobati.
"Maafkan ayah, Nak. Selama ini sudah membuat kalian menderita," batin Suryo. Bibirnya kaku dan tidak bisa mengucapkan kata-kata itu. Stroke yang dideritanya selama bertahun-tahun membuatnya tak lagi mampu bicara, hanya mata dan hatinya yang bisa berkata lirih.
"Aku sangat merindukanmu, Ayah," Via menangis tersedu. Bertahun-tahun ia menanyakan keberadaan sang ayah pada Julia, namun ibu hanya bisa terdiam, menjawab dengan air mata. Kini, dia akhirnya bisa merasakan kehadiran sang ayah, meski dalam kondisi yang sangat berbeda.
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Chiara masuk dengan langkah tegas. Tangannya dilipat di dada, dan senyum mengejek menghiasi wajahnya saat melihat reuni kecil keluarga itu.
"Aku ingin bicara dengan kalian berdua. Cepat ikuti aku!" perintahnya tanpa melirik sedikit pun pada Suryo yang terbaring lemah di atas ranjang.
Julia dan Via saling berpandangan bingung, namun mereka akhirnya mengikuti langkah Chiara keluar dari ruangan.
Chiara berdiri di ruang tengah, berkacak pinggang dengan tatapan dingin yang menusuk pada pasangan ibu dan anak di depannya.
"Kamu pasti sangat senang bisa melihat suamimu kembali, bukan?" tanya Chiara sambil menyeringai. 
Julia mengangguk, mencoba menenangkan perasaannya meski suasana makin tegang.
"Dan kamu gadis cacat. Kau pasti bahagia karena sudah tahu siapa ayah kandungmu," Chiara melanjutkan dengan nada penuh ejekan.
Via dan Julia saling berpandangan. Tidak bisa dipungkiri, keduanya merasakan kebahagiaan yang besar, meski mereka tidak mengerti apa maksud Chiara dengan kata-katanya yang kasar itu. 
Mereka tahu, apapun yang akan dikatakan gadis itu, itu bukan sesuatu hal yang baik.
"Kenapa suamiku jadi seperti itu, Chiara? Katakan, apa yang telah terjadi selama aku pergi?"
 Julia akhirnya memilih bertanya, suaranya lirih, penuh penyesalan dan kerinduan. Namun, jawaban Chiara justru makin membuatnya bingung.
"Itu tidak penting sekarang," jawab Chiara dengan dingin. "Kamu sudah kubawa menemui suamimu. Apa kamu ingin mengurusnya sekarang?"
 Chiara bertanya dengan nada menyelidik, tatapannya penuh amarah, tak peduli dengan perasaan ibu tirinya.
"Iya, tentu saja," Julia menjawab dengan cepat, suaranya penuh tekad. Melihat itu, sudut bibir Chiara terangkat dalam senyuman sinis.
"Begitu ya?" Chiara bergumam, lalu menatap Julia dengan tatapan tajam. "Bagus. Tapi aku punya syarat untuk itu," ujar Chiara, senyum sinis terukir di wajahnya. 
Via dan Julia saling berpandangan, bingung dengan apa yang baru saja didengar.
"Syarat? Syarat apa yang kau maksud?" tanya Julia cepat, dengan nada penuh curiga.
"Katakan apa yang harus kami lakukan?" tanya Via, merasa cemas meskipun hatinya mencoba tenang. 
Bagi Via, selama ibunya bisa mengurus suaminya, dia akan melakukan apapun yang diminta, asalkan tidak merugikan atau menyakiti siapapun.
Chiara mengangkat dagunya dengan sikap angkuh, memandang ibu dan anak itu seolah mereka hanyalah orang bodoh yang tak tahu apa-apa.
"Syaratnya adalah, kamu harus pergi ke luar negeri dan jadi mata-mata untukku!" kata Chiara, menunjuk tepat ke arah wajah Via. 
Ucapan itu membuat keduanya terkejut dan tak makin mengerti.
"Mata-mata?" Julia dan Via serentak bertanya, kebingungan jelas terlihat di wajah mereka.
"Ya, intinya seperti itu. Yang jelas kalian akan tahu sendiri nanti," Chiara menjawab dengan suara dingin, seolah tak ada ruang untuk penolakan. 

Book Comment (708)

  • avatar
    Long Rifal

    sangat suka

    14/06

      0
  • avatar
    DanRama

    keren banget saya sangat senang dengan aplikasi ini mudah digunakan tanpa ribet semoga kedepannya nambah lancar

    01/06

      0
  • avatar
    Tataaaaa

    baguss

    05/04

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters