Setelah perjalanan cukup lama, mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang nyaris tak layak huni. Chiara menatap tempat itu dengan pandangan jijik, bibirnya meringis seolah mengejek. Ia turun dari mobil, melangkah dengan percaya diri menuju pintu rumah itu, lalu mengetuknya dengan keras. Tok tok tok! "CEPAT BUKA PINTUNYA!" teriaknya, suaranya menggema di malam yang sunyi. Seorang gadis muda tergesa-gesa berlari ke pintu, membuka kunci dengan tangan yang sedikit gemetar. Pintu itu terbuka, memperlihatkan wajah pucat dan letih gadis tersebut. "Oh, ya ampun! Cepat tutupi wajah sialanmu itu!" hardik Chiara dengan jijik, sambil memalingkan wajahnya. Tatapannya penuh penghinaan, membuat gadis itu—Via—tertegun. Via baru sadar akan keadaannya. Wajahnya, yang penuh luka dan cacat akibat insiden di masa lalu, memang tak elok dipandang. Ia segera berbalik, meraih kerudung di gantungan dekat pintu, dan menutupi sebagian besar wajahnya dengan gemetar. "Maaf, Anda mencari siapa?" tanyanya, suaranya bergetar meski berusaha terdengar sopan. Namun Chiara tidak menjawab. Ia hanya melangkah melewati gadis itu tanpa izin, memasuki rumah sederhana tersebut. Chiara memandangi ruangan kecil itu dengan jijik. Perabotannya tua dan hampir rapuh, cat dindingnya mengelupas, dan udara dalam rumah itu terasa pengap. Ia tersenyum sinis sambil melirik Via. "Jadi ini tempat kalian tinggal?" ujarnya penuh ejekan. "Gubuk kecil yang hampir rubuh. Tidak heran hidup kalian begitu menyedihkan." Via yang berdiri tak jauh dari pintu, mengepalkan tangannya. Ia berusaha menahan amarah, tatapannya menunjukkan ketidaksukaannya. "Maaf, Nona," tegur Via dengan nada tegas. "Jika Anda datang ke sini hanya untuk menghina kami, lebih baik Anda segera pergi. Lagipula, saya bahkan tidak mengenal Anda, jadi jangan coba-coba menghina keadaan keluarga kami! Lagi pula siapa kau?! Aku bahkan tidak mengenalmu!" Chiara memutar tubuhnya, mendekati Via dengan langkah angkuh. "Oh, tentu saja kau mengenalku, Via. Kau hanya pura-pura lupa," ujarnya dengan nada dingin. "Dan aku di sini bukan untuk meminta izin atau menjelaskan siapa aku. Aku hanya ingin memastikan satu hal. Julia ada di sini, kan?" Via terkejut mendengar nama itu disebut. Ia menatap Chiara dengan keraguan. Namun, ia segera menguasai dirinya, mencoba tetap tenang. "Siapapun yang kau cari, dia tidak ada di sini," jawab Via. "Dan aku tidak tahu siapa yang orang yang kau maksud." Chiara tertawa kecil, namun tawa itu terdengar dingin dan penuh ancaman. "Jangan berbohong padaku, Via. Aku tahu kau menyembunyikan Julia di sini. Aku akan menemukannya, apapun caranya. Jadi, jangan bermain-main denganku." Via menggigit bibirnya, berusaha tetap tenang. Namun, sorot matanya menunjukkan ketegangan. Chiara sudah membawa badai ke dalam rumahnya, dan ia tahu badai itu tak akan pergi dengan mudah. “Aku bilang pergi sekarang sebelum kesabaranku habis!” usir Via lagi. Entah dari mana datangnya gak disambung ini, dia tidak tahu. Namun juga itu ada hubungannya dengan ibunya sendiri, Via patut waspada. "Jangan sombong kau, anak ha*am! Punya gubuk reyot seperti ini saja, kau sudah berani mengusir orang sepertiku! Heh, dasar tidak pernah berkaca!" sergah Chiara dengan nada tajam dan penuh kebencian. Via terkejut sesaat, tetapi ia segera menguasai diri. Sorot matanya menyala marah. "Jaga bicaramu, Nona! Sebelum aku robek mulutmu yang tajam itu! Lagipula siapa kau hanya berani menyebutku anak haram?! Aku punya ibu dan aku juga punya ayah meskipun dia jauh dari kami," balasnya dengan gertakan tegas, tidak sudi membiarkan dirinya dihina begitu saja. Chiara terkekeh kecil, tetapi tawanya penuh ejekan. "Kau sama saja seperti ibumu. Lemah, miskin, dan menyedihkan." Pandangannya merendahkan, seolah keberadaan Via tak lebih dari debu di bawah sepatunya. Via mengepalkan tangannya, menahan emosi yang mulai membuncah. Memang benar ia hidup dalam kemiskinan, tapi itu bukan alasan bagi siapa pun untuk menghina dirinya. Selama ini, ia bertahan tanpa mengemis atau hidup bergantung pada orang lain. Hidup di bawah garis kemiskinan bukan pilihannya, melainkan takdir yang harus ia terima dengan lapang dada. Namun, ia takkan tinggal diam saat harga dirinya diinjak-injak. "Kalau kau datang ke sini hanya untuk menghina keadaan kami, lebih baik kau pergi sekarang juga," ucap Via dingin, tapi dengan ketegasan yang tak terbantahkan. Chiara melipat tangan di depan dada, menatap Via dengan tajam. "Panggilkan wanita itu. Aku ingin menemuinya. Cepat!" bentaknya dengan nada memerintah. Via memandangnya bingung. "Siapa yang kau maksud?" tanyanya dengan nada datar. "Tentu saja ibumu, bo*oh! Memangnya berapa orang yang tinggal di gubuk reyot seperti ini?" hardik Chiara dengan nada jengkel. Via menarik napas dalam, mencoba meredam amarah. "Ibuku tidak ada di rumah. Beliau sedang pergi ke ladang," jawabnya dengan nada tenang, meskipun dalam hatinya ada kekesalan mendalam terhadap sikap Chiara yang arogan. Cukup lama Chiara menunggu, hingga akhirnya dari kejauhan tampak seorang wanita paruh baya berjalan mendekat ke arah rumah. Di pundaknya, sebuah karung penuh hasil ladang terayun, membuat sosoknya tampak lebih tua dari usianya. Wajahnya lelah, tapi matanya tetap memancarkan keteguhan. Saat ia semakin dekat, langkahnya terhenti. Matanya membulat, penuh keterkejutan ketika mengenali Chiara yang berdiri di depan rumah. "Chiara?" Suara wanita itu lirih, hampir tidak percaya. Julia, itulah namanya, tidak pernah menduga akan bertemu lagi dengan anak tirinya setelah bertahun-tahun terpisah. Chiara memandangnya dengan tatapan sinis dan penuh ejekan. "Oh, jadi begini hidupmu sekarang? Jadi petani, memikul karung seperti budak, dan tinggal di tempat kumuh seperti ini." Chiara mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan penuh jijik. "Tapi ya, tempat seperti ini memang pantas untukmu." Julia menghela nafas, menahan emosi. Dia sudah terbiasa dihina, tapi tetap memilih untuk tidak terpancing emosi. "Tidak usah banyak bicara. Ada apa kau mencariku?" tanyanya akhirnya, menjaga nada suaranya tetap tenang. Via yang berdiri di dekat pintu hanya diam, menjadi pendengar yang setia. Pikirannya penuh pertanyaan. Siapa wanita ini? Dan mengapa ibunya seperti tampak mengenali wanita kaya dengan tampilan modus tersebut? Ia merasa iri sekaligus kagum pada Chiara yang tampil begitu sempurna dan anggun. Namun tidak dengan sikap dan caranya bicara, sangat jauh dari adab. Chiara mendengus, lalu bicara dengan nada perintah. "Ayah sakit. Dia ingin bertemu kalian. Jadi, cepat bersiap dan ikut denganku." Julia tertegun, raut wajahnya berubah. "Sekarang juga? Tapi... kami belum bersiap-siap." "Kalau begitu, lakukan sekarang! Aku tidak mau tahu. Kalian harus ikut denganku! Lagipula Apa yang mesti kau siapkan? Baju compang-campingmu itu tidak usah dibawa. Masih banyak pakaian yang layak di rumahku untuk kau kenakan!" Chiara memotong dengan nada tidak sabar. Julia akhirnya mengangguk patuh, sementara Via hanya bisa memandang bingung. Tanpa berkata apa-apa, Julia segera masuk ke dalam rumah untuk membereskan barang-barang alakadarnya. "Bu, kita akan pergi ke mana?" tanya Via pelan saat melihat ibunya sibuk mengemasi pakaian ke dalam tas tua yang mulai usang. Julia berhenti sejenak, menatap putrinya dengan senyuman kecil yang bercampur air mata. "Kita akan bertemu dengan ayahmu, Via. Lelaki yang selama ini kau tanyakan. Bukankah kau ingin sekali bertemu dengannya?" Via terpaku, matanya membesar. "Ayah?" Julia mengangguk perlahan, lalu mengusap pipinya yang basah. "Ya, Nak. Ayahmu pasti ingin bertemu dengan kita." --- Setengah jam kemudian, sebuah mobil mewah melaju membelah jalanan desa yang sempit dan berlumpur. Kehadirannya menarik perhatian warga sekitar yang berhenti untuk menonton. Sebagian besar orang mulai penasaran melihat siapa yang ada di dalam kendaraan mahal itu. Via duduk di dalam mobil dengan perasaan campur aduk. Pandangannya beralih dari jendela ke arah ibunya yang diam seribu bahasa. "Bu, apa ini benar-benar terjadi?" tanyanya perlahan.
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 26 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (708)
Long Rifal
sangat suka
14/06
0
DanRama
keren banget saya sangat senang dengan aplikasi ini
mudah digunakan tanpa ribet
semoga kedepannya nambah lancar
sangat suka
14/06
0keren banget saya sangat senang dengan aplikasi ini mudah digunakan tanpa ribet semoga kedepannya nambah lancar
01/06
0baguss
05/04
0View All