logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Istri Cacat CEO

Istri Cacat CEO

Bun Say


Bab 1

James tengah menikmati sore yang tenang di ruang kerjanya ketika seorang pengawal masuk dengan langkah tergesa. Wajah pria itu tampak ragu, namun ia tahu tugasnya adalah melapor, apa pun risikonya.
"Maaf, Tuan," ujar pengawal itu dengan suara rendah namun tegas. "Kami mendapat informasi kalau Christian saat ini berada di sebuah hotel bintang lima bersama seorang wanita."
James mengangkat alis, menatap pengawal itu dengan tatapan tajam. "Lalu?" tanyanya, mencoba menahan emosi yang mulai memuncak. Itu tidak boleh terjadi.
"Wanita itu..." pengawal itu melanjutkan dengan nada hati-hati, "berpakaian... tidak sopan, Tuan. Bajunya bahkan tidak cukup menutupi sebagian besar inti tubuhnya."
Mata James membelalak, ekspresi tenangnya seketika menghilang digantikan kemarahan yang membara. Ia menghempaskan koran yang tadi dibacanya ke meja, suaranya bergemuruh memenuhi ruangan.
"Anak itu benar-benar mencari masalah!" katanya dengan suara tertahan. "Ini tidak bisa dibiarkan! Cepat, bawa aku ke tempat anak itu sekarang!"
Pengawal itu segera mengangguk, membungkuk hormat, lalu berlalu dengan langkah cepat untuk menyiapkan kendaraan. James berdiri dari kursinya, mengenakan jas dengan gerakan cepat namun tetap penuh wibawa. Amarahnya kini sulit ditutupi. "Christian, kali ini kau tidak akan lolos begitu saja," gumamnya, setengah kepada dirinya sendiri.
***
Di sebuah hotel mewah. Laporan yang sama juga sampai ke telinga Christian. Panik, dia menyuruh sang kekasih untuk pergi.
“Chiara, kita bisa bertemu lain waktu. Sekarang tolong pergilah. Penjaga akan mengantarmu sampai ke mobil. 
“Tapi kenapa, Christ? Sampai kapan kita akan kucing-kucingan seperti ini. Bukankah sudah saatnya daddy-mu tahu kalau aku adalah kekasihmu?” Chiara merengut kesal. Kencannya bersama sang kekasih gagal lagi hanya gara-gara satu nama, James Oliver.
“Tidak sekarang, Sayang. Suatu hari nanti aku akan memperkenalkanmu secara resmi pada Daddy. Kuharap saat ini kamu bersabar, ya. Sekarang pergilah, sebelum pria itu mengamuk di depanmu.”
“Ya udah, sepertinya kau memang tidak ada niat untuk menjalin hubungan dengan.” Chiara marah, tapi Christian juga juga tak bisa berbuat apa-apa. 
Sampai beberapa menit kemudian. Pintu ruangan terbuka perlahan, memperlihatkan deretan pengawal pribadi yang berjajar rapi di sepanjang koridor. Langkah tegas James terdengar bergema saat ia memasuki ruangan. Wajahnya menunjukkan ketegasan bercampur amarah yang tak tertahankan.
Christian, yang tengah duduk di sofa dengan nafas berat, langsung berdiri begitu melihat ayahnya. Ia tahu momen seperti ini tak akan berakhir baik.
"Daddy, kau datang," ujarnya datar, meski hatinya penuh kekesalan.
James menghentikan langkahnya tepat di hadapan putranya, tatapannya menusuk seperti pedang. 
"Aku sudah berkali-kali memperingatkanmu, Christian!" suaranya menggelegar. "Kau boleh menjalin hubungan dengan wanita manapun, tapi tidak sampai membawanya ke hotel seperti ini! Akan lebih buruk lagi, jika sampai membuatnya hamil, lalu menikahinya! Kau tahu, hidupmu punya takdir yang lebih besar dari itu! Yaitu mencari dan melindungi Olivia!"
Christian menghela napas panjang, berusaha menahan emosinya. Ia tahu apa yang akan diungkit ayahnya kali ini. "Olivia lagi, Olivia lagi," gumamnya dengan nada frustasi.
James menggeram. "Ya, Olivia! Kau sudah ditakdirkan untuk melindungi dia sejak kecil. Itu kewajibanmu!"
Christian menatap ayahnya tajam, matanya dipenuhi kekesalan. Ia sudah lelah dengan topik yang sama, diulang berkali-kali tanpa solusi. "Wanita yang bahkan lenyap ditelan bumi?" tanyanya sinis.
"Dan tugasmu adalah mencarinya sampai kau menemukannya!" James menegaskan, suaranya tak kalah keras.
Perdebatan itu semakin memanas, hingga nyaris memenuhi ruangan. Christian mengusap wajahnya dengan frustasi. "Dad, kau bahkan tahu betul! Aku sudah mencarinya seperti orang gila selama ini! Bertahun-tahun tanpa hasil, dan aku nyaris putus asa! Rasanya aku ingin menyerah saja!"
James menatap putranya dengan penuh wibawa, meski ada sedikit kilatan kecewa di matanya. "Apa? Menyerah? Tidak semudah itu, Christian! Aku tak membesarkanmu untuk jadi seorang pecundang!" katanya dengan suara dingin. "Berusahalah lebih keras lagi sampai kau berhasil menemukannya!"
"Sampai kapan, Dad? Katakan padaku!" suara Christian mulai meninggi, emosinya meledak. "Aku tidak mau menghabiskan seluruh hidupku hanya untuk mencari dan menunggunya! Aku lelah!"
Ruangan itu hening sesaat setelah luapan emosi Christian. James menatap putranya dalam diam, lalu menghela napas panjang. Bicara dengan sama-sama keras tidak akan membuahkan hasil. Pria paruh baya itu sedikit mengalah.
 "Lelah atau tidak, itu bukan urusanku. Ini adalah kewajibanmu, Christ. Temukan Olivia, apapun caranya. Jangan buat aku menyesal mempercayaimu untuk tugas ini."
Christian hanya bisa berdiri di tempatnya, tubuhnya menegang. Rencananya malam ini bersama Chiara sudah hancur berantakan, dan sekali lagi, semua itu karena Olivia, wanita yang menghilang bertahun-tahun, namun masih menjadi pusat obsesi ayahnya.
James terdiam sejenak, berpikir keras menimbang kata-kata berikutnya. Ia tahu, jika terus bersikap keras, hanya akan memperkeruh suasana dan membuat Christian semakin melawan. Ia menghela nafas, lalu bicara dengan nada lebih tenang.
"Dua tahun lagi," katanya akhirnya. "Ya, dua tahun lagi. Setelah itu, kau bebas menentukan hidupmu sendiri."
Christian terkejut mendengar pernyataan itu. Ia menatap ayahnya, mencoba memastikan kesungguhan dalam kata-kata tersebut. Setelah berpikir sejenak, ia mengangguk pelan. Angin segar terasa menyelimuti pikirannya. Dua tahun bukanlah waktu yang lama, pikirnya.
James memperhatikan putranya dengan sorot mata yang lebih lembut. Ia melangkah maju, menepuk pundak Christian.
"Kuharap kamu sabar, Christ," katanya dengan suara yang lebih ayah, bukan penguasa. "Setelah kau bertemu Olivia, biarkan dia yang memutuskan. Apakah kalian akan bersama atau memilih jalan masing-masing. Namun aku selalu berharap... semoga kalian bisa bersama selamanya."
Christian tersenyum kecil, namun senyum itu terasa hambar. "I'm not sure, Dad," jawabnya, nadanya datar.
James hanya mengangguk tipis, tak ingin memaksa lebih jauh. Ia kemudian meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Christian dengan pikiran yang berkecamuk.
---
Tampan, mapan, dan terkenal—semua hal yang membuat banyak pria iri tidak menjamin kebahagiaan dalam hidup Christian Oliver. 
Hidupnya justru terjebak dalam ambisi ayahnya, James Oliver, yang menjodohkannya sejak kecil dengan anak sahabatnya, Olivia Wijaya.
Namun, Olivia seperti bayangan yang tak pernah bisa digenggam. Sang gadis menghilang bertahun-tahun, tanpa jejak yang pasti. Meskipun Christian telah mencarinya ke berbagai penjuru, usahanya selalu menemui jalan buntu.
Christian tahu, janji ayahnya kepada sahabatnya harus diwujudkan. Tapi, bagaimana mungkin ia menjalankan janji itu jika sosok Olivia bahkan tak pernah ditemuinya?
Kini, Christian mulai bertanya-tanya dalam hati: Di mana sebenarnya Olivia berada? Dan yang lebih penting, apakah dia benar-benar ingin menemukannya?
****
Dalam perjalanan pulang, Chiara terduduk diam di kursi belakang mobil mewahnya. Malam yang seharusnya menjadi momen bahagia bersama Christian malah berakhir dengan kekesalan. 
Ponselnya tiba-tiba berdering, memecah lamunannya. Ia melihat nama dokter kepercayaan keluarga Suryo Joyo muncul di layar.
"Non Chiara, ini saya," suara dokter itu terdengar tegang di seberang sana. "Kondisi ayah Anda semakin melemah. Beliau terus memanggil nama Olivia dan Julia."
Chiara terdiam, menggenggam ponselnya dengan erat. Tak ada respon darinya. Ia hanya memutuskan panggilan tanpa berkata sepatah kata pun. Wajahnya memerah, bukan karena sedih, melainkan karena amarah yang mulai menguasai pikirannya.
"Julia..." gumamnya pelan, namun penuh kebencian. "Ini waktunya membawa kembali dia dan anaknya ke tempat mereka seharusnya berada."
Tanpa berpikir panjang, ia memberi perintah pada sopirnya. "Bawa aku ke tempat wanita sialan itu sekarang."
Sopirnya, yang sudah terbiasa dengan nada perintah seperti itu, hanya mengangguk dan langsung mengarahkan mobil menuju lokasi yang dimaksud. Perjalanan itu terasa panjang bagi Chiara, meskipun ia sudah merencanakan setiap kata yang akan ia lontarkan.

Book Comment (708)

  • avatar
    Long Rifal

    sangat suka

    14/06

      0
  • avatar
    DanRama

    keren banget saya sangat senang dengan aplikasi ini mudah digunakan tanpa ribet semoga kedepannya nambah lancar

    01/06

      0
  • avatar
    Tataaaaa

    baguss

    05/04

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters