logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 4 Meminta ijin dan persyaratan kaisar

∞Ruang tahta, Dinasti Hui∞
Sebuah kejadian yang cukup langkah sedang terjadi, bahkan kaisar serta ibu kaisar yang biasanya bersifat tenang pun ikut terkejut juga.
Semua ini terjadi karena permintaan pangeran bungsu yang dipanggil khalayak publik sebagai pangeran sampah yakni Hui Sanmu kepada keduanya yang berisi "Ayahanda, Nenek... Aku ingin meminta sebuah wilayah di daerah pesisir sekaligus mundur dari persaingan menjadi kaisar selanjutnya" Tentu saja hal ini tidak langsung diiyakan oleh keduanya, mereka justru memberikan tatapan setajam silet kepada Guowang.
Pangeran sulung yang memang secara sengaja masuk secara bersamaan dengan Sanmu tadi, mungkin saja Guowang mengancam Sanmu untuk mundur dari persaingan menjadi kaisar selanjutnya bukan?? Mereka berdua tidak ingin Sanmu mundur hanya karena mendapatkan ancaman kecil dari sang kakak.
Sanmu jelas melihat tatapan tajam yang mengarah kepada sang kakak pun kembali berkata, kali ini ia bahkan menghalangi tatapan tajam keduanya terhadap sang kakak "Ini semua tidak ada hubungannya dengan kakak Guo, karena Sanmu memutuskan semua ini setelah pertimbangan yang cukup lama" Ucap Sanmu sambil memberikan penekanan khusus terhadap kata pertimbangan yang dia ucapkan tersebut.
Keduanya menatap lekat-lekat Sanmu yang kini tengah menekuk salah satu lututnya (posisi hormat ala ksatria zaman dahulu), posisi ini jelas menandakan kalau Sanmu bersungguh-sungguh terhadap segala perkataannya. Karena Sanmu bahkan sanggup merendahkan harga dirinya demi sebuah keinginan egois tersebut.
"Kalau begitu aku ingin semua yang ada disini kecuali kami berempat beranjak dari ruang tatha sekarang!!" Titah sang kaisar kepada seluruh orang yang ada, tak perlu menunggu lama seluruh penghuni ruang tatha kecuali dia, ibu kaisar, Sanmu serta Guowang pun bergegas keluar dari sana.
Setelah memastikan kalau seluruh pintu dan jendela pada ruangan tersebut terkunci, sang kaisar pun kembali menanyakan sebuah hal penting kepada Sanmu yakni "Perjanjian apa yang telah kalian lakukan untuk mencapai kesepakatan ini??".
.
Keadaan hening untuk sesaat sebelum akhirnya Guowang pun maju menghadap kepada kaisar, kali ini ia mengambil pose seperti sang adik perbedaan mendalam ialah dia bertumpu menggunakan kaki kirinya sedangkan sang adik menggunakan kaki kanannya sebagai tumpuan untuk berlutut. "Hui Guowang menghadap kepada kaisar dan ibu kaisar, meminta ijin untuk menjelaskan perjanjian antara hamba dan pangeran Sanmu" Ucap Guowang, mengundang tatapan dari kedua orang tersebut.
Sang ibu kaisar yang daritadi diampun mengeluarkan pendapatnya, dimana hal ini merupakan hal yang cukup langka bagi mereka "Jadi apa yang di minta oleh Sanmu sebagai imbalan, Guowang??" Meskipun nada suaranya terdengar lembut tapi bagi Guowang suara neneknya justru mengundang nuansa dingin pada sekujur tubuhnya, seolah-olah dirinya di terjang oleh kumpulan kepingan salju.
"Sanmu ingin meminta sebuah wilayah berupa pulau ataupun pesisir sebagai imbalan atas menjadikan kakak Guowang menjadi kaisar selanjutnya. Tentu saja Sanmu juga punya tempat yang benar-benar Sanmu inginkan sebagai wilayah" Kali ini Sanmu sendirilah yang menjawab pertanyaan sang nenek, tapi belum sempat sang nenek memprotes perkataan Sanmu.
Kaisar langsung berdiri dari kursi kebanggaannya sambil berkata "Mustahil!! Aku tidak akan pernah mengijinkan darah dagingku sendiri menempati pulau terpencil atau daerah pesisir seperti Maoyi, apa kau tidak mengerti?? Ada cukup banyak musibah yang terjadi pada wilayah tersebut terlebih hampir setiap harinya lautan menerjang habis kota-kota di sekitarnya".
'Hahhh sesuai dugaan tidak peduli seberapa bencinya kaisar kepada Sanmu, dia pasti tidak akan pernah mengijinkan salah seorang keturunannya keluar dari kekaisaran..' Batin Sanmu yang memang telah menerka kalau kejadian seperti ini akan terjadi perbedaannya ialah, Sanmu berpikir sang nenek lah yang menentang habis-habisan permintaan Sanmu bukan sang ayah.
"Gaozi.. Tenangkan dirimu, Sanmu belum selesai mengucapkan perjanjian apa saja yang telah mereka lakukan tadi" Ucap sang ibu kaisar mencoba untuk menenangkan sang anak dari emosi sesaat, sebagai pemimpin suatu kerajaan tentu Gaozi harus berpikir tenang serta berpikir matang tidak peduli jika hal tersebut mengharuskan dirinya kehilangan salah seorang anak dalam tindakannya.
"Ayahanda, Guowang telah memberikan persyaratan untuk mengijinkan Sanmu membawa sekitar 250 prajurit kekaisaran sebagai modal awalnya dalam memimpin daerah tersebut" Setelah melihat sang ayah dalam keadaan rasional alias tenang, Guowang pun mengucapkan hal yang dia diskusikan kepada Sanmu pada beberapa waktu lepas.
Kaisar mendecih kesal mendengar perkataan Guowang lalu mengucapkan sepatah kalimat yang amat mengejutkan kedua putranya "Bawa 500 prajurit kerajaan, 5 pengawal kerajaan serta 1 orang yang terjamin kesetiaannya terhadap keluarga kerajaan..." Gelombang keterkejutan menghantam kedua putranya bahkan Sanmu berpikir kalau pendengarannya agak terganggu tadi, terbukti dengan dirinya yang mulai mengorek-ngorek Indra pendengaran miliknya.
"Satu lagi, jika ayah mendapatkan kabar kalau dirimu meminta bantuan kepada kekaisaran maka saat itu.. Sanmu harus kembali kekaisaran tanpa diijinkan untuk keluar dari istana kekaisaran lagi" Sambung Gaozi menatap lekat kepada sang anak bungsu, nampaknya dia benar-benar memiliki niatan untuk mengurung sang anak bungsu bahkan jika tindakannya tersebut justru membuat sang anak bungsu semakin menjadi kepribadian sampah
Ibu kaisar hanya bisa tersenyum pahit melihat tingkah berlebihan dari sang anak, tidakkah dia berpikir mengirimkan hampir 1/64 dari jumlah pasukan kekaisaran terlalu berlebihan?? Lagipun siapa juga orang bodoh yang akan menyerang daerah terpencil seperti pulau Maoyi yang terkenal dengan musibah kekurangan pangan serta perbaikan tembok kota yang setiap bulannya melebihi perbaikan tembok kota ibukota kekaisaran.
"Sanmu.... Nenek akan mengijinkan Sanmu untuk berpetualang dengan syarat kau harus membawa serta satu orang yang nenek pilih, tenang saja orang yang nenek pilih ini akan sangat berguna untuk dirimu di masa mendatang" Timpal sang nenek kepada Sanmu, nampaknya hampir seluruh keluarga kerajaan dinasti Hui berisikan orang-orang yang over-protektif kepada keluarganya bukan.
"Sanmu menyetujui seluruh persyaratan yang ayahanda serta nenek berikan" Jika sudah seperti ini Sanmu hanya bisa menerima seluruh persyaratan keluarganya, lagipun dia akan sangat bodoh jika menolak cukup banyak pasukan sebagai modal awal bukan??
"Maaf jika Guowang memotong pembicaraan ayahanda serta nenek, tapi bagaimana jika kita mengirim satu orang bijak sebagai cadangan untuk Sanmu?? Mengingat dia agak..." Guowang berkata terlihat dia merasa agak ragu untuk meneruskan perkataan miliknya, dia pasti tahu kalau perkataan yang akan dia ucapkan nanti bisa saja melukai hati adik bungsunya yang rapuh kan???
"Sanmu menolak ide kakak Guowang, kerajaan lebih membutuhkan kemampuan orang bijak dibandingkan Sanmu.. Tapi mungkin masalah ini dapat diatasi jika, ayahanda mengijinkan Sanmu membawa salah seorang dayang" Sanmu jelas menolak mentah-mentah ide Guowang, lagipun orang bijak tersebut mengikat janji kepada Dinasti Hui bukan padanya akan sangat fatal jika sekira-kiranya orang bijak tersebut mengambil kendali prajurit kekaisaran nantinya
.
.
Tanggal ke-12 bulan ke-2 di tahun 310.
Kejadian penting lainnya pun terjadi, dimana Hui Sanmu akhirnya menerima sebanyak :
- 500 prajurit kekaisaran.
- 5 pengawal kerajaan
- 1 orang pelayan setia keluarga kerajaan
- Serta merta 1 sosok dayang utusan Hui Xia, sang ibu kaisar.
Dimasa mendatang hari ini akan menjadi hari paling bersejarah, saat ketika Hui Sanmu sang pangeran sampah bangkit menjadi jendral perang terkuat diakhir jaman dinasti Hui.
.
.
.
TBC

Book Comment (122)

  • avatar
    viranty raty

    Bagus😊

    05/01

      0
  • avatar
    Nayla sayrisahNayla

    saya meyukai

    02/12

      1
  • avatar
    Sintanabilla

    keren ceritanya

    07/11

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters