Aku hanya bisa memejamkan kedua mata, berharap tangannya tak akan pergi dari sana. "Nyaman," gumamku dalam hati. ••• Chapter 7 - Pada Dasarnya ••• Cuaca pagi ini tak begitu bagus. Badai salju terus mengamuk di daratan bagai tak peduli dengan indahnya pepohonan yang menancap diatas tanah. Seperti biasa, aku kini sedang bersiap-siap menuju kampus. Namun sebelum pergi menuju kampus, aku berniat tuk mampir ke rumah sakit guna melakukan medical checkup rutin. Akhir-akhir ini, dadaku sering terasa amat sesak. Aku sempat berpikir jika penyakit aneh ku kambuh akibat musim dingin, sehingga aku harus rajin meminum obat pemberian dokter lagi. "Ah, musim dingin. Aku paling benci," gumamku seraya meminum air hangat dan terduduk di ruang santai lantai 2 (dua). "Sepertinya aku harus melewati fase sakit ini lagi. Aku lupa bagaimana penyakit ini bisa sembuh, tapi....." Lamunanku nampaknya semakin berkepanjangan ketika ku rasakan tangan ini mulai menjadi kaku. Tapi jika dipikir, kepalaku juga sakit tak seperti hari-hari sebelumnya. "Melody, kenapa belum berangkat?" Sapa seseorang dari lantai bawah, yakni Mike. - Author POV - Tak perlu mendapat jawaban dari Melody, Mike langsung masuk ke dalam rumah untuk menemui Melody. Terlintas dalam benak Melody jika ia ingin mengatakan semua tentang kesakitannya. Namun pada dasarnya, ia tak sanggup jika sahabatnya itu akan menjadi khawatir. "Aku masih tidak enak badan. Entahlah hari ini mau ke kampus atau tidak," balas Melody sembari meminum segelas air hangat. "Apakah penyakit musiman mu itu kambuh lagi?" "Entahlah, Mike. Aku sudah bosan melakukan pengecekan kesehatan, lagipula semuanya juga baik-baik saja sejak dulu.." "Oh, ya. Ngomong-ngomong, kau kemarin kemana saja bersama Hoshi? Jalan-jalan?" "Memang kenapa?" "Tidak apa-apa. Hanya saja salju kemarin sedang lebat-lebatnya. Mungkin kondisi tubuhmu menurun akibat berjalan-jalan kemarin!" Mike meletakkan syal hangat di leher Melody sebagai penanganan pertama. "Tidak mungkin, sok tahu!" umpat Melody sebal. Mike mengambil stik cokelat diatas meja, lalu memakan renyah camilan tersebut. Pandangannya memutar bebas ke seluruh penjuru ruangan. "Kau mau apa ke rumahku?" "'Melody. Kau demam lagi. Bagaimana jika ku antar ke rumah sakit, ya.." Ungkap Mike khawatir. "Jangan konyol, kau harus kuliah!" "Tak apa-apa, kita akan bolos bersama hari ini!" Mike pun menyarankan pada Melody agar lekas ke dokter, bukan hanya beristirahat dirumah. Ia tak mau jika Melody tambah parah dikarenakan cuaca semakin dingin. "Tidak, ah. Aku tidak mau ke rumah sakit!" "Melody. Kau ini keras kepala sekali!" Wajah Mike kini berubah menjadi kesal, pupil matanya membesar. "Memangnya kenapa jika aku keras kepala? Masalah untukmu?!" Emosi Melody. "Aku tak tahu harus berkata apa padamu. Seluruh perhatianku selama ini selalu kau acuhkan. Sudahlah, terserah maumu saja!" Celetuk Mike lalu pergi keluar. Ditempat yang sama, Melody hanya menatap ke arah punggung Mike yang beranjak pergi. "Mike!!!!!!!!" Panggil Melody seraya menangis. Tujuan Melody menghindari Mike memang ada sebabnya. Ia tak mau jika Mike terbawa perasaan dan lekas menyatakan cinta seperti masa lalu (sebelum berubah). "Baiklah. Aku akan menurutimu. Ayo antarkan aku ke rumah sakit sekarang!.." ujar Melody. ••• Klik Klik Klik "Halo.." "Halo, ada apa Mike?" "Tolong berikan tanda tangan untuk absensi ku. Hari ini aku tak bisa masuk," "Kenapa?" "Aku harus menemani Melody.." "Menemani? Ke mana?" "Hanya periksa ke rumah sakit CVB. Seperti biasa, kondisi tubuhnya kembali melemah ketika musim dingin.." Hoshi terdiam. Tidak ingin menjawab. Ia meletakkan ponselnya ke dalam saku dan menatap datar ke depan. "Melody melakukan pemeriksaan dirumah sakit? Kenapa tak meminta aku mengantar..." Batin Hoshi bak tersayat benang tajam usai melakukan percakapan ponsel bersama Mike. Hatinya menggelegak cemburu. Sekarang, Hoshi bingung harus bertanya pada siapa mengenai kondisi Melody. Ia pun bangkit dari duduknya, menuju meja Yeni didepan. "Yen, ada yang ingin ku bicarakan denganmu. Boleh?" ujar Hoshi. Tanpa menengok, Yeni hanya menautkan alisnya ke atas dan terus memainkan ponselnya. "Apakah kau tahu tentang kondisi terbaru Melody?" Mulai Hoshi. "Kondisi bagaimana maksudnya?" "Ya... maksudku apakah dia sedang sakit atau bagaimana," "Aissh. Kau bertanya kondisinya padaku?" "Benar," "Hoshi.. Hoshi.. sejak awal aku memang ragu denganmu. Kondisinya saja kau tak tahu. Padahal kau ini kan pacarnya!" Bentak Yeni. "Memang aku serumah dengannya? Lagipula aku tidak serumah dengannya jadi wajar saja..." "Wajar apa? Wajar bahwa kau tak tahu apapun tentangnya? Gunakan logikamu, Hoshi. Aku juga tak serumah dengan Melody, tapi aku tahu semua tentangnya!" "Ah,." Mimik muka serius kini hinggap diantara mereka. Hoshi hanya membulatkan mulutnya dan pergi meninggalkan Yeni begitu saja. Tak ada sepatah kata yang terucap dari mulut Hoshi mengenai itu. "Lihatlah kekasih yang dibangga-banggakan oleh Melody. Dasar bodoh.." dengus Yeni kesal. ••• Dirumah sakit, Melody tetap fokus pada pemeriksaan. Sebenarnya, Melody sudah terlalu sering melakukan check up. Tapi sungguh miris ketika semua pemeriksaan mengatakan baik-baik saja, bahkan beberapa rumah sakit memvonisnya sehat, tanpa suatu penyakit apapun. Lalu, penyakit apa yang diderita Melody sebenarnya? Entahlah, semua belum terjawab. Bahkan dimasa depan pun Melody masih tak ter - diagnosa apapun. "Melody. Ini hasil pemeriksaanmu yang ke sekian kalinya, bisa di cek sendiri..." dokter memberikan lembaran amplop berwarna putih besar pada Melody. Perasaan Melody kini sangatlah santai tanpa terbebani sedikitpun, mungkin semua sudah diperkirakannya jikalau penyakit ini nantinya tak akan terlihat lagi seperti yang lalu-lalu. "Sudah ku duga, dok. Aku baik-baik saja.." "Benar. Aku juga bingung mengapa kau merasakan kesakitan berulang terus hampir 3 tahun lamanya. Oh iya, aku titip hasil pemeriksaan milik ibumu. Ini sesuai permintaan dokter pribadi yang menangani ibumu," "Mama? Ah, ternyata dia baru melakukan medical juga seperti biasanya..." Akan tetapi.. Deg~ Deg~ Jantung Melody semakin berdegup kencang ketika sesuatu datang berbeda dari biasanya. Biasanya, hasil medical check up mamanya akan tertulis 'sehat' atau tidak terdeteksi penyakit apapun dalam tubuhnya. Namun saat ini, nama penyakit itu jelas tertera. "Jadi.... Mama....." ucap Melody lemas. Dengan menggenggam erat amplop itu, Melody terisak pergi menuju luar rumah sakit. Matanya sudah tak dapat membendung lagi tangisan yang ditahannya sejak awal melihat isi amplop itu. Nyatanya, sang ibu sudah menderita penyakit yang membuatnya meninggal sejak tahun 2013. "Melody?" sapa seseorang ketika ia baru saja menginjakkan kakinya keluar ruangan pemeriksaan rumah sakit. Melody mendongak untuk melihat dengan jelas siapakah seseorang yang menyapanya itu. "Hoshi?" Kaget Melody. Melody seketika terdiam, memandang apakah benar laki-laki yang ada dihadapannya ini benar-benar kekasihnya atau bukan. "Kau menangis? Ada apa?" Tanya singkat Hoshi. "Tida apa-apa.. ngomong-ngomong aku ke sini bersama Mike, dimana dia?" "Kenapa kau malah bertanya keberadaan Mike? Aku tak tahu," "Hoshi. Kau pasti yang mengusirnya pergi. Mike itu sama-sama sahabat kita, jadi mengapa kau begini?" "Diamlah dan jawab aku. Mengapa kau menangis?" "Uh?..." Melody menggeleng, berkata bahwa ia kelilipan dan bukan menangis. Ia juga berhati-hati menyembunyikan amplop itu ke dalam tas. "Sakit apa? Coba liat!" Nyatanya Hoshi melihat tangan lentik Melody yang sedang berusaha menyembunyikan amplop milik ibu dari genggamannya. "Apaan, sih. Bukan apa-apa!" Melody menarik tangan Hoshi untuk menghindar darinya. Hoshi menatap tajam wajah Melody, ingin ia memaksa namun keadaan tak memadai sama sekali. "Harusnya kau bilang padaku jika merasakan sakit. Memangnya kau pikir aku tidak khawatir?!" Teriakan Hoshi membuat Melody terkejut. Baru kali ini Hoshi memberikan teriakan keras didepan orang-orang. "Aku tidak kenapa-napa, coba lihat. Hasil lab ku bagus!" Jawab Melody lalu menunjukkan hasil lab dikertas putih pada Hoshi. "Terserah. Aku tidak mau banyak bertanya padamu," sahut singkat Hoshi yang kemudian berbalik badan meninggalkan Melody sendiri. Melody semakin heran, mengapa Hoshi bisa secuek itu dengan meninggalkannya sendiri. "Kok malah pergi sih!" Teriak Melody. Namun sayangnya, Hoshi terus berjalan tanpa menengok ke belakang. Isak tangis pun tumpah dari kedua mata Melody. Dan dari balik tembok, Leo bersembunyi seraya mengepal kedua tangannya. Ia tak habis pikir mengapa Hoshi bisa memperlakukan Melody seperti itu. Langkah kakinya pun tak bisa dihentikan, ia berjalan menghampiri Melody. "Leo?" Kaget Melody. "Ah, kau lagi. Sedang apa kau disini? Kenapa menangis?" "Tidak," Melody mengusap pipi kenyalnya dengan tissue, lalu pergi meninggalkan Leo sendiri. Di sepanjang jalan keluar rumah sakit, Melody mendengar sahut-sahutan aneh. Kalung liontinnya pun tak sengaja terjatuh ke lantai. "Melody?" Sapa Leo dari balik tubuhnya. "Kenapa sih kau mengikutiku terus!" "Melody..." sapa nya lagi. Sambil memandang Leo, Melody berpikir keras. Ia bingung mengapa Leo seakan-akan ingin memberitahukan sesuatu padanya. "Ini aku," ucap Leo. "Aku tak pernah mau meninggalkanmu, tapi aku terjebak disini sejak kepergianku!" lanjutnya lagi. "A..apa?" Bersambung..
🥰🥰🥰
20/05/2024
0👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
16/05/2024
0lucuu
16/05/2024
0View All