"Kenapa, sih. Mike tetap kekeh menghubungiku? Padahal kemarin aku sudah mati-matian mengujinya.." Batin Melody. Belum sempat membalas, Yeni menarik paksa tangan Melody untuk menuju taman belakang. "Ada apa sih, Yen? Kau ini selalu saja menarik ku mendadak seperti ini!" Keluh Melody pada Yeni. "Sudahlah. Kah diam dulu! Ikuti aku saja..." sahut Yeni dengan saling mengaitkan tangan. ••• Chapter 6 - Pada Kesempatan Ini ••• - Author POV- "Aaaaaah! Kenapa sih algoritma itu susah sekali! Seharusnya aku mengambil jurusan seni saja. Seandainya waktu bisa diputar kembali..." gerutu Yeni. Keluhan Yeni membuat lamunan Melody buyar, sehingga diputar lah kedua bola mata nya itu ke arah Yeni. "Memutar waktu?" "Iya. Aku ingin sekali pergi ke waktu mendaftar kuliah dulu. Pasti aku akan mengambil jurusan seni saja. Kenapa sih aku dulu mengikutimu untuk berkuliah di jurusan sulit ini, hiks~" "Ingat, ya. Aku tidak memintamu untuk menyamai jurusanku!" "Iya, aku tahu kok!" "By the way soal memutar waktu.. Apakah kau percaya bahwa masa lalu itu bisa didatangi lagi?" "Aku pribadi tentu saja tidak percaya. Bagaimana bisa seseorang dari masa depan datang ke masa lalu? Aneh-aneh saja pertanyaanmu," "Kenapa kau tidak percaya?" "Ya... ya karena itu mustahil. Mana mungkin ada hal seperti itu," "Ah, begitu ya.." Melody membungkam mulutnya dan menyenderkan kepalanya pada meja, seraya menatap kaca. Seluruh pandangannya kini seakan berubah menjadi buram, kecuali ketika sesuatu turun dari permukaan langit. "Ah , salju turun.." ucap Melody dalam hati. Turunnya salju pada hari ini menandakan berakhirnya musim gugur. Kondisi seperti ini sontak memancing Melody untuk memikirkan sesuatu hal yang baru saja terjadi. - Melody POV - #Flashback On# "Ada apa sih, Yen? Kau ini selalu saja menarik ku mendadak seperti ini!" Keluh ku pada Yeni. "Sudahlah. Kah diam dulu! Ikuti aku saja..." sahut Yeni dengan mengaitkan tanganku padanya. Rasanya kaki ku ingin patah, mengikuti langkah kaki Yeni yang cepat secepat kilat. "Lihat!" Yeni dengan semangat menunjukkan padaku sebuah adegan romantis. "Lihat apa?" "Itu!" Tunjuk Yeni. "Ah, iya. Lalu?" "Ku harap, kau bisa mendapatkan hal seperti itu dari Hoshi!" Sindir Yeni padaku. Aku menyadari akan satu hal, dimana sesuatu yang ku lihat saat ini memang sangat lumrah bagi seseorang yang berpacaran, yakni sang pria memberikan hal-hal romantis didepan umum kepada gadis yang dicintainya tersebut. "Tapi, Yen. Hoshi bukan tipe seperti itu, dia punya caranya sendiri untuk membuatku bahagia.." "Cara? Cara yang seperti apa, Dy?" "Entahlah, Yen. Tapi aku yakin bahwa Hoshi memang tipe yang seperti itu," "Melody. Kenapa sih, belakangan ini kau begitu memuji Hoshi? Bukankah beberapa hari yang lalu kau berniat untuk menyudahinya karena tak kuat dengan sikap Hoshi?" "A.. apakah aku pernah berkata seperti itu?" "Sudah lah. Lupakan saja. Ayo kita pergi," #Flashback Off# Jam berakhirnya mata kuliah pun telah tiba. Karena hari ini ada mata kuliah pengganti, terpaksa seluruh mahasiswa dipulangkan sekitar pukul 7.30 malam. Aku pun mencari celah agar tidak bertanya pada Hoshi, karena ku tahu pasti ia lebih memilih pulang sendiri ketimbang bersamaku. Begitu aku sampai digerbang kampus, aku berpisah dari Yeni untuk langsung pulang. Meskipun cuaca saat ini sangat dingin, ditambah lagi badanku kini sedanglah tidak fit, akan tetapi aku harus tetap bertahan agar tak ada seorang pun yang panik akan kondisiku. "Uhuk.." seseorang dari belakang nampaknya sengaja membuat suara aneh agar aku mau menengok. Aku terus berjalan tanpa mengalihkan pandanganku ke arahnya. Aku hanya tak mau bertemu seseorang yang tak ku kenal saat ini. "Hei, sombong amat sih. Nengok dong!" Teriak Mike dari belakang. "Ah, ternyata kau. Kenapa sih!" Keluhku setelah mengetahui bahwa lelaki itu adalah Mike. "Mike. Diamlah. Kau tak perlu seperti itu!" Teriak Hoshi yang ternyata ada bersama dengan Mike. Perasaanku kini senang usai melihat wajah Hoshi. Aku merindukannya dan teramat ingin memeluknya. "Ku rasa, kau berdua harus merasakan turunnya salju pertama bersama. Lupakan sejenak soal kemarin.." pinta Mike padaku dan juga Hoshi. Seketika, aku menautkan alisku keatas, bermaksud ingin menjelaskan, namun Mike nampak menghindar. Ah. Sekarang aku tahu semua. Aku tahu alasan Mike menghindar. Terlihat sekali alasannya menghindar seperti ingin memberikan suatu kesempatan bagiku dan Hoshi untuk jalan berdua. Rasanya sangat canggung. Kami berdua hanya diam tanpa sepatah kata pun selama perjalanan. Alih-alih mengobrol, aku justru menggebu-gebu untuk meminta penjelasannya soal kemarin. "Apakah Mike sering mengajakmu makan berdua seperti kemarin?" Tanya Hoshi padaku. Tak ku sangka, obrolan pertamanya justru bertanya mengenai Mike. Padahal ku kira ia akan memulai pembicaraan dengan tema yang lain, tapi nampaknya hal yang mengganggu itu terus melekat. "Memangnya kenapa? Kau kan tahu, kita sudah bersahabat sejak kecil.." jawabku. "Iya, aku hanya ingin tahu apakah ia sering mengajakmu makan tanpa ku seperti kemarin?" "Sering. Lagipula kau sendiri yang bilang bahwa hubungan kita tak akan merusak persahabatan. Jadi aku juga mau berteman baik dengan Mike kapan pun itu," "Hm.. kau benar," jawab singkat Hoshi. "Benar? Kenapa dia berkata begitu?" Ku renggangkan senyuman yang awalnya hanyalah sebuah lengkungan. Rasanya ingin sekali ku jambak rambutnya itu tuk mencoba bertanya tentangku. Dan akhirnya, "Kau kedinginan?" Tanya Hoshi padaku. Aku pun mengangguk. Hoshi dengan lembut mengambil sesuatu dari tasnya. Nyatanya itu sebuah syal berwarna jingga. "Kalau kedinginan, seharusnya kau bilang sejak awal. Kemarin kan kau sakit, jadi tubuhmu pasti belum sepenuhnya pulih..." Hoshi dengan sigap melingkarkan syal itu dileherku. Sekarang dapat ku rasakan sesuatu yang hangat pada leher usai ia memasangkannya sepenuh hati. "Nyaman?" Tanyanya lagi. Dengan jawaban yang sama, aku hanya mengangguk tanpa kata. Deg~Deg~ Deg~ Deg~ Tiba-tiba saja, Hoshi menggenggam tanganku. Jantungku berdebar lebih cepat dikala telapak tangan ini mulai hangat oleh genggaman tangan Hoshi. Itulah kebiasaannya, ia selalu memperlakukanku semaunya tanpa meminta izin. Pada kesempatan ini, aku menjadi tahu bila semua itu memiliki makna kasih sayang. "Ini yang ku maksud tadi kepada Yeni. Bahwa Hoshi memiliki caranya sendiri untuk membuatku bahagia. Walau tidak seperti yang lain, tapi ini menyenangkan!" Gumamku dalam hati. "Melody, kau mau mampir ke suatu tempat tidak?" "Kemana?" "Food street tempat kita biasa mencari kuliner. Bagaimana?" "Ah, boleh.." Kami berdua sepakat tuk mampir dahulu ke jajanan pinggir jalan, dimana banyak truk-truk makanan yang menjajakan makanannya. Rintikan salju pun turun bak menghiasi gemerlapnya kota pada malam ini. Telapak tanganku mulai berkerut, menggenggam hot pack adalah jalan ninjaku untuk menghilangkan rasa dingin yang menusuk. "Bibi, berikan kami dua tteobokki nya ya..." ujar Hoshi. "Baik. Ah, kalian Melody dan Hoshi kan?" Tanya bibi pemilik truk makanan itu pada kami. "Benar," jawab singkat Hoshi. "Kalian masih berpacaran? Sudah lama tidak kesini. Awet sekali, ya" ucap bibi itu lagi. Tidak ada hal yang bisa kami lakukan kecuali tersenyum satu sama lain. Ini sangatlah menyenangkan ketika ada seseorang bertanya mengenai hubungan kami. Sambil memberikan kami 2 cup makanan, bibi itu berkata pada kami, "Karena kalian pasangan pertama di malam pertama salju turun, ini ku gratiskan. Longlast, ya! Jangan lupa kalau menikah beri kabar kepadaku. Aku akan mendoakan penikahan kalian!" Ucapannya benar-benar membuat otak ku bergejolak tak karuhan. Baru kali ini aku enggan mengaminkan sebuah ucapan sakti itu. Padahal biasanya, aku akan langsung berkata amin ketika doa tentang pernikahan itu terlontar. Dan sepertinya memang keputusanku sudah bulat, mungkin aku tak akan menikah dengan cepat usai melihat masa-masa sulit dimasa depan. "Melody. Waktu itu kau memintaku untuk menjelaskan makna dari kalung berliontin 8 (delapan). Masih maukah kau mendengarkannya?" "Iya. Bisakah kau jelaskan?" "Sebenarnya, aku menyukai angka 8 (delapan)..." "Kenapa kau menyukai angka 8 (delapan)?" "Menurutku, angka 8 (delapan) itu melambangkan infinity atau tidak terbatas." "Tidak terbatas bagaimana maksudmu?" "Coba kau lihat lagi. Bentuknya itu sangat simetris, sehingga kita dapat membagi angka 8 menjadi dua ke segala arah." "Segala arah? Maksudnya?" "Angka 8 jika dipisahkan bisa menjadi dua angka 3 dan dua angka 0. Benar, kan?" jelasnya padaku. Usai mendengarkan secara seksama penjelasan dari Hoshi, aku seketika berpikir mengenai makna kalung yang diberikan gadis misterius itu padaku. Kebetulan liontinnya sama-sama berbentuk delapan. "Benar. Angka 8 (delapan) terlihat seperti tak terputus. Mau bagaimanapun arahnya, ia selalu kembali. Mungkinkah ini sebabnya aku bisa kembali ke masa lalu?" Gumamku dalam hati. ~~ Malam ini terasa panjang terutama bagi diriku sendiri. Duduk berdua dengan Hoshi ditaman memang tak ada duanya, sungguh ini sangat menyenangkan. "Ah, saljunya turun terus. Kepalamu sampai putih begitu..." ledek Hoshi. Beribu heran kini melekat kala ia mengatakan bahwa kepalaku menjadi putih. Spontan, aku menepuk ringan kedua pipiku untuk memastikan kebenarannya. "Bukan wajah, tapi kepala. Rambutmu lebih tepatnya.." Hoshi pun meletakkan tangannya diatas kepalaku. Ia membersihkan serpihan-serpihan saljunya secara perlahan. Hm.. Aku hanya bisa memejamkan kedua mata, berharap tangannya tak akan pergi dari sana. "Nyaman," gumamku dalam hati. Bersambung...
🥰🥰🥰
20/05/2024
0👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
16/05/2024
0lucuu
16/05/2024
0View All