"Melody, bukankah itu Hoshi?" Ucap Mike. Aku langsung mendongak ke lantai dua. Dimana ada dirinya bersama entah siapa, yang jelas seseorang berambut blonde. Jika dipikirkan, tak ada satupun sanak saudara atau bahkan temannya yang memiliki rambut blonde. Sehingga ini memunculkan spekulasi curiga sekaligus cemburu dalam benakku. "Siapa, ya? Apa aku hampiri saja?" Tanyaku bimbang pada Mike. "Jangan!" Mike menahan tanganku dengan menariknya sekuat tenaga. ••• Chapter 5 - Pada Akhirnya ••• "Sudahlah Mike. Tidak apa-apa!" "Tidak apa-apa bagaimana?" "Dengarkan aku. Aku hanya ingin memastikan bahwa orang itu benar Hoshi.." "Untuk apa?" "Untuk.... untuk..... pokoknya aku tak mau larut dalam rasa penasaran!" Aku melepaskan tangan Mike untuk bergegas naik ke lantai 2, dimana nyatanya terdapat Hoshi bersama seseorang. Di masa lalu (sebelum berubah), kejadian ini tak pernah terjadi, sehingga aku sama sekali tak mengingatnya. "Uhm.." Aku tersenyum kecil seraya melambaikan kedua tangan begitu tiba dihadapan Hoshi. Hal ini pun membuat Hoshi yang sedang minum menjadi tersedak dan orang yang bersamanya kini menoleh ke arahku. "Cantik, ternyata dia benar seorang wanita. Padahal sebenarnya, aku berharap ia seorang lelaki atau wanita separuh baya.." batinku dalam hati. Hoshi pun berdiri, menarik tanganku untuk turun ke lantai bawah. "Kenapa kau menarik tanganku, sih!" Kini kami berada di depan toko ramen. Tatapan mata Hoshi semakin tajam bak ingin mencekamku dalam kegelapan. "Uh, sakit!" Rintihku lagi karena kesakitan oleh genggaman kencang tangan Hoshi. "Sudah ku bilang jangan menggangguku!" "Mengganggu?" "Melody. Bukankah kita sudah bersepakat bahwa hubungan ini tak berlangsung secara terbuka. Kau ingat hal itu, kan?" Bentak Hoshi padaku. "Iya. Aku ingat! Tapi siapa yang kau maksud mengganggumu?" "Kau!" "Ha?~ aku hanya lambai-lambaikan tangan saja, kok!" "Terserah kau apa namanya. Yang terpenting, itu mengganggu bagiku!" "Hoshi. Apakah itu benar-benar mengganggu untukmu? Padahal aku tak bicara apapun disana. Bahkan kau sendirilah yang sudah salah tingkah dengan menarik tangan ku kesini!" "Jangan mengalihkan pembicaraan, Dy.." "Apa, sih. Kau ini makin tidak jelas saja!" "Ku peringatkan padamu. Intinya... kau mengganggu ku. Lain kali, kau bisa kan menelponku lebih dulu, kan? Tak perlu menghampiriku dengan muka dan tingkah memuakkan seperti itu!" "Hah~ kau pikir aku kesini sengaja untuk menghampirimu? Aku tidak sengaja!" "Tidak sengaja? Lalu kau dengan siapa ke sini?" Tiba-tiba saja Mike muncul dari belakang tubuh Hoshi, lalu ia berkata dengan lantang bahwa diriku bersama dengannya menuju toko ramen ini. "Mike? Kenapa kau mengajak Melody ke sini?" "Kenapa? Apakah ada larangan membawa sahabat sendiri tak boleh? Lagipula ini tempat makan, siapa saja bisa makan disini!" Aku tahu, mungkin ini akan semakin runyam apabila aku berada lama-lama disini. Aku pun melangkahkan kaki tuk menjauh pergi. "Hentikan. Kalian terlalu berisik!!!" teriak ku. "Melody, mau kemana?" Tanya Mike seraya mengikutiku berlari. "Ku mohon, Mike.." "Apa yang kau mohon, Melody?" "Ku mohon, kau jangan mengikutiku untuk saat ini. Aku ingin menenangkan pikiran dan pergilah dulu menjauh!" Pintaku pada Mike. Pada akhirnya, Mike pun menghentikan langkah kakinya. Raut wajahnya begitu kusam, berbeda dengan tadi. "Apakah takdir tak bisa ku ubah? Mengapa pertengkaran ini tetap ada.." Aku kesal karena prasangka baikku tadi siang tiba-tiba saja hancur seketika. Terlebih lagi kala melihat Hoshi yang seperti ini. Aku kini benar-benar hancur, ingin menyudahi semua namun diriku tak bisa jauh dari Hoshi. Jika aku dan Hoshi tetap berpisah, maka tak ada bedanya dengan masa depan (sebelum berubah) yang ku lalui. Keberadaanku disini pun seperti tak ada artinya. "Melody? Benar, kan?" Sapa kecil Leo ketika aku sedang menangis di pinggir jalan. Aku malu, sehingga segera mungkin ku hapus air mata yang masih tersisa dipipi. "Kenapa sih, kau muncul?" Tanyaku begitu ia datang mendekat. "Ah, maaf. Aku habis membeli obat. Ini..." ia memperlihatkanku sebuah kantung plastik berwarna bening dengan tulisan medical center. Sontak, aku tertegun dan mengangguk ringan, lalu merubuhkan tubuhku ke trotoar. "Lho? Kok malah duduk?" Leo mungkin bingung melihatku seperti ini. Tapi jujur saja, kakiku tiba-tiba lemas seakan tak kuat lagi untuk berjalan. Apalagi kini aku harus bertemu dengan Leo, si lelaki yang sudah ingin ku blacklist dalam hidup. "Lebih baik, kau pergi saja. Aku tak mau melihatmu dan aku mau duduk disini..." usirku secara halus. "Eung.. tidak apa-apa, lagipula aku free. Jadi aku mau duduk disini juga!" "Apa-apaan, sih? Jangan ikut-ikut.." "Melody, ini terlalu bahaya untukmu..." "Bahaya? Apanya yang bahaya?" "Ya bahaya. Kau itu kan perempuan. Duduk sendirian dipinggir jalan begini sangat memancing kejahatan..." "Aku tak apa-apa, aku sedang ingin sendiri..." "Kalau boleh tahu, apa kah kau sedang dalam masalah? Kenapa?" "Apa?" "Cerita saja padaku. Aku siap mendengarkan apa yang kau ucapkan, bisa dibilang aku ini pendengar yang baik..." "Terima kasih, tapi aku tidak kenapa-napa kok!" "Benarkah? Sebenarnya, toko obat ini ada disamping toko ramen. Aku mendengar sedikit percakapanmu dengan seorang lelaki. Apakah dia kekasihmu?" "Ah.. iya! Dia pacarku. Kami masih berpacaran dan ku harap kami akan bersama selamanya!" "Oh, begitu. Tapi sikapnya sangat..... Mengapa kau masih mempertahankannya?" "Asal kau tahu, ya. Secuek apapun sikap nya, aku akan tetap menyayanginya sampai kapanpun itu. Tak ada yang berubah!" "Baiklah, aku paham. Tapi, aku tak sama sekali menyinggung cuek, lho.. kau sendiri yang bicara tentang kekasihmu yang cuek.." Aku pun dibuat mati kata, ketika menyadari ucapannya tak ada sama sekali kaitan dengan sikap Hoshi yang cuek padaku. Karena malu, aku pun memilih bungkam hingga ia mengganti topik pembicaraan lain. Nyatanya, setiap kata-kata yang keluar dari bibir Leo adalah pemikat luar biasa. Hal ini pun semakin membuka mata ingatanku tentang dirinya. Terutama kekaguman ku terhadap Love Language yang kerap kali ia berikan. Dahulu (sebelum masa berubah), aku bisa mulai membuka hati dan berpacaran dengan Leo lantaran menurutku ia lebih bijak dan baik dibandingkan Hoshi. Leo selalu ada dimasa-masa terendah dalam hidupku, bahkan menemaniku tanpa pernah mengeluh sedikitpun. Akan tetapi, saat ingatanku kembali ke masa menyedihkan usai menikah dengannya, rasa kagum ku semakin sirna. "Kau terlalu manis untuk berucap.. menjijikkan," Dirumah, aku langsung merebahkan tubuhku diatas kasur seraya memejamkan kedua mata. Aku tak tahu apakah niatku merubah takdir akan berhasil atau kah tidak, namun setidaknya aku akan tetap berusaha merubah nya agar penyesalan-penyesalanku dimasa depan tak ada lagi. ••• - Author POV - Keesokan harinya. Hari ini sungguh canggung bagi Melody, terlebih lagi ia mengingat harus kembali ke kampus usai bertengkar dengan Hoshi seperti kemarin. Mereka belum berbaikan, masih dalam keegoisan masing-masing. Namun beruntung, masa lalu berhasil diubah Melody sebab mereka tak jadi putus. "Melody! Ya ampun, mengapa ia melamun dan mengacuhkan ku seperti itu?" ujar Yeni, yang kemudian datang mendekati tubuh Melody. "Yen. Maaf. Tapi aku tak mendengar apa-apa," balas Melody, kemudian duduk dibangkunya seraya menyender seperti biasa. "Di semester ini, mata kuliah dan dosen kita sama. Jadi seharusnya kita lebih intim dong, Mel.." canda Yeni. "Iya, iya. Memang kau pikir kita tidak intim?" "He he he, bukan begitu..." "Hah~" "Loh, Melody. Ada apa dengan matamu?" "Ke.. kenapa memang?" "Matamu terlihat sangat bengkak. Kau habis menangis, ya?" Nampaknya Yeni memahami betul setiap gerak gerik Melody, sehingga ia mampu mengetahui sekecil apapun hal yang berbeda dari sahabatnya itu. Melody hanya tak mau membebani sahabatnya itu dengan segala masalah yang baru saja ia hadapi, sehingga ia bersikeras tak mau mengaku alias berkata bahwa dirinya baik-baik saja. "Eh?" Namun semua pembicaraan mereka terhenti kala Hoshi memasuki kelas dengan atmosfer dinginnya. Kebetulan kelas mereka sama hari ini. "Hoshi! Beberapa bulan lagi valentine nih, ku harap kau memperlakukan sahabatku dengan baik, ya!" Teriak Yeni kencang. Hal ini pun membuat Melody malu dan langsung menyikut lengan Yeni. "Apaan sih, Mel! Sakit tahu.." keluh Yeni yang kemudian dibalas gertakan gigi oleh Melody. "Nah. Benar dugaan ku. Kau bertengkar lagi dengan Hoshi, ya?" Ucapan Yeni sepertinya terdengar ditelinga Hoshi. Hoshi pun datang ke meja mereka dan menyilakan kedua tangan dengan senyuman simpul. "Siapa yang bertengkar? Kita baik-baik saja.." Hoshi meletakkan telapak tangannya di atas kepala Melody. Sekarang, Melody berusaha tersenyum walau hatinya tak ingin melalukan hal itu. Bahkan, ini semua sengaja dilakukannya guna mencegah caci maki buruk yang akan dilontarkan Yeni mengenai Hoshi. ••• Jam selesainya mata kuliah pun telah tiba. Melody kembali menatap layar ponselnya untuk mengecek pesan masuk yang datang selama jam mata kuliah. Ternyata, Mike sudah beberapa kali memberi pesan sejak pagi. Mike sangat mengkhawatirkan Melody setelah kejadian kemarin. (Pesan) Mike : Melody. Kau baik-baik saja? Mike : Sedang apa? Mike : By the way. Hari ini jadwal kuliah kita berbeda, bisakah kita bertemu di luar jam kampus? "Kenapa, sih. Mike tetap kekeh menghubungiku? Padahal kemarin aku sudah mati-matian mengujinya.." Batin Melody. Belum sempat membalas, Yeni menarik paksa tangan Melody untuk menuju taman belakang. "Ada apa sih, Yen? Kau ini selalu saja menarik ku mendadak seperti ini!" Keluh Melody pada Yeni. "Sudahlah. Kah diam dulu! Ikuti aku saja..." sahut Yeni dengan saling mengaitkan tangan. Bersambung...
🥰🥰🥰
20/05/2024
0👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
16/05/2024
0lucuu
16/05/2024
0View All