logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 4 - Pada Akhir Musim Gugur

Ting~
Pesan kembali masuk, namun Melody menunda untuk membukanya. Tangan lentiknya langsung terarah oleh sebuah obat yang harus ia minum.
Obat itu adalah obat pereda kesakitan yang selama ini di derita Melody.
Tak ada seorang pun yang tahu kecuali anggota keluarga. Selama ini, Melody mengidap penyakit yang sungguh menyakitkan. Terkadang kepalanya pusing luar biasa walau kini tak pernah kambuh kembali.
Konon, penyakit itu tak dapat terdeteksi walau sudah berulang kali Melody lakukan check up. Jadi salah satu cara yang bisa ia atasi saat ini adalah rajin meminum obat walau tak pernah kambuh, guna mencegah sewaktu-waktu penyakit itu datang kembali.
•••
Chapter 4 - Pada Akhir Musim Gugur
•••
- Melody POV -
Sudah beberapa hari sejak kedatanganku ke sini, aku selalu mengurungkan niat tuk membereskan serta menata lemari. Namun malam ini, ku lakukan semuanya dengan rapi tanpa satupun yang tersisa.
"Akhirnya kamar ini rapi juga.."
Saat bersiap-siap tidur, kepala ini tiba-tiba terasa berputar. Memori-memori lama pun seakan bergejolak dalam ingatanku. Pada waktu ini (tepat sebelum masa lalu berubah) aku teringat telah tertidur dan menghilangkan kotak pemberian Hoshi, sehingga menyebabkan pertengkaran hebat. 
Namun untuk kali ini, akan ku rubah semuanya. Aku tak akan lupa membuka kotak yang diberikan Hoshi tadi. Keinginan dan tekad ini sudah benar-benar bulat tuk memperbaiki kesalahan-kesalahan kecilku yang mengakibatkan masa depanku tak berjalan baik.
"Ha? Apa ini? Kalung angka 8 (delapan)?" 
Aku terperangah. Tak percaya ketika melihat bentuk kalung yang diberikan Hoshi sama persis dengan kalung pemberian gadis misterius di tahun 2023.
•••
"Melodyyyyyyy!" Teriakan Yeni benar-benar membuatku malas untuk menghampirinya.
Aku yang baru saja tiba di kampus pun dibuat aneh karena tiba-tiba saja ia menatap tajam kearahku.
"Kenapa sih, kau selalu saja teriak-teriak begitu?!" Jawabku ketus lalu duduk dibangku kelas.
"Tumben sekali. Ini sangat amazing...."
"Amazing apanya?"
"Amazing. Karena kalian berdua berangkat bersama ke kampus hari ini!" Jawaban Yeni membuatku langsung menoleh ke arah belakang. Ternyata, Hoshi berdiri tegak di belakang tubuhku.
"Ti... tidak! Kami berangkat masing-masing tahu!" sahutku singkat.
Aku pun kembali sibuk menata seluruh file catatan kuliahku diatas meja. Berharap mata kuliah hari ini tak seberat hari-hari biasanya, karena jujur saja aku merasa agak sedikit pusing hari ini.
"Melody. Wajahmu sangat pucat, tak seperti biasanya. Kau tak apa-apa?" Yeni berteriak ketika aku menjatuhkan kepalaku diatas meja.
"Tenang, aku baik-baik saja.."
Aku memejamkan kedua mata, tak menghiraukan apa yang dikatakan oleh Yeni. Hingga seketika, sebuah belaian tangan pun mendarat tepat diatas rambutku.
"Kau sakit?"
Ah, suara ini sangat ku kenal. Nyatanya Hoshi lah yang membelai ringan rambutku.
"Hm. Tidak, hanya sedikit pusing aja" balasku singkat.
Tetiba saja, Hoshi menggendong tubuhku layaknya sebuah boneka. Berkali-kali aku berteriak minta diturunkan, akan tetapi itu tak terhiraukan olehnya. Mike yang baru datang pun ikut panik walau pertanyaannya tak terjawab oleh kami.
"Aish. Lepaskan aku! Kau mau ajak aku kemana!" 
"Aku mau mengantarkanmu pulang.."
"Pu.. pulang?"
"Kau ini demam, jadi tak mungkin bisa mengikuti kegiatan kampus hari ini.."
"Ah, tapi jangan digendong seperti ini..."
"Tidak apa-apa. Ini darurat!"
"Hoshi... tapi aku malu!"
"Kau mau malu atau mau semakin sakit? Sudahlah diam saja..."
"Ah, iya terserah kau saja lah!"
Hoshi benar-benar ingin mengantarkanku pulang dengan mobil sportnya. Di dalam mobil, kami berdiam diri dan saling canggung. 
Aku lemas, tak tahu harus berkata apa. 
Disatu sisi, hatiku sedikit lega karena kejadian ini berbanding terbalik dengan masa lalu (sebelum berubah). Dulu, aku dan Hoshi menaiki mobil dengan saling emosi karena kotak yang diberikannya hilang. Tapi kali ini, Hoshi malah mengantarkanku pulang dengan penuh perhatian tanpa rasa emosi sedikitpun.
"Hoshi, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"
"Tanya?"
"Iya,"
"Boleh. Tanyakan saja,"
"Aku semalam membuka kotak hadiah yang kau berikan. Isinya kalung berliontinkan angka 8 (delapan).."
"Lalu?"
"Mengapa kau memilih liontin angka itu?"
"Kau ingin tahu jawabannya?"
"Tentu, mangkannya aku bertanya padamu!"
"Nanti saja. Aku sedang tidak dalam mood untuk menjelaskannya padamu,"
"Kalau tidak dalam mood, kenapa kau repot-repot sekali mengantarkanku pulang!"
"Memang kenapa? Kau ini kan pacarku. Wajar jika aku memperhatikanmu lebih,"
"Pacar? Ah, iya... kau sekarang masih pacarku!" 
"Masih? Memang kapan kita putus?"
"Ti.. tidak.. abaikan saja"
Sesungguhnya, hari ini adalah hari dimana aku dan Hoshi putus untuk selamanya.
Saat itu, kami bertengkar hebat akibat kelalaianku menghilangkan kotak yang diberikan Hoshi. Entah mengapa, Hoshi tak mau memaafkanku dan memutuskan hubungan kita secara sepihak. Miris, padahal aku sangat menyayanginya. Syukurlah, kejadian itu ku harap tak akan terulang lagi.
"Hoshi. Terima kasih,"
"Kenapa? Kau tak perlu berterima kasih,"
Usai mendengar ucapan singkatnya, aku terdiam. Di lain sisi, Hoshi memang terlihat acuh dan cuek terhadapku. Tapi sebenarnya, ia selalu mencurahkan segala perhatiannya untukku.
Intinya, Hoshi itu benar-benar seperti iced chocolate. Kadang dia bisa membeku, kadang juga bisa mencair. 
Tak sampai hanya di situ, Hoshi ternyata mau menemani ku dirumah sesuai permintaan ibu. Alhasil, rasa pusing dan demam ku lambat laun kini telah sirna. Aku merasa tenang dan nyaman karena Hoshi selalu ada disampingku sejak tadi. Bahkan, sore ini aku bisa kembali ke kampus untuk melaksanakan mata kuliah lain.
•••
"Melody. Kau pulang sendiri, ya. Kebetulan aku ada urusan basket dulu.." Ucap Hoshi padaku.
Aku pun mengangguk.
Aku tahu pasti ia ingin bermain basket dahulu di lapangan, karena tanggal pertandingan basket antar kampus sudah semakin dekat.
"Nanti kita pulang berdua saja!" Teriak Yeni menyusul kami berdua.
Aku tersenyum simpul, lalu menggandeng ringan tangan Yeni. 
Kami berdua berjalan menuju pemberhentian mobil, untuk menunggu taksi yang datang menghampiri. 
"Kau tak dijemput supirmu?" Tanya Yeni heran.
"Tidak, aku memintanya. Karena ku pikir Hoshi akan pulang bersamaku," jawabku.
"Tuh kan, Hoshi itu memang tak pernah berubah!" Ujar Yeni kesal.
"Kenapa sih? Apanya yang tak berubah?" Jawabku sebal, sekaligus bertanya.
"Lihat saja. Sudah tau pacarnya sedang sakit, dia malah memikirkan basket. Seakan-akan kehidupannya hanya tentang basket..." Yeni mencibirkan bibirnya dihadapanku.
Aku terdiam sejenak, entah berapa caci maki melayang dari mulut Yeni selama aku dan Hoshi  memutuskan untuk menjalin hubungan. Tapi tetap saja, mau bagaimanapun sikap Hoshi terhadapku, aku akan selalu menyayanginya karena itulah awal yang membuatku tertarik padanya dari dahulu hingga saat ini.
Seketika, kala aku sibuk melamun, tiba-tiba saja seseorang datang menghampiriku dan Yeni. Orang itu adalah si anak baru yang beberapa hari lalu ku temui kehadirannya di sekolah.
"Namaku Leo," ucapnya ramah.
Aku pun enggan memperkenalkan diri. Namun berbeda dengan Yeni, ia justru memperkenalkan dirinya secara ramah. Selain itu, Yeni pun banyak berbicara padanya mengenai hal satu sama lain, terutama mengenai seluk beluk informasi kampus yang belum banyak diketahuinya tersebut.
"Kenapa dia masih berpura-pura? Kampus ini milik ayahnya, kenapa dia harus bertanya, seolah-olah ia mahasiswa yang tak tahu apapun...." gumamku ketakutan dalam hati.
Singkat cerita....
Sebetulnya, Leo adalah suami yang ku nikahi pada tahun 2018. Ia adalah ayah biologis dari Sovia. 
Pada masa lalu (sebelum berubah), aku berkenalan dengannya hari ini usai putus dari Hoshi. Entah mengapa takdir pertemuanku dengan Leo seakan terus berjalan walau sekeras mungkin aku ingin merubahnya. 
Kendati demikian.. perasaan trauma, takut, semuanya kini masih campur aduk dalam batinku. Melihat Leo pun seakan membuka luka lama yang sebenarnya sangat ingin ku lupakan.
•••
Beberapa menit setelah kepulangan ku di rumah, Mike pun tiba. Kehadirannya saat ini benar-benar dapat menepis rasa ketakutanku, karena akhirnya ada seseorang yang datang menemani.
"Melody!"
"Ya, Mike!"
"Apakah kau sakit? Kenapa tidak membalas satu pun pesan dari ku?"
"Ah, maaf. Aku tidak mengecek ponsel... tapi keadaanku baik-baik saja, kok. Kau tak perlu mengkhawatirkan ku!"
"Jangan coba-coba membohongiku.."
"Bohong soal apa Mike?"
"Saat kau digendong oleh Hoshi, wajahmu saja terlihat pucat. Seandainya mata kuliah kita sama hari ini, pasti aku juga akan melakukan hal sama.."
"Hal sama?"
"Iya, aku akan menemanimu.."
"Mike.. Maaf. Tapi Hoshi itu pacarku. Bukankah sudah selayaknya ia yang menemani?"
"Ah, begitu ya?" Sorot mata Mike jelas sekali menunjukkan kekecewaan. Bibir tipisnya berubah menjadi datar, tak lagi ada senyum yang menghias.
"Sudah lupakan saja. Bagaimana kalau kita makan ramen?" Lanjut Mike didepan pintu.
"Oke. Tapi tunggu dulu, aku mau mengambil dompet.."
"Tidak usah pakai dompet. Hari ini aku akan mentraktir mu!"
"Ah? Baiklah. Terima kasih~,"
Aku pun bergegas menuju toko ramen yang rutin kami kunjungi. Biasanya, kami datang bertiga bersama Hoshi, tapi kali ini kami datang hanya berdua. Tatkala tak tahu menjadi sebuah petaka nantinya, aku merasa sekarang perasaanku biasa saja.
Sesampainya kami di toko ramen, tubuhku semakin merasakan kuatnya angin bertiup kencang. Pada akhir musim gugur, angin terasa lebih menusuk dan kerap kali menjadi musuh paling utama bagi ku.
"Melody, bukankah itu Hoshi?" Ucap Mike.
Aku langsung mendongak ke arah lantai dua. Dimana ada dirinya bersama entah siapa, yang jelas seseorang berambut panjang berwarna blonde.
Jika dipikirkan, tak ada satupun sanak saudara atau bahkan temannya yang memiliki rambut blonde. Sehingga ini memunculkan spekulasi curiga sekaligus cemburu dalam benakku.
"Siapa, ya? Apa aku hampiri saja?" Tanyaku bimbang pada Mike.
"Jangan!" Mike menahan tanganku dengan menariknya sekuat tenaga.
Bersambung..

Book Comment (26)

  • avatar
    jwsasaa

    🥰🥰🥰

    20/05/2024

      0
  • avatar
    yolutasemayoshie

    👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻

    16/05/2024

      0
  • avatar
    LucuuNADAA

    lucuu

    16/05/2024

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters