logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

JANDA PERAWAN

JANDA PERAWAN

Rainsa05


Chapter 1 Kata Talak

"Assalamualaikum?"
Terdengar suara salam dari luar rumah.
"Waalaikum salam, Bu Sanah? Ada apa?" Jawab Ibu terburu.
"Bu, jangan! Pasti tanya-tanya informasi tentang aku," cegahku cepat pada Ibu yang akan membuka pintu.
"Sudah, kamu masuk ke kamar. Biar ibu yang menghadapi," jawabnya tegas.
Sudah satu Minggu ini aku pulang dari rumah mertua, lebih tepatnya dipulangkan. Menurut mereka, aku bukan menantu yang baik. Masih teringat segar diingatan. Satu bulan yang lalu, mas Shony mempersuntingku. Karena pekerjaan di luar kota, aku dibawa pulang ke rumah orang tuanya yang berjarak lebih dekat katanya.
Malam pertama, ibu mertua meminta Mas Shony memijitnya, katanya beliau sakit, baru sembuh kalau dirawat oleh mas Shony, waktu itu aku hanya bisa mengiyakan, masih ada hari-hari berikutnya.
Satu hari setelah menikah, ibu mertua meminta suamiku menyusul kakaknya yang katanya sakit untuk dibawa pulang.
"Kan sudah ada istrinya, mas? Kenapa harus dibawa ke sini?" Tanyaku heran.
"Kamu kayak nggak tahu ibu saja, Dek. Beliau terlalu sayang pada kami, jadi kalau beliau tidak mengetahui secara pasti, beliau nggak akan tenang," jawabnya santai.
Sampai sini, aku merasa mas Shony terlalu menuruti ibunya, tapi ya sudahlah.
"Dek, Mas besok harus kembali bekerja, karena cuti menikah hanya dua hari."
"Kemarin bilangnya satu minggu?" tanyaku kaget.
"Iya seharusnya, tapi ternyata pekerjaan tidak ada yang bisa menghandle, jadi pimpinan meminta Mas segera kembali bekerja. Nggak apa-apa ya?" Ucapnya sambil mengecup keningku.
"Kapan pulang?"
"Insyaallah Sabtu ya sayang?"
"Mas? Aku pengen ikut ke kontrakan Mas yang di sana. Nggak apa-apa biarpun kecil, aku lebih bahagia kalau bisa melayani kamu," pintaku.
"Kita sudah membahas ini berulang kali, Dek? Bukankah sudah menjadi kesepakatan kita untuk pulang ke sini? Kamu menemani ibu. Hanya menemani, tidak lebih," jawabnya agak kesal.
"Bukan, maksudku aku ingin kita lebih bisa mengatur rumah tangga, tapi ya sudahlah. Kapan mas berangkat?"
"Nanti malam, karena besok pagi sudah harus berada di kantor pagi-pagi sekali."
Pekerjaan suamiku adalah manajer marketing suatu perusahaan berkembang, untuk suatu jabatan, aku kira cukup lumayan, pun gaji yang diterima. Selain itu, juga mendapat tunjangan rumah dinas dan mobil. Tapi entah kenapa mas Shony lebih suka membawaku pulang ke sini.
Mas Shony memang menepati janjinya untuk pulang ke rumah setiap hari Sabtu, tapi waktunya hanya tercurah untuk ibu mertua. Ada saja yang diminta oleh beliau. Diantarkan belanja, ke salon, ataupun hanya sekedar makan di restoran kesukaannya. Tidak ada waktu berdua untuk kami.
Kalau aku protes, mas Shony hanya menjawab wajar saja kalau seorang ibu seperti itu setiap anaknya pulang bekerja, apalagi seminggu sekali. Aku hanya bisa menghela napas.
Setiap pagi aku harus bangun lebih awal untuk memasak sarapan, membersihkan rumah dan halaman. Rumah mertua cukup besar. Beliau hidup sendiri, ayah mertua sudah meninggal dua tahun yang lalu. Anak pertama sudah menikah dan mempunyai satu orang anak di kota lain.
Hari-hari aku lalui tanpa ada keluh kesah, tapi lama-lama aku merasa jengah juga. Setiap kali mas Shony pulang, aku diabaikan, tepatnya ibu mertua yang tidak ingin aku dan mas Shony bisa berduaan. Jarang aku bisa ngobrol santai dengannya karena ibu selalu saja ikut nimbrung. Kalau kamu di kamar, ibu selalu memanggil mas Shony, selalu saja ada alasan yang membuat beliau merenggangkan kami.
Puncak kekesalanku adalah ketika ibu mertua memintaku memasak berbagai macam lauk, kata beliau akan ada pertemuan sahabat-sahabatnya di rumah. Dari pagi sekali aku sudah belanja ke pasar, bahkan ibu tidak memberiku uang untuk belanja. Kata beliau, uang dari Mas Shony sama saja, padahal ibu juga dijatah sama denganku. Lagi-lagi, sudahlah. Ibu mertua juga seperti ibu kandung di sini. Aku masak dengan semangat dan cepat, takut keduluan tamu yang datang. Sampai akupun tak ada waktu untuk berdandan.
"Bu? Sudah datang teman-temannya?"
"Nggak jadi! Kamu sih, masaknya lama. Aku takut kalau temanku ke sini masakannya belum matang!" Ujarnya tanpa memandang.
"Tahu gitu Nisah nggak belanja dan masak banyak, Bu. Pemborosan. Lalu, ini siapa yang makan?"
"Eh, jadi nyalahin orang tua! Dasar! Menantu nggak punya hati!"
Tepat ibu mertua mengucapkan kata terakhir, mas Shony membuka pintu.
"Ada apa ini?" Tanyanya heran.
"Mas? Kok tumben pulang sekarang?"
"Kenapa? Memangnya nggak boleh? Ibu kenapa?" Tanyanya lagi.
"Tanya tuh istrimu! Masak kemauannya sendiri, malah ibu yang disalahkan?"
"Bukan begitu, Mas?"
"Kamu masak banyak untuk apa?" Tanya mas Shony.
"Itu tadi ... "
"Tiap hari tahu! Istrimu boros kayak gitu! Baju aja mesti dilaundry, kan sayang. Orang di sini juga nggak ngapa-ngapain!"
Aku terperangah mendengar penjelasan ibu. Mas Shony menoleh cepat padaku dengan tatapan mata tajam.
"Ibu!" Panggilku dengan nada emosi.
Mendengar hal tersebut mas Shony menarik tanganku kasar dan menyeretku ke atas.
"Berani kamu membentak ibuku!"
"Mas! Dengarkan dulu!"
Aku dilempar kasar ke atas kasur. Kemudian mas Shony menutup pintu kamar.
"Mas! Buka!"
"Dengar, Nis! Aku akan membuka pintu ini kalau kamu mau mengakui kesalahan dan meminta maaf pada ibuku!"
"Pulang! Aku mau pulang!"
Pintu dibukanya dengan kasar.
"Ok! Kamu mau pulang? Pulang sana! Jangan kembali ke sini! Aku haramkan kamu menginjak rumah ini kembali!"
Deg!

Book Comment (167)

  • avatar
    JayantiTri

    ceritanya bagus...di tunggu episode berikutnya

    16/05/2022

    Β Β 0
  • avatar
    FebrizalSalman

    hayalan tingkat dewa πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    23/03

    Β Β 0
  • avatar
    AmanSahri

    baik

    14/02

    Β Β 0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters