logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Part 5

Terlihat notifikasi kalau dia sedang mengetik. Jantungku berdegup kencang menunggu balasannya.
[Suram itu yang kalau lagi ngeliat tapi gak keliatan jelas, kan?]
Ealah! si Bapak! aku menepuk jidat.
[Itu buram!]
[Buram itu yang kalau ngeliat sesuatu yang ngeri, kan?]
[Itu seram!]
[Seram itu yang kalau kakinya sakit, ototnya ketarik?]
[Itu keram, Bapaaak. Emot ngakak lima biji.]
[Senang kalau kamu bisa ketawa karena saya ngeluarin koleksi joke bapak-bapak saya.]
Aku tertawa karena joke-nya dan senang melihat sisi dirinya yang lain lagi.
[Makasih untuk hari ini, Pak.]
[Sama-sama.]
Bibirku masih mengulas senyum saat meletakkan ponsel. Aku bangkit dari tempat tidur untuk salat isya, setelahnya meraih kembali novel di nakas. Lalu tertidur karena lelah membaca.
Pagi ini karena hari libur, aku membuat kue, salah satu hobi yang membuat Kak Yara merasa jadi kakak yang paling beruntung di dunia.
Satu loyang brownies sudah dipanggang di dalam oven, sembari menunggu aku membuka sosial media tapi langsung menyesalinya. Foto pernikahan Mas Fajar terpampang di layar ponsel. Hatiku serasa dihantam oleh palu besar. Cepat kuubah setting agar aku gak melihat lagi fotonya. Temanku juga berteman dengan Mas Fajar jadi jika mereka mengunggah foto maka otomatis aku akan melihatnya.
Aku berkali-kali menarik napas panjang untuk meredakan sakit yang kurasa. Lebih baik aku gak membuka aplikasi berwarna biru itu untuk sementara.
Baru saja ponsel kuletakkan, benda itu berbunyi. Kuraih kembali ponsel dan membuka pesan yang ternyata dari Pak Ezhar.
[Mama nanyain kue kesukaan kamu.]
Aku memijat kening. Kebohongan satu ini berlanjut terus. Gimana kalau keluarga Pak Ezhar tahu kalau kami cuma pura-pura?
[Ternyata berlanjut, ya, Pak. Saya gak enak ngebohongin keluarga bapak.]
[Aku yang sudah menyeret kamu, maaf, tapi ini cuma untuk sementara, saya harap kamu mengerti.]
Aku bingung harus bagaimana. Satu sisi gak enak, satu sisi gak bisa menolak permintaan lelaki ini. Satu karena dia bosku, ralat, bos Kak Yara. Kedua karena aku gak tega menolaknya, dia bos dan lelaki yang baik.
[Untuk apa Mamanya bapak nanyain itu?]
[Mama suka baking kayak kamu, dia bilang mau buatin kue untuk kamu. Sebagai referensi, cake pisang buatan mama juara banget!]
Bibirku secara otomatis tertarik membentuk senyum.
[Kalau bapak mau saya bilang kue kesukaan saya cake pisang, boleh aja. Wani piro?]
Lelaki itu ternyata ingat kalau aku suka membuat kue. Hari kelima bekerja di kantornya aku membawa cheesecake. Hampir semua orang di lantai dua mencicipinya termasuk Pak Ezhar.
[Itu sebagai ganti es krim kemarin.]
[Dasar bos tukang peras!]
Aku tersenyum lalu meletakkan ponsel tapi benda itu kembali berdering. Setelah membuka pesan aku dibuat tertawa olehnya, dia mengirimkan video kucing yang terkejut karena anjing yang tiba-tiba melompat.
Lalu dia mengirimkan lagi video kucing yang lain membuat aku kembali tertawa.
Kak Yara tiba-tiba merampas ponselku. Melihat isinya dan ikut tertawa lalu jarinya bergerak lincah di layar ponsel itu. Matanya menangkap sesuatu di layar yang membuatnya menyipitkan mata. Aku mengambil kembali benda itu dari tangannya.
"Lama-lama kakak aku kutuk jadi glowing, lho."
"Adek durhaka! bilangin kakak sendiri kusam."
"Kakak yang durhaka. Udah dibuatin brownies juga."
Kak Yara menyipitkan matanya lagi.
"Kakak mencium aroma-aroma sesuatu akan terjadi."
"Nanti matanya bintitan, lho!"
"Berarti beneran, yak!"
"Kan aku udah bilang kemaren sebelum berangkat family gathering kalau cuma pura-pura."
"Iya, tau, makanya kakak bilang ada aroma-aroma gimana gitu. Kayaknya ini bukan cuma pura-pura lagi."
"Udah gak usah dipikirin, nanti kakak cepet tua."
"Ih! ya, udah, nanti awas kalau kakak dapat bukti otentik, kamu gak bisa ngelak, lho!"
"Kakak, gak bakal dapat."
Aku segera beranjak untuk menghindari pertanyaan Kak Yara sekaligus mengecek brownies di oven karena oven ini jenis oven tangkring. Aku menusuk kue hitam itu dengan tusuk gigi, gak ada yang menempel berarti brownies sudah matang. Kak Yara rupanya mengikutiku menuju oven dan mengintil saat aku mengeluarkan kue dari oven setelah menunggu beberapa menit.
Aroma khas kue yang baru matang memenuhi ruangan.
"Wangi," katanya dengan iler di sudut bibirnya kalau seandainya dia bintang film anime.
Perempuan berambut sebahu yang membuatku iri setengah mati dengannya karena dia mempunyai lesung di kedua pipinya seperti papa itu segera mengambil pisau kue. Setelah beberapa menit berlalu, dengan semangat membara dia memotongnya, gak peduli masih panas langsung dimakan.
"Yara, Ya Allah, masih panas itu!"
Mama yang baru masuk ke dapur setengah berteriak.
"Nanti kebakar bibirnya."
"Biarin aja, Ma, gak mau dibilangin kalau udah soal Brownies." Bang Rasid menimpali dengan senyum lebar, rupanya dia juga ikutan ke dapur.
Kak Yara makan kue sambil mengembus-embuskan udara keluar dari mulutnya membuat kami semua tertawa meledeknya.
***
Senin pagi aku masuk kerja dengan semangat. Sejak berbalas pesan dengan Pak Ezhar kemarin hatiku lapang plus aku sama sekali gak membiarkan diriku untuk memikirkan pernikahan lelaki yang sebaiknya dilupakan itu.
Hari ini aku memakai kemeja berwarna merah jambu, orang bilang warna itu cocok untukku.
Aku memiliki mata yang bulat besar, bulu mata lentik, tinggi 160 senti, hidung dan mulut yang mungil. Tapi aku benci tubuh ini, agak berisi, bukannya langsing seperti Kak Yara walaupun dia baru melahirkan. Namun Kak Yara lebih suka tubuh agak berisi sepertiku, menggemaskan katanya yang aku balas dengan cibiran. I guess everybody wants what they don't have. (1)
Aku periksa tampilan di cermin sekali lagi baru kemudian keluar kamar, berpamitan pada Mama dan Kak Yara lalu berangkat dengan menggunakan motor matik. Tak lupa kubawa puding buah strawberry untuk Pak Ezhar yang kubuat kemarin setelah membuat brownies. Juga puding lumut untuk mamanya sebagai ucapan terima kasih untuk cake pisangnya yang akan dibawa Pak Ezhar pagi ini.
Setengah jam kemudian aku sampai. Di pintu masuk aku berpapasan dengan seseorang. Matanya tertuju ke tanganku yang penuh bawaan.
"Pagi, Eonni, banyak nau baang go? apo du?"(2)
tanya Erika bocah sembilan belas tahun yang baru lulus SMA dan bekerja sebagai OB di kantor ini. Gak usah ditanya kenapa dia memanggilku begitu, sudah jelas! katanya Jimin is the most handsome guy in the entire world,(3) dan dia rela ngelakuin apa aja demi bisa ketemu salah satu member boyband itu yang aku sama sekali gak bisa membedakan mana Jimin mana yang lain walaupun Erika rajin meracuniku dengan video boyband itu.
"Yang joleh ndak untuok, Erika, do."(4) Aku tersenyum jahil.
Bocah itu memonyongkan bibirnya.
"Ke ha."(5)
Aku mengangsurkan cokelat batangan yang memang sering aku bawa di dalam tas padanya dan membuat bocah itu tersenyum senang.
"Gomawo, Eonni."(6) dia dengan cepat mengambilnya.
Aku mengangguk, tersenyum melihat bocah yang kegirangan itu, kemudian berjalan cepat menuju elevator sedangkan Erika menuju ruangan OB di lantai satu. Aku dan beberapa karyawan lainnya memasuki elevator setelah pintunya terbuka, beberapa dari mereka aku sapa dan ada juga yang menyapaku duluan. Tiba di lantai dua aku segera menuju ruangan seperti kubikel dengan dinding kaca.
Gedung ini berlantai dua kepunyaan Pak Ezhar. Dia merintis perusahaan properti ini sepuluh tahun yang lalu dari nol, dari hanya membangun dan menjual enam rumah secara cash dan kredit tanpa riba lalu menjadi puluhan rumah seperti sekarang. Setahun ini Ezhar properti--nama perusahaannya-- telah mengembangkan usahanya tidak hanya perumahan tapi juga ruko dan perkantoran.
Pak Ezhar datang lima menit setelah aku sampai, dia mengulurkan kotak kue dari plastik Tupirwer padaku. Aku menerimanya.
"Sampaikan terima kasih saya pada mamanya bapak."
Dia mengangguk.
"Nanti saya sampaikan."
Aku mengulurkan dua kotak dari plastik yang sama.
"Ini puding lumut untuk mamanya bapak sebagai ucapan terima kasih untuk cake-nya dan ini kotak yang kecil puding buah untuk bapak."
Sekilas aku seperti melihat sorot bahagia di matanya sebelum kepalanya menunduk melihat kotak itu dan meraihnya.
"Terima kasih, Andhi. Ini puding buah syrawberry, kan?"
Tebakannya tepat sekali.
Aku mengangkat bahu.
"Liat aja sendiri."
Dia tersenyum tipis.
"I will." (7)
Lelaki itu kemudian masuk ke ruangannya dan entah mengapa aku menatap punggungnya sampai punggung itu tak terlihat lagi karena pintu sudah ditutup.
Pagi ini aku mulai bekerja dengan membalas dan mengirim email lalu serangkaian pekerjaan lainnya.
Karena sibuk bekerja aku baru sadar waktu istirahat makan siang sudah tiba. Pak Ezhar keluar dari ruangan, tangannya menenteng kotak puding buahnya.
"Ini."
Tangannya terulur.
Aku meraih kotak itu.
"Terima kasih, pudingnya enak, saya suka."
Aku tersenyum.
"Alhamdulillah kalau bapak suka."
Bunyi langkah kaki mendekat membuat kami menoleh ke arah datangnya suara.
Seorang perempuan menenteng tas branded, memakai kemeja sutera berwarna merah dan celana berbahan kain mengilap berwarna hitam dengan rambut panjang tergerai berjalan menuju lelaki itu. Dia berhenti tepat di depan Pak Ezhar yang menatapnya dengan alis terangkat.
"Kamu telat!"
"Cuma sepuluh menit."
"Ya, sudah, ayo masuk!"
Mereka berjalan beriringan menuju ruangan lelaki itu.
Bukannya sudah istirahat makan siang?
Kenapa malah masuk ke ruangan lagi?
Aku terdiam menatap kotak di tanganku.
Pak Ezhar gak ada janji meeting dengan klien. Aku tahu betul karena aku sekretarisnya. Biasanya yang membuat janji langsung dengan Pak Ezhar adalah klien yang memang sudah lama bekerja sama dengan perusahaan ini atau anggota kelurga. Aku gak paham dengan sistem di perusahaan lain, tapi begitu kalau di sini.
Apa dia keluarga Pak Ezhar?
Aku rasa gak mungkin, bukannya semua anggota keluarganya sudah dikenalkan padaku?
1 = kurasa orang menginginkan yang orang lain punya
2 = pagi kakak, banyak banget barang yang dibawa, apa tuh?
3 = Jimin adalah laki-laki paling ganteng di seluruh dunia
4 = yang jelas bukan untuk Erika
5 = ini
6 = terima kasih, Kak
7 = aku akan (melihat sendiri)

Book Comment (191)

  • avatar
    PatimaPasayanti

    bguss

    02/06/2025

      0
  • avatar
    LinFer

    mantap

    31/05/2025

      0
  • avatar
    HsbAnggi

    suka banget

    31/05/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters