logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Bab 4 Sandiwara

Entah dari mana air matanya itu berasal? Kok bisa, tiba-tiba buliran bening berjatuhan di pipinya begitu saja.
Sedangkan aku? Jangankan untuk menangis, barang setetes pun tidak bisa kukeluarkan. Mataku panas penuh dengan kobaran api. Gigiku bergemeretak, ingin sekali menerkam wanita tidak tahu diri itu.
"Memang kesalahan apa yang mimi lakukan?"
"Mimi … mimi tadi ‘kan beresin baju kakak yang berantakan di lemari. Meski pun mami bukan pembantu lagi, tapi tetap saja sudah terbiasa bantuin Nyonya. Eh, maksudnya kakak," akunya tersedu-sedu. "Terus, mimi tergoda dengan kecantikan dress kakak yang ini, makanya mimi mencobanya. Maklum selama ini mimi belum pernah merasakan memakai baju bagus, apa lagi mahal. Nasib mimi tidak seberuntung kakak." Ia menunduk.
"Oh, cuma gara-gara baju doang?"
"Iya, pih. Mimi sudah bermaksud menggantinya lagi, tapi kakak keburu mengamuk. Tulisannya juga sangat menyakitkan. Kalau pipih tidak percaya cek saja tulisannya."
Hanan langsung mengecek dan membaca tulisanku tadi. Dia semakin salah paham.
“Mama, tolong jangan seperti ini. kalau mama cemburu sama Sumi, jangan melampiaskannya dengan cara membesar-besarkan masalah sepele.” Nadanya penuh penekanan.
Nafasku sudah tidak beraturan. “Bo, bo, bo!” teriakku.
“Mimi takut pih. Ucapnya sambil berlindung di punggung Hanan bak anak kecil. “Tadi, rambut mimi sampai dijambak-jambak. Kakak marah-marah, kursi roda jadi hilang kendali, terus menggelinding hingga menabrak dinding. lagi-lagi kakak menyalahkan mimi.”
“Mama, tolong hargai Sumi. Bagaimana pun sekarang Sumi--istri papa. Coba hidup akur, berdampingan dan harmonis layaknya kakak adik. Bukankah papa dan Sumi juga sudah berusaha menjaga perasaan mama? Setiap malam, Sumi merelakan papa tidur bersama mama. Apa masih kurang? Bahkan kami tidak pernah bermesraan di rumah ini, walau pun sangat menginginkannya.” Ujung penuturannya nyelekit ke ulu hati.
Barulah buliran bening menuruni hidung hingga dagu. “Pa, pa,” ucapku berat.
“Ya, ampun kakak menangis? Sudah pih, jangan salahkan kakak terus. Kasihan dia,” bela Sumi berdrama ria.
Ia mendekat, mengusap air mataku, lalu memelukku. “Maafkan aku kak, aku janji tidak akan berani memakai baju kakak lagi,” ujarnya.
“Sudahlah, mimi! Tidak usah minta maaf terus. Sekarang juga bergegas dandan yang cantik. Kita pergi ke Mall belanja baju yang mahal,” ajaknya dengan sudut mata terarah padaku.
Sakit? Tentu saja. Seperti ribuan panah melesat tepat di dada. Aku menyesal telah mengizinkannya menikah lagi. Namun, apakah Hanan akan menurut jika aku melarang? Mungkin saja di depan patuh, dibelakang dia bermain. Kuyakin itu lebih menyakitkan.
Tidak butuh waktu lama untuk Sumi berdandan. Karena polesan tebalnya masih menempel sempurna bekas dari arisan tadi.
“Kakak, aku pergi dulu ya.” Ia meraih punggung tangan kakanku lalu menciumnya. “Aku menang. Cepatlah sembuh, biar pertandingan kita imbang. Kurang seru bersaing dengan orang stroke,” bisiknya tajam.
Sementara Hanan menunggu di pintu. Ia mengacuhkanku seperti teguran supaya kumemperbaiki diri. Heh, dasar lelaki bodoh! Umpatku dalam hati. Sumi bergelayut manja di lengan suami sirinya sebelum hilang di balik pintu.
*
Bi Ipeh tidak henti-hentinya meminta maaf karena tidak bisa mengadukan kelakuan Sumi ke Hanan. Ia diancam Sumi akan dipecat. Karena gaji yang Hanan beri cukup besar. Bi Ipeh sangat membutuhkan untuk pengobatan anaknya yang sakit di kampung. Bagaimana pun kini Hanan mudah sekali dihasut. Tanda-tanda bucin mulai terlihat.
Malam kian larut. Tampaknya mobil Hanan baru sampai terparkir di carpot. Suara cekikikan Sumi nyaring melebihi tonggeret. Bahagianya menjadi Nyonya baru terpampang nyata.
Suara pintu diketuk keras. Ipeh berlari membuka kunci. “Bi Ipeh, sana bawain belanjaanku di bagasi mobil!” titahnya.
Aku memutuskan untuk berdiam saja di kamar. tidak rela rasanya melihat suamiku menghamburkan banyak uang untuk perempuan kampung itu. Hanan rupanya memutuskan untuk tidak tidur bersamaku malam ini. Segitunya dia percaya pada istri muda.
Kumohon, jika kamu terus lebih mempercayai Sumi, jangan salahkan jika kepercayaanku padamu juga terkikis. Lirih batinku.
*
Pagi tiba. Sinar mentari dengan mudah menerobos melalui jendela kaca. Seperti biasa Bi Ipeh akan menghangatkanku di depan teras yang menghadap timur.
Ingin rasanya aku bisa ke teras tanpa harus melewati ruang tengah dimana pintu kamar si Sumi berada. Sudah tahu ini akan membuat sakit, masih saja mataku memperhatikan pintu kamar yang tertutup itu. Pikiranku menjelajah isi kamar, membayangkan yang bergumul di ranjang.
Astagfirullahaladzim … kupijat-pijat pelipis yang semakin hari semakin sensitif dengan rasa PUSING.
"Sudah, Nyonya! Jangan diperhatikan. Yuk kita berjemur," ajak Bi Ipeh yang seolah hapal isi pikiranku.
"Ih, pipih, tunggu sebentar. Mimi haus nih," ujar Sumi yang menyembul dari kamar.
Rambutnya awut-awutan. Kancing atas piyama yang ia kenakan terlepas hingga menampakkan bagian dada bekas drakula. Sejak kapan drakula suka menggigit disitu?
“Mi, jangan lama-lama!” pinta Hanan setengah berteriak pada Sumi yang sudah ke dapur.
“Ehm,” deham Bi Ipeh.
Hanan pun menoleh. Riak mukanya langsung memerah dengan bahu terangkat.
“Eh, ada mama. Maaf, Papa semalam bukannya tidak mau izin, tapi takut mengganggu tidur mama soalnya sudah larut.”
Tanpa menggubris, aku beri kode Bi Ipeh untuk segera, membawaku ke teras. Hanan rupanya mengejar. Mengambil alih pegangan kursi roda dari tangan Bi Ipeh.
“Issh,” desisku.
Aku memejamkan mata merasakan hangatnya mentari menyapa. Hanan memijat-mijat ringan bahuku. Hari minggu, ia bisa bersantai karena libur ngantor. Kugerakan bahu sebagai tanda enggan disentuh. Gurat kemarahan tegas di wajah sembab ini.
"Ma, mama masih marah soal yang kemarin? Iya Sumi memang salah, dia sudah berani memakai barang mama. Tapi, ia tidak bermaksud apa-apa. Hanya spontan saja ingin mencobanya. Mulai sekarang papa pastikan tidak akan ada lagi barang mama yang dicobanya."
Jelas saja tidak akan coba-coba barangku lagi, karena semalam kamu sudah beliin dia begitu banyak barang. Dasar Ocang! (Baca dibalik). Gerutuku dalam hati.
Sesuai intruksi, semalam Bi Ipeh mengambil struk-struk dari kantong belanjaannya. Jika kuhitung, totalnya mencapai dua puluh lima juta. Bahkan ada sandal dengan harga tiga juta lebih, padahal sandalku paling mahal hanya satu jutaan saja.
Kukeluarkan gawai di saku. Kusentuh huruf demi huruf. Meski kadang gerakan jariku tidak tepat dan menimbulkan typo, tapi Hanan cukup pintar untuk mengerti apa yang dimaksudkan.
“Sayang, kamu bercandakan? Ini tidak serius. Papa mohon jangan! Maafkan papa jika bersalah. Sungguh papa bisa gila,” brondongnya sambil menankup kedua pipiku.
*
Apa ya yang disampaikan Mayda di gawainya? Sehingga membuat Hanan ketakutan.
Jangan lupa tap like dan komen.

Book Comment (102)

  • avatar
    GustianiSheila

    bagus 👍👍👍👍😘

    26/07

      0
  • avatar
    Supriadi Anglinggdarma

    enk banget main novelah

    28/04/2025

      0
  • avatar
    HokiSlamet

    sebenarnya dlm suatu rumah tangga,ikrar janji dlm pernikahan,kalo boleh sy bilang penikahan adalah sehidup semati, singkat cerita,jangan karna istri lumpuh,suami mau nikahi wanita lain, kalo kita kembalikan seandainya suaminya yg lumpuh perasaan suaminya gimana kalo sang istri mencari laki2 lain,jadi dlm pernikahan ,introspeksi & koreksi diri & tidak boleh Egois🙏

    10/01/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters