logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Bab 3 Mulai Melunjak

Hah, high heel yang ia kenakan seperti punyaku. Kenapa dia tidak izin? Apa dia lupa? “Uh,” tunjukku.
Dia hanya menoleh dan mengulas senyum lebar tanpa memperlihatkan deretan gigi. Kemudian melambaikan tangan seraya mengerlingkan mata.
Bikin gemes deh, jadi pengen nampol!
*
Aku sudah tidak sabar menunggu si Sumi pulang. Sudah kusiapkan coretan peringatan untuknya dengan tinta merah.
“Maaf, lain kali kalau mau pinjam barang izin dulu." Tulisku.
Ah terlalu sopan dan lembek. Aku tidak mau terkesan lemah. Kuganti lagi tulisannya menjadi, "Saya tidak suka, kalau ada orang yang memakai barang milik saya. Apa lagi tanpa izin. Termasuk kamu!" Tegasku dengan tinta.
Ah, kurang tajam perasaan. "Kalau sudah dikasih hati, jangan minta ginjal. Paham?” kutulis kuat-kuat.
Sepertinya nanti si Sumi hanya akan menggelengkan kepala, deh. Aduh, ribet banget sih, bacot dengan tulisan. Gerutu batinku.
Lamat-lamat terdengar suara tangisan dari arah luar. Ternyata Sumi kembali pulang dengan berurai air mata. Dia main slonong saja, masuk tanpa salam atau apa gitu. Eh, aku yang sedari tadi duduk di ruang tamu menanti kepulangannya hanya dilewat begitu saja.
Blug! pintu kamar ia banting. Sepertinya kesal banget. Tapi ada apa ya? Ya elah, lalu bagaimana nasib tulisan yang sudah aku persiapkan dari tadi.
“Nyonya, waktunya istirahat,” ujar Ipeh, asisten pengganti Sumi.
Dia membawaku ke kamar dan membantu membaringkan. Dari pada pusing mikirin tingkah madu kampung itu, mending tidur saja, tenangkan pikiran.
“Terimakasih,” ucapku pada Ipeh di selembar kertas.
Ipeh mengangguk sambil tersenyum. Ia berlalu dari kamarku. “Saya, izin keluar dulu ya, Nyonya. Kalau ada apa-apa telpon saya.” Pamitnya setelah mendekatkan gawai ke bantalku.
Baru saja alam sadar ini melayang, aku langsung terperanjat karena mendengar suara berisik dari ruang tengah. Sesekali gelak tawa terdengar menggelegar.
“Hahaha ….” Entah tawa milik siapa itu.
Kebisingan memancingku untuk mengetahui ada siapa gerangan di sana. Niat hati meraih kursi roda, aku malah tersungkur ke lantai. Jadinya ngesot sajalah. Aku melakukannya hingga batas pintu. Dari pintu yang terbuka sedikit, aku bisa melihat di ruang tengah ternyata lagi berkumpul Sumi dan gengnya. Apalagi kalau bukan persatuan pembantu kompleks.
“Sumpah! Gua illfeel pada tuh bu RT dan ibu-ibu,” ungkap Sumi.
“Memang kenapa?” tanya temannya.
“Masa, gua dikatain Mak Enok?" Dengkusnya.
“Siapa Mak Enok?"
“Itu lho, tokoh norak yang ada di sinetron tukang bubur naik haji. Masih ingat nggak?”
"Sinetron kapan itu? Aku lupa."
“Oh, gua tahu, yang suka memakai perhiasan banyak ‘kan? Haha … lagian sih, semua emas lu pakai."
“Biar pada tahu kalau gue itu sekarang sudah menjadi kaya,” selorohnya.
“Aduh, perut gue lapar bosqu,” temannya memegang perut.
“Oh, tenang-tenang. Kalian mau makan apa?” tanya Sumi sambil memainkan gawainya. “Pilih mau apa? Bebas,” titahnya seperti memperlihatkan aplikasi pesan antar makanan.
“Wah, beda ya kalau sudah jadi Bos mah. Aku mau yang ini. soalnya suka ngiler kalau si juragan makan ginian.”
“Kalau gua yang ini saja lah.”
“Nah, kalau Lu?” tanya Sumi pada temannya yang sedang kebingungan.
“Apa saja yang penting mahal. Wkwk …,” sahutnya.
“Siap. Nih gua sudah pesankan ya. nah sekarang sambil menunggu makanan datang, tolong fotoin dulu ya,” pinta Sumi.
“Tunggu-tunggu! Bajunya kurang ok. Tidak seperti Nyonya besar. ganti-ganti!” usul temannya.
"Ya, tunggu dulu. Gua punya ide." Kemudian Sumi berjalan ke arah kamarku. “Eh, ada yang ngintip rupanya? Haha, istri tua yang solehah lagi ngapain sih?” godanya sambil mencubit pipiku.
Seketika teman-temannya itu terdengar kasak-kusuk dan cekikikan.
“Hmm,” geramku.
Aku hampir tidak percaya dengan yang kulihat barusan. Sikap dan gaya Sumi benar-benar mengejutkan.
“Ih, atut. Marah ya? jangan marah kakaku sayang, nanti tambah kelihatan tuanya.” Senyumnya menyeringai.
Ia melangkahiku begitu saja yang sedang duduk berselonjor tidak jauh dari pintu kamar. Lemari menjadi tujuannya. Diambil beberapa baju yang biasa aku kenakan jika ada acara-acara penting.
“Nya,nya,nya …,” racauku.
“Pinjem sebentar ya sayang,” ucapnya.
Tanpa malu, ia langsung berganti baju di hadapanku. Karena ukuran tubuhku yang lebih kecil darinya, membuat baju kesusahan masuk.
Wek, dress yang dipaksa ia pakai sampai sobek bagian sisi pas pahanya.
“Iii ….” Kesal ke ubun-ubun.
“Ups, sorry.”
Tanpa peduli denganku, Sumi langsung bergegas melanjutkan foto-foto bersama temannya. Berbagai pose centil berbalut bajuku ia unggah ke media sosial. Setelah puas jeprat-jepret, ia kembali ngerumpi sambil makan makanan yang telah dipesan. Mulut-mulut itu penuh dengan makanan dan bacot tiada henti. Semoga saja mereka keselek. Harap hatiku.
“Uhuk, uhuk.” Ucapanku menjadi kenyataan.
“Pelan-pelan dong. Dasar jarang makan makanan enak ya? Sampe keselek gitu. Makanya nanti sering-sering main ke rumah gua,” ajaknya.
Hah, rumah gua? Sejak kapan ini rumah jadi rumahnya? Awas ya, aku akan beri perhitungan. Gertak batinku.
Mereka pun kini sudah bubaran. Bi Ipeh juga sudah pulang dari luarnya. Dia mendorong kursiku menuju si Sumi yang sedang berleha-leha depan Tv.
Kulempar dengan sebelah sandal capit. Tapi tidak tepat sasaran. Hanya membuatnya terkejut saja.
“Ih, apaan sih istri tua?” deliknya.
“Ini baca!” Bi Ipeh menyodorkan tulisanku.
“Akan kuadukan semua sikapmu yang makin hari makin tidak tahu diri itu. kupastikan tidak akan lama lagi, kamu akan menyandang status janda kembali.”
“Kakak mengancam?” dia mendekat dan mencolek hidungku.
Kumenarik drees yang masih ia kenakan. Hampir saja ia terjatuh. Keseimbangannya kuat juga ternyata.
"Tolong jangan melampaui batas kesabaran Nyonya besar," ucap Bi Ipeh.
"Oh, sudah berani melawan majikan?"
"Bukan begitu nyonya muda. Tapi saya kasihan sama nyonya besar. Ia ‘kan sedang sakit. Kita harus menjaganya dengan baik."
“Kita? Kamu saja Ipeh. Aku ini bukan pembantu, tapi majikan," ujarnya sambil mentoyor dahi Ipeh.
Rambut Sumi yang terurai, aku tarik saja sekencangnya.
“Aw," jeritnya. “Kakak ngajak gelut ya?” tanyanya sambil mendorong kuat-kuat kursi roda hingga menabrak dinding dan kepalaku terjedot.
“Keterlaluan,” teriak Ipeh dan memburuku.
“Assalamualaikum,” Hanan rupanya sudah pulang.
Drama dimulai. Aktingnya setara dengan Elsa pemeran tokoh antagonis sinetron yang sedang booming di stasiun RC**.
“Tolong hentikan, Kak! Sudah cukup!” teriak Sumi yang menekuk tubuhnya di lantai.
“Ada apa ini?” tanya Hanan mengernyitkan dahi.
"Pih, sudah pulang? Tidak ada apa-apa pih. Semua ini salahku," akunya palsu dan terisak.
Entah dari mana air matanya itu berasal? Kok bisa, tiba-tiba buliran bening berjatuhan di pipinya begitu saja.
Sedangkan aku? Jangankan untuk menangis, barang setetes pun tidak bisa kukeluarkan. Mataku panas penuh dengan kobaran api. Gigiku bergemeretak, ingin sekali menerkam wanita tidak tahu diri itu.
*
Tinggalkan jejak tap love dan komen. Terimakasih .

Book Comment (102)

  • avatar
    GustianiSheila

    bagus 👍👍👍👍😘

    26/07

      0
  • avatar
    Supriadi Anglinggdarma

    enk banget main novelah

    28/04/2025

      0
  • avatar
    HokiSlamet

    sebenarnya dlm suatu rumah tangga,ikrar janji dlm pernikahan,kalo boleh sy bilang penikahan adalah sehidup semati, singkat cerita,jangan karna istri lumpuh,suami mau nikahi wanita lain, kalo kita kembalikan seandainya suaminya yg lumpuh perasaan suaminya gimana kalo sang istri mencari laki2 lain,jadi dlm pernikahan ,introspeksi & koreksi diri & tidak boleh Egois🙏

    10/01/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters