💔💔💔 Dret, daun pintu kubuka. Seketika ada pemandangan yang membuat tubuhku bergetar, tangan mengepal, dan hangat terasa cairan keluar menuruni betis. Kubergidik! Dua insan tertidur pulas berbalut selimut. Kedua bahunya telanjang. Kuyakin sampai ujung kakinya pun pasti telanjang. Kenapa? Karena pakaiannya berserakan di lantai. Katanya tidak akan melakukannya secepat ini bla bla bla, cuih dasar lelaki. Gerutuku dalam hati. Kumundurkan lagi kursi roda meninggalkan mereka yang tidak menyadari kedatangan Nyonya besar. Netra menatap foto pernikahan kami yang berbaris di dinding menambah pilu batin. “Hu, hu, eh, euh ….” Mencong-mencong tanpa bisa berkata. Ingin kuberteriak, memaki keadaan. Namun, kutak bisa. Bukan karena kumenahan segalanya dan berlagak menjadi istri tua yang soleh. Karena daya yang kumiliki hanya sebatas tangisan. Kumemaku diri di depan cermin. Menangkap sosok diri yang begitu rapuh dan lemah. Sungguh malang juga menyedihkan. Bayangan lain muncul di sana. Bukan setan atau demit. Melainkan Sumi, maduku dengan rambut panjang tergulung sembarang. Leher jenjangnya menampakkan jejak merah-merah di beberapa titik. "Nyonya, yuk kita ganti baju dulu ya," ajaknya lembut. Kenapa dia tiba-tiba mengajak ganti baju? Padahal aku belum dimandikan. Kumenunduk memandangi celana piyama yang kukenakan. Eit, basah! Oh, ya ampun baru sadar kalau aku tadi cari Sumi karena kebelet buang air kecil. “Umm ….” Entah apa yang ingin kusampaikan. “Iya, Nyonya?” dahinya mengernyit. Kenapa dia tidak membahas apa yang telah terjadi? Kalau dia tahu aku mengompol, berarti ada ceceran air seni di kamarnya. Artinya dia tahu juga dong kalau aku telah menyaksikan sesuatu. Kutunggu sebuah penjelasan, tapi tak kunjung kudapatkan. Sudahlah! Mungkin dia malu dan takut Nyonyanya marah. Tanganku yang sedari mengepal perlahan merenggang. Sebelum mengenakanku dengan celana ganti, ia melap dulu bagian tubuh yang pastinya bau pesing. Seperti biasa tanpa canggung atau pun risih. “Eh, istri papa sudah mandi rupanya? Hanan tiba-tiba muncul berbasa-basi. Kukeluarkan buku kecil dari saku baju. Dengan cepat kutulis, "Istri papa yang mana?" “Ya, mama lah, Mayda Safitri.” Ia bahkan menyebutkan namaku seraya garuk-garuk kepala. “Nyonya, saya buatkan sarapan dulu ya,” ucap Sumi. “Sayang, kok masih panggil ‘Nyonya’? ‘kan sudah Pipih bilang, mulai sekarang mimi panggil Nyonya ‘kakak’ saja,” tegas Hanan membuatku ingin oek oek. Pipi? Mimi? Heh, panggilan macam apa itu. Sinisku dalam hati. “Iya, pih,” sahut Sumi tersipu kemudian pamit ke dapur. Hanan mendorong kursi roda dan membawaku ke teras rumah. Ia jongkok dan menggengam tangan ini. “Ma, tadi apa mama masuk kamar Sumi?” tanyanya agak gelagapan. Mulut mencongku komat kamit. Maksud hati ingin protes, yang keluar malah racauan tidak jelas. "Uh, ah, argh, ba, ba, ba …." Kesalnya luar biasa pemirsa. “Tadi, Sumi sempat bilang sepertinya mama masuk kamar. Soalnya ada air menggenang di lantai. Pas Sumi cium, ternyata bau pesing. Jadi papa juga menyimpulkan kalau mama sudah melihat kami nganu, apa ya?” Lagi-lagi ia menggaruk kepala. Tangan kananku mengepal dan kupul-pukulkan pada pegangan kursi roda. Mulutku mengatup rapat disusul nafas yang tersengal-sengal. “Mama dengarkan dulu penjelasan papa. Awalnya papa, memang tidak bermaksud melakukannya seperti yang telah papa sampaikan semalam. Tapi, Sumi menggoda papa, jadi ya papa tidak kuat menahannya," akunya tanpa malu. "Ehm," deham Sumi tiba-tiba dengan dua cangkir di nampan. “Saya, tidak menggoda pipih. Saya hanya mencoba lingeri yang si Inem kasih kemarin. Kebetulan saja pipih masuk kamar,” jelas Sumi sambil menyimpan nampan di meja. “Silahkan diminum,” lanjutnya. “Oh, iya-iya. Maksud pipih juga seperti itu," timpal Hanan. Ngapain juga melipir ke kamar Sumi? Katanya mau menemaniku sampai pagi. Baru saja semalam memberi madu, sudah mulai mengobral janji. Huh! Bibirku mengerucut. Sumi dengan cepat pergi ke dapur lagi. Aku akui, meski wajah Sumi biasa saja, tapi ia memiliki tubuh bak biola spanyol. Tidak ada lemak menumpuk di perutnya meski sudah memiliki anak tiga. Dia juga terlihat energik dan selalu fresh. Suami mana yang tidak tergoda saat istri mengenakan dress tipis menerawang di malam pertama. * Sudah tiga bulan Sumi menjadi maduku. Sejauh ini dia masih bersikap baik layaknya ART dan istri kedua yang loyal. Hanan dan Sumi tidak pernah lagi melakukan hubungan suami istri di rumahku. Hanya saja mereka sering pamit pergi berdua setiap akhir pekan. Mungkin waktu itulah mereka memuaskan uwu-uwu. “Ma, bagaimana kalau kita cari ART lagi? Kalau dipikir-pikir, kasihan Sumi harus mengurus rumah juga mama. Padahal ‘kan sekarang status dia madu mama, bukan pembantu,” usul Hanan. Iya ya kasihan juga Sumi. Pikirku. Aku pun mengangguk tanda setuju. Tidak menunggu lama, tiga hari sesudah Hanan minta izin, pembantu baru sudah kami dapatkan. Awalnya Sumi menolak karena merasa tidak enak. “Mengurus rumah dan kakak sudah menajdi kewajiban saya,” tandasnya. Hanan terus memaksa dan memeberi pengertian pada istri keduanya itu. Ia hanya ingin menjadi suami yang adil. Dan tidak sepantasnya seorang istri diperlakukan seperti pembantu. Tugas istri itu menurut dan melayani suami. Pernyataan terakhir Hanan cukup membuat pipi Sumi merona. Karena sudah terbiasa perlahan rasa cemburu yang selalu membakar hatiku tidak terlalu berkobar. Berusaha berdamai dengan hati dan keadaan. Aku tidak mau sesak selamanya. “Kak, aku pamit ya. Mau ke arisan dulu di rumah Bu RT,” izinnya. Sekarang gaya berbicaranya sesantai itu padaku. Dandannya glamor, seperti toko mas berjalan. Kumaklumi saja, mungkin karena selama ini ia tidak pernah merasakan memakai pakaian mahal dan perhiasan asli. Pernah, Sumi bercerita waktu di kampungnya dulu, kalau mau hadiri kondangan ia akan memakai perhiasan imitasi yang dibeli dari pasar. Lucu memang mantan tetanggaku itu. Deso, polos. Hah, high heel yang ia kenakan seperti punyaku. Kenapa dia tidak izin? Apa dia lupa? "Uh!" tunjukku. Dia hanya menoleh dan mengulas senyum lebar tanpa terlihat deretan giginya. Kemudian melambaikan tangan dengan mata mengerling. Gemes deh maduku, jadi pengen nampol!!! * Tinggalkan jejak dengan koment terimakasih .
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 21 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (102)
GustianiSheila
bagus 👍👍👍👍😘
26/07
0
Supriadi Anglinggdarma
enk banget main novelah
28/04/2025
0
HokiSlamet
sebenarnya dlm suatu rumah tangga,ikrar janji dlm pernikahan,kalo boleh sy bilang penikahan adalah sehidup semati, singkat cerita,jangan karna istri lumpuh,suami mau nikahi wanita lain, kalo kita kembalikan seandainya suaminya yg lumpuh perasaan suaminya gimana kalo sang istri mencari laki2 lain,jadi dlm pernikahan ,introspeksi & koreksi diri & tidak boleh Egois🙏
bagus 👍👍👍👍😘
26/07
0enk banget main novelah
28/04/2025
0sebenarnya dlm suatu rumah tangga,ikrar janji dlm pernikahan,kalo boleh sy bilang penikahan adalah sehidup semati, singkat cerita,jangan karna istri lumpuh,suami mau nikahi wanita lain, kalo kita kembalikan seandainya suaminya yg lumpuh perasaan suaminya gimana kalo sang istri mencari laki2 lain,jadi dlm pernikahan ,introspeksi & koreksi diri & tidak boleh Egois🙏
10/01/2025
0View All