logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 8 Ancaman dari Masa lalu 2

" Ini serius, aku dibayar sepuluh juta, aku kira aku hanya menerima tiga juta dari menata rambut dan dua juta dari peragaan busana. Kenapa banyak sekali? Mbak anggap aku bayar sewa tempat tinggal selama ini. Ini lima juta buat kamu mbak, aku sudah merepotkanmu." Fulfi mencoba membalas kebaikan mbak Galdin.
" Nggak usah Fi, buat tabungan kamu saja!" Ucap mbak Galdin menolak.
" Mbak Galdin jika aku punya orang tua. Aku pasti akan memberikan ini untuk kedua orang tuaku. Tapi karena aku hidup tanpa orang tua. Ku mohon terimalah mbak! Aku sudah menganggapmu keluargaku sendiri." Fulfi tetap memaksa mbak Galdin menerimanya.
Mbak Galdin meneteskan air mata
" Ya Tuhan sayang, terimakasih. Aku tahu kamu akan selalu menjadi wanita yang sangat baik. Sampai aku mati aku janji akan terus merawatmu dan tidak akan meninggalkanmu." Mbak Galdin memmeluk Fulfi.
"Jangan kenceng-kenceng mbak peluknya! punggungku masih sakit." Kata Fulfi sedikit meringis.
"Maaf sayang." Mbak Galdin melepaskan pelukannya.
Fulfi hanya tersenyum masih menahan nyeri dipunggungnya.
Tiga hari kemudian kondisi Fulfi semakin membaik walaupun belum semua lukanya mengering. Fulfi perlahan-lahan sudah bisa menegakkan punggungnya.
"Mbak, aku sudah kangen masuk kerja." kata Fulfi sambil melihat ke Jendela.
"Sabar sebentar ya Fi, kata dokter kan satu minggu kamu sudah boleh pulang. Ini baru tiga hari lo." ucap mbak Galdin sambil menyuapi bubur ke Adi.
"Baiklah aku menurut." kata Fulfi sambil memijat kedua kakinya yang terasa pegal.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu.
"Thok, thok, thok" pintu itu terbuka.
"Hai Fulfi ... " Sapa kak Janet.
"Wah semuanya datang ke sini kak? Apa mereka libur kerja?" tanya Fulfi penasaran sambil menjabat tangan mereka semua.
"Ibu mengijinkan kami keluar sebentar selama satu jam untuk menjengukmu. Lihat itu bu Heny!" jelas kak Janet.
Bu Heny memeluk Fulfi.
"Bagaimana keadaanmu Fi? Apakah sudah baikan?" tanya bu Heny.
"Aku sudah membaik bu. Sebenarnya aku ingin pulang tapi dokter belum boleh." keluh Fulfi.
"Ikuti kata dokter saja Fi. Oh ya minggu depan ada kompetisi penata rambut, kamu dan Janet akan berpartisipasi. Tapi aku sangat berharap kamu sembuh ya Fi! Ibu juga ikut khawatir." kata Bu heny sambil membelai rambut Fulfi.
"Makasih bu. Aku pasti akan cepat sembuh!" kata Fulfi sambil tersenyum
Satu minggu telah berlalu
Pagi itu Fulfi sangat bersemangat untuk bekerja. Berdandan rapi dengan seragam salonnya dan berangkat.
sesampainya Fulfi di salon Bu Heny langsung memanggil Fulfi untuk segera keruanganya. Bu Heny menjelaskan mekanisme kompetisi dan apa yang harus di pelajari sebelum mengikuti kompetisi ini. Selama dua hari Fulfi berlatih segala macam model rambut. Bu Heny selalu memperhatikan Perkembangan Fulfi setiap harinya. Dia cukup tersenyum ketika melihat Fulfi tanpa lelah berlatih sendiri menggunakan boneka.
" Besok sudah hari H kompetisi. Apa kamu sudah siap Fi?" Tanya bu Heny.
"Sudah siap bu, aku sudah mengusai dua puluh lima model rambut seperti yang ibu ajarkan." Jawab Fulfi dengan mantap.
"Bagus kalau begitu. Besok sekitar jam delapan kita berangkat dari sini karena kompetisi akan diadakan sekitar jam sembilan." Informasi dari bu Heny.
" Baik bu."
Tidak terasa sudah Hari H kompetisi, Fulfi cukup gugup di hari itu. Berulang kali keringat dingin selalu membasahi tangannya.
"Fi, jangan Gugup. Nanti kamu nggak bisa maksimal. Tarik nafas dalam-dalam hembuskan!" Kata kak Janet yang sudah duduk disampingnya ketika di dalam mobil.
"Iya mbak aku berusaha untuk tidak gugup." Fulfi mencoba meyakinkan diri untuk tidak gugup.
" Fi, anggep bukan kompetisi. Seperti kamu kerja biasanya aja!" Tambah kak Janet.
"Siap Kak, aku akan mencoba!" Ucap Fulfi dengan mantap.
sesampainya di kompetisi, Fulfi berkeliling melihat banyak sekali peserta yang hadir disana. Mereka berdandan seperti sangat profesional. Membawa alat peragaan dan semua berlatih dengan serius.
"Para hadirin yang terhormat. Kita mulai saja kompetisi pada pagi hari ini. Untuk babak penyisihan awal, ribuan peserta akan disiapkan alat peraga seperti boneka dan perlengkapannya. Mereka akan di anjurkan menata rambut sesuai dengan tema. Tema dalam babak ini adalah " Rainbow " peserta wajib membuat penataan rambut sesuai tema. Jika tidak sesuai maka di jamin peserta tersebut akan kalah. Untuk itu silahkan bersiap di tempat yang sudah disediakan dan kita mulai Satu, dua, tiga !Kata MC memulai lomba ini.
Kak Janet dan Fulfi bersebelahan tapi mereka begitu serius dengan kreativitas masing-masing. Bu Heny hanya melihat mereka dari pintu samping.
'Aku ingin membuat kesan Elengan untuk karya yang satu ini.' batin Fulfi.
waktu semakin cepat berlalu, waktu seleksi pertama tinggal sepuluh menit lagi. Fulfi dan kak Janet sama -sama menyelesaikan bagian akhir dan memberi hiasan.
"Oke kita hitung mundur lima, empat, tiga, dua, satu! Babak pertama selesai."
Mereka berdua merasakan lega dan Juri yang terdiri dari dua puluh orang mulai menyebar dan memilih sekitar lima puluh orang saja yang nanti akan masuk ke babak kedua. Melihat ke layar hari itu siapa saja nama yang akan muncul untuk menjadi lima puluh besar.
terlihat kak Janet dan Fulfi sama -sama berdoa.
' Tuhan semoga aku masuk!' Fulfi terus memohon.
' Tuhan semoga masuk!' Kak Janet juga berharap hal yang sama.
Dan ....
" Yee! Kita masuk." Fulfi dan kak Janet berpelukan.
Melihat hal itu bu Heny terlihat sangat bangga.
"Selanjutnya adalah babak kedua, peserta akan di beri satu model. Kali ini modelnya adalah pria bukan wanita, Mereka semua memiliki rambut panjang, dalam babak ini peserta diberi keleluasaan untuk memotong rambut, mewarnai dan membuat para pria menjadi lebih ganteng dari biasanya. Setelah penataan rambut selesai. Para model Pria akan tambil di atas panggung dan juri akan menilai sesuai nama yang dipakai di baju para model pria. Apa kalian siap?" Tanya MC dari atas panggung.
Penonton riuh tepuk tangan dan mengucapkan
"SIAP!"
Kita Hitung bersama
"Lima, empat, tiga , dua ,satu. MULAI!"
Para Model pria berjalan sesuai urutan nomor peserta sehingga peserta tidak bisa memilih siapa pria yang akan mereka tata rambutnya. Fulfi tiba-tiba terkejut ketika Model Pria di hadapanya adalah orang yang dia kenal.

Book Comment (168)

  • avatar
    WahidaIdha

    bagus ceritanya.. sampai nangis terseduh seduh... terima kasih penulis, sudah mengingatkan untuk bersyukur, bangkit dan berjuang..

    06/03/2022

      5
  • avatar
    imBaim

    bagus

    6d

      0
  • avatar
    RecehLuru

    good

    6d

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters