Aku yang tengah menata dagangan di meja untuk kufoto, terkejut melihat Lisa yang tahu-tahu sudah berada di depanku dengan berkacak pinggang. "Mbak ngomong apa ke orang-orang!?" cetusnya menatapku garang. "A-apa?" aku yang kebingungan mencoba memahami ucapannya. "Mbak kalau mau dagang, ya dagang aja! Tapi jangan sambil jelekin keluarga suami, dong!" ungkapnya kesal. Aku mengerutkan kening, tidak paham apa maksudnya. Aku melirik ke ruang makan. Kulihat Ara tengah berdiri di balik lemari. Aku memberi isyarat padanya. Ia pun segera berlari ke lantai atas. "Gak usah pura-pura lugu, deh!" Lisa masih terus melancarkan tuduhannya. Kali ini ia melipat tangannya di depan dada. "Maksud Lisa apa ya? Mbak gak pernah menjelekkan keluarga ini. Lisa dapat info dari mana?" aku menatapnya lekat. "Halah!" Lisa mengibaskan tangan. "Ada yang bilang kalau Mbak jelek-jelekin mama sama mas Yudha! Mbak bilang mas Yudha gak pernah kasih nafkah sama Mbak. Mbak juga bilang mama pelit!" Aku terperangah. Aku merasa tak pernah membicarakan keluarga mas Yudha ke orang-orang. Kecuali, kepada Bik Imah. Itu pun tanpa kuberi tahu ia sudah sering menyaksikannya sendiri. Masa sih, bik Imah diam-diam menusukku dari belakang? "Memangnya Mbak dagang apa, sih? Untungnya juga paling gak seberapa!" ia memandang remeh daganganku. "Biar gak seberapa, yang penting Mbak gak minta uangmu!" balasku merasa tersinggung. Lisa mendengus kasar. "Akan aku adukan pada mas Yudha kalau Mbak udah ngomongin keluarga ini!" ancamnya. Aku yang sedari tadi terus diberondong dengan tuduhan lama-lama menjadi kesal. "Silahkan! Silahkan lapor sama mas Yudha! aku berteriak sambil balas berkacak pinggang. Biar sekalian aku tumpahkan kekesalanku dari tadi padanya. Kulihat ia agak terkejut melihat sikapku. Dipikirnya aku yang selama ini diam dan mengalah tidak bisa marah dan melawan? Lisa menghentakkan kakinya sebelum akhirnya berlalu dari situ. Aku jatuh terduduk di kursi. Kupegang dadaku yang terasa sedikit sesak. Kuhirup napas dalam-dalam untuk melonggarkan dada. Ara dan Alia tiba-tiba datang menubrukku. Mereka berdua memelukku sambil menangis. "Huhuhu ... tante Lisa jahat!" seru Alia. "Bunda gak papa?" Ara mengelus pipiku. Aku menggeleng, lalu memeluk erat kedua putriku tercinta. "Bunda, Alia minta maaf," ucap putriku Alia beberapa saat setelah tangisnya mereda. Gadis kecil yang wajahnya perpaduan antara wajahku dan wajah ayahnya itu menatapku takut-takut. "Maaf kenapa?" aku memandangnya heran. Alia melihat kakaknya. Ara menganggukkan kepala. "Tadi Alia dengar apa kata tante Lisa. Sebenarnya ... sebenarnya ... Alia menunduk sambil memainkan jari-jarinya. "Ngomong aja, Dek!" ucap Ara yang melihat adiknya masih ragu-ragu untuk bicara. "Sebenarnya kenapa Sayang?" aku mengusap rambut Alia. "Kemarin ... waktu lagi jajan di warung Pak De, Alia ketemu sama tante Yana." "Tante Yana?" Alia mengangguk. "Terus tante Yana nanya sama Alia, kenapa Bunda dagang." Aku mengernyit. "Terus?" "Terus Alia bilang aja kalo Bunda dagang buat uang jajan Alia sama uang sekolah. Kaya Bunda bilang." "Terus, tante Yana bilang apa lagi?" Jujur, aku merasa heran. Buat apa Yana tetanggaku menanyakan alasanku berdagang, dan kenapa pula ia bertanya pada anakku? Bukan langsung padaku. "Terus tante Yana tanya, memangnya uang dari Ayah gak cukup?" Aku terkejut. "Alia jawab aja uang yang dikasih Ayah masih kurang. Maafin Alia, Bun." Anakku mulai menangis lagi. Aku segera merengkuhnya. "Udah, ga papa sayang," bujukku menghentikan tangisnya. "Terus katanya, tante Yana juga nanyain Nenek. Apa Nenek suka kasih jajan?" Ara menyambung cerita adiknya. Aku yang mendengarnya tercengang. Jauh sekali Yana mencampuri urusan keluargaku. Apa maksud tetanggaku itu. Aku merasa geram. "Iya, Bund. Alia bilang aja nenek jarang kasih uang. Tapi aku ga bilang nenek pelit, Bund." Alia mengusap matanya. Aku menghela napas. "Ya udah, gak papa. Biar nanti Bunda ngomong sama tante Lisa." Aku kembali mengusap rambutnya. "Sekarang kita minum dulu, yuk!" Aku beranjak ke dapur untuk mengambil minum. Pertengkaran tadi cukup membuat tenggorokanku terasa kering. Aku membiasakan anak-anakku untuk banyak minum air putih biar sehat. Walau sebenarnya awalnya bertujuan untuk menahan rasa lapar yang kerap kami alami. Namun, akhirnya menjadi kebiasaan yang baik yang rutin kami lakukan. Setelahnya aku kembali duduk di ruang depan. Aku memikirkan Yana. Dia tetanggaku yang tinggal di RT sebelah. Dia juga masih saudara jauh dari keluarga suamiku. Selama ini aku bergaul cukup baik dengan wanita yang seumuran denganku itu. Walau kadang ada selentingan yang kudengar kalau Yana suka membicarakanku di belakang. Aku juga pernah mendengar kalau Yana dulu pernah menyukai mas Yudha. Entahlah, apa karna hal itu yang membuatnya suka membicarakanku di belakang. Padahal sikapnya baik-baik saja jika tengah mengobrol denganku. Sekarang aku tengah menimbang-nimbang apakah aku harus mengklarifikasi berita ini kepada Lisa. Mendengar keterangan dari Alia, sudah pasti Lisa mendapat info dari Yana. Karna yang kutahu, mereka kadang kerap mengobrol di WA. Namun, mengingat pertengkaran kami tadi, rasanya malas menemuinya. Tapi bagaimana jika ia benar-benar akan mengadu pada mas Yudha. Aku khawatir suamiku akan lebih mempercayai perkataan adiknya ketimbang aku, istrinya. Aku menghela napas. Sungguh, aku merasa lelah. Sejak aku tinggal di rumah ini, masalah seperti tiada habisnya. Bahkan, sejatinya masalah sudah dimulai sejak aku menikah dengan mas Yudha. Saat-saat seperti ini aku merindukan ayahku. Sepertinya hanya beliau saja satu-satunya orang di dunia ini yang benar-benar tulus menyayangiku dan ketiga anakku. Biasanya sebulan sekali tiap ayah menerima pensiun, ia akan menyuruhku dan anak-anak untuk mengunjunginya. Anak-anakku paling senang diajak ke rumah kakeknya. Karena hanya di sanalah mereka akan mendapat limpahan kasih sayang yang tidak mereka dapatkan di sini, di keluarga suamiku. Jika aku tidak sempat ke sana, maka ayah akan mengirimkan uang jajan untuk ketiga cucunya melalui rekening suamiku. Drtt ...drtt Ponselku bergetar. Kulihat ada pesan WA dari mas Yudha. Aku mengernyit. Suamiku jarang mengirim pesan jika sedang bekerja. Kubuka pesan darinya. [ Kamu ngomong apa sama Lisa!? ] Degh! Tanpa salam seperti biasanya, mas Yudha langsung menginterogasiku. Rupanya Lisa telah melaporkan pertengkaran kami tadi. Bisa-bisanya adik iparku itu mengadu di saat kakaknya tengah bekerja. Apa dia tidak bisa menundanya hingga mas Yudha pulang? Suamiku pun sama saja. Ia akan gerak cepat jika ada masalah yang menimpa adik dan keluarganya. [ Asaalammualaikum, Mas ] pesan balasan dariku. [ Maaf mas, nanti saja dibahas masalah ini nunggu mas pulang kerja ] [ Yang jelas, ada kesalahpahaman di sini ] Pesan beruntun kukirim pada suamiku. Pesanku langsung centang biru. Kutunggu beberapa saat, tapi tidak ada lagi balasan darinya.
ini seperti kisah hidupku thor😭
15/08/2022
0bagus jalan ceritanya ..
04/02
0nice
18/01
0View All