Kekecewaan yang menimpa diriku bertubi-tubi. Setelah seharian berjuang menembus jalanan, dan menanti hingga magrib, tapi apalah dayaku. Seorang laki laki bermotor dengan jaket hitam dan helm biru berhenti di depan gerbang. Tak lama Runi keluar di antara rumah komplek itu. Dan menuju pengendara kendaran roda dua tersebut. Ia duduk di boncengan. Lalu motor itupun melaju cepat. Aku tendang botol air mineral yang tadi kuminum isinya. Kekesalanku begitu dalam. Segera kunaiki motorku. Aku ingin pulang, melepas rasa lelah yang mendera jiwa ragaku. Malam ini aku tidur terlalu larut. Pikiranku berkecamuk, kuambil ponsel, lalu mencari nama Mas Arya, kakak kandung Seruni. Ku ketik chat padanya. "Mas, tolonglah biarkan aku bertemu dengan istriku. Aku tidak mau rumah tanggaku hancur." [Lah, kok ke saya. Bukan saya yang menahan adikku untuk bertemu denganmu, tapi memang dia yang tidak mau, bukan pula saya yang menghancurkan rumah tanggamu, tapi dirimu sendiri, kamu salah alamat.] "Kalau begitu Mas, bisakan bantu kami bersatu lagi? " Aku memohon padanya. [Ngapain bersatu, kalau ujungnya cerai lagi. Ingat kau sudah lebih dari 5 kali menceraikan adikku.] "Tapi Mas, tak sah ucapan cerai dengan emosi. Sedangkan aku menceraikannya dengan emosi." Kembali aku memberikan dalil-dalil yang menurutku benar. [Heh, bukan urusanku mau kau ceraikan dengan emosi atau dengan bercanda, yang jelas, kalau sudah berani bercerai harus berani menanggung resiko.] Hah, percuma. Kubanting ponselku di atas kasur. Apa yang harus aku lakukan, Tuhan? Beri aku petunjukMu! Coba kukirim pesan pada anak sulungku di pesantren modern. Kami memiliki 4 buah hati hasil dari pernikahan selama 20 tahun. Anak pertama berusia19 tahun, bernama Arman, anak kedua baru lulus SMA selisih satu tahun dengan kakaknya bernama Aron. Yang ke-3 bernama Arsan dia kelas 1 Tsanawiyah berada di pondok pesantren juga, hanya saja berbeda tempat, tetap di bawah satu naungan sebuah Organisasi terbesar di Indonesia dengan pesantren si sulung. Sedangkan si bungsu Alisa, masih kelas 4 SD yang sekarang bersama ibunya. "Arman, saat ini Ibumu mau bercerai dengan bapak, sedang bapak ingin kita tetap utuh selamanya. Bantu bapak ya, minta Ibumu agar tak bercerai. Kau tau 'kan perceraian itu dibenci Tuhan." Terkirim chatku, ini tengah malam kemungkinan dia masih tidur, tapi ternyata tidak. [ Iya Pak, Insyaallah akan saya sampaikan pada Ibu] Yes, anak yang berbakti. Aku sangat berharap kau berhasil nak. Anak kedua tidak mungkin kumintai tolong. Dia benar-benar musuh dalam selimut. Masak dia mau memukul bapak kandungnya sendiri saat dia kugampar karena menghalangiku menyeret ibunya pulang. Kutonjok juga wajahnya, hingga kaca matanya pecah. Hanya Aron yang selalu berani melawan kata-kataku kalau aku sedang melampiaskan emosi dengan ucapan kasar saat kehabisan uang. Lantaran begitu bencinya aku dengan prilakunya sering kukatakan padanya. "Kau tu lah ngabisin duit bapak, jika kau, dan adik adikmu mati, tak semiskin ini bapak." Biasanya mereka diam saja, tapi kali terakhir dia berani menjawab. "Kalau tidak mau punya anak, tidak mau keluar uang, Bapak tidak usah menikah." Wah, istriku saat itu terkejut Aron berani menjawab ucapanku. Aku saja tercengang, emosi makin memuncak nyaris kupukul dia tapi ditahan oleh ibunya. Nah, anakku yang nomer tiga Arsan dia hatinya lembut. Paling tidak bisa melawan, mudah ditekan. Sebaik besok lusa aku berkunjung saja ke pondok Arsan, akan kubuat dia tinggal bersamaku sampai ibunya mau kembali padaku. Entah jam berapa aku tertidur, ketika bangun sudah pukul 12.00 siang. Biarlah hari ini aku sedikit santai, hari Jum'at aku harus berangkat pagi menuju Lampung, Pesantren Arsan saat ini. ****
Satu minggu lagi sidang. Tujuh hari yang lalu aku benar-benar tidak melakukan apapun. Bahkan rencana hari Jum'at ke pesantren Arsan belum kulaksanakan. "Ma, minta uang tiga ratus ribu, aku mau ke Arsan. untuk membeli tiket kereta api, dan uang saku Arsan nanti," pintaku pada mama yang tengah nonton drakor. Tanpa berpikir panjang beliau segera beranjak dari duduknya menuju tas yang ada di gantungan baju. Tangannya mengambil 3 lembar uang merah dan menyerahkannya kepadaku. Ah Mama betapa baik dirimu padaku. Sebagai anak belum pernah aku melakukan sesuatu untuk membalas jasanya selama ini. Bahkan hingga umurku yang sudah memginjak kepala empat masih saja menadahkan tangan kepadanya. Entah mengapa sulit sekali mencari kerja yang sesuai dengan keinginanku. "Makasih, Ma," ucapku. "Ya, hati-hati," balas Mama. Kembali aku mengendarai motor, kali ini ke arah Kertapati, Stasiun Kereta Api. Segera kuparkir motorku sekalian aku titipkan pada tukang parkir, kukatakan padanya kalau aku akan kembali mengambilnya besok. Cuaca hari ini begitu panas menggelegak, sepanas otakku yang tidak berhenti memikirkan solusi rumah tanggaku. Kuteguk sekaligus isi botol air mineral yang tinggal setengah. Dahagaku terpuaskan, tapi tidak dengan dahaga jiwaku. Tiket keretaku terjadwal jam 17.00, lebih baik aku menunggu di Mushola dekat sini hingga jadwal keberangkatanku. Aku berwudhu untuk shalat dhuhur, tidak enak kalau hanya numpang duduk tanpa salat. Selesai salat, kujulurkan kedua kaki lurus-lurus. Tiba-tiba di sampingku duduk seorang laki-laki sebaya denganku. Ia memulai percakapan, mungkin untuk membuang rasa bosan. "Kemana, Pak?" tanyanya basa-basi. "Ke Lampung! " jawabku sekedarnya. "Saya juga ke Lampung." Lalu mulailah kami bicara panjang lebar. Ia seorang tukang bangunan yang merantau dari pulau Jawa. Karena di wilayah tempat tinggal keluarganya sangat sedikit upah seorang tukang, makanya dia memilih bekerja di pulau lain. Dari dulu hingga sekarang tidak pernah terpikir olehku untuk merantau ke kota lain. Aku enggan meninggalkan rumah mama. Aku tidak ingin meninggalkan zona nyaman, tempat semua kebutuhanku terpenuhi tanpa harus bekerja. Apakah aku laki-laki yang kurang bertanggung jawab? Aku rasa tidak, buktinya selama 20 tahun bersamaku, anak-anak dan istriku tidak ada yang mati. Aku tidak mengerti mengapa Runi mempermasalahkan ucapan ceraiku.Padahal bertahun-tahun sebelumnya dia selalu mau kuajak kembali meskipun aku bilang cerai. Kadang kala aku berpikir apakah dia menyukai laki-laki lain, sehingga menganggap kata ceraiku serius. Akan tetapi tidak kutemukan gelagat mencurigakan darinya. Saat pikiranku berkecamuk, tidak terasa pria di sampingku sudah tidak lagi duduk di sampingku. Aku segera beranjak ke teras dan mencari duduk di luar. Mulutku terasa asam, kuambil bungkus rokok di saku sebelah dada kiriku, lalu menyulutnya satu dengan korek api yang selalu kubawa.Kuhisap dalam-dalam, lalu kuhembuskan asapnya perlahan. Tiba-tiba mataku terpaku pada seorang wanita berkaos biru lengan pendek dipadu dengan celana jeans, lekuk tubuhnya, cara berpakaian, dan cara berjalannya membawaku pada ingatan masa lalu.
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 22 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (216)
Gondo KusumaYuliawati
bagus , kesabaran Runi ada batasnya dari suami yang mau menang sendiri dan salah asuhan ortu...
bagus , kesabaran Runi ada batasnya dari suami yang mau menang sendiri dan salah asuhan ortu...
08/04
0hasil kakak ini slalu bagus lho 😍
05/03/2025
0Terima kasih telah mengikuti kak
16/04/2024
0View All