logo
logo-text

Download this book within the app

Bab 3

Aku bangun saat adzan subuh berkumandang, jika kalian mengira aku terbangun untuk shalat subuh, maka salah besar. Ibadah itu sudah lama kutinggalkan. Sejak 10 tahun yang lalu, saat aku mulai mengenal Karin si cantik bertubuh sintal selingkuhanku. Ditambah lagi teman-temanku mengajakku melakukan hal-hal baru yang membuatku ketagihan. Rusak bener deh hidupku, untuk apa coba aku salat.
***
Kata istriku, noda-noda hitam di hatiku semakin banyak. Sehingga memenuhi seluruh ruang hatiku, sampai tidak bisa lagi melihat kebaikan, dan terlalu nyaman dengan maksiat. Ish, sok suci dia. Padahal mana bisa dia masuk surga kalau dia mati tanpa ridhoku.
Kubilang padanya waktu itu, "percuma kau salat, puasa dan sedekah kalau aku tak ridho tak akan kau masuk surga."
Hebat bukan aku, aku bisa melakukan semua kemaksiatan meskipun istriku menangis darah mencegahku kalau aku marah kelar hidupnya. Tidak akan dia masuk surga, padahal dia tidak melakukan semua kemaksiatan yang telah aku lakukan, cukup dengan tidak mendapat ridhoku, hilang sudah harapannya.
Rupanya kata-kataku berpengaruh juga. Salatnya mulai bolong bolong. Hanya saat di rumah ibunya dia rajin salat. Ketika kutanya mengapa sekarang sering tidak salat.
Eh dia jawab, "bukankah Kakak yang bilang percuma, karena kakak tak bakal meridhoiku, Kakak ingin aku masuk neraka bukan?" jawabnya dingin.
Wah saat itu batinku tertawa mendengar jawabannya. Akan tetapi saat dia mulai mengiyakan talaqku, dia mulai rajin salat, rajin puasa, dan konsisten menutup aurot.
Dia berkata, "Kakak, memperburuk agamaku, pernikahan ini tidak baik dan harus segera berakhir. Untuk apa bertahan dengan Kakak kalau tujuan Kakak memasukkan aku ke neraka?"
Dari mana coba dia berpikir seperti itu.
Padahal aku pernah baca sebuah artikel yang ditulis seseorang bahwa wanita yang dicerai hidup itu haram dinikahi. Bukankah itu menunjukkan janda dicerai hidup sangat buruk. Apa dia tidak takut jadi janda padahal suaminya masih hidup.
Seharusnya sebagai istri harus sabar bertahan dan berusaha mendapat ridhoku dan terus berdo'a agar aku berubah. Asiyah saja sabar, padahal Fir'aun sangat kejam sampai membunuh ratusan orang termasuk istrinya.
Ketika aku bilang padanya untuk bertahan seperti Asiyah, eh dia malah bilang begini, "Kak, perbandingan Kakak dengan Fi'aun itu bukan aple to aple, bukan bandingan yang tepat. Karena Fir'aun jelas kafir sedang Kakak muslim. Saat Asiyah masih seagama dengan suaminya, ia diperlakukan dengan baik layaknya ratu, dia disiksa bukan karena telat bikinin kopi, tapi karena ikut agamanya Musa as. Sedangkan Kakak muslim, seagama denganku tiap kali marah omongannya cera-cerei melulu, neraka melulu yang dibawa. Kalau Kakak ingin masuk neraka silakan, saya menolak ajakan Kakak masuk neraka."
"Tujuan menikah itu untuk ibadah dekat dengan Allah, tapi apa yang Kakak katakan agar aku meninggalkan salat, Kakak bilang percuma bukan? karena Kakak tidak akan meridhoiku."
"Kakak tahu betapa putus asanya aku saat mustahil mendapatkan ridho suami, sementara perbuatanmu berzina, mabuk dan judi tak pernah berhenti. Ridho seperti apa yang aku dapatkan dari seorang pria yang hobi maksiat?"
Saat Runi mengatakan semua itu, aku tak bisa berkata-kata lagi.
***

Ah sudahlah mengingat semua itu hanya membuatku makin terpuruk. Sekarang yang harus aku lakukan berjuang mempertahankannya.
Jam 05.30, aku segera mandi. Tujuanku hari ini membuntuti istriku, jadi harus lebih awal dari kemarin. Sarapan nanti saja, jika sudah tahu tempat di mana dia bekerja saja.

Motorku melaju dengan kecepatan tinggi menuju persimpangan kelurahan Serayu. Aku menerobos jalanan yang masih lengang, udara pagi menerpa wajahku. Hanya butuh waktu 15 menit, aku sampai pada tujuan.
Dari balik halte bis di seberang jalan rumah mertuaku aku mengawasi. Tak butuh waktu lama, sosok target terlihat keluar rumah sambil menenteng tas kecil dengan menggunakan pakaian syar'i menuju jalan raya di depan rumah. Dari sebelah selatan terlihat angkot berwarna orange melaju, dan berhenti tepat di depan istriku. Dan kembali bergerak setelah ia masuk.
Dengan sigap kukendarai motorku mengikuti agkot tersebut, lalu berhenti di simpang 4 daerah pasar Raya. Ia keluar ganti memasuki angkot berwarna hijau. Sepuluh menit kemudian kendaraan berhenti di Komplek Perkantoran Pajak. Kok bisa, istriku hanya lulus SMA, umurnya pun di atas 40 tahun, manalah mungkin kerja di perpajakan.
Coba aku tanya orang sekitar. Di bawah pohon dekat gerbang ada penjual siomay.
"Eh Mang, jam berapa mereka pulang kerja?" tanyaku sambil menunjuk Komplek tersebut.
"Jam 4 sore, Pak, " jawabnya.
"Oh, jam 4 sore, nanti saya balik lagi, mau jemput istri." Lalu aku berbalik.
Perut terasa lapar, sebaiknya segera sarapan, saja lalu pulang.
Pukul 16.00, aku sudah berada di Komplek Perkantoran Pajak. Gerbang sudah dibuka, segera aku temui satpam.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya satpam ramah.

"Pak lihat wanita dengan baju tunik lengan panjang berwarna merah bata, pakai rok hitam berjilbab? Kira-kira orangnya sudah keluar belum?" tanyaku penuh selidik.
"Bapak punya hubungan apa dengannya?" Kembali bapak berseragam putih ini bertanya.
"Saya suaminya, Pak!" balasku dengan suara yang kubuat seramah mungkin agar tidak dicurigai.
"Nama istri bapak siapa?"tanya dia lagi.
"Seruni pak, panggilannya Bu Runi!"
Setelah kujawab, Pak Satpam otak-atik angka telepon di posnya, terdengar dia bercakap cakap dengan seseorang.
"Maaf Pak, Bu Runi tidak bersuami, sebaiknya Bapak pergi dari sini sebelum saya usir," ucapnya tegas penuh penekanan.
Mendengar itu, darahku mendidih, wajahku memanas. Aku merangsek dua satpam yang berusaha menghalangiku.
"Kalian tak punya hak menghalangiku, aku suaminya, sampai kapanpun dia adalah istriku!" teriakku penuh kemurkaan. Akan tetapi tubuh kurusku terjerembab mendapat perlawanan dari mereka berdua yang berbadan kuat. Aku segera bangkit, dan kembali berusaha sekuat tenaga melangkah maju. Kedua satpam itu dengan sigab menahan dadaku dan memegang kedua tanganku, lalu menyeretku keluar gerbang.
Aku frustasi, dengan gusar akhirnya kuputuskan menunggu di luar, entah seberapa lama dia di dalam, aku akan tetap di sini meskipun sampai malam. Kukeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya untuk meredam emosiku yang kian memuncak.
Satu jam berlalu, tapi istriku tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Hah, yang benar saja, apakah dia mau menginap di sini. Baiklah jika dia harus menginap, aku akan tetap menunggu di sini.
Adzan Magrib berkumandang, hari mulai gelap, aku mondar mandir di depan gerbang dengan gelisah. Kuhisap dalam dalam rokokku, hanya benda ini teman setiaku yang mampu membunuh kebosanan. Ponselku ada, tapi sebanyak apapun aku chat istriku, selalu tak pernah berubah menjadi centang biru. Pesan yang kukirim sejak satu bulan lalu pasca tragedi dia pergi dari rumah orang tuaku hingga saat ini tidak dibaca.

Book Comment (216)

  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus , kesabaran Runi ada batasnya dari suami yang mau menang sendiri dan salah asuhan ortu...

    08/04

      0
  • avatar
    GustianiSheila

    hasil kakak ini slalu bagus lho 😍

    05/03/2025

      0
  • avatar
    TlkIdes

    Terima kasih telah mengikuti kak

    16/04/2024

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters