logo
logo-text

Download this book within the app

Tegar Setelah Dicerai

Tegar Setelah Dicerai

Fikri Mahmudah


Bab 1

Aku terkejut Runi, istri yang sangat kucintai berani mengajukan gugatan cerai. Aku meremas kertas panggilan pengadilan agama. Antara marah dan rasa takut kehilangan belahan jiwa menguasai seluruh langkah hidup ini.
Baiklah, akan kupertahankan. Selama ini dia begitu penurut dan tak pernah menganggap serius ucapan talaq meskipun sering kali terucap. Bagaimana bisa sekarang menggugat cerai, aku harus segera mengambil tindakan pencegahan.
Berbekal pisau di genggaman dan sepucuk surat berisi do'a-do'a ruqyah yang diberikan seorang ustadz ketika konsultasi masalah rumah tanggaku, aku pergi ke rumah mertua. Karena di sanalah istriku melarikan diri.
Sesampainya di rumah mertua, aku mengintai dulu tempat tinggal mereka yang sering dibiarkan pintunya terbuka. Sampai tiba waktunya, saat semua penghuni melaksanakan salat Ashar, aku berhasil menyelinap. Ruang tamu depan, menyatu dengan kedai ayam goreng tempat persembunyianku, kedai mertua ini hanya buka pagi hari hingga pukul 10.00 am. Tak seorangpun menyadari kehadiranku.
Detik demi detik berlalu. Dua jam lebih sudah aku menunggu, terdengar suara wanita itu mengucapkan salam. 'Waalaikum salam, aku datang sayang,' jawabku dalam hati.
Dari balik tirai yang membatasi antara kamar keluarga dan warung, aku melihat wanita yang kuincar masuk ke dalam kamar. Tunggu apa lagi, inilah saat yang tepat.
Dengan gerak cepat aku nyelonong masuk, melewati 2 orang wanita: mertua dan adik ipar yang tengah nonton televisi. Masih sempat mataku menangkap ekspresi terkejut di wajah mereka, dan sebelum mereka menghalangi, segera aku masuk kamar, lalu mengunci pintunya dari dalam.
"Dengar aku baik-baik! dan jangan berteriak!" ancamku pada wanita yang sedang berusaha kupertahankan hingga maut menjemput. Lalu tangan kanan meraba pisau yang terselip dipinggang, lalu kuhunuskan tepat di rusuknya sebelah kiri.
Sekali lagi kuucapkan ancaman padanya, "jika kau berteriak, aku tak kan ragu membunuhmu, setelah itu aku akan bunuh diri." Wajah istriku pucat pasi ketakutan, tubuhnya kaku, kurasakan keringat dingin mengucur disela-sela jarinya.
Meskipun orang bilang aku mantan suami, aku tak peduli. Dia masih istriku sampai kapanpun. Aku tak bisa hidup tanpanya. Walaupun dia bisa bahagia tanpaku.
"Tolong baca surat ini!" Kusodorkan padanya lembaram lembaran surat berisi do'a dan ayat ayat ruqiyah.
Dengan suara ketakutan, ia membaca pelan seperti orang yang komat-kamit . Bisa kurasakan tangannya yang tadi dingin, mulai sedikit menghangat.
"Ayo kembali ke rumah mama, ucapan ceraiku tak berlaku karena aku mengucapkan dengan emosi. Sudah kutanyakan pada para alim ulama mereka bilang cerai yang diucapkan saat emosi tidaklah sah, jadi ayo kembali. Kita mulai semua dari awal." Aku merayu istriku agar ia menuruti kemauanku. Tapi apa jawabnya.
"Tidak bisa Kak, seharusnya sudah cukup lama kita bukan suami istri lagi," ucapnya lirih tanpa melepas rasa takutnya.
"Siapa bilang, lihat ini!" Kukeluarkan buku nikah kami, kubuka lembaran yang mencantumkan tentang ihwal perceraian yang tak sah jika diucapkan saat emosi.
"Bacalah! kau ingatkan tiap aku mengucapkan talaq selalu penuh kemarahan? meski berapa puluh kali aku menceraikanmu jika dengan emosi, maka perceraian tidak sah." Aku berusaha menjelaskan agar ia yakin bahwa aku tak pernah menjadi mantan suaminya.
"Kak ini tidak benar, talaq dengan emosi yang tidak sah bukan seperti yang sering Kakak lakukan. Orang yang marah lantas mengeluarkan talaq 3 sekaligus dalam satu waktu, kedua talaqnya tidak berlaku, hanya satu talaq yang sah. Karena tiap talaq harus ada masa iddah bagi perempuan. Sedang Kakak, menceraikan aku lebih dari 5 kali di waktu berbeda tiap kali Kakak marah padaku," bantahnya.
"Arrrgh!" Aku gusar.
"Aku tak peduli, kalau aku bilang tidak sah ya tidak sah. Karena aku yang berhak menceraikanmu. Aku tak pernah benar-benar berniat berpisah denganmu."
"Bahkan seandainya Kakak ucapkan hanya bercanda sekalipun, perceraian tetap sah apalagi penuh emosi yang jelas jelas di dalamnya ada niat. Kak, kita sudah haram sebagai suami istri, tak ada lagi kata rujuk selamanya. Sampai aku bercerai dari suami yang aku nikahi setelah Kakak. Tapi aku tidak ingin lagi menikah. Akan kuhabiskan sisa waktu untuk bekal menjelang kematianku."
Ia menjelaskan panjang lebar. Aku baru tahu serumit ini untuk kembali dengannya.
"Ingat ya, jika kau nekat bercerai, aku bersumpah akan kubuat hartamu habis, akan kupenuhi setiap sidang sampai kau tak lagi mampu membayar pengacara," kembali aku mengancamnya.
Dia diam. Aku yakin istriku tak punya banyak uang. Nanti, seberapa sering panggilan sidang aku akan datang tepat waktu, tak kan kubiarkan dia menjanda. Sungguh aku tak rela.
"Bahkan aku akan meminta harta gono gini 200 juta, anak-anak juga akan kuambil hak asuhnya," ucapku penuh tekanan.
Kulihat wajahnya penuh kebingungan. Ibu mana yang mau dipisahkan dengan anak-anaknya. Apalagi tipe istriku yang sangat mencintai buah hati kami.
"Tapi jika kau mau berdamai denganku, kita mulai dari awal. Akan kuberikan 30 juta untukmu. Bagaimana?" tawarku.
Bodohnya Runi menjawab tawaranku dengan gelengan kepala. aku mengusap kepala dengan kasar.
"Pikirkan nasib anak-anak kita. Apa Kau tak kasihan pada mereka tumbuh tanpa seorang bapak?" Aku mencoba merayunya.
"Kak, apa Kakak tidak lihat anakmu Aron berani membantahmu, bahkan hendak memukulmu, prilakumu yang arogan sudah meracuni karakter dia."
"Berpisah denganmu bisa menyelamatkan mereka juga, agar tak meniru perangaimu, biarlah aku perbaiki sendiri akhlaq mereka tanpa campur tanganmu, biarkan aku meredam kebencian anak-anak pada dirimu."
"Jika waktunya untuk berbakti padamu tiba, aku akan menyuruh mereka datang padamu, meminta maaf. Mereka akan menjadi anak anakmu selamanya," janjinya. Matanya penuh ketegasan.
"Bukankah kau dan keluargamu mengatakan tak ada bekas anak, tak ada bekas saudara, tapi ada bekas istri. Dan sekaranglah saatnya diriku menjadi bekas istri." Ucapannya terdengar cukup tegar. Tidak ada lagi tangis seperti dulu saat kuhianati cintanya.
"Tidak Runi, kau tetap istriku. Kita akan menua bersama," bantahku.
"Seandainya kau dan keluargamu menganggap istri adalah masa depan, menua bersama, suka dan duka bersama sampai menggapai surga bersama, maka tak kan ada mantan istri bagimu. Mungkin juga kau tak pernah mengucapkan cerai. Tapi
karena prinsip ada bekas istri tertanam kuat dalam dirimulah yang membuat aku menjadi seperti ini." Dia berusaha terus mengutarakan kesalahanku.
Aku kalah telak.
"Dengar! Apapun alasanmu di pengadilan aku tidak akan membiarkanmu menang! Pikirkan sekali lagi, kuberi waktu untukmu untuk mempertimbangkan lagi." Kuambil 3 lembar uang merah di dalam saku celana, dan meletakkannya pada telapak tangan Seruni dan kugenggam erat tangannya.
"Ini uang nafkah bulan ini untuk anak anak, jangan lupa aku janjikan 30 juta jika kau mau kembali tanpa ada pengadilan."
Aku beranjak membuka pintu dan hendak keluar kamar.
Sangat terlambat saat menyadari pisauku sudah tidak lagi di tangan.

Book Comment (216)

  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus , kesabaran Runi ada batasnya dari suami yang mau menang sendiri dan salah asuhan ortu...

    08/04

      0
  • avatar
    GustianiSheila

    hasil kakak ini slalu bagus lho 😍

    05/03/2025

      0
  • avatar
    TlkIdes

    Terima kasih telah mengikuti kak

    16/04/2024

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters