logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 5 Itu Dia X Hebat!

Enam menit kemudian, kami telah kembali ke jalan. Salma sudah lupa dengan pertanyaannya, untung saja tadi sempat ada ibu-ibu yang menabraknya cukup kencang.
Ketika Aku dan Salma hendak menyeberang ada orang berhelm tertutup memacu motor gede yang bising ke arah kami. Aku repleks mendorong punggung Salma hingga ke pinggir dengan badanku lantaran dua tanganku memegang belanjaan. Untung saja aku dan dia tidak terjatuh. Orang itu melewati kami dengan memacu motornya semakin di depan.
“Woi! Jangan kabur!” teriakku tak terima.
“Udah, Arka, biarin aja.”
“Kamu nggak apa-apa, kan, Salma?”
“Harusnya aku yang nanya gitu, kan, kamu yang udah nyelamatin aku.”
“Aku nggak apa-apa.” Mataku melirik semua kantong belanjaan, syukurlah masih utuh.
“Udah, lupain aja. Kita, kan, harus bawa belanjaan ini ke kedai.”
Aku mengangguk sembari senyum. Entah kenapa mendengar suaranya saja amarahku mereda. Kami kembali melangkah.
Ratu Cahaya telah menerpa wajah kami. Kakiku berhenti melangkah saat Salma tertinggal di belakang, aku menengok ke arahnya.
“Tunggu bentar,” ujarnya sambil menaruh kantong yang ditentengnya.
“Ada apa?”
Tanpa menjawab dia langsung mengkucir rambutnya ke belakang dengan kedua tangannya memakai jepit rambut karet. Namun, dari dulu aku bertanya-tanya, mungkin pertanyaan ini pernah dipikirkan oleh setiap laki-laki, kenapa perempuan selalu terlihat lebih cantik saat sedang mengikat rambutnya ke belakang? Tapi ada kemungkinan pertanyaan tersebut adalah rahasia perempuan yang tidak perlu untuk ditanyakan.
Kini dia menghela dahinya, napasnya sedikit terengah. Wajahnya merah pudar tampak seperti permen gulali. Dia pasti kehausan, walau mungkin dia gengsi mengakuinya.
“Salma, biar aku aja yang bawa, ya.”
“Nggak usah, sama aku aja, Arka. Ayo!” Dia kembali membawa kantongnya, melangkah.
“Kalau gitu, kita beli jus dulu, yuk. Kebetulan ada kedai jus, tuh, di depan.”
“Hmm ... boleh, deh.”
Kami segera menghampiri bangunan cukup luas yang di depannya tersusun rapi berbagai macam buah-buahan matang dalam lemari kaca. Kami segera ke dalam kedai, lalu duduk di bangku kayu, bersebelahan.
Salah satu pelayan wanita datang. “Mau pesan apa, Kak?”
“Saya pesan jus alpukat. Salma mau apa?”
“Aku mau jus stroberi.”
“Okey, makanannya mau pesan apa?”
Aku baru tahu ternyata di sini tempat makan juga, kataku dalam hati. Apa mereka menyediakan nasi goreng semangka? Aku memegang dagu.
“Salma mau makan?”
“Nggak, ah, nanti aja.”
“Kami pesan jus aja. Dibungkus, ya, Teh, biar bisa dibawa.”
“Baik, ditunggu, ya, Kak.” Pelayan itu pergi ke pintu dapur.
Sembari menunggu pelayan membawa pesanan kami, aku memeriksa kembali belanjaan. Ini sudah lengkap, mungkin. Aku belum sempat melihat semua karena jus yang kami pesan sudah datang.
“Ini dua jusnya, Kak. Bayarnya di kasir, ya.”
“Terima kasih.” Salma yang mewakili.
Langkah kami sudah menjauh dari kedai itu. Kami mulai melewati jalanan sepi yang di dua sisinya berhiaskan taman rumput berselang-seling pohon. Aku tidak tahu berapa luas kedua taman hingga ke ujungnya. Nanti bila ada waktu akan aku ajak Salma menyusuri salah satu taman.
“Kita ke sana dulu, yu,” katanya meminta sembari menunjuk.
“Terserah kamu aja, aku ikut. Hehehe.”
Langkah kaki Salma menuju pinggiran taman. Aku mengimbangi sembari menatap rumput hijau indah yang seakan mengalah karena kedatangan yang lebih indah darinya.
“Kalau aku mau ke jurang, kamu mau ikut?”
“Emangnya kamu berani masuk jurang?”
“Nggak. Hahaha,” dia terkekeh.
“Ya udah, kalau gitu sekarang mending duduk di bangku ini, terus melihat pemandangan sambil menghabiskan jus. Silahkan, Tuan Putri.” Aku mempersilahkan sembari tersenyum.
“Gombalnya nambah, nih,” ujarnya sambil langsung menyelonjorkan kaki.
Belum lama kami menghela napas di taman ini, seorang pria bertato di kedua lengannya serta membawa gitar menghampiri kami. Orang itu sepertinya sedang dalam pengaruh minuman keras, terlihat dari cara jalannya yang seperti Kapten Jack Separo. Sesampainya di hadapan kami, dia menyanyi sebentar, itu pun dengan suara yang tidak jelas, kemudian menjulurkan tangan.
“Maaf, nggak ada, Bang.”
“Masa gak ada duit! Urang udah nyanyi,” ujarnya memaksa.
“Nggak ada, Bang.”
“Kalau gitu, urang menta jatah dari cewe maneh.”
“Ngomong naon?!” Aku berdiri sambil mengernyitkan dahi.
Salma hanya memandang sembari melipat dahinya.
“Jatah cewe maneh!”
Saat mata preman itu terus memperhatikan Salma, aku menepuk pundaknya. Lalu menyuruhnya mengikutiku. Ketika jarak kami telah satu setengah meter dari bangku taman, jus alpukat yang segar segera mendarat di wajahnya. Kemudian kepalan tanganku melayang. Dia terjungkal, lalu memegang hidungnya meringis kesakitan.
Aku segera bergerak cepat membuang plastik ke tempat sampah warna kuning dan kembali ke tempat duduk. Salma menatapku masih tak percaya.
“Ayo, pergi dari sini! Di sini udah nggak nyaman. Orang kaya gitu pantes mendapatkannya.”
Kami menenteng lagi belanjaan bergegas meninggalkan taman.
“Tadi kamu bisa-bisanya buang sampah dulu. Hahaha.” Tampaknya dia mencoba menenangkan situasi.
“Hahaha. Kan, dalam situasi apa pun kita tetap harus membuang sampah pada tempatnya. Kita harus menjaga Bandung tetap bersih.”
Kami sudah berada di dalam kedai Mang Kurnia, menghela napas lega.
“Kata kamu tadi kita harus mengurangi penggunaan plastik. Tapi tadi jus pake plastik.”
“Ya, kalau pake kertas, kan, nggak mungkin. Hahaha.”
“Iya juga.” Dia terkekeh manis.
Di luar terdengar suara mesin kendaraan berhenti. Aku memandang ke kaca kedai, itu Mang Kurnia yang sedang turun dari motornya. Kemudian beliau masuk tanpa melihat kami.
“Mang, belanjaannya udah di atas rak.”
“Eh, cepet pisan, udah di sini lagi. Biasanya agak lama.”
“Iya, kan, ada aku yang bantuin, Mang.” Salma tersenyum.
“Bagus, si Arka biasanya lelet. Pasti berkat ada cewe dia jadi semangat, tuh.”
“Nggak begitu juga kali, Mang.”
“Kalau gitu Salma boleh, kan, Mang, kerja di sini?”
Mataku terbelalak, kepalaku menggeleng-geleng memberi isyarat pada Mamang.
“Hmm ... gimana jawabnya, ya? Tapi malem kerjanya, gimana?” Mang Kurnia berpikir.
“Nggak apa-apa, Mang. Aku cuman mau ada pengalaman kerja aja. Berapa pun gajinya nggak masalah, Mang.”
“Boleh, deh, Salma bantuin Arka jadi pengantar makanan.”
“Siap, Mang!” Dia tersenyum antusias.
Sebernarnya aku senang sekali dia bisa terus dekat denganku, jika bekerja di kedai. Tapi, jika begitu pasti akan ada cinta yang akan menerjang lebih cepat ke hati, aku belum layak mendapatkannya karena masih banyak rahasia yang tidak bisa kuungkap kepadanya.
“Arka!”
“Iya, ada apa?” Aku sedikit terperanjat.
“Jangan ngelamun nanti matanya kelilipan truk.” Dia terkekeh.
“Mataku sekarang kelilipan tebu.” Sembari menatap wajahnya.
“Masa?”
“Aduh, sekarang kelilipan truk.”
“Udah nggak lucu, ih.”
“Masih lucu, ih.”
“Mang Kurnia mana?”
“Masa tadi nggak liat masuk rumah. Ngelamun, sih.”
“Oh iya, lupa.”
Aku mamandang jendela, terlihat Mang Kurnia sedang duduk sambil menonton tivi dan sesekali menyeruput kopi di gelasnya. Orang dewasa memang tampak tidak punya masalah, atau mungkin mereka dapat dengan mudah menyembunyikannya.
“Arka, kita ke taman lagi, yu.”
“Ke taman yang tadi?”
“Bukan, yang ini tamannya di pinggir sungai.”
“Jalan kaki?”
“Tempatnya jauh, Arka, kita harus naik angkot. Mau, ya, daripada ngelamun di sini.”
“Okey, Let’s go!” Tanpa sadar, aku menggenggam tangannya.
“Salma, sebenarnya kita mau ke taman mana? Taman di Bandung itu banyak. Masih jauh, ya?”
“Udah deket, Arka,” ujarnya sembari mengipas lehernya dengan tangan.
Cuaca pagi menuju siang ini memang membara, padahal baru jam sepuluh lewat. Aku segera menggeser kaca jendela angkot.
“Wah, jadi adem.”
“Kalau panas bilang, Salma.”
“Terima kasih udah bukain kacanya, dari dulu aku nggak bisa kalau mau buka kaca angkot.” Dia tersenyum.
“Iya, sama-sama. Masa nggak bisa? Padahal ini nggak sulit, kamu harus tau tekniknya. Namanya, Teknik Membuka Kaca Angkot. Disingkat, TMKA.”
“Gimana tekniknya? Ajarin, dong, Teknik Membuka Kaca Angkot, yang disingkat TMKA itu.”
Aku menutup kembali jendela untuk mempraktikkannya. “Pertama, kamu jangan langsung mencet kuncinya sambil digeser. Tapi, kamu tarik dulu ke belakang, terus pencet kuncinya, baru, deh, kamu geser dengan lembut dan elegan. Lalu bukan sulap bukan magic terbuka. Gimana mudah, kan?”
“Hahaha. Nanti aku coba, deh. Kita udah mau sampe, nih.”
“Okey!”
Dia beralih memperhatikan jalan. “Kiri, Pak!”
Pak Sopir bergegas menghentikan laju kendaraan.
Saat kami akan turun, tak kusangka bapak-bapak yang duduk di sebelahku mempraktikkan Teknik Membuka Kaca Angkot.
“Gimana mudah, kan, Pak?”
“Teruskan!” Dengan wajah serius bapak itu mengacungkan jempol.
Aku mengangguk tegas. Lalu menyusul Salma yang turun lebih dulu.
Mobil warna hijau bergaris hitam itu tancap gas setelah kami membayar ongkos.
Teras Cikapundung, itu tulisan besar yang terpampang jelas di dinding atas tangga. Walaupun orang Bandung, aku jarang ke daerah sini bahkan tidak tahu kalau ada tempat wisata di pinggiran sungai seperti ini, atau mungkin aku kurang memperhatikan. Tapi tampaknya tidak terlalu banyak orang yang ingin datang ke tempat ini.
Kami berdua segera menuruni tangga.
“Nggak perlu bayar karcis?”
“Ini wisata gratis, Arka.”
“Tempat sebagus ini nggak bayar, luar biasa.” Tatapanku lurus ke depan sembari menepuk-nepuk telapak tangan.
“Memang luar biasa, tempat asri serta sejuk ini bisa kita nikmati sesuka hati. Udah, ah, mending kita ke jembatan.”
“Aku, kan, baru ke sini. Jadi, aku ikutin kamu aja.” Aku tersenyum.
Kami sampai di tengah jembatan kayu dengan besi-besi penyangga berwarna merah di setiap sisinya. Dari sana kami bisa melihat anak-anak yang sedang bermain air. Ternyata sungainya dangkal.
“Kamu bener nggak tau tempat ini?”
“Udah tau, kok.”
“Terus kenapa dari tadi so nggak tau?”
“Maksudku, aku sekarang udah tau setelah kamu ajak ke sini. Hehehe.”
“Ih.” Dia memajukan bibir. “Kamu, kan, orang Bandung masa nggak pernah ke sini?”
“Kata siapa aku orang Bandung?” Aku menatap wajahnya. Rasanya ingin selalu seperti ini.
Dia berpaling memandang sungai. “Nebak aja. Soalnya aku perhatiin dari awal kamu yang tau daerah Bandung.”
“Kalau aku orang Bandung, aku nggak akan tidur di kosan. Mending pulang ke rumah.” Maaf, aku harus bohong lagi.
“Iya juga sih.”
“Tunggu, aku beli minum dulu, ya.”
Dia tersenyum. Aku segera menghampiri penjual yang berada tidak jauh. Kemudian kembali dengan membawa dua botol air mineral. Aku berikan satu padanya. Kami langsung meninggalkan jembatan untuk duduk di tempat teduh.
“Ternyata hari ini panas banget. Terus wahana di sini juga nggak ada.”
“Ini tempat wisata, kan, kenapa wahananya bisa nggak ada?”
“Nggak tau, kata temenku, di sini ada perahu, tapi ternyata nggak ada.”
“Terus mau gimana?”
“Hm ... diem aja di sini, udah terlanjur ke sini juga.”
Dari seberang sungai ada dua pria yang sesekali memperhatikan kami. Sebenarnya, aku ingin mendatangi mereka, tapi ada Salma di sini. Jadi, aku urungkan niat. Namun, tak kusangka tiba-tiba ada tiga orang pria lain di hadapan kami, tetapi pakaian mereka lusuh.
“Woi! Maneh yang nonjok urang tadi, kan?” salah satu pria bicara keras. Dua orang lagi membusungkan dada menatap sok jago.
Aku beranjak. Salma ikut berdiri.
“Eh, Bro-bro. Ada apa, ya?” Aku menggaruk punggung kepala berlagak tak tahu. Kenapa harus ada pengamen ini lagi?
“Ah, bener maneh! Hajar!” Kepalan tangannya melayang. Dua temannya bersiap mendekat. Seketika pukulannya terhenti. Salma telah mencengkeram erat tangan pria itu. Teman-temannya tak bergerak. Aku tercengang dia sekarang ada di hadapanku, dan bisa melakukan itu. Tapi, jika dia sampai terluka, aku takkan mengampuni mereka.
Dengan wajah marah Salma membuang tangan pria itu. “Kalau kalian laki-laki jangan keroyokan!”
Sementara itu, aku segera merogoh tas, mengambil topi hitamku, lalu ku pakai. Dari balik badan Salma, aku melihat mereka sembari tersenyum lebar.
“Kalau kalian berani, lawan aku satu-satu.” Dia terus memarahi. Mungkin aura Penguasa Jalanannya muncul.
Wajah ketiga pria itu langsung menerka-nerka, lalu ketakutan. Kemudian mereka kabur hingga daun telinga mereka pun tak terlihat lagi.
“Wah, Salma hebat, ditantangin duel mereka langsung kabur.”
“Cemen mereka, gaya aja pake tato. “ Dia balik badan. Matanya menatap ke arah lain. “Kapan kamu pake topi?”
“Pake topi, lah, panas.” Aku memegang paruh topi. “Mungkin tato mereka rambutnya rambut Medusa, tapi mukanya Dora.”
“Hahaha. Untung aja aku belajar bela diri waktu SMA.” Ternyata di balik tawa imutnya terdapat mental yang perkasa.
“Terima kasih, ya. Aku jadi malu harusnya kamu yang aku lindungin. Tapi, kamu hebat!” Aku mengacungkan dua jempol.
“Laki-laki juga perlu dilindungin kali.” Dia tersenyum sembari memiringkan kepala, pipinya memerah. Hatiku kembali berdetak tak karuan. Aku melepas Topi, lalu ku pakaikan kepadanya. “Kita ke tempat wisata lain.” Tanganku kali ini sadar telah menggenggam tangannya. Sama seperti sebelumnya, dia tidak melepasnya.
“Di mana itu?” tanyanya merdu.
“Deket, kok, dari sini.”
“Ayo, kita ke sana!” Dia langsung antusias.
Kami bergandengan melangkah dari sana, menaiki tangga.
“Berarti kita naik angkot lagi.”
“Katanya deket, tapi kenapa harus pake angkot?”
“Di Kota Bandung deket itu bukan berarti lima langkah, Salma.”
“Kok, aku jadi kebayang lagu, ya?”
“Mau ke sana? Ya udah, kalau nggak mau. Kita duduk aja di tangga.”
“Mau nggak? Mau nggak, ya? Mau, deh.”
“Okey, go!”
Aku dan Salma sudah kembali duduk berhadapan di kursi angkot. Setelah sekian lama aku tidak dapat menatap mata perempuan secara langsung, sejak hari ini aku merasa sudah sembuh dari hal itu. Sejak hari di mana kami duduk berdua di kantin, saat itu aku tahu, jika setiap perempuan berbeda.
-Bersambung-

Book Comment (47)

  • avatar
    GustianiSheila

    kok gk lanjut 🥺

    21/02/2025

      0
  • avatar
    DiptaArka

    nama gw bang 🗿

    09/12/2024

      0
  • avatar
    MuaiinNyongker

    sangat menarik

    13/09/2024

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters