logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 4 Ngomong! X Pipi yang Memerah

Pagi terasa cerah serta sangat dingin, tapi aku dan Ardo telah bergegas memasuki gerbang kampus. Kami menuju kolam berrenang, berniat untuk latihan. Tadi subuh, aku meminta dia mengajariku karena ada informasi, jika kuliah hari ini dipindah ke jam sepuluh siang.
Kami tiba di gelanggang. Kemudian mengganti pakaian. Setelah itu kami pemanasan terlebih dahulu.
“Pagi-pagi Gelanggang kaya milik pribadi,” ujarnya sembari berdiri dipinggiran kolam.
“Yoyoi, can aya sasaha. Yang tengah keliatannya lebih jero dari kemarin.” kataku sambil menelan ludah menatap air yang biru jernih.
“Bukan keliatannya lagi, itu emang dalem.”
“Kita belajar apa sekarang? Meluncur? Gaya-gayaan?”
“Maneh nggak bisa renang banget, kan?”
“Betul!” jawabku datar sembari mengacungkan jempol.
“Okey! Kalau kataku, maneh harus bisa dulu ngambang di air. Kalau nggak salah disebutnya itu, water trappen.”
“Waduh, gimana, tuh, caranya?”
Ardo langsung balik kanan, lalu berisyarat padaku untuk menunggu. Setelah beberapa detik, dia kembali sambil membawa galah cukup panjang di tangannya.
“Buat naon eta, Do?”
“Udah, sekarang maneh langsung aja loncat ke tengah kolam.”
“Ke tengah?” kataku sembari kembali menelan ludah.
“Percaya, deh, kalau ada ini moal tenggelam.”
“Naha nggak pake pelampung aja?”
“Udah, percaya aja, Ka. Kalau pake pelampung terlalu mudah. Maneh mau bisa renang, kan?”
“Percaya maneh, musyrik!” ledekku.
“Ah, percaya aja, dah.”
Kali ini, aku mengangguk tegas, lalu balik badan, dan berdiri di keramik tepian kolam. Seketika jantungku berdetak lebih kencang bagai pertama kali menatap mata Salma. Tapi beda, ini karena dasar kolam yang terbias tampak menyeramkan.
Tak kusangka di tribune paling atas ada dua orang pria yang sedang berdiri, menonton. Pandanganku tidak bisa jelas melihat wajah mereka, tapi karena gaya rambut serta pakaian, aku tahu mereka seumuran denganku. Mataku kembali menatap kolam.
Sekarang, ku coba mengambil napas tenang. Benakku menyemangati, aku pasti bisa! Namun, itu tidak mengubah suasana tegangnya.
“Yo, Ka! Jadi lelaki itu harus berani bertanggung jawab. Kamu masuk ke Fakultas Olahraga, ya, berarti harus bisa renang bagaimana pun caranya. Jangan sampai ada niatan nyerah di tengah jalan, Ka.”
“Bener omonganmu, Do. Urang nggak akan nyerah!”
“Siap, ya!”
Tanpa aba-aba badanku di dorong dari belakang, kemudian terpelanting jatuh ke tengah membelah birunya air kolam. Perlahan mataku terbuka, tubuhku tenggelam. Namun, kini pikiranku terasa lebih tenang, beda dengan kemarin.
Kakiku telah menapak ke dasar. Dengan sekali hentakkan badanku melesat lurus ke atas. Tanganku segera meraih galah yang sudah dijulurkan Ardo. Kepalaku sekarang tidak kembali ke dalam air karena kedua lenganku telah menggenggam erat alat bantu.
“Ka! Kakinya gerak!” teriaknya sembari berusaha menduduki galah.
“Tadi belum siap, euy!” ujarku dengan napas sedikit terengah-engah.
“Udah, ulah ngeluh!”
“Bagaimana kumaha gerakkannya?!”
“Tau, kan, gerakkan kaki katak?!”
Dalam benakku langsung terbesit banyangan cara hewan itu berenang.
“Ka, tau, kan?!”
Aku memberi isyarat dengan mengacungkan jempol tangan kanan, yang kiri terus memegang galah seerat mungkin karena aku tidak mau kembali tenggelam.
“Okey, Ka, Mantap!”
Kedua kakiku mencoba bersinkronisasi dengan otak yang sedang memikirkan seekor katak berenang. Tak kusangka ternyata ini mudah. Namun, otot-otot paha dan betisku masih terasa sangat kaku, tapi mungkin nanti juga akan terbiasa.
“Bagus! Tapi lakukan gerakkannya dengan tenang dan perlahan, Ka, kalau nggak, maneh nggak akan ngambang!”
Dengan menarik napas panjang, aku berusaha membiasakan kakiku. Benar kata dia, badanku jadi terasa ringan sekarang, terasa mengambang.
“Siip, terus begitu selama tiga menit!”
“Emang bisa?!”
“Pasti bisa, lah!”
“Tapi, kalau keram nanti langsung tarik gantar-nya, yo!”
“Yo, tenang aja!”
Tiga menit telah terlampuai, tapi Ardo menyuruhku untuk lanjut ke lima, enam, hingga sepuluh menit dengan jeda istirahat beberapa detik di setiap sesinya. Gayanya kali ini sudah seperti Dosen. Aku terpaksa harus menurutinya karena ini caranya melatihku.
“Mau terus?!”
Namun, otot-otot kakiku sudah terasa sangat tegang seperti galah ini. Aku segera melambai. Dalam sekejap dia telah menarik galah yang dari tadi didudukinya dan kucengkram erat. Tanganku langsung berpegangan pada pinggir kolam.
“Edan ... edan ... edan cape juga,” kataku dengan napas terengah-engah.
“Harusnya tiga puluh menit,” ujarnya sembari mengulurkan tangannya, membantuku naik.
“Serius, euy?”
“Tapi itu udah alus.”
Anehnya tiba-tiba ada bunyi nada dering handphone, ternyata itu suara telepon genggam milik Ardo yang dia selipkan dicelana renangnya. Dia segera mengambil, lalu menatap layarnya.
“Siapa, Do?”
“Si Sela.”
“Sekretaris?”
Dia mengangguk, kemudian dengan cekatan langsung mengangkatnya.
Pandanganku kembali ke tribune. Dua orang tadi sudah tidak ada di sana. Dahiku terlipat.
“Apa?! Seriusan?! Okey, kamu informasikan ke grup kelas, ya, dan terima kasih infonya, Sel.”
“Ada apakah gerangan, Do?” Aku sedikit bercanda sembari beranjak dari pinggir kolam.
“Kita harus cepet, Ka, Dosennya ternyata mau masuk jam setengah delapan.”
“Seriusan? Ini jam berapa?”
“Jam tujuh.”
Aku telah mengambil ancang-ancang. “Katanya harus cepet? Hayu, ganti baju!”
Dengan secepat kilat kami segera membawa tas, lalu lari ke ruang ganti.
Kemudian setelah beres, kami langsung berjalan cepat bergegas dari sana menuju ke fakultas yang jaraknya cukup jauh.
Baru setengah jalan, aku menghentikan kaki.
“Ada apa, Ka?” Ardo ikut mengerem.
“Tiheula, urang ada urusan dulu. Kalau telat salamin buat Dosen. Tapi kalau Dosennya bapa-bapa jangan. Hehehe.”
“Yoyoi, Slur! Duluan, yo!” Dia bergegas. Lalu hilang di lekukkan jalan.
Langkahku berganti arah, masuk ke jalan kecil di antara dua bangunan. Kini di hadapanku ada dua orang yang sedang berjalan. Perlahan, aku dekati mereka. Seketika ku piting satu orang, membawanya ke arah lain. Dia berontak, lalu ku jatuhkan kencang. Raut mukanya langsung terperanjat.
“Ngomong! Maneh diperintah siapa?!”
“Semoga belum ada,” gumamku sembari berlari menaiki tangga ke lantai dua.
Untung saja Ardo yang ditunjuk menjadi ketua kelas. Kalau tidak, sekarang aku tidak akan tahu, jika Dosen masih masuk ke kelas.
Aku telah sampai di pintu ruangan. Syukurlah belum ada. Itu tandanya aku tidak terlambat, dan dimarahi Dosen kayak di film-film. Mungkin saja Dosen di sini juga galak.
Sementara Ardo duduk di dekat Sela, sekretaris cantiknya. Aku sudah merebahkan punggung di kursi pojok kelas, tak mau mengganggu mereka yang mungkin sedang kasmaran. Menurutku kedua cocok.
Teman sekelas yang “telat” mulai berdatangan memasuki ruangan. Di susul oleh dosen yang bergegas ke dalam sambil memegang telepon tipis yang ditempelkan ke telinga, kemudian duduk di bangkunya.
Hanya setengah jam dosen muda itu memperkenalkan diri, menjelaskan peraturan saat pembelajarannya, dan menerangkan sedikit tentang mata kuliahnya.
“Kali ini saya tidak lama karena hari ini belum efektif, dan ada penelitian yang harus saya kerjakan sampai sore. Jadi, begitu saja dulu. Jangan lupa kalian pelajari dulu mata kuliah saya. Terima kasih, saya harus buru-buru.” Dengan segera Pak Irfan meninggalkan kelas.
Setelah Dosen pergi, semua orang bergegas dari ruangan. Ardo berjalan berdua bersama gebetannya entah ke mana. Aku yang tidak ada kegiatan memilih untuk tetap diam menatap jendela. Pikiranku langsung membayangkan perkataan lelaki yang tadi kupiting lehernya. Beraninya dia memerintahkan “Pengintai” untuk mengawasiku. Aku tak perlu itu. Lagi pula aku tidak mau kembali berurusan dengan hal yang bisa mencelaki orang-orang terdekatku.
Tiba-tiba ada yang bergetar di dalam tas gendongku, aku memeriksanya. Ternyata telepon jadulku menyala. Tanganku merogohnya, lalu nataku menatap layar. Ini pesan dari Salma, seketika perasaan marahku beralih menjadi kegirangan.
Aku membaca tanpa membalas pesannya karena pulsaku habis. Dia mengajakku bertemu di kantin kampus, aku bergegas melesat ke tujuan.
Namun, saat sudah setengah jalan ada pesan masuk ke teleponku, jika Mang Kurnia butuh bantuan belanja ke perluan dagangannya ke pasar. Katanya, dia tahu kalau aku tidak ada kelas lagi dari Ardo yang lewat ke kedainya.
“Waduh, kacau si Ardo, kacau!” gumamku sembari menepuk jidat.
Aku sampai di kantin. Salma melambai dari tempat duduknya sambil tersenyum, aku seperti meleleh menatap lekukkan bibir imutnya. Tanpa berpikir panjang, aku segera duduk di hadapannya.
Sekarang, aku bingung harus bilang apa pada Salma. Tapi kali ini berkata jujur akan lebih baik, meski kemarin banyak bohongnya.
“Kamu belum sarapan, kan?” katanya memastikan.
“Belum, sih, tapi ....” jawabku ragu.
“Tapi kenapa, Arka?”
“Sekarang, aku lagi buru-buru ada urusan mendadak.” Sebernarnya aku tak mau meninggalkan dia di sini sendirian.
“Urusan apa? bilang, dong. Kenapa kamu kaya ragu gitu?”
“Aku ada kerjaan mendadak, bantuin Mang Kurnia belanja keperluan dagang.”
“Kalau gitu, ayo, kita cepetan berangkat.” Salma beranjak dari tempat duduknya.
“Eh, kamu mau ke mana?”
“Katanya kamu ada kerjaan. Aku mau bantuin.”
Aku heran kenapa dia langsung ingin membantu, padahal dia belum tahu apa pekerjaanku, bahkan dia tidak menanyakan siapa Mang Kurnia.
“Tapi ini ke pasar, loh. Nanti baju kamu bau keringet, sepatu kamu kena kotor, becek, nggak ada ojek, Salma.”
Dia terkekeh. “Nggak apa-apa, Arka, mau di sini juga ngapain nggak ada temen.”
Aku berdiri. “Emang kamu nggak ada kelas? Kamu belum sarapan juga, kan?”
“Nggak ada. Mahasiswa nggak sarapan itu wajar. Katanya tadi kamu buru-buru?”
“Oh iya, aku sampai lupa. Beneran kamu mau ikut? Aku nggak maksa, ya.” Padahal hatiku gembira riang tak terkira kalau dia menemaniku.
“Sekarang Arka jadi banyak tanya, ya.”
“Hehehe.” Tanpa sadar tanganku sudah menggaruk kepala. “Kalau gitu kita berangkat!”
Tanpa bertanya, Salma langsung melangkah ke arah yang salah.
“Eh, kamu mau ke mana?”
“Ke jalan raya, kan?”
“Bukan, Salma.”
“Terus ke mana, Arka?”
Badanku berbalik, tanganku segera mempersilahkan.
“Ke mana ini, teh?”
“Ke jalan Fakultas IPA. Ayo!”
Kami berdua bergegas dari sana.
Sesampainya di depan bangunan fakultas terbesar di kampus ini, Salma tampak menatapnya takjub. Aku tersenyum, pandangaku bukan ke tempat itu, tapi pada wajahnya yang tak bisa berhenti kulihat.
“Arka, baliknya kamu sering jalan ke sini? Ternyata Fakultas IPA indah, ya, ada taman di depannya,” ujarnya sembari menatapku.
“Iya, indah, ya ... Eh, maksudku fakultasnya.”
Tampaknya kini pipinya memerah.
“Kita mau ke mana dulu? Kita ke pasar harus naik damri, kan?”
“Jauh-jauh ke pasar harus naik damri, di jalan bawah juga ada pasar. Kita ke kedai Mang Kurnia dulu.”
“Oh gitu, ya udah, deh, aku ikutin kamu aja.”
“Jangan salahin aku, ya, kalau nanti sepatu kamu kotor.”
“Nggak akan, Arka.”
Kami tiba di pinggir jalan, di hadapan kami terpajang kedai sederhana yang langsung tersambung dengan rumah kos. Mang Kurnia muncul dari balik pintu setelah aku ketuk.
“Euleuh, si Arka sekarang udah berani bawa cewe cantik ke sini, kenalin dong ke Mamang.” ucap Mang Kurnia menggodaku.
“Tong kitu, nanti istri Mamang ngambek,” kataku balik menggodanya sembari cium tangan, “Ini Salma, Mang. Salma ini Mang Kurnia.”
Salma juga cium tangan Mang Kurnia. “Salma, Om.”
“Jangan panggil Om, panggil Mang aja, ya.”
Dia tersenyum sembari mengangguk.
Mang Kurnia segera memberikan uang, selembar daftar belanjaan, dan kunci duplikat kedai. Dia langsung mengunci pintu kedai, kemudian naik motor, lalu tancap gas. Katanya, dia pergi dulu ada urusan di rumahnya. Mang Kurnia memang sibuk karena tidak cuman kedai yang dia punya, tapi juga rumah kos di belakang. Dua bulan lalu, aku pernah melamar untuk jadi tukang bersih-bersih kos-kosannya. Namun, dia menolak. Katanya, selain sudah ada yang mengerjakan, itu juga terlalu berat untuk mahasiswa. Jadi, dia menawariku untuk jadi pelayan saja di kedainya. Aku bersyukur bisa bertemu dengan orang yang baik seperti Mang Kurnia di sini.
Aku dan Salma sudah hampir sampai ke pasar yang tidak terlalu jauh. Setibanya di tempat ramai ini, aku sudah tahu harus menuju ke mana. Nyatanya dia terlihat ragu untuk menginjak tanah yang becek.
“Tuh, kan. Kamu tunggu aja di sini.”
“Nggak mau, ih, ayo!” Dia langsung mendaratkan sepatunya pada lumpur, melangkah, meski dengan raut muka yang menahan jijik.
Aku tersenyum, lalu segera menyusulnya. “Di depan belok ke kiri.”
Kami terus menyusuri keramaian. Sesekali kami hampir bertabrakan dengan pejalan kaki lain, saking cukup banyaknya orang di sini. Salma melihat-lihat sekitar, mungkin sebelumnya dia belum pernah masuk ke pasar tradisional. Aku segera memintanya untuk berhenti dulu di tukang kantong kain yang sedang menjajakan dagangannya.
“Pak, meser tiga kantong belanja, sabaraha, Pak?”
“Enam ribu aja, A.”
“Ini, Pak. Hatur nuhun, Pak.” Aku menyodorkan uang sambil mengambil kantongnya.
Bapak pedagang tersenyum ramah.
Kami melanjutkan langkah.
“Buat apa itu?”
“Ini buat belanja, Salma, masa buat bungkus sepatu kamu.”
“Iya, aku tau.” Dia memajukan bibir. “Tapi, kan, nanti juga diberi kantong plastik sama pedagangnya.”
“Kamu nggak tahu, kalau benda ini buat mempersehat Bumi? Kita harus mulai mengurangi penggunaan kantong plastik.”
“Oh, jadi kamu sekarang duta kantong kain. Kalau begitu aku juga mau berhenti pake kantong plastik, ah.”
“Bagus!” Aku mengacungkan jempol. “Masa cewe secantik kamu mau memperjelek Bumi.”
“Udah bisa gombal, ya, Arka sekarang.” Kakinya sedikit melompat melewati genangan. Tiba-tiba dia tergelincir, aku segera menangkap tangannya, menyeimbangkan.
“Aku nggak gombal.”
“Terus?!”
“Pikirin aja sendiri. Cepet, tuh, di depan tukang sembakonya.” Aku mempercepat langkah.
“Ih, tungguin.”
Aku langsung membuka daftar belanjaan setibanya di kios sembako. Kemudian menyodorkannya bersama kantong kain pada penjaga Ibu yang punya kios.
“Arka, biasanya belanja sendiri sekarang ditemenin, nih,” ujar Bu Imas menggodaku sambil segera mempersiapkan semuanya.
“Iya, Bu. Hehehe.”
“Kenalin ke Ibu, dong.”
“Nama saya Salma, Bu.”
“Namanya cantik, secantik orangnya. Pantas saja Arka kepincut.”
“Ah, Ibu, jangan gitu.”
“Terima kasih, Bu. Ibu juga cantik.” Salma tersenyum, pipinya tampak kemerahan. Sepertinya sekarang wajahku juga seperti itu.
“Bisa aja si Eneng.”
Karena Bu Imas yang masih cukup lama mengemas belanjaan. Kami harus menunggu, dan kini aku jadi canggung untuk mengobrol dengan Salma.
“Arka?”
“Iya, Salma?”
“Kamu kerja apa di kedai Mang Kurnia?”
“Aku ....” Kenapa aku jadi ragu untuk menjawabnya?
“Nggak perlu malu, kerjaan kamu, kan, halal.”
“Aku bantuin Mang Kurnia jadi pelayan di kedainya.”
Dia berpikir sejenak. “Apa aku boleh ikut kerja gitu?”
“Kalau kataku jangan. Tapi kita tanya dulu ke Mang Kurnia.”
“Kenapa kamu jawab jangan?”
“Sudah, nih, semuanya jadi dua ratus ribu.” Bu Imas menyimpan belanjaan di ambang pintu kios.
“Terima kasih, Bu.” Aku memberikan uangnya sembari mengambilnya.
“Aku bantuin.” Salma langsung menenteng satu kantong.
“Sama-sama. Hati-hati, ya, kalian berdua. ”
Aku mengangguk tegas.
“Baik, Bu.” Dia tersenyum.
Kami kembali melangkah menyusuri pasar yang padat serta becek.
Tampaknya Salma sedang menatapku. “Kenapa kamu jawab jangan?”
-Bersambung-

Book Comment (47)

  • avatar
    GustianiSheila

    kok gk lanjut 🥺

    21/02/2025

      0
  • avatar
    DiptaArka

    nama gw bang 🗿

    09/12/2024

      0
  • avatar
    MuaiinNyongker

    sangat menarik

    13/09/2024

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters