“Aduh, telat, euy,” kataku. Aku berlari di jalanan kampus bersama Ardo teman satu kosku. Jam di dinding kantin yang kami lewati telah menunjukkan pukul 06.45. “Hayu, cepat!” desaknya. Saat aku masih memperhatikan jam, tabrakan pun tak terhindarkan. Seseorang di depanku terdiam, dia seorang gadis, buku yang dipegangnya berhamburan. Aku langsung sigap mengambil buku-bukunya. “Maaf, ya, saya buru-buru,” kataku. Dia tidak berbicara, ngambek pun tidak. Aku bergegas mengembalikan buku-buku miliknya. Mataku belum sempat memperhatikan seperti apa wajah gadis itu. Lebih tepatnya aku tidak sanggup kalau harus bertatapan dengan perempuan, kecuali ibuku. “Nggak apa-apa ...,” katanya. Tapi aku menunduk. Lalu kembali berlari menyusul temanku. Lari kami tak sia-sia. Tidak berselang lama kami sudah tiba tepat waktu di Gelanggang Kolam Renang, sebuah bangunan stadion yang di tengah-tengahnya terdapat kolam berenang luas. Mata kuliah pertamaku adalah kelas renang atau yang disebut juga aquatik. Banyak senior bilang kalau kelas ini mata kuliah neraka, karena katanya dosen-dosennya galak dan pembelajarannya sangat menguras adrenalin. Aku sudah memakai celana renangku. Dengan wajah tegang aku keluar dari ruang ganti. Karena selama ini tidak pernah tahu caranya berenang, menyentuh air kolam pun tak pernah, itu satu-satunya yang saat ini membuatku tegang. Sekitar puluhan Mahasiswa termasuk aku sudah duduk dipinggir, membelakangi kolam yang airnya warna biru cemerlang. Tiga Dosen berada di depan, salah satu dari mereka sedang menjelaskan. “Teknik dasar meluncur itu gampang, kalian hanya tinggal meluruskan badan, tapi pastikan badan kalian lurus, maka seluruh badan akan otomatis mengambang. Lalu kayuh,” jelas Dosen. Seluruh Mahasiswa berdiri, aku juga. Dosen mengatakan, kalau sekarang adalah pembelajaran meluncur sekaligus memilah Mahasiswa supaya bisa di bagi menjadi tiga kelompok. Kelompok yang bisa, kelompok kurang bisa, dan kelompok tidak bisa. Aku cocok dengan kelompok ketiga. Sekarang bagianku meluncur setelah lima orang di depan berhasil ke seberang. Aku berdoa, ragu-ragu, dan perlahan masuk kolam. Air kolam yang dingin menusuk ke seluruh tubuh. “Ayo, cepat!” teriak Dosen. Dengan tangan di depan, aku meluncur. Bulu kudukku merinding saat melihat betapa dalamnya tengah-tengah kolam ini, kiri-kira sedalam tiga meter. Tanpa sadar aku tidak mengayuh. Kemudian badanku telah tenggelam. “Aduh, euy, aku pasti mati?” kataku dalam hati. Napasku habis, untung saja kakiku berhasil menyentuh dasar. Lalu dengan kencang aku melompat-lompat ke atas sambil melambai minta tolong. Tapi tidak ada siapa pun yang menolong. Setelah beberapa detik aku melompat dan melambai, Salah satu dosen melemparkan pelampung. Aku segera meraihnya, dan akhirnya aku bisa mengambang. Napasku tertarik panjang, lega rasanya. ---- Dua jam pembelajaran renang sudah selesai, sekarang aku telah berada di kantin kampus. Mungkin bagi yang sudah bisa dan kurang bisa renang, mata kuliah itu seperti neraka. Tapi buatku dan teman satu kelompokku tadi pembelajarannya cuman latihan di kolam cetek, tidak menguras adrenalin sama sekali. Kantin kampus belum terlalu ramai, hanya ada satu-dua mahasiswa yang duduk di hadapan meja panjang. Ada beberapa meja dan kursi panjang yang di simpan di luar, mungkin biar makan bisa sambil lihat orang jalan. Baguslah kalau belum banyak orang, karena aku lebih suka suasana damai daripada ramai. Ini kali pertama aku masuk ke kantin kampus, katanya di sini ambil makanannya kayak prasmanan. Ternyata itu benar. “Sikat,” kata benakku. Tanpa pikir panjang, aku segera mengambil piring yang sudah di sediakan, menyendok nasi banyak-banyak, dan menghiasinya dengan lauk-pauk. “Oh, harus langsung bayar,” gumamku melihat satu orang di depan menyodorkan uang ke kasir. Tanganku bergegas merogoh saku kanan celana, tapi tidak ada. Aku coba sebelah kiri, tidak ada juga. “Tenang.” Aku segera melihat saku kemejaku. Ini saatnya panik. “Aduh, uangku hilang,” kataku dalam hati. Seseorang menyerobotku. Gadis berambut panjang terurai itu berbicara sebentar dengan kasir, dia langsung menyodorkan uang. Lalu berjalan keluar. Aku ragu-ragu mendekati kasir. “Makanannya udah dibayarin sama pacar kakak,” kata kasir. “Pacarku?” kataku bingung. “Iya, pacar kakak yang duduk di meja itu.” Dia menunjuk keluar. Kepalaku menoleh. Dia gadis yang tadi menyerobotku. “Ini kembaliannya, Kak. Terima kasih.” Kasir menyodorkan uang. Aku mengambilnya. “I-iya, terima kasih.” “Sama-sama.” Dengan perasaan canggung, aku menghampiri meja gadis itu. Dia melihatku. Aku langsung menunduk menatap makananku. “Pe-permisi,” kataku canggung. “Kamu boleh duduk.” Aku duduk di hadapannya. Aku ragu bisa mengobrol dengannya. “Kamu juga mahasiswa baru, ya?” “Sebelumnya terima kasih sudah membayar makananku, ini kembaliannya.” Aku menyimpan uangnya di tengah meja dengan tangan bergetar. “Nanti aku ganti.” “Nggak usah. Itu sebernarnya uangmu.” “Maksudmu?” “Itu uangmu yang tadi jatuh saat menabrakku.” “Oh, maaf, tadi aku buru-buru. Terima kasih.” “Nggak apa-apa, aku juga tadi buru-buru. Tapi, kamu nggak sopan, ih, dari tadi bicara sambil nunduk.” “Aku ... lagi menghitung nasi, eh, maksudku, lagi ....” Dia tertawa. Mungkin merasa aneh dengan lelaki sepertiku. Aku hanya menunduk tersenyum. “Oke, kita habiskan dulu makannya,” katanya. Aku mengangguk. Lalu menyantap dengan lahap. Kami berdua selesai menghabiskan makanan di piring masing-masing. Aku masih menunduk, ragu, apa bisa aku memulai percakapan. Tapi, aku harus mencoba. Dia sepertinya menatapku. “Kenapa tadi kamu tahu kalau aku mahasiswa baru?” kataku memulai percakapan. “Kelihatan,” jawabnya. “Kelihatan apanya?” “Botaknya. Hahaha.” Dia tertawa terkekeh. Tanganku refleks memegang kepala. Benar sekali, aku lupa kalau rambutku telah di cukur gundul dua senti. Tapi tidak ada pilihan lain, karena ini syarat mahasiswa baru laki-laki di fakultasku. “Kamu masih tidak sopan, ih.” Aku terdiam. “Oh, aku punya triknya. Kamu kalau bicara jangan menatap mata, tapi tataplah ke antara kedua mata. Ayo, coba, deh, kamu pasti bisa.” “Maksudmu menatap pangkal hidung?” “Iya, kamu pasti bisa.” Kepalaku perlahan terangkat, entah kenapa aku menuruti permintaannya. Tak lama, aku memandang wajah cantik gadis itu. Dia tersenyum padaku. Matanya lebih cemerlang dari kolam renang. Tak tahu kenapa aku malah tidak menuruti triknya, tapi malah menatapnya. “Itu, kamu bisa.” “Hehehe. Iya. Tapi, aku masih canggung.” Dia kembali tertawa. Aku tersenyum. “Kamu pasti dari fakultas olahraga, aku sudah tahu itu.” “Kamu gampang menebakku, tapi aku tidak bisa menebak kamu dari fakultas mana?” “Aku dari fakultas bahasa.” Aku tersenyum menatapnya. “Oh iya, kenalkan, namaku Arka.” “Aku Salma,” jawabnya. Hari itu aku tahu nama gadis itu. Salma Larasati. Sesuai dengan namanya yang cantik. Namun, dia lebih cantik serta imut. Aku dan Salma mulai akrab di waktu pertama makan bareng itu. Setelah beberapa menit mengobrol, dia buru-buru pergi, katanya ada kelas. Aku hari ini sadar kalau perempuan tak seegois yang selama ini ku pikirkan. Tapi aku masih canggung bisa memulai percakapan atau tidak, jika nanti bertemu dia lagi. Dan, bodohnya tadi aku tidak meminta nomor teleponnya. Setelah beberapa menit menyendiri di kantin, aku memutuskan beranjak dari sana untuk pergi ke perpustakaan yang tadi sempat kulihat. Ternyata setelah masuk ke dalam perpustakaan, bukannya membaca aku malah berkeliling mencari buku yang mungkin takkan bisa ku temukan, karena saking luasnya tempat ini. Aku mencoba mencarinya di komputer, tapi ini juga membingungkan. Komputer ini hanya menampilkan nomor rak penyimpanan bukunya. “Ah, dari pada bingung ambil acak aja,” gumamku. Dengan santai aku bersandar di hadapan meja bersofa empuk sembari membaca buku yang telah asal aku tarik. Sekarang setiap orang yang melintas di hadapanku tampak menahan tawa. Aku tetap fokus membaca menghiraukan mereka. “Emang salah, ya, kalau aing baca buku ini?” kataku dalam hati. Sambil memasang wajah masam, aku keluar dari surganya para kutu buku itu. Aku segera duduk di balkon dekat pintu masuk. “Hei!” Sepertinya aku sudah sangat hafal dengan suara lembut ini. Kepalaku dengan cekatan menengok. “Arka, kamu lagi apa di sini? Bukannya ke dalam.” “Salma?” Mungkin sekarang wajahku tampak memerah, karena dia sekarang duduk di dekatku. “Iya, aku Salma. Kamu sakit? Wajahmu kayak moci merah muda gitu.” “Eh, nggak-nggak. Aku cuman lagi kesal.” “Kesal ke siapa? Aku?” “Bukan! Tadi, kan, aku di dalam baca buku, terus orang yang lewat di depanku pada nahan tawa.” “Tunggu. Emang tadi kamu baca buku apa?” “Si Kancil.” Dia tertawa terkekeh. Bukannya kesal aku malah ikut terbahak-bahak. Setelah beberapa detik tertawa, Salma memperhatikan perpusataan dan sekitarnya. Mungkin karena kami baru di kampus, jadi suka kagum-kagum gitu. Aku malah menyelidik wajahnya. “Kamu tadi ada kelas? Terus kenapa udah keluar?” tanyaku. “Cuman perkenal doang?” “Terus cari aku lagi ke sini?” Aku nyengir. “Ih, apaan. Aku mau cari buku tahu.” “Kirain.” “Jangan kepedean.” “Nggak kepedean.” “Terus?” “Cuman memastikan.” “Arka, Arka.” Salma tersenyum lalu menggeleng. “Kenapa?” “Udah, ah, nggak jelas.” “Gara-gara kamu tadi ajarin aku trik menatap mata, aku jadi kepedean.” “Tuh, kan, bener. Dasar kepedean.” Dia tertawa. Balkon perpustakaan itu semakin ramai. Mahasiswa-mahasiswa yang keluar dari dalam mungkin suka duduk sebentar di balkon ini, termasuk aku sekarang. Mataku manatap langit, sepertinya hari ini terasa akan cerah sepanjang hari. “Habis ini kamu mau ke mana?” tanya Salma. Aku berpikir sejenak. “Mungkin nggak ke mana-mana. Kamu mau ke mana?” “Aku mau pinjem buku.” “Nah itu, tadi aku juga mau pinjem buku, tapi susah banget.” “Gimana kalau gini, aku pinjemin buku yang kamu mau. Asal nanti kamu temani aku.” “Okey. Ide bagus,” kataku bersemangat. “Kamu mau pinjem buku apa?” “Apa aja. Asal buku puisi.” Dia mengangguk. Lalu masuk ke dalam perpustakaan. Tidak kurang dari sepuluh menit Salma sudah keluar dari perpustakaan. Aku melongo. Bagaimana dia bisa menemukan dua buku dengan sangat singkat? Aku saja tadi sampai kebingungan mencari. Dia menyodorkan buku. Aku segera mengambilnya sembari bilang terima kasih. Karena gengsi, aku tidak mau menanyakan bagaimana dia bisa meminjamnya secepat itu. “Sekarang kita ke mana?” “Ikut aku!” Kami berjalan di trotoar tepi jalan kampus. Saking luasnya kampus ini jalanannya jadi banyak belokan serta pertigaan. Sesekali kami harus menyeberang. Sisi kiri-kanan jalanan ada pohon-pohon besar yang mungkin sengaja ditanam agar kampus asri. Karena kini Salma mulai tidak tahu mau ke mana, jadi aku yang mengajaknya. “Kita pake apa?” “Pake damri aja.” “Aku ada motor, loh. Kamu nggak bawa motor?” Salma menyarankan. “Naik damri aja. Enak ada AC-nya.” “Di motor juga ada.” “AC alami.” “Iya.” “Udah. Naik damri aja, ya, Salma.” Aku sedikit memaksa. “Okey, deh, Arka.” “Motor kamu bakal aman, kok, kan, ada satpam.” Dengan raut wajah sedikit ragu, tapi Salma tetap mengikutiku. Mungkin, dia masih takut motornya dimaling. “Motormu pasti aman.” Dia mengangguk ragu-ragu. Di gerbang keluar kampus ada pos satpam. Aku segera menghampiri ke sana. Salma mengikuti. “Punten, Pak,” kataku sopan. “Iya, ada apa, Dek?” tanya satpam. “Kami mahasiswa di sini, kalau kami menyimpan motor di parkiran kampus, apakah aman, Pak?” “Iya, apa aman, Pak?” tanya Salma. “Oh, tenang aja, Dek, satpam di sini 24 jam. Pasti aman. Tapi kalau mau keluar harus pake kartu mahasiswa, ya, Dek.” “Siap, Pak. Hatur Nuhun.” “Sawangsulna. Hati-hati, Dek.” Kami mengangguk tegas sembari meninggalkan pos satpam. Gerbang utama kampus langsung berada di dekat jalan raya. Kami beruntung, karena kendaraan besar berwarna biru itu berhenti di seberang. Kami segera ke sana. Kemudian naik ke dalam bus damri. Langit tetap cerah, tampaknya ia dapat selalu peka dengan perasaanku ini. -Bersambung-
kok gk lanjut 🥺
21/02/2025
0nama gw bang 🗿
09/12/2024
0sangat menarik
13/09/2024
0View All