Jiang melompat kearah Kencana diikuti angin yang seketika menderu ketika Jiang menunjukkan aksinya. Bekas pijakan kaki Jiang bahkan terbentuk di tanah yang menandakan Jiang mempunyai tenaga dalam yang cukup tinggi. Namun secara tiba-tiba Kencana mengeluarkan serangan dengan jurus tebasan tujuh bintang, serangan yang begitu mendadak kearah Jiang tidak dapat dihindarinya tepat waktu sehingga membuat Jiang menerima semua serangan yang diberikan Kencana. Akibat serangan itu, Jiang memuntahkan darah kental dari mulutnya, akan tetapi serangan Kencana tidak berlanjut ketika dirinya merasakan berat di sekujur tubuh, Kencana merasakan jika dirinya terkena jurus ilusi dari Gamya. Berbeda dengan ilusi dari perguruan lain, Gamya mengusai tehnik terlarang yang membuat orang merasakan hal yang sesungguhnya, bahkan yang lebih mengerikan dapat membuat orang mati tanpa menyentuhnya. “Sial, aku lupa jika Gamya ada disini.” Gumam Kencana. Mendapat kesempatan Jiang dengan cepat menendang Kencana dengan sangat keras, sehingga membuat Kencana terpental beberapa kali ketika mendapat serangannya. Kencana bahkan memuntahkan darah akan tetapi akibat serangan yang Jiang berikan membuat tubuhnya dapat bergerak kembali. Mendapati hal itu, Gamya bahkan sempat berdecak ketika jurusnya dapat di patahkan dengan memberikan sebuah serangan atau pukulan kepada target yang dia tuju. Namun Gamya sedikit berharap jika tidak ada orang lain yang mengetahuinya, dan menganggap semua itu terjadi karena faktor tidak sengaja. Di sisi lain Jiang bahkan tidak berniat membuat jarak antara dirinya dan Kencana yang terlihat sedang terluka akibat tendangannya. Karena melihat Kencana sedang terluka, Jiang bahkan merasa diatas angin dan merasa kemenangan ada ditangannya. Jiang mencabut golok dari pinggangnya dan secepat kilat langsung menghunuskan golok itu kepada Kencana yang masih berada di posisi berlutut. “Baiklah., aku akan serius kali ini.” Ucap Kencana. “Diam kau…!!” sahut Jiang. Pertukaran jurus terjadi antara Kencana dan Jiang, yang terlihat mereka seperti setara dalam pertarungan, akan tetapi sebenarnya Kencana bisa dengan mudah mengalahkan Jiang hanya dengan beberapa kali tarikan nafas, hanya saja dirinya sedikit terganggu dengan Gamya yang mampu membuatnya jatuh ke posisi berlutut kapan saja. Namun saat ini Gamya dan Xue hanya melihat dan tidak menunjukkan dirinya ingin ikut campur pertarungan Jiang yang mungkin berat sebelah. Melihat posisi yang menguntungkan itu Jiang berusaha semakin memojokkan Kencana sambil tertawa lantang, akan tetapi Kencana bahkan belum berpindah dari tempatnya berdiri. Kencana sedikit berkelit ketika golok Jiang hampir mengenai wajahnya dan secara bersamaan Kencana melancarkan serangan tapak kearah dada Jiang yang menyebabkan benturan yang cukup kuat terjadi, serangan itu membuat Jiang mundur beberapa langkah lalu memuntahkan darah segar dari mulutnya. “Ku akui murid Gamya tidak bisa dianggap remeh, selanjutnya giliranku terimalah…!!” Kencana berucap seraya mengeluarkan jurus tapak. Satu demi satu serangan dilancarkan kearah Jiang namun Jiang berusaha mengikuti gerakan Kencana tanpa bisa membalasnya, Kencana mengaliri serangan tapak itu dengan tenaga dalam yang tinggi, sehingga serangan yang Kencana berikan sangat kuat, bahkan setiap serangan yang berhasil di hindari Jiang selalu memberikan luka gores seakan angin bisa melukai tubuhnya. Karena merasa sangat terganggu, Kencana mengalihkan pandangannya sesaat kepada Gamya ketika sedang berhadapan dengan Jiang. Namun sebenarnya Kencana ingin mengambil jarak dengan Gamya, sehingga dirinya memojokkan Jiang yang kini jarak pertarungan antara Jiang dan Kencana semakin jauh dari jangkauan Gamya. Kencana sedikit mengetahui jika jurus ilusi Gamya hanya bisa digunakan dengan akurat, jika jarak mereka dekat, semakin dekat maka semakin kuat pula efek yang di timbulkan, begitu sebaliknya semakin jauh maka semakin lemah efek yang di berikan. Kencana menebak jika Jiang hanya mengandalkan kemampuan Gamya dan berusaha mendapatkan kemenangan tanpa perlu bersusah payah. Namun hal itu tidak bisa dikatakan kemenangan yang manis, jika akan berdampak buruk kepada diri sendiri, kini Jiang harus menelan kenyataan pahit dan kabar buruknya Jiang harus menyerahkan nyawanya. “Brengsek! jika kau tidak ingin mati cepat serahkan Pusaka Langit! Maka kami akan membiarkan kau tetap hidup…” ucap Jiang sedikit mengancam. “Ku akui murid Gamya memang seorang pendekar hebat, tetapi aku tidak menyangka jika muridnya juga bisa membual.” Kencana sedikit menaikkan alis sambil melipat satu tangannya ke belakang. Mendengar perkataan Kencana membuat dada Jiang memanas bahkan terasa sedikit sempit, dirinya mengambil kuda-kuda seraya memutar golok nya, dari gerakan yang Jiang lakukan muncul sebuah rantai yang diikuti api menjalar menyelimuti golok tersebut. Melihat hal itu Kencana menaikkan alis bahkan sedikit antusias seraya menyambut serangan yang datang. Jiang berusaha mati-matian untuk memberikan satu serangan saja kepada Kencana, akan tetapi tidak ada satu serangan yang mampu memberikan luka gores terhadap Kencana. “Bagaimana dia bisa sekuat ini.” Jiang bergumam sambil menggigit bibirnya hingga sedikit mengeluarkan darah. Kini Jiang sadar jika dirinya tidak mampu mengalahkan Kencana seorang diri, dirinya sedikit menoleh kekanan namun alangkah terkejutnya Jiang mendapati Gamya dan adik seperguruan nya sudah cukup jauh dari pandangan. Bahkan mereka tidak terlihat akan menolong, yang membuat wajahnya memucat diiringi keringat dingin berjatuhan dari wajah hingga sekujur tubuhnya, sebab baru kali ini dia merasakan serangan yang teramat berat. “Ku ucapkan selamat tinggal…” ucap Kencana, karena dirinya tidak ingin membuang waktu ketika melihat kesempatan. Dengan cepat Kencana mengarahkan pedangnya tepat kearah kening Jiang yang seketika membuat kening itu berlubang, serangan Kencana tidak pernah diduga oleh Jiang dan membuatnya harus meregang nyawa seketika. Di sisi lain Gianjoyo yang saat itu mendengar keributan, mencari sumber suara dan mendapati Kencana baru saja membunuh Jiang, Gianjoyo bahkan sempat ingin berteriak namun dirinya mengurungkan niat, seraya mengambil tindakan dengan cara berlari. Di saat yang hampir bersamaan Gamya dan Xue juga melihat hal yang sama, akan tetapi mereka tidak dapat menolong Jiang lebih cepat, karena telah salah menduga jika Kencana dapat di kalahkan dengan mudah. Untuk membalaskan kematian muridnya Gamya berjanji akan memberikan kematian yang menyakitkan terhadap Kencana, akan tetapi untuk menghilangkan jejak mereka tidak ingin jika ada yang masih hidup, ketika melihat tindakan yang mereka lakukan. Sialnya kedatangan Gianjoyo beberapa saat yang lalu membuatnya harus berurusan dengan kelompok aliran hitam, kini Gianjoyo harus bertaruh nyawa ketika Xue sedang mengejarnya. Di satu sisi Gianjoyo menyadari jika posisinya dalam bahaya, melihat seseorang yang sedang mengejar Gianjoyo berlari tanpa menoleh ke belakang. Sedangkan Kencana yang melihat kesempatan itu segera mengambil tindakan dengan cara melarikan diri, menerobos masuk kedalam lebatnya hutan. “Buka pintu, ini aku Gianjoyo cepat buka pintu!” pekik Gianjoyo. Kedatangan suaminya membuatr Kirana merasa sedikit lega, akan tetapi tibat-tiba firasat buruk mulai mengisi hati Kirana yang segera memeluk Gianjoyo dengan cepat. Dirinya ingin bertanya lebih banyak namun karena Gianjoyo tidak memberikan tanggapan apapun melainkan wajahnya begitu pucat dan berkeringat dingin, Kirana mengurungkan niat untuk berbicara. Tiba-tiba Gianjoyo mengatakan, jika dirinya sedang di kejar oleh seseorang tak di kenal, diirnya bahkan sedikit menjelaskan jika situasi di luar sangat berbahaya, terlebih Kencana baru saja membunuh seseorang yang tidak lain rekan dari orang yang mengejar nya. Di sisi Lengkukup yang saat itu berada tidak jauh dengan ibunya, mendengar dengan jelas perkataan Gianjoyo yang telihat sangat ketakutan. Tetapi belum sempat mereka bertindak lebih jauh, terlebih untuk meninggalkan rumah, tiba-tiba pintu terpental menghantam salah satu meja, dari luar tampak seseorang sedang memegang golok, Gianjoyo menyadari jika itu, merupakan orang yang mengejarnya. Seolah memiliki firasat buruk, Kirana dengan cepat menarik Lengkukup untuk bersembunyi kedalam salah satu kamar dan meninggalkan Gianjoyo sendiri. “Oh, sepertinya aku akan makan enak malam ini” ucap Xue menyeringai. Xue melangkah masuk kedalam rumah Gianjoyo tanpa rasa bersalah sedikitpun, sedangkan Gianjoyo hanya bisa mematung karena tidak kuat menahan rasa takut, dirinya sedikit menebak jika Xue memiliki kekuatan di atasnya, sehingga membuat Kencana tidak memiliki kesempatan untuk melawan. Melihat Gianjoyo yang sudah ketakutan Xue semakin beringas, seolah sedang kerasukan. Xue menghancurkan semua yang dia lihat dan membuat Gianjoyo semakin merasa takut. “Ampun, aku mohon jangan…” Gianjoyo berkata sambil memelas, sungguh tindakan yang tidak patut bagi seorang pendekar. Gianjoyo berpendapat akan lebih baik mengalah untuk sebuah kemenangan tetapi sayangnya Xue berada di tingkat yang berbeda, dirinya memang murid yang jarang bertarung tetapi soal kekuatan Xue jauh lebih unggul daripada Jiang kakak seperguruannya. “Keluar kalian semua, cepat!” Xue berteriak yang membuat ketakutan Kirana semakin menjadi. “Hentikan! Selangkah lagi kau maju aku akan membunuhmu…” sahut Gianjoyo.
cerita nya bagus sy suka
22/12
0bagus
03/10/2024
1bagus
16/02/2023
0View All