Sebelumnya Gianjoyo berniat dengan sisa uang yang dibawa, dirinya ingin membeli satu buah rumah yang ada di desa itu, akan tetapi ketika sepuh itu mengatakan jika mereka tidak bisa menerima pendatang baru, sedikit membuat Gianjoyo ingin mengurungkan niatnya. Namun beruntungnya, sepuh itu dapat tergoda dengan kepingan emas yang di bawa Gianjoyo sebelumnya. Hari demi hari berlalu, tidak terasa sudah hampir satu bulan mereka tinggal di desa bernama Impit Bukit itu, bahkan luka pada tubuh Gianjoyo semakin membaik dan mendekati sembuh berkat Kirana yang merawatnya dengan sabar. Semenjak tinggal di desa, Gianjoyo pernah melihat sebuah gubuk tidak jauh dengan tempat tinggalnya, dia sedikit penasaran dengan gubuk itu, karena dirinya pernah melihat ada seseorang berada disana. Karena tidak puas dengan menduga, dirinya memutuskan untuk bertanya kepada sepuh desa yang beberapa hari lalu ditemuinya. “Kencana Emas, dia bukan penjahat kita harusnya beruntung dia ada disini” ucapnya ketika Gianjoyo bertanya. “Justru karna dia ada ditempat ini, banyak penjahat dan bandit gunung mengurungkan niatnya untuk merampok desa kecil ini.” Sepuh itu menambahkan seraya tersenyum penuh arti. Sebenarnya Gianjoyo ingin bertanya lebih banyak namun tiba-tiba, seseorang datang melapor kepada sepuh itu dengan nafas terengah. Pria itu merupakan penduduk desa, dirinya mengaku melihat Kencana Emas sedang menyandera seorang anak kecil berusia sekitar 6 atau 7 tahunan. Mendengar hal itu Gianjoyo lantas bereaksi seraya bertanya “Anak kecil?” Gianjoyo sedikit memucat, tidak jauh berbeda dengan sepuh itu, dirinya juga sempat terkejut atas laporan barusan. Karena tidak ingin membuang waktu, mereka lantas menuju ke tempat yang di maksud dengan sedikit tergesa-gesa. Setibanya ditempat itu, Gianjoyo dan sepuh melihat Kencana Emas yang sedang mencekik Lengkukup, bahkan tubuh Lengkukup sempat terangkat keatas sebelum akhirnya di lepaskan ketika Gianjoyo dan sepuh desa menghentikan aksinya. “Lepaskan! Apa yang kau lakukan terhadap anakku?” Gianjoyo berucap dengan nada menantang. Mendengar teriakan itu, Kencana Emas sedikit menaikkan alis, dirinya melihat dengan jelas kedatangan Gianjoyo dan sepuh memiliki maksud dan tujuan tertentu, akan tetapi Kencana sedikit menebak jika kedatangan mereka untuk anak kecil yang sedang dalam genggaman nya “Siapa kalian, dan apa yang kalian lakukan ditempat ini?” tanya Kencana memastikan. “Maafkan kami karena tidak memberi tau tuan terlebih dahulu…” timpal sepuh itu kepada Kencana dengan kaki sedikit gemetar, dirinya sedang berusaha mencairkan keadaan yang sedikit memanas. “Kami hanya pendatang baru ditempat ini, tolong lepaskan anakku!” ucap Gianjoyo memastikan. Beberapa saat yang lalu sepuh itu berpesan supaya berhati-hati dalam berbicara dengan Kencana karena karakter nya yang mudah tersinggung. Namun tentu saja Kencana menolak, perkataan dari Gianjoyo karena dirinya merasa anak Gianjoyo sedang memata-matai dirinya beberapa saat yang lalu. Di sisi lain Lengkukup hanya diam tidak berkutik karena mungkin saja, jika dirinya bertindak gegabah, Kencana akan mematahkan lehernya. Di satu sisi sepuh desa sedikit merasa bingung dengan situasi yang sedang terjadi, karena dirinya tidak mungkin untuk membantah kehendak Kencana yang sudah banyak berjasa kepada desa tempat tinggal mereka. Dengan sangat berat dirinya berucap “Berbaik hatilah Tuan Kencana Emas, kau hanya perlu melepaskannya dan biarkan tua bangka ini yang mengurus sisanya.” Ucap sepuh itu sedikit menepuk pundak Kencana Emas berusaha meyakinkannya. “Baiklah kalau begitu, tetapi jika terjadi sesuatu ditempat ini kalian harus menanggung resikonya.” Ujar Kencana. Namun Kencana bukanlah orang bodoh, dirinya tidak bisa percaya begitu saja dengan orang yang baru dikenalnya. Meski melepaskan Lengkukup, akan tetapi sedikitpun dirinya tidak pernah berniat melakukan hal itu, demi menjaga reputasinya dia terpaksa menuruti sepuh itu meski sedikit terpaksa. Kencana merupakan pendekar tingkat tinggi yang sudah membuka satu gerbang tenaga dalam dirinya berasal dari kelompok aliran putih. Namun Kencana harus menelan kenyataan pahit ketika dirinya berhasil mendapatkan Pusaka Langit yang disebut sebagai Hati Iblis, dirinya terpaksa menghindar dari kejaran kelompok aliran hitam yang selalu berusaha mendapatkannya. Pusaka Langit itu dipercaya dapat memberikan kemampuan, diluar batas manusia yang tertulis didalam Kitab Surgawi, akan tetapi keberadaan Kitab Surgawi sendiri tidak pernah di ketahui sebelumnya dan menjadi cerita mulut ke mulut. Bahkan ada yang menganggap hal itu sebagai mitos namun tidak sedikit juga yang percaya dengan keberadaan Kitab Surgawi. Kencana Emas yang telah mendapatkan Pusaka Langit kini harus menjadi incaran para penjahat, terlebih kelompok aliran hitam namun ada juga kelompok aliran putih yang menginginkan Pusaka Langit dengan alasan menjaganya. Tentu Kencana Emas yang berasal dari kelompok aliran putih tidak ingin jika Pusaka Langit jatuh ke tangan yang salah, tetapi dirinya juga tidak ingin jika ada orang lain yang memiliki Pusaka Langit itu. Kencana Emas beranggapan jika kekuatan sejati berasal dari dalam hati, itu sebabnya Kencana Emas hanya menyimpan Pusaka Langit dan tidak mencoba menggunakannya. Dari perjalanan Kencana sebagai seorang pendekar, Kencana mendapat informasi tentang keberadaan Kitab Surgawi yang dapat mengendalikan kekuatan tak terbatas dari Pusaka Langit itu. Kitab Surgawi yang tidak pernah di ketahui itu, konon berada didalam lembah siluman, tentu informasi itu tidak dapat dikatakan sebagai informasi yang benar. Sebab lembah siluman berada di dalam tebing Curup 7 Kenangan sebuah air terjun yang memiliki tujuh tingkatan, setiap tingkat memiliki kedalaman yang tidak dapat pandang oleh mata. Bahkan beberapa pendekar pemula dan tidak sedikit pendekar tingkat tinggi sekalipun yang pernah mencoba memasuki lembah siluman, mereka tidak pernah kembali ketika mencoba memasuki Curup 7 Kenangan yang menjadi awal perjalanan. Dari perjalanannya menjadi pendekar ternama Kencana Emas memiliki musuh bebuyutan dari kelompok aliran hitam. Gamya yang mempunyai kemampuan ilusi dan Jumpang yang merupakan pemilik Tongkat Siluman serta Daryana dan Gumantara mereka merupakan para pemimpin empat kelompok aliran hitam terbesar saat ini. Mereka berjumlah hampir ratusan orang, tidak, mungkin ribuan atau lebih dari itu karena mereka dapat dengan mudah menghancurkan sekte kecil maupun sedang hanya dalam hitungan menit. Jumlah yang fantastis untuk sebuah kelompok aliran hitam. Hari ini keramaian di desa Impit Bukit tempat tinggal Gianjoyo penuh sesak, karena akan menyambut pesta atas keberhasilan kelompok aliran putih mengatasi kekacauan yang dibuat oleh kelompok aliran hitam di jalur perlintasan antar sekte. Desa yang mulanya hanya berjumlah 5 kepala keluarga, kini menjadi tempat persinggahan dan membuatnya sangat ramai. Bukan hanya dari sekte lain, tetapi ada juga para pendekar pengembara, bahkan para pedagang berdatangan untuk menjajakan dagangan mereka, hal itu membuat Kencana risau karena dirinya dapat terdeteksi oleh para pemburu bayaran. Hari semakin larut ketika acara atas keberhasilan kelompok aliran putih telah selesai, keadaan di desa kembali seperti semula dan meninggalkan orang-orang desa yang kemudian masuk ke rumahnya masing-masing. Namun tiba-tiba keributan terjadi di tengah gelapnya malam, hal itu membuat para penduduk bersembunyi tanpa berani menunjukkan muka, mereka menyadari jika keributan yang terjadi, di akibat oleh kelompok aliran hitam yang mungkin ingin merampok tempat itu. “Keluar kau Kencana…!!” ucap salah satu orang yang tidak lain dari kelompok aliran hitam. “Jika kau tidak ingin keluar, aku akan menghancurkan tempat ini.” Timpal salah satu rekannya. Mereka berjumlah 3 orang, akan tetapi yang bersuara hanya 2 orang saja karena salah satunya adalah pemimpin kelompok yang tidak lain, Gamya musuh bebuyutan Kencana. Pada saat keributan terjadi, salah satu pria mencoba keluar dari pintu belakang rumahnya, untuk menemui Kencana dengan maksud meminta pertolongan. Ketika Kencana mengetahui hal itu, dirinya bergegas menuju ke lokasi, tempat terjadinya keributan namun dirinya sempat terkejut karena mendapati Gamya berada di sana yang kini menatapnya dengan tajam. Namun Kencana seolah tidak ketir ketika mendapati mereka hanya berjumlah 3 orang saja, dirinya menebak jika kedua orang itu adalah muridnya. Dari dugaan Kencana mereka berdua telah mencapai tingkat pendekar bergelar, kedua pendekar itu memiliki tubuh gempal yang masing-masing terdapat sebuah golok besar terselip di pinggangnya. “Ada perlu apa kalian denganku?” ucap Kencana.”Jika kalian mencari benda itu aku sudah tidak menyimpannya.” Kencana menambahkan. “Omong kosong apa yang kau ucapkan, cepat serahkan Pusaka Langit kepadaku maka kau akan selamat…” timpal Gamya dengan sedikit mengancam. “Cari saja sendiri…” ujar Kencana seraya membalikkan tubuh, dirinya berniat meninggalkan tempat itu secepat mungkin. Tiba-tiba salah satu murid Gamya menyela seraya berkata “Serahkan semua ini pada kami guru, kami akan membereskan pria itu dengan cepat” ucap Jiang mendahului Xue adik seperguruannya.
cerita nya bagus sy suka
22/12
0bagus
03/10/2024
1bagus
16/02/2023
0View All