logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

LEGENDA KITAB SURGAWI

LEGENDA KITAB SURGAWI

acankun


Ch.1 Meninggalkan Sekte

Gianjoyo dan Kirana merupakan orang yang beruntung pada saat mereka mendapatkan seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Lengkukup. Seorang anak yang memiliki bakat pendekar sejak kecil, Lengkukup diberkahi kemampuan mempelajari sesuatu dengan cepat. Kemampuannya itu tentu menjadi daya tarik bagi sebagian orang, akan tetapi beberapa dari orang malah menaruh kebencian terhadapnya, karena mereka merasa iri atas pencapaian yang dilakukan Lengkukup.
Tepat ketika Lengkukup menginjak usia tujuh tahun, sekte Aur Duri mengadakan sayembara untuk mencari anak muda yang berbakat. Dalam sayembara itu banyak yang berpartisipasi termasuk Lengkukup menjadi salah satu peserta yang mengikuti.
Namun Lengkukup bukannya menjadi sosok yang membanggakan, akan tetapi dirinya justru menjadi korban cemoohan dan dianggap curang oleh sebagian orang tua anak-anak mereka. Karena Lengkukup selalu dapat dengan mudah mengalahkan lawan yang dia hadapi, pada saat bersamaan Gianjoyo dan Kirana saat itu melihat Lengkukup dihina bahkan dikucilkan merasa tidak terima, atas perlakuan yang mereka berikan.
“Anakmu tidak mungkin bisa menang, dia pasti curang.” Ucap Shuwan orang tua salah satu peserta.
“Benar, dia tidak mungkin jadi pemenang, anakku bahkan jauh lebih unggul.” Sahut orang tua yang lain.
Gianjoyo yang saat itu menemani Lengkukup masih sedikit bersabar dan menahan emosi yang memuncak.
Namun secara tiba-tiba Shuwan melempar Lengkukup dengan sebuah batu yang cukup besar, akan tetapi belum sempat batu itu mengenai dirinya, dengan cepat batu itu di tebas oleh Lengkukup dan terbelah menjadi dua bagian.
“Kalian bisa lihat sendiri! anakku bisa melakukannya, kalian bisa bayangkan jika batu itu kepala kalian…” ucap Gianjoyo.
Beberapa dari mereka hanya bisa terdiam ketika melihat aksi yang di lakukan oleh Lengkukup, sedangkan beberapa di antara mereka berusaha menghindari, akan tetapi tidak dengan Shuwan, dirinya merasa tidak terima atas perkataan Gianjoyo.
Karena merasa diremehkan Shuwan mencabut pedang nya dan mengarahkan pedang itu ke arah Gianjoyo dengan maksud untuk membungkam mulutnya.
“Biadab, tunjukkan kemampuanmu…!!” Ucap Shuwan menyeringai.
“Lengkukup menjauh dari sini!!” Seru Gianjoyo dengan amarah yang memuncak, berusaha menjauhkan Lengkukup.
Di satu sisi, Lengkukup seolah mengerti dan dengan cepat menjauh dari tempat pertarungan yang tidak bisa di elakkan lagi. Bahkan orang yang tidak bersangkutan segera memberi ruang tanpa berusaha melerai pertarungan yang segera terjadi.
Dengan tangan yang memegang pedang, Shuwan langsung menghunuskan pedangnya seraya memberikan sebuah serangan tebasan ke arah Gianjoyo. Tidak hanya sekali, bahkan beberapa kali Shuwan berusaha memberikan serangan yang cukup berarti, akan tetapi semua serangan yang dia berikan dapat dengan mudah di atasi oleh Gianjoyo.
Ketika Shuwan hendak memaksa keberuntungan yang dia miliki, tiba-tiba Gianjoyo memberikan sebuah tendangan yang cukup keras, tepat kearah dada Shuwan. Tendangan yang Gianjoyo berikan begitu mendadak, sehingga Shuwan tidak dapat menghindarinya tepat waktu.
Mendapat serangan itu Shuwan sempat mundur beberapa langkah ke belakang, akan tetapi ketika dirinya mencoba bergerak, tiba-tiba Shuwan merasakan sakit yang teramat sangat lalu memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Namun belum sempat Shuwan bergerak, terlebih memikirkan cara untuk mengalahkan Gianjoyo, dengan cepat Gianjoyo menghunuskan pedang nya kearah leher Shuwan yang masih terlihat menghela nafas, hal itu membuat Shuwan berhenti bergerak, karena jika dirinya mencoba untuk melawan maka kepalanya mungkin akan segera terlepas dari tubuhnya.
“Hentikan…!!” teriak Lengkukup.”Tidak perlu terjadi pembunuhan di tempat ini.” Ucap Lengkukup ketika menyadari akan terjadi pertumpahan darah yang tidak berarti.
“Kau beruntung, anakku mengampuni mu.” Ucap Gianjoyo kepada Shuwan.
Beberapa detik berlalu, keadaan seolah menjadi sunyi, Gianjoyo tidak berniat melanjutkan serangannya, apalagi untuk membunuh Shuwan yang terlihat tidak berdaya itu.
Namun Shuwan tidak terima atas sikap yang diberikan oleh Gianjoyo, seolah menganggapnya remeh, terlebih untuk menerima kekalahan yang sangat tidak di inginkan nya itu, dirinya berniat, jika mendapat celah maka dia akan menusuk Gianjoyo dari belakang.
Tepat pada saat Gianjoyo meninggalkan dirinya dan menuju kearah Lengkukup berada, pada saat bersamaan Shuwan berlari seraya memberikan sebuah tusukan dengan pisau kecil, yang menancap tepat di bagian punggung Gianjoyo dan membuatnya berlumuran darah.
“Rasakan, mati kau…!!” ucap Shuwan seraya tertawa lantang.
Namun tiba-tiba tangannya terasa kaku dan tidak dapat merasakan jari yang memegang pisau itu sebelumnya. Rupanya pada saat yang hampir bersamaan Lengkukup melemparkan pedang nya kearah Shuwan yang hendak menusuk Gianjoyo.
Meski sedikit terlambat namun dari serangan Lengkukup memberikan luka yang cukup berarti di pergelangan tangan Shuwan yang kini tertembus pedang Lengkukup. Di sisi lain, Shuwan yang terkejut karena tangannya terluka cukup parah langsung menyelamatkan diri sambil mengutuk Lengkukup dengan makian.
“Biadab tunggu pembalasan ku, hidupmu tidak akan tenang, bocah sialan.” Ucapnya seraya meninggalkan tempat.
Di satu sisi Gianjoyo yang terluka cukup parah akibat serangan Shuwan tidak dapat berbuat apa-apa terlebih untuk mengejar nya. Namun yang dia lakukan ialah menyelamatkan Lengkukup dan istrinya untuk melarikan dari tempat itu, karena bukan tidak mungkin mereka akan membawa teman-temannya untuk membalas perbuatan Lengkukup.
Hampir beberapa saat mereka melarikan diri dari tempat itu, Gianjoyo beranggapan bahwa akan lebih baik mereka bergegas mengambil barang-barang yang ada di rumahnya, untuk bekal di perjalanan. Namun Kirana bahkan sempat menolak usul yang Gianjoyo katakan, akan tetapi Gianjoyo mengatakan jika mereka lebih baik meninggalkan sekte untuk sementara waktu, sehingga membuat Kirana tidak memiliki pilihan selain menurut.
Mereka tidak memiliki tujuan, sehingga mereka berinisiatif untuk mencari sebuah desa untuk ditinggali sementara waktu, setelah mereka meninggalkan sekte Aur Duri demi keselamatan keluarganya.
“Kita harus menghentikan pendarahan mu terlebih dahulu.” Ucap Kirana.
“Tidak! Akan lebih baik seperti ini.” Jawab Kencana memastikan.
Mendengar ucapan Gianjoyo membuat Kirana tidak bisa membantahnya, terlebih untuk menghalangi kehendak suaminya itu, hampir beberapa jam mereka berjalan tanpa arah dan tujuan, penat serta lelah kian menghinggapi pundak Gianjoyo sehingga memaksa dirinya tidak bisa melanjutkan perjalanan.
Kirana hanya bisa mematung sejenak ketika melihat keadaan Gianjoyo, dirinya ingin membantu lebih banyak, akan tetapi tangan kecil Kirana hampir tidak bisa melakukan apapun untuk Gianjoyo saat ini.
“Kita akan kesana!” Ucap Gianjoyo yang tersandar dibawah pohon karena darah yang cukup banyak keluar.
Kirana dan Lengkukup hampir menoleh secara bersamaan kearah yang di maksud Gianjoyo, terlihat di tepi hutan tampak sebuah desa kecil seolah menanti kedatangan mereka, Keberadaannya yang cukup jauh dari sekte Aur Duri, hampir tidak di ketahui oleh mereka, bahkan Gianjoyo menduga jika tempat itu cukup asing untuk di singgahi.
Gianjoyo beranggapan jika tidak akan ada yang mengejar mereka, karena jarak yang sudah mereka tempuh sudah cukup jauh dari sekte mereka. Gianjoyo tidak ingin berpikir lebih jauh, apalagi untuk menunggu lebih lama, sehingga mereka memutuhkan untuk pergi ke desa yang di maksud.
Dalam hitungan menit merekapun tiba di desa itu, tampak tidak ada penjagaan di luar, bahkan desa itu terlihat tidak berpenghuni. Namun tiba-tiba datang seorang sepuh yang mengagetkan mereka seraya berucap “mau kemana kalian? Tempat ini tidak aman.” Tanya sepuh itu.
“Kami ingin tinggal di desa ini…” jawab Gianjoyo sambil menahan rasa sakit.
“Tidak! Kami tidak bisa menerima pendatang baru, akan tetapi kami memiliki penginapan di tempat ini…” timpal sepuh itu dengan senyum ramah.
“Kami butuh pertolongan…” Lengkukup tiba-tiba menyela.
“Aku memiliki sedikit uang, apakah ini cukup untuk membuat kami tinggal di sini?” Gianjoyo mengeluarkan beberapa keping emas dari kantong kulit yang dia bawa, seraya memastikan sepuh itu tidak menjebak dirinya.
“Tentu saja, itu lebih dari cukup, mari ikuti aku…!!” jawab sepuh itu dengan mata berkaca-kaca ketika melihat kepingan emas yang ada di tangan Gianjoyo, tentu dirinya tidak ingin membiarkan emas itu pergi begitu saja.

Book Comment (91)

  • avatar
    LukmanLukman hakim

    cerita nya bagus sy suka

    22/12

      0
  • avatar
    Buahwili

    bagus

    03/10/2024

      1
  • avatar
    MulyoRama

    bagus

    16/02/2023

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters