“Terima kasih, kalian sudah hadir dalam hidupku." °Keina° *** Suasana jalanan terlihat begitu ramai. Para orang tua tidak hentinya saling berlalu lalang menjemput buah hatinya yang telah keluar dari gerbang sekolah. Bahkan mereka seakan lupa bahwa anaknya sudah menginjak masa remaja. Sudahlah, Keina memang berbeda. Terbiasa mandiri membuatnya menganggap aneh tradisi antar jemput yang selalu disaksikan. "Lo lagi nungguin angkot?" tanya Alga sambil melangkah mendekati Keina dengan gaya andalannya. Memasukkan tangan ke dalam saku celana. Tampak keren. Jangan ditanya seberapa gagahnya Alga. Lelaki itu sangat cocok jika menjadi seorang model. Badannya yang ideal sepertinya membuat setiap gadis yang melihat pun terpana. Kecuali Talitha. Entah bagaimana tipe ideal gadis tomboi itu. "Iya, kalian juga?" "Iya. Kita biasa naik angkot. Soalnya mobilnya Alga nggak guna, cuma buat pajangan doang." "Gue belum punya SIM, bodoh!" sewot Alga dengan memelototi Talitha. "Yaelah, timbang ke sekolah doang ribet amat mikirin SIM." "Sebagai warga negara yang baik, gue harus patuh sama aturan." Keduanya sama-sama memalingkan wajah. Keina tersenyum melihat tingkah Alga dan Talitha. Keina mulai berpikir bahwa mereka telah saling mengenal sejak lama. "Eh, tapi kalo lo juga biasa naik angkot kok gue nggak pernah liat lo?" Talitha kembali berbicara. Pantas saja Talitha tidak pernah bertemu Keina di angkot, karena memang Keina baru saja pindah dari Semarang. Keina gadis kelahiran Semarang yang tinggal bersama neneknya. Arya dan Winda pergi ke Jakarta untuk merantau, berharap usahanya dapat membuahkan hasil. Benar saja, Arya sukses menjadi direktur utama di sebuah perusahaan. Selang beberapa tahun, kabar duka menyapa, nenek Keina meninggal dunia. Akhirnya Arya dan Winda memutuskan untuk kembali ke Semarang dan menjemput Keina untuk menetap di Jakarta. "Tapi kok lo bisa berangkat sendiri ke sekolah? Maksudnya nggak nyasar, kan lo baru pindah." "Mmm sebenernya aku udah pindah satu bulan yang lalu. Jadi habis lulus SMP aku langsung pindah ke sini, sering lewat sini juga kalo diajak bunda belanja. Jadinya aku udah hafal jalannya. Talitha mengangguk. "Lah, terus sekarang lo di sini sama siapa?" "Ayah sama bunda. Soalnya bunda udah nggak kerja, kalo ayah masih sering ke luar kota." "Jadi lo punya dua rumah, dong?" Keina mengangguk pelan. "Apaan sih, Tha? Kepo banget jadi anak." "Gue kan cuma pengen tau," sewot Talitha sambil menjulurkan lidahnya ke Alga. "Eh, tadi lo baca puisinya keren, Na. Emang lo biasa bikin puisi gitu, ya?" ucap Alga seraya tersenyum simpul. Tatapannya begitu dalam, membuat Keina sedikit canggung. Entah apa maksud dari tatapan tersebut, hanya Alga yang mengetahuinya. "Makasih, Al," Keina tersenyum sungkan, "iya, aku biasa bikin puisi. Tapi sebenernya aku juga pengen banget nulis novel. Ya walaupun nggak tau kapan." Keina tersenyum tipis. Alga menatap lembut ke arah Keina. Siapa pun tolong, Keina seperti akan terbang. Bagaimana bisa dia menatap Keina dengan sorot mata yang begitu dalam? Berbanding terbalik dengan tatapan ketua OSIS menyebalkan itu. "Gue yakin lo pasti bisa, Na." Alga tersenyum hangat ke arah Keina, membuat Keina terkesima untuk beberapa detik. "Guys, angkotnya dateng, tuh. Ayok pulang!" pekik Talitha. *** "Seru, nggak?" "Seru, Bun. Seru banget, malah. Keina bisa ketemu sama temen-temen baru. Keina juga udah punya temen baru sekarang. Namanya Talitha sama Alga," ucap Keina sembari menonton televisi dan memakan camilan. "Syukur deh kalo gitu, Bunda jadi seneng dengernya." Keina adalah anak bungsu dari dua bersaudara, wajar saja jika dia sangat dimanja. Kakaknya, Zein kini tengah menempuh pendidikan di Amerika, sedangkan Arya sangat sibuk, tetapi Arya tetap menyempatkan waktu untuk bisa menikmati kebersamaan bersama keluarganya. Menurutnya, keluarga jauh lebih penting daripada apa pun. "Bun, Keina ke kamar dulu, ya. Bunda nggak papa Keina tinggal?" Dengan nada pelan Keina berkata kepada Winda. "Iya, nggak papa kok. Kamu harus istirahat, pasti hari ini capek banget. Lagian tadi pagi nggak mau dianterin pake mobil sama ayah, kan kamu jadi kecapean," ucap Winda sambil mengelus pundak Keina dengan disertai tatapan penuh kasih sayangnya. "Nggak papa, Bun. Keina lebih seneng naik angkot, soalnya di angkot Keina bisa punya lebih banyak temen lagi," tutur Keina lembut sambil menggenggam tangan Winda. Winda hanya tersenyum dan mengelus ujung kepala Keina. Ada tatapan kekaguman yang terpancar pada kedua bola mata Winda. Keina beranjak dari tempat dia duduk bersama Winda di ruang keluarga. Kini dia sudah berada di kamarnya dengan dinding yang berlapis warna pastel. Juga tampak beberapa foto dirinya tersenyum lebar bersama teman-temannya saat masih SMP yang tertempel rapi di dinding kamarnya. Dear diary, Hari ini aku seneng banget, soalnya aku baru aja punya temen baru. Namanya Talitha sama Alga. Algantara Bumi Pratama. Mereka baik banget sama aku. Aku berharap banget kalo aku nantinya bisa satu kelas sama mereka. Satu kelas sama mereka pasti bikin aku jadi makin semangat belajar, soalnya mereka juga punya semangat yang sama kaya aku. Talitha adalah anak yang periang. Kalo Alga ... dia anaknya konyol, tapi dia baik kok. Alga diem-diem tuh suka perhatian sama temennya, walaupun caranya perhatian terbilang berbeda. Aku harap kita bisa saling support dalam belajar dan nantinya bisa sama-sama berjuang buat meraih cita-cita. *** Hari kedua MOS berjalan dengan lancar. Berbeda dengan hari sebelumnya yang hanya di isi dengan perkenalan, hari ini setelah memperkenalkan beberapa ekskul di SMA Garuda, senior mulai memberikan tugas. Tetapi bukan tugas dari senior yang menjadi perbincangan anak-anak baru ini, melainkan paras tampan yang dimiliki oleh senior tersebut. Banyak di antara siswi baru yang mencoba mencari perhatian dari senior yang satu ini. Salah satunya Rara. Berpura-pura pingsan saat sedang berdiskusi bersama kelompoknya. Bodoh! Siapa yang akan percaya dengannya? Dia pingsan tanpa alasan. Sedari tadi yang mereka lakukan hanyalah duduk sambil membuat anyaman dari kertas. "Eh, sumpah gue nggak bisa berhenti ketawa kalo inget kejadian tadi." Talitha terbahak dengan memegangi perutnya. Alga dan Keina yang mendengar pun tidak bisa menahan tawanya. "Kok bisa dia punya ide sekonyol itu, ya?" tanya Keina heran. "Ya namanya juga cari perhatian, Na." Alga mengusap ujung sepatunya yang tidak sengaja mencium tanah. "Tapi harusnya jangan gitu konsepnya." Talitha kembali terbahak. "Biasalah," jawab Alga singkat. "Oh iya, besok kan tanggal merah, gimana kalo kalian main ke rumahku?" Seketika Talitha dan Alga saling bertatapan dan menjawab dengan kompak. "Boleh!" "Aku si yes, ya. Ha ha ha." Alga memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. "Nah, gitu dong. Besok aku tunggu. Beneran loh, ya!" "Iya, beneran," kata Talitha, "bye Na!" sambungnya. Mereka berpisah di sebuah pertigaan. Namun, sebelumnya berpisah Alga menatap Keina sayu. Cukup lama. Membuat Keina bertanya-tanya. Apakah ada yang salah dengan dirinya? Keina menggelengkan kepala, dia tidak boleh berpikir aneh-aneh. Entahlah. Keina Ayu Pratibha, batin Alga mantap.
seru dan 💗menarik
03/07
0Bagus banget
03/06/2025
0baguss
30/05/2025
0View All