logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Between Love and Ideals

Between Love and Ideals

Bunga Aksara


Chapter 1 First Day

Hujan turun dengan derasnya mengguyur di ibu kota. Membuat gemerlap bintang menyembunyikan diri beberapa saat. Bahkan rembulan pun tidak tampak. Angin malam begitu terasa kala mendekap tubuh. Sayangnya, semua itu tidak Keina pedulikan. Dia tengah asik membaca sebuah cerita di platform kepenulisan. Keina tampak tersenyum, tertawa, sedih, juga marah kala membaca suatu narasi yang tersaji.
“Ya ampun, sedih banget sih. Kenapa harus meninggal, hiks,” monolog Keina sambil mengusap ingusnya.
Keina kembali melanjutkan ceritanya. Meskipun waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tetapi Keina belum berniat sama sekali untuk mengakhiri kegiatannya. Pantang tidur bagi Keina sebelum mengetahui akhir dari cerita yang dia baca.
“Oke, dikit lagi. Yok bisa yok,” ucap Keina menyemangati diri.
Seketika suara seorang kakek tua terdengar memecah suasana malam. Diiringi dengan irama air hujan entah mengapa membuat Keina bergidik ngeri. Sembari berpikir, Keina menyibak selimutnya dan bergegas menuruni tangga. Mencari Winda, ibunya.
***
“Innalillahi wa inna ilaihi rooji'un."
“Siapa yang meninggal, Bun?” Keina membulatkan bola matanya.
“Pak Hasan, yang rumahnya di pertigaan depan.”
Deg!
Keina terkejut bukan main, teringat baru saja sore tadi dia menyapanya di depan rumah usai pulang dari swalayan. Dia jadi teringat, bahwa Hasan adalah seorang lelaki sebatang kara. Hari-harinya hanya diisi dengan bermain bersama anak-anak kecil yang melintasi rumahnya. Sebagai pengobat rindu kepada anak kandung yang telah meninggal bersama istrinya karena kecelakaan di hari lalu.
“Semoga amal beliau diterima di sisi Allah ya, Bun.”
“Aamiin. Udah kamu tidur sana! Besok kamu harus sekolah, ‘kan?”
***
Keina Ayu Pratibha. Siswi baru yang kini tengah mengikuti Masa Orientasi Siswa. Gadis kelahiran Semarang ini adalah anak periang dengan berbagai mimpi dan selalu bersemangat menjalani hari. Keina selalu bermimpi untuk bisa mengelilingi dunia, terutama Indonesia. Selain periang, dia juga gadis yang mandiri dan pantang menyerah. Keina sangat mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, itu membuatnya tidak terlalu sulit untuk mendapatkan teman baru. Sejak kecil, Keina sangat ingin menjadi seorang penulis profesional. Berbagai penghargaan sudah dia dapatkan dari berbagai lomba menulis yang dia ikuti. Di SMA ini Keina berharap, dia dapat memperdalam kemampuannya dalam menulis. Selain berbagai hal baik, Keina juga memiliki dua kebiasaan buruk dalam dirinya.
Kring! Kring! Kring!
Keina terbangun dari tidur lelapnya lalu menatap ke sumber suara itu berada. Kedua matanya terbelalak saat mendapati bahwa jam mungil itu menunjukkan pukul setengah tujuh. Tanpa pikir panjang Keina beranjak dari tempat tidurnya dan berlari menuju kamar mandi.
Setelah memakai seragam dengan rapi, Keina menggapai tas yang tergantung di dinding kamarnya dan kemudian mengenakannya.
“Ayah, Bunda, Keina berangkat dulu ya. Udah telat soalnya.” Setelah mencium tangan ayah dan bundanya, dengan tergesa-gesa Keina melangkah pergi.
“Eh, sarapan dulu!” seru Winda , ibu Keina.
Keina kembali ke meja dapur dan menenggak segelas susu.
“Biar Ayah anterin aja ya, Na,” ujar Arya dengan menatap naik turun menyesuaikan suara tenggorokan Keina.
“Nggak usah, Yah. Keina naik angkot aja, masih keburu kok, tenang aja.” Keina memberikan senyum cerianya. Anak ini selalu saja bisa meyakinkan orang-orang di sekelilingnya.
Arya dan Winda hanya bisa menghela napas, melihat sikap Keina yang selalu bisa mengatasi masalahnya sendiri.
Entah apa alasan Keina lebih memilih naik angkot daripada menggunakan salah satu mobil yang berbaris rapi di garasi. Keina memang sosok yang sangat dewasa. Berbagai fasilitas mewah yang dimiliki tidak menjadikan dirinya menjadi anak yang manja seperti anak-anak bungsu pada umumnya. Keina lebih senang berusaha keras daripada hanya mengandalkan segala akses yang dia miliki.
***
SMAN Merah Putih. Bangunan yang megah dan berdiri gagah ini terpampang jelas oleh mata belo Keina. Riuh suara para siswa pun sudah terdengar. Hijaunya pepohonan yang menghias taman sekolah membuat udara yang terhirup menjadi lebih segar. Keina tersenyum dan menghela napas.
"Bismillahirrohmanirrohim. Sekolah baru, temen baru, semangat baru," monolog Keina sembari melangkahkan kaki kanannya, memasuki lingkungan sekolah dengan penuh semangat.
Baru saja Keina sampai, terdengar seseorang berteriak dari arah lapangan sekolah.
"Ayok adik-adik semuanya berkumpul di lapangan! Jangan lupa untuk mengenakan atribut sesuai yang telah ditentukan oleh kakak-kakak senior!" pekik seorang senior bersama beberapa senior lainnya yang berdiri di pinggir lapangan.
Dengan napas yang masih terengah-engah, Keina dan semua anak baru lainnya berlari menuju sumber suara itu.
Setelah semuanya berbaris dengan rapi, para senior mulai membagi kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari lima siswa.
Keina sama sekali tidak keberatan, karena menurutnya inilah saat yang tepat untuk mendapatkan teman baru.
Semua anak telah mendapatkan kelompok, termasuk juga Keina. Lima anak dengan satu anak laki-laki.
"Eh, kenalan dong, nama lo siapa? Nama gue Talitha." Talitha mengulurkan tangannya kepada Keina.
"Namaku Keina," ucap Keina sambil tersenyum ramah dan membalas uluran tangan Talitha.
"Eh, iya! Ini temen gue, namanya Alga." Talitha menenteng lengan baju Alga hingga tangannya sedikit terangkat. "Katanya dia pengen kenalan sama lo." Talitha melirik Alga dengan cengengesan.
"Apaan sih, Talitha?! Dasar nggak sopan." Alga mengibaskan tangan Talitha dan merapikan kembali bajunya. "Maaf ya, Talitha emang suka gitu." Alga tersenyum sungkan dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menyembunyikan rasa malunya karena tingkah jail Talitha.
"Oh iya, nama gue Algantara Bumi Pratama." Alga mengulurkan tangannya kepada Keina.
Nggak heran sih namanya sebagus itu, anaknya juga ....
"Are you okay?" tanya Alga sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Keina.
Keina terkesiap melihat Alga yang sudah berada tepat di depannya. "Eh iya, maaf. Na-namaku Keina Ayu Pratibha." Keina tersenyum simpul.
"Kalo nama kalian siapa? Dari tadi diem aja," tanya Keina kepada dua anak yang tampaknya tidak bersemangat menjalani hidup.
"Lo nggak bisa baca?" Gadis judes ini menunjuk sebuah kertas berwarna biru yang dikalungkan di lehernya. Tertulis sebuah nama, Rara.
"Oh, Rara. Salam kenal Ra." Keina mengulurkan tangannya ke Rara. Rara hanya memalingkan wajah, berpura-pura tidak melihat. Membuat Alga dan Talitha menggelengkan kepala, sudah tidak heran dengan sikap gadis itu.
"Halo, nama gue Jeje." Jeje tersenyum ramah dengan melambaikan tangannya---say hallo.
"Lo ngapain sih, harus kenalan sama mereka, Je?!" bentak Rara, membuat Jeje terkejut.
"Ih, apaan sih, Ra? Biarin kali. Jeje kan juga pengen kenalan. Lo nggak berhak ngelarang dia, emang lo emaknya? Lagian kalo lo nggak mau ikut kenalan ya udah. Kita nggak butuh juga," cecar Talitha yang geram karena ucapan Rara.
"Nggak penting banget kenalan sama kalian! Dan lo, nggak usah ikut campur." Rara menunjuk kasar tepat ke wajah Talitha, membuat gadis bernama lengkap Talitha Ratna Kumala itu naik pitam.
Kegaduhan di kelompok ini membuat seorang senior menghampiri mereka.
"Ada apa ribut-ribut?! Kalian tuh sama-sama anak baru. Jadi nggak usah ada yang belagu!" bentak seorang senior wanita dengan mata yang memelotot, mengerikan. Membuat lima anak ini terdiam seketika.
"Kalian bawa semua kebutuhan hari ini, 'kan?" senior wanita itu kembali bertanya.
"Bawa, Kak," jawab Keina dengan menundukkan kepala.
"Bagus. Karena nanti akan dicek satu per satu di lapangan." Senior wanita itu kemudian melangkah pergi usai mengingatkan juniornya.
***
"Jeruk, air mineral, nasi bungkus pake karet gelang warna merah, rotinya dua. Mmm lengkap." Talitha selesai mengecek barang bawaannya. Tetapi tiba-tiba perhatiannya teralihkan kepada Keina yang terlihat begitu sibuk. Membuat Talitha menaikkan satu alisnya.
"Keina, lo kenapa? Kok mukanya gelisah gitu?" selidik Talitha sambil mengerutkan dahi.
"Anu, aku lupa nggak bawa jeruk, Tha. Tadi pagi aku bangunnya kesiangan," ucap Keina dengan wajah yang terlihat cemas, mungkin sudah terbayang hukuman yang akan dia dapat dari para seniornya.
"Eh, tau nggak? Katanya di sekolah kita ada salah satu senior yang super galak loh. Dia nggak segan buat ngehukum juniornya. Gila! Ngeri banget sih," ucap seorang siswi yang juga anak baru.
Mendengar perkataan tersebut, membuat Keina semakin gelisah.
"Yah, terus gimana dong? Nanti lo bisa kena hukuman. Tha, lo bawa jeruk berapa?" tanya Alga dengan tatapan penuh harap.
"Oh, gue Al? Gue bawa tiga. He he he." Dengan senyuman lebar, Talitha menyodorkan tiga buah jeruk berukuran besar.
"Dasar perut gentong." Alga mengambil sebuah jeruk dari tangan Talitha.
"Tapi ada faedahnya, 'kan?" Talitha melipat kedua tangannya di depan dada.
Alga memutar bola matanya malas, enggan berdebat dengan Talitha. Karena bagaimapun, ucapan Talitha ada benarnya. Berkat sebuah jeruknya, Keina terbebas dari berbagai bayangan mengenai hukuman.
"Ini, Na. Buruan lo simpen mumpung Rara sama Jeje masih di toilet. Gue takut mereka bakal ngadu, kelihatannya mereka nggak suka gitu sama lo." Alga memberikan sebuah jeruk yang dia rampas dari tangan Talitha kepada Keina.
"Ya ampun, makasih banget, ya. Kalian udah mau bantuin aku. Aku takut banget kena hukuman dari kakak-kakak senior," tutur Keina terharu pada kebaikan teman yang setengah jam lalu baru saja memperkenalkan diri.
"Iya, kita kan satu kelompok. Jadi kayak keluarga, dong. Kita harus saling ngebantu." Talitha tersenyum ramah.
Beberapa menit kemudian Rara dan Jeje kembali. Datar, cuek, dan judes. Itu adalah pemandangan yang selalu terlihat di wajah Rara.
Dari arah lapangan, terdengar seorang senior kembali berbicara. Kali ini memanggil seluruh junior agar kembali berbaris di lapangan bersama masing-masing kelompoknya.
"Setelah kalian saling mengenal satu sama lain dalam kelompok kalian, sekarang saatnya kami memeriksa barang bawaan kalian. Jika ada yang lupa atau sengaja tidak membawa satu barang saja yang kami minta, maka akan kami beri hukuman!" Seorang senior berbicara dengan suara yang keras, nada yang tegas, dan dilengkapi dengan tatapan yang tajam.
Siapa yang tidak takut melihat manusia seperti itu? Semua junior hanya terdiam dengan ekspresi tegang tanpa ada yang mampu berkutik sedikit pun. Detak jantung yang tidak beraturan seakan sedang ditembak seorang cowok membuat kedua kaki melemas dan ingin jatuh pingsan. Sebenarnya apa yang mereka takutkan? Jika semua barang bawaan sudah lengkap, tidak ada lagi alasan seorang senior menghukum juniornya.
Semua senior telah menyebar, bersiap memantau dengan mata elangnya ke segala arah. Tidak ada yang boleh lolos dari pandangan mereka, karena itulah cara mereka dalam berpatroli.
"Oke langsung saja saya akan memastikan bahwa kalian semua membawa barang bawaan dengan lengkap. Saya akan mengucapkan satu per satu dari barang bawaan tersebut dan kalian harus langsung mengangkatnya!" ucap senior lagi.
"Yang pertama jeruk! ... nasi bungkus dengan karet gelang berwarna merah! ... roti! ... air mineral! ...." Senior ini berhenti berbicara dan menatap tajam ke arah seorang gadis yang tengah mengeluarkan semua isi tasnya. Entah apa yang dia cari, tetapi sepertinya dia kehilangan air mineralnya. Emmm tidak. Dia meninggalkannya.
"Hei, kamu!" Telunjuknya menghadap tepat pada seorang gadis yang kini sangat terkejut dan menatap senior itu dengan ekspresi penuh ketegangan.
"Iya kamu! Mana air mineralmu?!" matanya melotot seperti akan keluar, "nggak bawa?! Ngomong jangan diem aja!" Bukan hanya seorang gadis, namun semua anak pun dapat merasakan sensasi ketegangan tersebut. Senior itu benar-benar menghayati peran antagonisnya.
"Ma-maaf Kak, air mineralnya ketinggalan." Gadis ini tertunduk dengan tangan yang bergemetar hebat.
Dari arah kanan barisan, Alga hanya bisa terdiam dengan diselimuti rasa khawatir. Apa yang akan senior galak itu lakukan? Kali ini Alga tidak dapat membantu Keina.
"Maju kamu!" teriaknya, "buruan maju!" Kali ini nadanya satu oktav lebih tinggi.
Dengan kaki yang seperti kehabisan tenaga dan detak jantung yang menggila, Keina akhirnya melangkah menuju senior itu berdiri.
Saat ini keduanya sudah saling berhadapan. Keina dengan segala bayangan ketakutannya masih menunduk, sedangkan Dev sedari tadi menatapnya dengan tatapan menginterogasi. Kedua matanya tidak teralihkan dari seorang gadis yang tidak hentinya memainkan tangannya, grogi.
Cantik, batin Dev dengan tersenyum miring.
"Siapa nama kamu?"
"Keina, Kak."
"Nama lengkap!"
Keina mencoba menenangkan diri. Ketakutan hanya akan mengacaukan segalanya. Sebuah kalimat yang tengah Keina transfer ke otaknya.
Keina menghela napas. "Keina Ayu Pratibha, Kak." Satu jeruk mungkin telah menyelamatkan Keina, tetapi sebotol air mineral justru membuat jantung Keina berdetak lebih kencang dari biasanya. Keina memberanikan diri untuk menatap wajah lelaki tersebut. Matanya menyipit, mengamati sebuah name tag di jas yang senior itu kenakan. Di sana tertulis, DEVANIAL AKSA ADHITAMA.

Book Comment (41)

  • avatar
    panydiana

    seru dan 💗menarik

    03/07/2025

      0
  • avatar
    Nissa Ayu

    Bagus banget

    03/06/2025

      0
  • avatar
    Anggun Mellanie

    baguss

    30/05/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters