logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 7 Perubahan Sikap

“Aletta.” Teriak Aldev dari kejauhan sambil melambaikan tangannya kearah Aletta.
Aletta hanya bisa menampilkan senyum yang dipaksakan. Teriakan Aldev barusan sukses membuat Aletta dan Aldev menjadi pusat perhatian seluruh orang di lokasi syuting.
“Hai.” Sapa Aldev setelah posisinya lebih dekat dengan Aletta.
“Halo Kak.”
Samar-samar Aletta mendengar suara bisik-bisik dari masyarakat sekitar yang melihat kebersamaannya dengan Aldev seakan menjadi tontonan gratis. Ada beberapa orang juga yang memotret Aletta dan Aldev.
“Eh itu kan Aletta sama Aladev.”
“Iya benar. Katanya nggak pacaran tapi kok akrab gitu ya.”
“Alah aslinya pasti pacaran. Cuma ditutupin aja biar nggak dibilang cinlok.”
“Padahal ceweknya nggak cantik-cantik amat lho.”
“Masih cantikan juga mantan-mantan Aldev yang lain.”
“Numpang tenar doang kali ceweknya. Aldev kan fansnya banyak.”
“Gue foto ah. Lumayan buat bahan gosip.”
“Gue juga mau foto. Biar followers gue nambah.”
Dan masih banyak lagi perkataan-perkataan yang didengar Aletta. Meskipun mereka mengatakannyadengan berbisik entah kenapa Aletta bisa mendengar semuanya. Mendadak dadanya mulai terasa nyeri. Reflek Aletta segera memegangi dadanya. Ia juga menoleh ke samping kanan dan tidak menemukan keberadaan Sebastian dan Refan.
“Kak Tian sama Refan kemana sih? Pas gue butuhin malah pada ngilang.”
Kemudia Aletta menolehkan kepalanya kearah kiri. Dari kejauhan terlihat Sebastian dan Refan yang sedang berjalan menuju kearahnya.
“Aletta, kamu kenapa?” Kata Aldev sambil menaruh tangannya di bahu Aletta.
Menyadari perlakuan Aldev yang sedikit berlebihan, Aletta justru melangkah mundur selangkah hingga menyebabkan Aldev harus melepaskan tangan yang awalnya berada di bahu Aletta. Setelah merasa ada yang aneh dengan perilaku Aletta, Aldev mengikuti arah pandang Aletta. Ia menemukan Sebastian dan Refan yang sedang berjalan kearah Aletta. Kemudian Aldev kembali mengarahkan pandangannya ke Aletta. Sungguh keputusan yang salah bagi Aldev, karena ia harus menelan kenyataan pahit melihat Aletta memandang Sebastian dan Refan yang penuh harap. Aldev menghembuskan napasnya secara kasar. Sedangkan Sebastian dan Refan yang semakin dekat dengan keberadaan Aletta justru merasakan ada yang janggal. Mereka melihat Aletta yang terus saja memegangi dada sebelah kirinya. Ekspresi mukanya pun terlihat pucat. Sebastian dan Refan menyadari ada yang aneh dengan Aletta. Mereka segera berlari menuju Aletta. Dan siapa sangka Refan justru datang lebih cepat dibandingkan Sebastian.
“Kak Aletta nggak apa-apa?” Kata Refan sambil memegangi lengan Aletta.
Sedangkan Aldev yang melihat keakraban diantara Refan dan Aletta merasa cemburu. Aletta bahkan tidak menghindari sentuhan dari Refan. Saat Aldev ingin menanyakan hal tersebut, Sebastian justru datang dengan rentetan pertanyaan yang membuat Aldev mengurungkan niatnya.
“Letta wajah kamu pucat. Kamu sakit ya? Syutingnya dibatalin aja gimana? Saya antar kamu pulang biar bisa istirahat.”
“Apaan sih Kak Tian. Jangan lebay deh! Aku nggak apa-apa kok.”
“Serius nggak apa-apa?” Kata Sebastian sambil meletakan punggung tangannya di dahi Aletta.
“Nggak apa-apa kan?” Kata Aletta.
“Aletta, make up dulu ya! 30 menit lagi kita take.” Teriak sutradara.
Mendengar hal tersebut Aletta segera menuju basecamp untuk make up. Saat ia berjalan, Aletta masih mendengar bisikan dari banyak orang.
“Enak banget ya jadi Aletta bisa di keliling cowok-cowok ganteng.”
“Kasihan banget si Aldev. Kalau mereka beneran pacaran sih Aletta kebangetan banget. Masak bisa akrab sama cowok lain. Di depan Aldev pula.”
Entah apakah hari ini Aletta sedikit sensitif hingga membuat dia mendengar semua bisikan dari orang-orang di sekitar.
Sedangkan Gavin yang tidak bisa meninggalkan mini market hanya bisa memandang Aletta dari kejauhan.
“Kenapa dari dulu nggak ada perkembangan ya. Yang gue lakuin masih sama. Memandang Aletta dari kejauhan.”
5 tahun yang lalu.
Tahun 2016.
Di tahun pertama masuk SMA Surya Merdeka, Gavin sudah mencuri banya perhatian. Ia dikenal sebagai sosok yang baik, hangat, ramah dan pintar. Banyak sekali siswi yang memperebutkannya mulai dari kelas satu sampai anak kelas tiga. Namun tak satu pun dari mereka yang mampu merebut perhatian Gavin. Suatu hari Gavin sedang membantu pegawai perpustakaan untuk merapikan buku. Saat semua orang sedang sibuk dengan bukunya masing-masing, perhatian Gavin teralihkan oleh seorang siswi yang sedang mendengarkan musik menggunakan earphone-nya. Entah kenapa tiba-tiba saja hati Gavin seperti tergelitik. Wajah manis wanita itu sukses mengunci hatinya.
“Letta.” Teriak seseorang kearah wanita itu.
Teriakannya memang tidak terlalu keras. Namun karena kondisi perpustakaan yang sepi teriakan tersebut berhasil mendapatkan perhatian banyak orang. Semua orang yang awalnya fokus dengan buku-bukunya, kini justru menatap tajam kearah dua siswi yang menjadi sumber kebisingan. Tanpa menunggu waktu lama kedua siswi itu membungkuk dan meminta maaf.
“Letta. Nama yang bagus.” Batin Gavin.
“Lu nggak bosen di perpustakaan?” Tanya teman Aletta.
“Nggak.”
“Letta, lu di sini nggak baca buku. Heran gue tujuan lu di perpustakaan ngapain?”
“Dengarin musik.”
“Lu dengarin musik bisa dimana aja kan. Nggak harus di sini.”
“Lah gue sukanya di sini. Di sini tuh suasananya tenang.”
“Ngantuk iya.”
Gadis bernama Aletta itu hanya terkekeh pelan mendengar perkataan temannya.
“Balik ke kelas yuk! Udah mau bel nih.”
Aletta mengiyakan ajakan temannya. Dan ternyata sedari tadi Gavin sedang memandangi setiap gerak gerik Aletta dibalik tumpukan buku yang ia tata dengan rapi. Setelah Aletta pergi, Gavin tersenyum seakan menertawakan dirinya sendiri. Ini adalah pertama kali dalam hidupnya ia bertingkah bodoh hanya untuk melihat seorang siswi yang bahkan tidak ia kenal. Semenjak hari itu, Gavn mencari tahu lebih banyak tentang Aletta. Ia bahkan mengikuti Aletta ke kantin untuk makan siang dan ke perpustakaan untuk mendengarkan musik. Namun bukannya menyapa Aletta dan mengajaknya berkenalan, Gavin justru memilih untuk memantau Aletta dari kejauhan. Entah sihir apa yang dilakukan Aletta sehingga membuat benteng pertahanan Gavin runtuh begitu saja.
***
Terlihat Aletta tersenyum bahagia sambil menggandeng dan menyenderkan kepalanya di bahu Aldev. Mereka berjalan-jalan dengan mesra seperti pasangan pada umumnya. Sesekali Aldev mengelus rambut Aletta dan mencium puncak kepala Aletta.
“Cut.” Teriak sutradara.
Ternyata hal tersebut dilakukan hanya untuk kepentingan syuting. Setelah syuting selesai Aletta baru menyadari pandangan sinis dari kru dan warga sekitar yang sedang menonton jalannya proses syuting. Mereka berulang kali melihat ponsel dan menatap Aletta dengan tajam. Aletta merasa tidak nyaman dengan suasan tersebut. Tiba-tiba saja ada seorang siswi SMA menceletukan sesuatu.
“Yang kayak gini dibilang dewi kebaikan? Eh malamnya bawa cowok masuk ke rumah.” kata siswi SMA tersebut.
Karena penasaran Aldev mengambil ponsel di kantong celananya dan mencari nama Aletta di internet. Ia melihat sebuah artikel yang menjelaskan bahwa ada seorang laki-laki yang masuk ke rumah Aletta saat malam hari. Dan tentu saja laki-laki tersebut bukan Aldev. Meskipun fotonya hanya nampak belakang, namun postur laki-laki tersebut berbeda dengan Aldev. dalam artikel tersebut terlihat seorang laki-laki yang sedang memencet password di pintu rumah Aletta. Aldev masih tidak habis pikir bahkan ia yang sudah mengenal dan dekat dengan Aletta cukup lama tidak mengetahui password rumah Aletta. Setelah celetukan siswi SMA tersebut mulai banyak yang berbisik-bisik mencaci maki Aletta. Bahkan Aldev laki-laki yang dekat dengan Aletta saat ini justru menatap tajam kearah Aletta. Seakan mempertanyakan kebenaran yang terjadi. Aletta baru menyadari di posisi terburuk kali ini, Aldev bahkan hanya mampu meragukannya dan tidak berniat untuk melindunginya.
“Apa gue salah mengagumi seseorang?” Batin Aletta sambil memandang Aldev.
Perlahan dada Aletta mulai terasa nyeri, napasnya juga tidak beraturan. Kepalanya terasa sangat pusing. Bahkan matanya sudah kehilangan fokus. Tangannya sedari tadi memegangi dada sebelah kirinya. Dengan mata yang sudah tidak fokus, Aletta melihat Refan dan Sebastian yang berlari kearahnya dengan wajah yang sangat khawatir. Aletta kembali tersenyum tipis. Setidaknya dikeadaan seburuk ini, ada Refan dan Sebastian yang mengkhawatirkannya. Kemudain Aletta pingsan. Untung saja Refan masih bisa menangkap tubuhnya. Sebastian yang sudah lelah berlari segera menepol ambulance. Sepuluh menit kemudian ambulance datang dan membawa Aletta ke rumah sakit terdekat. Disisi lain terlihat Gavin yang saat ini sedang dimarahi oleh bosnya. Meskipun dimarahi habis-habisan mata Gavin justru terfokus dengan kejadian yang menimpa Aletta. Tanpa sadar ia mengepalkan tangannya dan menahan emosi. Entah apa yang terjadi sehingga membuat Aletta pingsan. Andai saja kondisinya masih seperti dulu, mungkin Gavin sudah berlari kearah Aletta dan membelanya. Ia juga akan mencaci maki semua orang yang memandang rendah Aletta. Namun takdir berkata lain, yang ia lakukan saat ini hanya menjadi penonton saja. Kalau ia memasakan diri untuk menghampiri Aletta, maka ia akan kehilangan pekerjaannya.
Di rumah sakit terlihat Refan dan Sebastian yang sedang mengkhawatirkan kondisi Aletta. Saat ini Aletta sedang diperiksa oleh dokter. Setelah 15 menit, dokter yang memeriksa Aletta keluar dari ruang perawatan.
“Gimana kondisi Aletta, Dok?” Tanya Sebastian.
“Kondisi kesehatannya baik-baik saja. Mungkin Aletta pingsan dikarenakan syok. Saya sarankan lebih baik Aletta mendapatkan konseling dari psikiater. Saya takutnya bukan fisiknya yang sakit namun justru psiksnya.”
Setelah mengatakan itu, dokter tersebut kembali ke ruangannya. Sebastian yang medengar kondisi Aletta, tiba-tiba saja terduduk lemas. Refan yang meilaht hal tersebut, segera memapah Sebastian untuk duduk di kursi.
“Gangguan psikis itu lebih sulit disembuhkan dari pada penyakit fisik. Saya nggak tahu harus menghadapi Aletta dengan cara apa. Apa saya harus berbohong dan mengatakan kondisi Aletta baik-baik saja? Mungkin dia hanya kelelahan.” Kata Sebastian.
“Bang, bukannya lebih baik kalau kita jujur ke Kak Aletta. Setidaknya kalau pun Kak Aletta mengidap gangguan psikis bisa ditangani lebih awal. Jadi kemungkinan untuk sembuh juga lebih besar. Apapun yang dilakukan dengan kebohongan akan berakhir dengan kekecewaan.”
Mendengar perkataan Refan, Sebastian hanya bisa menghembuskan napas kasar. Dan menatap kosong ke depan. Sedangkan Refan justru memasuki ruang rawat Aletta. Ia duduk di sofa sambil memandangi Aletta. Di dalam hati, berkali-kali Refan menyalahkan dirinya sendiri. Karena foto yang tersebar saat ini adalah foto dirinya yang kemarin ke rumah Aletta hanya untuk mengambil ponselnya. Keinginannya untuk mendahulukan kepentingannya tanpa memikirkan dampak yang terjadi untuk Aletta berhasil membuat keadaan Aletta semakin terpuruk. Refan sungguh merasa bersalah.

Book Comment (38)

  • avatar
    Botol Yakult

    sangat indah

    04/09

      0
  • avatar
    AnjaniAnjani

    bagussss bangettt

    19/05/2025

      0
  • avatar
    Putri Billa

    Bagus bangetttt🥹🥹🥹

    16/05/2025

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters