Amaya menatap sekilas rumah mungil di depannya dengan senyum tipis. Memang rumah dinas itu tidak sebesar rumahnya yang di Bandung. Namun, demi pengabdian pada perusahaan tempatnya bekerja apa pun akan dipertaruhkan. Wanita itu memutari mobil lalu membuka pintu penumpang. Wajah Rama yang masih pulas menjadi pemandangan yang sangat dia nikmati. Si bungsu memang memiliki wajah dan postur tubuh mirip Rendi. Tinggi besar dan gagah, hanya saja Rama selalu kalap jika berurusan dengan makanan. Entah dari mana nafsu makan yang besar itu berasal. Amaya segera menepuk pelan pipi sang anak berusaha untuk membangunkan, tetapi remaja itu sepertinya hanyut dalam buaian mimpi sampai mengigau. “Mang, bakso lobster hiji ....” “Bocah ini bisa-bisanya merem masih mikirin makanan. Rama, bangun!” “Siomay komplit, gado-gado, sama es kelamud ....” “Ya Allah, Nak. Kamu udah kesambet setan makanan, ya? Bangun, Ram!” “Seblak, cireng, cilok, es cam—“ “Ramaaa! Ada tukang es krim tolilet. Kamu mau enggak? Ayo, bangun!” Remaja itu tergagap bangun. Dia langsung mendorong tubuh kurus Amaya ke samping lalu berlari ke depan sembari celingak-celinguk. Tawa dari mulut sang ibu menjadi penanda bahwa dia sedang dipermainkan. Kesal karena sudah diganggu tidurnya, Rama kembali menghampiri Amaya dengan muka ditekuk. “Jangan salahkan Mama. Siapa suruh susah dibangunin?” Rama hanya mencebik lalu membuka bagasi dan mulai membantu menurunkan dua koper besar beserta beberapa kardus. Mereka gegas masuk untuk beristirahat. Rasa penat selama di perjalanan membuat tubuh lemas. “Capek, Ma.” “Sama. Kamu enak tinggal ngorok sama ngiler aja. Mama nyetir sendirian sambil nahan kantuk.” “Hehehe. Maaf, Ma. Abis ngantuk berat. Hawanya mendukung buat rebahan ini.” “Halah, bisaan kamu aja, Ram. Emang dasar kang rebahan.” “Ma, pesen makan apa. Laperrr!” “Astaghfirullah, Rama. Mandi dulu, istirahat dulu, makanan aja yang dipikirin.” Remaja itu kembali mencebik, tetapi tetap melakukan apa yang diperintahkan sang ibu. Usai mandi dan berganti baju, Rama duduk di depan televisi sembari mendekap mesra keripik kentang dengan rasa rumput laut kesukaannya. Mulutnya tidak henti mengunyah dengan mata yang terus melihat layar datar. Melihat Amaya keluar kamar, gegas remaja itu mendekat. “Ma, panggil Aa ke sini apa? Biar bisa temenin aku tidur malam ini.” “Ish, kamu itu udah mau SMA masa masih penakut aja, sih?” “Aku paling enggak bisa tidur kalau pindah tempat kayak gini, Ma. Ayolah, plis.” “Aa masih magang sambil ngumpulin data buat penelitian, jadi dia enggak bisa ke sini sekarang.” “Kalau gitu Mama aja yang temenin Rama, ya?” “Ogah. Tidur sendiri sana! Dasar bontot.” Amaya menepuk pelan pipi Rama lalu berjalan menuju sofa di depan televisi. Dia mengetik sesuatu di ponsel dengan wajah serius. Remaja yang penuh rasa ingin tahu itu mendekat dengan kepala terulur melihat isi ponsel Amaya. Sedetik kemudian senyum menghiasi wajah gantengnya, ternyata sang ibu sedang memesan makanan secara online. Saat makanan yang dipesan datang, Rama menyambut dengan mata berbinar. Dia pun terlihat lahap menyantap hidangan. Amaya yang melihat hanya bisa mengulum senyum. “Ram, besok kita daftar sekolah, ya?” “Huum. Yang deket sini aja, kan? Kalau jauh-jauh Rama enggak mau, berat. Kayak Dilan yang rindu sama Milea.” “Ish, kamu, tuh, masih aja bercanda. Serius dikit napa, Ram?” “Ini serius, Ma.” “Kamu mana ada seriusnya. Abis ini cepetan merem, besok pagi-pagi kita berangkat.” Rama hanya mengangguk lalu beranjak ke kamar. Dia tunaikan salat Isya sebelum merebahkan diri di kasur. Perlahan kantuk mulai menyerang sehingga remaja itu pun hanyut dalam buaian mimpi. Suara kicauan burung lovebird milik tetangga berhasil membangunkan Rama pagi ini. Dia menggeliat sebelum akhirnya membuka mata. Remaja itu beringsut bangun lalu menguap sejenak. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri lalu tersenyum kecut. Bisa juga gue tidur sendiri di tempat baru, hahaha. Mana, tuh, burung berisik banget dari tadi. Rama bermonolog sembari menggaruk kepala yang tiba-tiba terasa gatal. Dia menoleh ke arah jam dinding dan langsung terlonjak kaget ketika melihat pukul 06.50. Gegas dia mengambil handuk dan mandi. Berselang lima menit kemudian dia sudah rapi dengan kemeja dan celana bahan yang mulai kesempitan karena bobot tubuhnya sudah naik sejak ujian. “Mama kenapa enggak bangunin Rama, sih?” tanya Rama ketika membuka pintu kamar dan mendapati Amaya sedang sibuk mengoleskan selai kacang ke roti tawar di tangannya. “Mama juga kesiangan bangun. Udah buruan sarapan, abis itu kita berangkat.” Tanpa disuruh dua kali, Rama mengempaskan pantat di kursi depan Amaya lalu ikut mengoleskan selai kacang ke empat potong roti tawar di depannya. Segelas susu menjadi pengantar makanan itu sampai ke lambung Rama. Mereka langsung pergi usai sarapan selesai. Hanya butuh waktu dua puluh menit untuk sampai di SMA Cahaya Kusuma menggunakan mobil. Rama turun dengan hati yang mencelus. Sebuah bangunan berlantai tiga yang berdiri kokok mengelilingi lapangan dengan tiang bendera tepat di tengahnya. Bagian kiri gedung tersebut terdapat masjid, lalu di bagian kanannya ada bangunan lain yang masih menempel. Bisa dipastikan itu adalah ruang kepala sekolah dan ruang guru. Rama mendadak menggenggam erat lengan Amaya. “Kamu kenapa, Ram? Takut?” “Kagak, Ma. Enggak tahu kenapa tiba-tiba kaki Rama susah digerakin.” “Ya iyalah susah, celana kamu, kan, nyangkut di pintu mobil.” Rama segera menunduk dan memang benar celana yang dia pakai terjepit pintu mobil yang sudah tertutup. Dia tersenyum canggung lalu membuka pintu dan menarik celananya. Amaya gemas langsung mencubit hidung remaja itu. Mereka melangkah pasti menuju ruangan dengan tulisan kepala sekolah di atas pintunya. “Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam. Silakan masuk.” Amaya dan Rama masuk lalu mengangguk sekilas sebelum duduk setelah dipersilakan. Wanita itu langsung mengutarakan maksudnya. Pak Asep langsung memanggil salah satu guru dan menyerahkan berkas yang diberikan Amaya tadi. Tahun ajaran baru sudah dimulai dua minggu yang lalu sehingga Rama harus segera masuk kelas. “Mama pulang dulu, nanti Mama jemput lagi. Belajar yang rajin, jangan makan aja yang dipikirin.” Rama mengangguk lalu menerima selembar uang lima puluh ribu yang disodorkan Amaya. Dia pun mengekor guru yang tadi dipanggil Pak Asep. Mereka berjalan menyusuri koridor sampai di ujung lalu berbelok ke kanan dan menaiki tangga ke lantai dua. Selanjutnya mereka berjalan menyusuri koridor kembali sampai di ujung lalu guru tadi mengetuk pintu dan muncullah seraut wajah bersahaja menyambut mereka. Kedua guru tadi berbincang sejenak lalu pergi meninggalkan Rama yang termangu di ambang pintu. “Masuk, Ram! Kita kenalan dulu, yuk!” Rama melongok ke kelas dan mendapati semua mata menatapnya. Dengan ragu, dia melangkah masuk lalu berdiri di depan kelas untuk memperkenalkan diri. “Assalamualaikum. Hai, Gaes. Kenalin aku Rama. Asli dari Bandung.” Suasana riuh langsung menanggapi perkenalan dari remaja bertubuh gempal itu. Rama tersenyum sembari mengusap tengkuk. Dia mengedarkan pandangan dan menatap satu per satu wajah teman-teman baru yang akan menemaninya sampai kelas tiga nanti. Ada dua orang remaja laki-laki yang berhasil menarik atensi Rama. Kedua orang itu duduk di bangku paling belakang. Mereka melambai lalu tersenyum. Remaja itu melakukan hal yang sama. “Well, cukup perkenalannya. Rama silakan duduk di sebelah Narendra, ya?” “Baik, Bu.” Rama tersenyum sebelum duduk di bangku yang kosong. Dia mengempaskan pantat lalu menoleh saat sebuah tangan mengajaknya bersalaman. “Hai, gue Naren dan itu Arda.” Narendra menunjuk teman yang ada di depan Rama dengan dagunya. Mereka bersalaman lalu Narendra menepuk Arda sehingga dia menoleh. “Rama. Senang bisa kenalan sama lo berdua.”
sangat sukaa
08/05
0bagus
17/06/2025
0bagussss banget
05/06/2025
0View All