Aku masih memikirkan cara untuk memasang kamera pengawas di rumahku tanpa ketahuan oleh anggota keluarga. Aku hubungi Niar agar dia memberitahukanku saat Ibu dan Kak Ayu pergi ke luar rumah. Tapi, dia tak mengerti dan sering lupa memberi tahukan padaku. [Maaf, Bang aku lupa. Padahal tadi mereka pergi.] [Kamu jangan sampai lupa-lupa terus. Gimana kamu di rumah? Apakah ibu bersikap baik padamu?] Lama sekali tak dijawab. Entah gawainya di simpan dimana, Niar tak pernah sigap menjawab pesan atau telepon dariku. Aku semakin bingung, karena sudah hampir hari Jumat lagi, waktunya aku pulang ke rumah. Pengawas kamera sudah dibeli oleh sahabatku, Bram. Tapi, ia tak punya celah untuk masuk rumahku. Ibu dan Kak Ayu bisa-bisa curiga padanya. "Coba Bram, kamu bicara dengan istriku. Karena dia yang bisa memberitahumu kalau rumah sedang sepi. Saat itu, kamu pasang di dapur dan di ruang tamu, Bram!" "Tapi, sepertinya aku nggak bisa. Karena kalau kosong, bisa-bisa aku difitnah sedang mengunjungi istrimu," kata Bram. "Oh iyaa, Astaghfirullah. Ya sudah satu-satunya cara, kamu tunggu sampai aku pulang saja." "Iya, aku setuju ya. Lagian Android kamu harus di stel dekat dengan kamera itu. Sabar aja, pas kamu pulang, langsung kita pasang ya!" Oke, Bram. Makasih ya!" Lalu aku mencoba menghubungi Ibu. Mencari tau apa yang dilakukannya saat ini. "Bu, apa kabar?" "Baik, Den. Gimana kerjaanmu? Lancar?" tanya Ibu. "Bu, Deni udah kabarin Ibu kan kalau uang udah dikirim? Kok pesan Deni nggak dibalas sama Ibu?" "Maaf, Den mungkin Ibu belum baca." "Tapi di situ udah centang biru kok Bu, berarti Ibu udah baca pesan Deni." "Oh gitu ya, kok bisa. Mungkin Ibu lupa. Maaf ya, Den! Punya Niar juga udah Ibu am ... , Eh!" "Apa Bu? Punya Niar apanya?" "Eh, enggak. Itu Kak Ayu nanyain udah ngambilin nasi buat Niar belum?" "Nasi? Emang Niar sakit? Sampe diambilin gitu?" "Eh, iya. Biasa Den, ibu menyusui butuh makan banyak," jelas Ibu. "Oh gitu. Baik, Bu. Deni percaya kalau Ibu pasti memperlakukan Niar dengan baik," kataku. "Iya, dong." "Oya, Bu. Niar juga udah Deni transfer. Tapi aku bingung Niar nggak punya tabungan. Aku bingung uang yang aku transfer dikemanakan. Ibu tolong selidiki Niar, dipakai apa uang itu." "Iya, Den. Ibu nggak tau sih Den. Ya sudah nanti ibu selidiki deh." "Baik, Bu makasih, ya!" "Sama-sama." Aku merebahkan diri di kursi kerjaku. Ternyata tak enak kerja sambil memikirkan orang yang kita cintai. Ya Allah lindungi istri dan anakku. *** Hari yang dinantikan tiba. Sepulang kerja, aku tak pulang ke kost-an. Aku langsung melaju pulang ke rumah. Aku ingat Icha, lalu aku coba membelikan oleh-oleh untuknya. Kemarin aku sudah membelikannya alat masak. Sekarang aku belikan dia mainan dokter-dokteran, dia pasti senang. Oleh-oleh untuk yang lain adalah makanan. Berbagai makanan aku beli di jalan. Dari mulai roti, sate, martabak serta empek-empek. Sesampainya di rumah, aku bingung pintu rumah terbuka. Tapi ketika masuk, tak ada orang di dalam. Hanya ada Icha yang sedang menangis sendirian. "Cha, Mama mana?" "Mama tadi keluar bawa Farhan." "Kemana, Cha?" "Ke warung depan, Icha pengen jajan. Tapi Icha nggak boleh ikut." Icha masih menangis sesenggukan. "Nenek mana?" Aku menggendong Icha, mencoba menenangkannya. "Nenek belum pulang sama Tante Ayu sama semua pokoknya," kata Icha. "Kemana ya?" "Kata Nenek mau makan di luar." "Dari jam berapa?" "Dari siang, Pa! Pa, ayo cari Mama!" Aku dan Icha mencari Niar. Aku takut Niar kabur, ku cari di semua tempat, tapi nggak ada. Tak lama ada tetangga beda RT mengantarkan Niar yang menggendong Farhan. "Bang Deni, ini Kak Niar lupa jalan pulang, jadinya ku antar sekalian memang lewat sini," katanya. Semua yang tetanggaku ini katakan sangat melegakan hati. "Alhamdulillah, makasih, ya Bu!" "Sama-sama!" Aku memapah Niar masuk ke dalam rumah. Dia tersenyum tipis saat melihatku. "Kamu udah pulang, Bang?" katanya. Nggak biasanya dia menyapaku. Apa ada yang mau dikatakannya? "Udah, baru saja." Niar tak tertarik mendengar jawabanku. Dia malah masuk ke dalam dengan langkah yang biasa saja. Tak menyia-nyiakan kesempatan, aku langsung hubungi Bram agar ia memasang CCTV itu. "Halo, Bram. Aman di sini. Kamu segera ke rumah sekarang, ya!" Bram langsung manut. Dia memasang CCTV berukuran mini itu di di sela-sela pajangan rumah, di ruang tamu. Jika di dapur, dipasang di atas jam dinding, tak kelihatan. Lalu, Bram mengkoneksikan hasil rekaman ke gawaiku. Hasilnya lumayan bagus. Aku jadi bisa mengawasi melalui gawaiku. "Terima kasih, Bram. Atas bantuanmu!" "Iya, Sama-sama." Tak lama setelah Bram pulang, rombongan Ibu baru datang semua. Ketika mereka datang, aku langsung bertepuk tangan. "Luar biasa nih Ibu sama Kak Ayu, habis makan-makan di luar, nggak ajak-ajak kami?" "Eh, kamu jangan sembarangan. Kami bukan habis makan-makan. Kami habis mendaftarkan Farrel masuk sekolah kok!" "Benar itu, Bu?" tanyaku. Be-benar, Den!" Aku menghela napas panjang. Sepertinya mereka berbohong. Aku benci orang yang suka membual. Aku tinggalkan mereka. 'Awas saja kalian, semua akan terbongkar dari rekaman CCTV nanti,' gumamku. *** Aku menemui Niar. Dia sedang diam sendiri. "Kenapa kamu tadi nyasar? Kamu lupa rumah kita di mana?" "Nggak tau, tiba-tiba nggak inget." Aku duduk di bibir ranjang, di sampingnya. Lalu aku mengusap tangan istriku. Dengan cepat dia tarik tangannya. "Dek, sepertinya kamu harus konsultasi ke psikiater. Aku akan mencari dokter yang tepat untukmu, nanti." Niar mengangguk, tapi dia tak membalas ucapanku. *** Aku mengatakan niatku pada Ibu dan Kak Ayu untuk membawa Niar ke psikater, karena setelah aku cari info sendiri, istriku sepertinya sudah aneh. "Apa? Ke psiater? Jangan! Nanti semua tetangga kita tau ada salah satu dari keluarga ini gila. Ibu nggak setuju!" "Kak Ayu juga nggak setuju. Niar baik-baik saja kok. Buktinya dia bisa mengerjakan semuanya sendirian. Eh ..." "Maksud Kak Ayu apa? Kalian berdua menyuruh Niar mengerjakan pekerjaan rumah setiap hari?" "Bukan, bukan seperti itu! Ibu sudah bilang semua terjadwal." Ibu membulatkan matanya sambil berkacak pinggang. "Bu, izinkan aku membawanya ke psikiater!" "Tidak! Pokoknya tidak boleh!" Ibu tetap ngotot dengan pendiriannya. Aku tak mau kalah dengan Ibu. "Deni, kamu harusnya turuti apa kata ibumu!" Aku malas mendengar perkataan mereka, aku keluar dari kamar Ibu. Biarlah aku yang memikirkan langkah selanjutnya. Bersambung
Thank you
Support the author to bring you wonderful stories
Cost 22 diamonds
Balance: 0 Diamond ∣ 0 Points
Book Comment (163)
lagi1Kemana
keren nih ceritanya gak bosenin bikin penasaran kelanjutannya
keren nih ceritanya gak bosenin bikin penasaran kelanjutannya
22d
0kerenn bagus😍
23/11
0sangat bagus
21/09
0View All