logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 6 Silahkan Ambil Uangku, Bu

Niar
Bang Deni mengajakku jalan-jalan, hal yang mahal bagiku setelah menikah dengannya. Beberapa kali dulu aku mengajaknya jalan-jalan, tapi ia tak pernah bisa.
Aku akui Bang Deni sekarang belajar dari kesalahannya. Tapi, hatiku tetap sakit dengan semua penolakannya dulu, kata-kataku yang tak pernah ia percayai. Untuk apa aku dijadikan istri, jika kata-kataku saja tak ia percaya.
Ditambah masalah Ibu yang selalu menindasku dengan tatapan matanya. Sehingga, walau tak berkata pun, aku sudah trauma dengannya.
Kalau Kak Ayu, dia selalu mengataiku malas. Aku bukannya malas, tapi aku memang butuh waktu untuk anak-anakku dan diriku sendiri.
"Syukur ya, Deni sudah berangkat. Tak ada yang melindungimu sekarang," ucap Ayu saat Bang Deni sudah berangkat dengan mobilnya.
Aku diam menunduk, tak mau bertikai dengannya, yang ada dia selalu mematahkan kata-kataku.
"Pinter ya, kamu. Bisanya diem-diem aja, padahal hatinya lain." ucap Kak Ayu lagi. "Malas aku bicara denganmu seperti bicara dengan tembok, Niar!" Kemudian dia pun pergi.
Saat dikatain seperti itu, aku hanya bisa menyimpannya dalam hati, lalu menangis. Tapi, sesaat kemudian hilang rasa sedihku, aku malah ingin tertawa dengan keadaanku yang seperti ini.
Entah sampai kapan aku terpenjara dalam rumah ini. Belum lagi masalah uang belanja yang dipegang Ibu. Kadang aku yang harus mengeluarkan uangku, padahal Ibu menjatahiku sedikit.
Aku jadi teringat Emak di kampung. Emak yang selalu baik padaku, dengan leluasa aku mengerjakan apapun di rumah, tak ada ancaman dan tatapan mata mengintimidasi.
'Mak, Niar kangen. Semoga Emak sama Abah baik-baik aja di sana,' gumamku.
"Niaaaar!" Ibu memanggilku."Niaaar, cepat sini!"
Aku mendekat ke arah suara. Di sana ada Icha yang sedang main kotor-kotoran. Dia membawa tanah dan daun-daunan ke dalam rumah dengan alat masak-masakan yang baru dibelikan Papanya kemarin.
"Icha!" Ku bentak Icha yang sedang sibuk bermain.
"I-iya, Ma." Wajah Icha memerah, ia hampir menangis.
"Ngapain sih kamu cari masalah aja buat Mama?" Aku membentaknya lagi. Tak sadar dengan segala yang keluar dari mulutku ini.
"Maaf, Ma," kata Icha sambil menangis.
"Icha bersihkan semua sekarang juga! Nenek nggak suka banyak kotoran gini di rumah Nenek!" Ibu membentak Icha juga.
Sebenarnya hati ini sakit. Tapi, bagaimana lagi, aku tak bisa mengendalikan diri ini untuk membentak Icha.
Icha membersihkan semuanya, aku tak mau melihatnya, memilih kembali ke kamar untuk menangisi perbuatanku.
***
Icha menangis sendiri di kamarnya. Di satu sisi, aku sebal dengan diriku yang tak bisa menghibur anakku sendiri. Di sisi lain, aku malah membencinya karena ia menangis.
Tiba-tiba Ibu masuk ke kamarku.
"Niar, kenapa kamu diam saja di sini? Cepat hentikan Icha menangis!" titah Ibu.
Aku terperanjat, dan segera menuju kamar Icha.
Aku benci dibentak mertuaku, aku benci wajahnya yang selalu menampakkan kebenciannya padaku.
"Diam kamu, Icha! Mama bilang diam!" Icha diam, ia ketakutan mendengar suaraku yang melengking membentaknya.
"Mama ... Jangan marahin Icha." Icha berhambur memelukku.
Aku tak membalas pelukannya. Karena aku berdiri, dia hanya memeluk kakiku. Dia anak yang menyusahkan, aku tak mau memeluknya.
"Sudah, nggak usah gini. Berhenti menangis, atau ... Mama mengeluarkanmu dari rumah ini!"
Icha ketakutan, dia semakin erat memeluk kakiku.
"Jangan, Ma. Jangan! Icha takut!"
Aku tak menjawab perkataan Icha. Lalu melepaskan tangannya dari kedua kakiku, lalu menatapnya dengan melebarkan mataku, persis seperti yang dilakukan Ibu padaku.
"Ok, Mama pegang janji Icha!" Aku keluar dari kamarnya.
Sampai di dalam kamar, aku tersadar dan menangis. Sebegitunya diriku memarahi Icha sama dengan sikap Ibu padaku.
Setelah tersadar, aku kembali ke kamar Icha. Aku mau meminta maaf padanya. Tapi Icha sudah tidur. Aku menangis di sampingnya dan membisikkan kata maaf di telinganya.
***
"Niar, kamu belum ditransfer sama Deni? Ini kan udah akhir bulan. Mama aja udah di transfer loh! Cek M banking kamu, kalau udah ada, mana ATM-nya?" Seperti biasa tiap gajian ATM-ku diambil oleh Ibu. Ia langsung mengambil uangku.
"ATM-nya hilang Bu. Aku lupa nyimpen dimana setelah dipakai Ibu bulan lalu." Kemudian aku mengecek m-bankingku. Udah gajian, Bu."
"Ya sudah kamu transfer pakai M-bankingmu aja ke rekening Ibu," katanya.
"Ibu sendiri saja, aku pusing, Bu." Aku menyerahkan gawaiku pada Ibu.
"Berapa nomor Pin-mu?"
"241***, Bu."
Setelah menguras isi tabunganku, Ibu menyerahkan kembali gawaiku. Aku mengepalkan tangan ini, ingin sekali aku melawan. Tapi, aku tak mau menyakiti orang tua dan tak mau Ibu menyebarkan kebohongan tentangku di keluargaku nanti.
Tak lama gawai ini bergetar, telepon dari Bang Deni.
"Halo." Aku menjawab telepon itu.
"Sayang, gimana kabarmu sekarang?" Nada khawatir terdengar pada suaranya.
"Baik." jawabku singkat.
"Alhamdulillah. Oya, udah ku transfer ya uangmu bulan ini," katanya. "Jangan dihabiskan. Nanti aku cek pengeluaranmu apa saja."
Aku gemetar mendengar ia akan mengecek uangku. Ku rasa semua akan terbongkar pelan-pelan. Aku juga takut kalau semua ketauan.
"Dek, kenapa diam saja? Coba kau katakan, sudah diterima kan uangmu?"
"Su-sudah."
"Dek, jawabanmu singkat-singkat. Tak bisakah kau menenangkanku dengan berkata beberapa kalimat padaku?"
Aku bergeming, kalau sudah seperti ini, aku tak mau berkata-kata lagi. Bibir ini rasanya kaku untuk berucap.
"Maaf, Bang." Hanya itu kata yang bisa kuucapkan saat ini.
Maaf karena tak bisa menjaga amanah uang darimu, maaf karena aku membentak anakku, maaf karena aku tak bisa berbuat apa-apa saat ini selain menangis.
"Sayang, kamu nggak salah. Aku yang salah padamu. Kamu yang kuat ya! Sebentar lagi aku pulang," katanya.
Karena aku masih diam, Bang Deni mengakhiri percakapan kami.
"Sudah ya, Dek. Aku mau melanjutkan kerjaanku!"
Aku menutup teleponnya. Lalu tak kuasa menahan air mata ini. Kubenamkan wajahku pada kedua tangan ini.
'Apa yang harus kulakukan.' Aku bermonolog sambil meratapi nasib ini.
Tak lama Ibu memanggilku.
"Niaaar!"
Aku buru-buru menyeka air mata ini, lalu berlari ke arah suaranya.
Bersambung

Book Comment (163)

  • avatar
    lagi1Kemana

    keren nih ceritanya gak bosenin bikin penasaran kelanjutannya

    25d

      0
  • avatar
    Anisaa Putrii

    kerenn bagus😍

    23/11

      0
  • avatar
    JULIYANTISILVIA

    sangat bagus

    21/09

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters