logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Chapter 5 Bersama Keluargaku

Bab 5
Aku mengajak Istri dan anak-anakku untuk sekedar melepas penat. Kami jalan-jalan ke mall.
Icha sangat senang ketika diajak akan jalan-jalan ke mall, sedangkan Niar -- Istriku tak memberikan reaksi apapun, walau dia juga ikut dengan menggendong Farhan.
"Pah, Icha seneng!" katanya saat memasuki mobil.
Gadis itu memang tak pernah jalan-jalan, sama seperti Mamanya. Aku yang salah, terlalu sibuk dengan kerjaan kantor yang kadang suka dibawa sampai rumah.
"Asyik dong kalau Mau Icha seneng. Papa juga seneng. Tanya Mama gih, Cha. Seneng nggak?" Aku mengalihkan pandangan pada Niar yang memilih duduk di belakang bersama si kecil. Niar tak menanggapiku, dia menghindari pandanganku.
Icha duduk di samping. Sepanjang jalan, ia terus bernyanyi. Aku senang melihatnya seceria ini.
Kulirik Istriku dari depan, ia tetap saja datar. Entah apa yang bisa membuatnya bahagia saat ini. Aku masih mencari celah.
Saat di mall, Icha memilih bermain mobil-mobilan dengan aki. Dia langsung mahir mengemudikannya. Aku duduk di samping Niar. Kami sama-sama memperhatikan Icha dari tempat duduk kami.
"Kamu senang, Dek?" Aku menggenggam tangan Istriku.
"Ia menatap mataku. Ia malah menghela napas pendek."
Bukan Deni namanya jika langsung menyerah. Ku ambil tangannya, aku menggenggamnya erat. Ia memperhatikan tangan kami yang saling bersentuhan. Walau tangan kirinya sibuk memegangi gendongan si kecil.
"Dek, habis ini kita makan ya! Mau makan apa?"
Niar menggeleng, entah dia menolak atau tak tau mau makan apa.
"Pa, aku udah selesai. Mobilnya enak, Pa!" katanya sambil tersenyum manis.
"Iya, Sayang. Pasti enak naik mobil itu."
"Icha mau makan apa?" tanyaku pada bocah tiga tahun ini.
"Makan chiken, Pa. Cha suka liat di tv Nenek," jawab Icha.
"Mama gimana?" Aku menoleh lagi pada Niar.
Niar mengangguk. Kami pun makan di salah satu kedai fried chicken. Icha senang, dia sangat lahap memakan ayam goreng krispi ini.
Saat akan makan, Farhan mulai rewel. Dia sebenarnya sudah minum ASI, tapi Farhan tak mau tidur lagi. Jadi, Niar kewalahan saat Farhan berontak dari pangkuannya.
Aku menawarkan diri untuk mengambil Farhan darinya. Ia justru menolakku. Padahal Niar belum makan sedikitpun.
"Dek, ayolah, kamu kan belum makan. Biar Farhan sama aku dulu. Biar kamu enak makannya," ucapku sambil memberikan tangan pada Farhan.
Niar bergeming, matanya melirik ke segala arah. Sikap yang tak biasa menurutku.
"Ayolah Niar. Sini, Farhan sama Papa dulu!"
Aku berhasil mengambil Farhan. Niar kembali fokus pada makanannya. Ia makan perlahan, tidak terlalu menikmatinya.
Ku lihat Niar tidak bisa melepaskan penatnya di mall ini. Aku berencana membawanya ke tempat yang menampilkan keindahan alam saja nanti, seperti gunung atau ke pantai.
"Dek, habiskan makannya! Sayang kalau tak habis. Lihat, Icha saja habis." Aku menunjuk pada piring Icha yang kosong.
Niar mengulas senyumnya tipis, tapi tak berkata apapun.
"Ma, habiskan, Ma!" Icha membantuku untuk bujuk Mamanya.
Niar kembali fokus dengan nasinya. Tak lama nasinya habis.
"Alhamdulillah, Mama pinter!" kata Icha.
Niar tersenyum lagi. Saat ini momen Istriku tersenyum baru dua kali. Tapi aku bersyukur, dia mau tersenyum sekarang. Senyumnya sangat mahal, aku merindukan Niar yang saat pertama kali ku kenal.
Niar yang dulu yang ceria, baik, suka tersenyum dan aku nyaman di sampingnya. Entah sekarang, ada yang berbeda dari Istriku.
***
Kami pulang sore. Saat datang, Ibu mencebik. Ia marah kenapa ia tak diajak oleh kami. Memang saat berangkat, aku tak melihatnya.
"Saat itu Ibu sedang ke rumah Bu Inneu."
"Oh, pantes. Nggak usah salahin Deni atau Niar dong, Bu. Ibu sendiri yang nggak ada di tempat," jawabku.
Tak ada kata-kata keluar lagi dari Ibu. Aku mengajak Niar dan Farhan ke kamar. Tapi Icha malah menunjukkan semua yang dibeli pada Neneknya.
Setelah dari kamar, aku kembali menemani Icha bicara dengan Neneknya.
"Apa sih, Icha. Pamer doang! Mentang-mentang Nenek nggak ikut!"
"Nek, nenek pilih aja mau apa? Nih Icha punya balon, gulali, tahu krispi sama makaroni. Nenek mau yang mana?"
Ya Allah, Icha baik baget sama Neneknya. Mirip sekali dengan Niar dulu.
"Nenek nggak mau semua, Nenek pengennya ikut jalan-jalan, bukan makanan ini!" Ibu melempar semua yang diberikan Icha.
Icha terkejut, ia berlari sambil menangis ke arahku.
Aku mengusap kepala Icha dan membiarkannya menangis di pelukanku. Setelah mereda, aku bawa Icha ke kamar, sepertinya ia ngantuk. Tak lama ia pun tertidur.
Aku kembali menemui Ibu. Lalu aku bicara pada Ibu agar jangan berbuat seperti itu pada anak kecil.
"Apa sih kamu, Den. Kamu juga yang salah, jalan-jalan nggak ajak Ibu. Emang mereka doang yang butuh hiburan? Ibu juga pengen!" Ibu merajuk, aku kesal dibuatnya.
"Bu, aku hanya menghibur mereka. Sejak menikah, aku tak pernah mengajak Niar jalan-jalan. Anakku juga belum pernah kuajak keluar. Kalau ibu kan sering ku antar belanja. Dikit-dikit Ibu meminta diantar olehku," jawabku.
"Kamu sukanya membandingkan seperti itu. Ibu nggak suka digituin, Den. Kamu anak Ibu. Jadi, terserah Ibu mau nyuruh-nyuruh kamu seperti itu."
Aku merebahkan diri di sofa.
"Bu, intinya aku nggak suka Ibu membentak Icha. Kasian Icha udah berbuat baik pada Ibu, malah ditolak sama Ibu."
"Kamu ini ya, selalu nyalahin Ibu. Icha yang salah, main ngasih-ngasih yang ibu nggak mau. Udah, ibu males bicara denganmu!" Ibu beranjak dari ruang tamu, menuju ke kamarnya.
***
Aku baru saja pulang dari mesjid, ku lihat sekilas kak Ayu dan Ibu keluar dari kamarku. Mereka berjalan bersama ke arahku. Segera ku amankan diri agar tak dilihatnya.
"Jadi, Deni percaya dengan perkataan Ibu?"
"Kayaknya percaya, Yu."
"Besok kan adikmu kembali lagi ke Jakarta, kita bisa bebas."
Aku yang ada di situ langsung mengejutkan mereka.
"Maksud Ibu dan Kakak apa?"
"Eh, kamu Den. Ngapain ngumpet-ngumpet sambil nguping gitu?" ucap Ibu santai sambil duduk di ruang TV.
"Jelaskan tentang yang kalian bicarakan?"
"Oh, itu! Jadi, Ayu nanya tentang jadwal itu, yaa ibu bilang kalau kamu udah percaya sama Ibu. Emang benar kan? Coba kamu tanya langsung ke Ayu, apakah Ibu berbohong padamu?"
"Iya, aku cuma nanya aja. Ibu nggak bohong, Den. Kami ngerjain sesuai jadwal. Malah Niar tuh jarang ngerjain, dia sibuk di kamar terus," kata Ayu.
"Trus maksudnya kalian bisa bebas apa?"
"Ya ampun, Den. Ya iya lah, Ibu bisa bebas keluar rumah, nggak kaya tadi Ibu nggak bisa keluar karena kalian yang jalan-jalan. Makanya Ibu seneng besok bisa jalan-jalan. Ngerti kamu, Den?"
"Nggak, aku nggak paham! Awas saja kalau kalian macam-macam dengan Istri dan anakku!" ancamku.
Wajah ibu tegang, matanya melebar, lalu menarik napas dalam-dalam.
"Kamu kok malah mengancam aku sama Ibu? Dosa tau!"
"Iya, Den. Kamu mau jadi anak durhaka? Bicara dengan nada tinggi pada Ibu yang melahirkanmu. Ibu jadi menyesal telah melahirkan kamu, Deni!" Seperti tadi, Ibu marah dan masuk ke dalam kamarnya.
Aku jadi takut menitipkan Istri dan anakku pada Ibu. Aku harus mencari cara untuk mengungkap semua.
***
Malam ini aku menemui salah satu teman dekatku, dia juga tetanggaku.
"Aku minta tolong padamu untuk memasang CCTV di rumahku. Pasang saja di dapur. Jangan sampai orang rumah tau kalau itu CCTV."
"Susah dong, Den. Nanti mereka curiga tiba-tiba aku memasang sesuatu di dapur. Kalau mau, kamu ajak semua keluar rumah dulu. Baru aku bisa memasangnya."
"Aku ingin CCTV agar bisa terhubung ke gawaiku, ada kan?"
"Ada, namanya IP Camera. Jadi nggak ke monitor, rekaman video bisa dikirim langsung melalui jaringan internet. Tangkapan IP bisa dilihat di semua perangkat seperti smartphone atau tablet," jelas Bram.
"Ya sudah, pakai IP Camera aja."
"Oke, nanti aku cari waktu yang tepat, ya!"
Dialah yang mengurus pemasangan kamera pengawas di rumahku. Aku katakan agar dia bisa menjaga rahasia kami baik-baik karena ini menyangkut aib keluargaku.
"Baiklah kalau begitu. Aku janji, Deni!"
Aku sedikit lebih tenang untuk meninggalkan Niar dan anak-anak besok.
***
Pagi-pagi sekali ku lihat Niar sudah menyiapkan makanan. Dan memang benar hari ini jadwal Niar, sesuai isi kertas yang dipegang Ibu.
Aku tak menanyakan pada Niar tentang hal ini. Yang ada pasti dia diam dan tak mau menjawabnya.
"Kamu masak apa, Dek?"
Dia tak menjawabku. Aku memeluknya dari belakang. Niar berontak, melepaskan pelukanku.
"Lepas!" katanya singkat.
"Nggak, aku mau seperti ini sebentar saja, Dek!"
Dia menoleh ke belakang.
"Lepas!"
"Nggak mau." Aku tetap memeluknya. "Aku akan kerja lagi hari ini, Niar. Kita tak akan bertemu seminggu ke depan. Biarkan aku memelukmu sebentar saja."
Tiba-tiba ada yang mengganggu kami. Ibu berdehem di belakangku.
"Kalau mau mesra-mesraan di kamar aja, jangan di sini! Nanti makanannya gosong semua dong, Deni, Niar!"
Niar langsung melepaskan pelukanku karena memang tanganku mengendur setelah mendengar suara Ibu. Niar langsung meneruskan kegiatan menggorengnya.
"Aku hanya memeluk Niar sebentar saja, Bu. Hari ini kan aku akan balik ke Jakarta. Ibu tolong jaga Niar dan anak-anak, ya!"
Aku tak mau Niar menderita saat aku tak di rumah. Aku ingin dia kembali seperti dulu, aku akan membahagiakannya ke depan.
Setelah aku sarapan sendirian, aku siap berangkat.
"Sayang, aku nggak bisa ikut makan bareng yaa. Karena aku takut kesiangan sampai kantor," ucapku pada wanitaku ini.
Ia memandangku sekilas, lalu memalingkan wajahnya.
"Niar, aku mohon. Kamu bicaralah padaku. Aku siap mendengar semua. Nanti aku rajin hubungi kamu. Kalau ada telepon dariku, kamu harus mengangkatnya ya, Sayang!"
Ku lihat air matanya menetes, tapi ia tetap tak mau bicara denganku. Aku jadi serba salah saat akan meninggalkannya seperti ini.
"Deni, cepat kamu berangkat. Nanti kesiangan loh!" kata Ibu.
"Iya, Bu."
Aku mengecup pucuk kepala Niar, mencium tangan Ibu lalu mencari anakku Icha dan Farhan. Mereka masih tertidur. Kucium mereka satu persatu. Lalu ku bisikkan agar mereka baik-baik saja.
"Papa pulang pekan depan, jagain Mama ya, Cha," bisikku pada telinga Icha.
Aku pun pergi dari rumah besar ini, untuk bekerja. Semoga Allah melindungi Istri dan anak-anakku.
Bersambung

Book Comment (163)

  • avatar
    lagi1Kemana

    keren nih ceritanya gak bosenin bikin penasaran kelanjutannya

    27d

      0
  • avatar
    Anisaa Putrii

    kerenn bagus😍

    23/11

      0
  • avatar
    JULIYANTISILVIA

    sangat bagus

    21/09

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters